Persiapan Pernikahan E♡R: Pakai Adat Mana?

Sebagian memilih pernikahan ala nasional, tanpa prosesi adat tertentu. Sebagian memilih pernikahan tradisional dengan segala prosesi adat istiadat daerah asalnya. Kami masuk kelompok kedua.

Evan dan saya sama-sama orang Minang, jelas adat Minang-lah yang akan dipakai untuk pernikahan kami. Namun demikian, karena daerah asal kami berbeda, ada perbedaan juga dalam prosesi adatnya.

Saya berasal dari Baso. Evan walau sudah lama tinggal di Padang, daerah asalnya adalah di Pariaman. Jangankan kampung saya dan Evan yang jaraknya jauh banget, kampung saya dengan kampung sebelah aja ada beberapa perbedaan adat istiadat juga.

Lalu adat mana yang dipakai? Kedua keluarga memutuskan untuk menjalankan adat dari kedua daerah, ambil yang utama-utama saja, dan yang terpenting tidak memberatkan kedua belah pihak. Adat bagi kami adalah identitas, jadi tentunya kedua pihak ingin identitasnya dipakai dalam prosesi pernikahan tsb.

Perbedaan signifikan dari sudut pandang keluarga saya adalah adanya prosesi manjapuik marapulai. Ini prosesi yang ada di adat Pariaman tapi tidak ada di adat Baso, di mana marapulai (mempelai laki-laki) dijemput oleh keluarga pihak perempuan sebelum akad nikah dengan “panjapuik” yang telah disepakati.

Sebaliknya, dari Baso ada prosesi maanta siriah, di mana pihak keluarga perempuan akan datang ke pihak keluarga laki-laki untuk meminang. Di daerah lain mungkin dikenal dengan batuka tando. Di keluarga Evan tidak ada prosesi ini.

Ditambah beberapa prosesi adat ini, rangkaian acara pernikahan kami jadi sbb:

  • 4 Januari 2014: maanta siriah.
  • 9 Januari 2014: manjapuik marapulai, akad nikah.
  • 10 Januari 2014: baralek kampuang.
  • 11 Januari 2014: resepsi di Baso.
  • 18 Januari 2014: resepsi di Padang.

Oia biasanya di Minang juga ada acara malam bainai, di mana tangan dan kuku mempelai perempuan akan dihiasi dengan inai (daun pacar), atau belakangan diganti dengan henna. Tapi kata mama saya di Baso ga ada prosesi ini. Lagipula dari jauh-jauh hari Evan bilang ke saya bahwa dia tidak suka lihat tangan dan kuku cewe dihiasi inai. Pas lah kalau begitu, kekeke.

Prosesi adat segini udah banyak dikurangi. Daerah asal pengantinnya beda juga sih soalnya, hehe. Kalau daerah asalnya sama, biasanya prosesi adatnya lebih banyak. Dan di Baso sendiri, kata mama saya, dulu itu kalau sesama orang Baso nikah, rangkaian acara alek-nya bisa sampai 7 hari berturut-turut. Ampuuun. Tapi sekarang banyak yang meringkasnya juga sih, jadi paling cuma 2 atau 3 hari.

Salam,

signature

Leave your comment