10-Jan-2014: Baralek Kampuang

Keesokan harinya setelah akad nikah dijadwalkan untuk baralek kampuang. Ini ga tau istilah dalam keluarga saya aja atau umum dipakai di Baso :P. Acara pada hari Jumat ini seperti halnya resepsi, hanya saja diutamakan untuk tetangga sekitar atau warga yang tinggal di kampung saya. Biasanya diundangnya bukan dengan undangan cetak melainkan “diimbau” langsung, yakni ada orang yang ditugaskan datang ke rumah-rumah untuk mengabarkan sekaligus mengundang datang ke acara baralek. Sebaliknya pada resepsi hari Sabtu diutamakan untuk yang diundang dengan undangan cetak, biasanya teman-teman atau rekan kerja dari keluarga.

Hari itu saya bayangkan relatif lebih santai karena ga akan sampai malam banget seperti hari sebelumnya. Selain itu puncak tamu datang ke rumah adalah setelah shalat Jumat. Berharap paginya bisa males-malesan dulu, tapi ternyata tidak.

Pagi Harinya..

Sebenarnya mama saya sudah memberitahu dari malam sebelumnya bahwa pagi-pagi sekali saya dan suami mesti keluar keliling ke rumah tetangga sekitar, bertamu sebentar sambil mengundang untuk sarapan ke rumah. Sebenarnya bertamunya basa-basi aja, karena ga mesti masuk, cukup dekat pintu aja ngobrolnya. Pun biasanya ga bakal ada yang benar-benar datang ke rumah.

Sepemahaman kami, hal ini dilakukan semacam untuk bersilaturrahim dengan tetangga sekitar dan memperkenalkan bahwa sudah ada “orang baru” dalam keluarga saya. Jadi nanti kalau kami kelihatan sedang berdua pun orang sudah tau bahwa kami suami istri.

Awalnya disuruh keliling itu sekitar abis subuh. Weleh, malesnyooo. Masih rada gelap pula. Trus saya kira ga masalah pakai baju biasa aja, ternyata disuruh pake baju yang lebih bagus dan mesti dandan. Maaak, masih pengen tidur dah mesti dandan. Ya sudahlah, dandan ala kadarnya trus akhirnya baru keluar jam 7 kurang :P.

Ga gitu banyak sih sebenarnya rumah tetangga yang kami datangi. Rada krik krik juga kadang, haha. Tapi ya sudahlah, yang penting kewajiban sudah dijalankan :D. Beres keliling, kami kembali ke rumah, sarapan, lalu lumayan santai sampai siang.

Saya sendiri juga baru benar-benar dandan untuk acara hari itu menjelang shalat Jumat. Untuk acara ini kami ga pakai pakaian anak daro dan marapulai, pun ga “dipajang” di pelaminan, jadi bisa mobile, uhuy. Saya pakai kebaya aja dan suami pakai jas. Yang mendandani dan masangin jilbab saya adalah adik saya sendiri, hoho.

Kami juga ga nyewa fotografer khusus untuk hari itu. Cukup dari beberapa kamera yang kami punya saja.

Setelah Shalat Jumat..

Acara baralek kampuang ini diadakan di rumah saya dan rumah ibuk. Namun demikian pelaminan sudah terpasang di hall.

Hari itu hari pertama suami shalat Jumat di masjid dekat rumah. Setelah shalat Jumat, ditemani mamak saya, suami berdiri dekat pintu keluar masjid sambil “maimbau” bapak-bapak sekitar untuk datang ke rumah.

Oia sebelum tamu berdatangan, dari rombongan keluarga papa saya ada tradisi … *lupa namanya*. Yang saya ingat cuma kening kami dibasahi dengan sesuatu. Untuk hal ini kami ambil tempat di pelaminan, hoho.

Rombongan keluarga papa kebetulan sebagian besar kembali ke Pesisir Selatan siang itu, jadi kami sempatkan dulu berfoto bersama di pelaminan.

Sekalian foto berdua di pelaminan pakai kostum yang dipakai hari itu :D.

Setelah shalat Jumat, rumah saya digunakan untuk menerima tamu laki-laki. Untuk tamu laki-laki ini, makannya bajamba seperti saat baiyo-iyo. Sepertinya bagian ini adalah acara inti. Saat itu pula, yang menghidangkan jamba kepada tamu adalah urang sumando dalam keluarga saya, termasuk suami saya sendiri.

Suami yang saat itu menggunakan jas diminta untuk melepaskan jas. Selain itu sarung bugis yang telah disiapkan sebelumnya mesti diikatkan ke pinggang.

Usai acara ini barulah saya ketahui bahwa marapulai menghidangkan jamba ini bertentangan dengan adat daerah suami, mestinya ga boleh. Waduh >.<. Tapi menurut suami saya, sebelum ia menghidangkan, ia sudah bertanya terlebih dahulu kenapa mesti seperti itu, dan menurutnya itu masuk akal, jadi ga masalah.

Jadi saat menghidangkan jamba ini bisa dibilang adalah waktu untuk niniak mamak dan waga sekitar untuk menilai apakah suami saya merupakan urang sumando yang baradaik (paham adat). Dinilainya dari tindak-tanduk dan bahasa tubuh saat menghidangkan, karena menghidangkannya ga boleh sembarangan, ada aturannya mana dulu yang ditaruh, ditaruhnya pada jarak berapa dari orangnya, dll. Alhamdulillah suami bisa melakukannya dengan baik dan dinilai sebagai urang sumando yang paham dengan adat.

Sementara itu, rumah ibuk digunakan untuk menerima tamu perempuan. Di rumah ibuk ini makannya menggunakan seprah, di mana makanan digelar di atas seprah. Seprah ini biasanya berupa kain putih yang dibentangkan di lantai, dan zaman sekarang biasanya menggunakan meja rendah. Penggunaan seprah ini lebih praktis dibanding jamba karena makanan sudah bisa disiapkan dari awal, ga mesti diangkat satu per satu setiap tamu datang. Namun demikian, seprah ga bisa dipakai untuk acara yang mengandung prosesi adat.

Setelah rombongan tamu laki-laki yang makan bajamba tadi selesai, rumah saya juga diubah jadi menggunakan seprah. Jadi yang makan bajamba memang hanya tamu laki-laki yang datang setelah shalat Jumat dan akan turut melihat bagaimana urang sumando menghidangkan tadi.

Oia kalau saat resepsi biasanya disediakan kotak khusus untuk menerima amplop, saat baralek kampuang ini tamu-tamunya langsung memberikannya ke tangan kami.

Oia kalau suami ada tanggung jawab untuk menghidangkan, maka bagian saya cuma untuk “mambasoi”, alias berbasa-basi kepada tamu untuk nambah atau ambil makanan lebih banyak :D. Sisanya pada foto-foto geje aja, kamera saya mayoritas sukses terisi foto-foto narsis, ckckck.

Alhamdulillah acara baralek kampuang-nya lancar dan emang bisa dibilang santai sesuai bayangan saya. Sebaliknya keesokan harinya akan jadi hari yang panjang, dari pagi hingga tengah malam.

Salam,

signature

Leave your comment