Will You Marry Me?

Saya ga pernah membayangkan dalam hidup saya ada scene romantis dengan dialog “Will you marry me?” atau sejenisnya yang diucapkan oleh seorang laki-laki kepada saya. Dan nyatanya emang ga ada sih, hahaha.

Bertahun-tahun dekat tapi jauh, dan dari bertahun-tahun lalu itu juga Evan sudah menunjukkan kalau dirinya serius ke arah pernikahan. Soal waktu memang tak bisa ditetapkan dari lama, tapi bisa direncanakan. Evan sudah punya rencana-rencana dalam hidupnya, saya menunggu sambil berdoa agar Allah memberikan waktu yang tepat.

Sejak saya S2 di Jepang, bersamaan dengan Evan mulai kerja di Schlumberger Balikpapan, rencana hidup kami mesti mulai semakin dikerucutkan. Saat saya mesti menetapkan apakah saya akan lanjut S3 setelah lulus S2 atau tidak, Evan memberi titik terang bahwa dia berencana untuk lanjut ke jenjang pernikahan sekitar 1 tahun setelah saya lulus S2. Evan berharap saya kembali ke Indonesia setelah S2, lalu waktu 1 tahun itu kami gunakan untuk kenal lebih dekat lagi dengan keluarga dari kedua belah pihak, karena memang sebelum-sebelumnya tidak ada waktu dan kesempatan untuk itu. Bukankah pernikahan itu melibatkan dua keluarga, bukan hanya dua manusia?

Rencana ke arah pernikahan ini punya andil besar atas keputusan saya untuk tidak lanjut S3. Evan tidak mengharuskan saya untuk pulang setelah S2, tapi kalau saya lanjut S3, artinya setelah menikah kami mesti terpisah lagi karena Evan tidak mungkin pindah ke Jepang. Saya yang berkeras tidak mau jauhan setelah menikah.

Saya kembali ke Indonesia. Walau tetap saja tinggal jauhan (saya di Bandung, keluarga saya di Bukittinggi, Evan di Balikpapan, keluarga Evan di Padang), tapi jauh lebih mudah untuk ketemu dibanding kalau saya bertahan di Jepang. Bertemu dengan keluarga dalam beberapa kali kesempatan, diskusi jarak jauh, membahas dan merencakan. Tanggal ditetapkan, persiapan dijalankan.

Kalimat lamaran secara langsung dan romantis pada akhirnya memang tidak pernah terucapkan. Namun saya ingat, ketika kami ada masalah dan ada terbersit keraguan, kami saling bertanya, “kamu masih yakin?”. Saat kami sama-sama menjawab “yakin”, jawaban itu lah yang saya ejawantahkan menjadi scene “Will you marry me?” dalam hidup saya.

Salam,

signature

Leave your comment