Diari Kehamilan Pertama: Tentang Memilih Rumah Sakit dan Dokter Kandungan

Pemeriksaan kehamilan merupakan hal yang wajib dilakukan oleh para ibu hamil. Kontrol dilakukan minimal 4 kali selama kehamilan yaitu 1x di trimester 1, 1x di trimester 2, dan 2x di trimester 3, itupun jika kehamilan normal. Namun sebaiknya pemeriksaan dilakukan 1x sebulan hingga usia 6 bulan, 2x sebulan pada usia 7-8 bulan, dan 1x seminggu ketika usia kandungan menginjak 9 bulan. Pemeriksaan dapat dilakukan oleh dokter Sp. OG ataupun bidan. Dalam pemeriksaan kehamilan biasanya dokter/bidan akan selalu mengukur tensi dan berat badan ibu, serta melakukan USG.

Sebelum melakukan pemeriksaan, tentunya kita harus terlebih dahulu memilih rumah sakit dan dokter/bidannya. Semua pasti pengen dapat rumah sakit dan dokter/bidan yang ideal, yang terbaik. Saya udah cukup sering baca kriteria-kriteria rumah sakit dan dokter/bidan yang ideal ini.

Untuk rumah sakit, biasanya kriteria idealnya seperti:

  • Mendukung (pro) persalinan normal, IMD, dan ASI eksklusif.
  • Reputasi pelayanannya baik.
  • Fasilitas lengkap.
  • Lokasi mudah dijangkau atau dekat dari rumah.
  • Mengizinkan suami mendampingi persalinan.

Dan untuk dokter/bidan, kriterianya antara lain:

  • Baik, ramah, dan komunikatif.
  • Mendukung (pro) persalinan normal (tidak Caesar-minded).
  • Mendukung (pro) IMD dan ASI eksklusif.
  • Mendukung (pro) rational use of medicines (tidak sedikit-sedikit ngasih obat dan antibiotik).
  • Bersedia dihubungi setiap saat (terutama via kontrak pribadi).
  • Preferensi pribadi lainnya, seperti laki-laki/perempuan, tua/muda, hingga agamanya.

Kita bisa bertanya pada keluarga atau teman untuk mencari referensi. Jaman sekarang juga banyak yang share di blog pribadinya atau di forum. Untuk yang tinggal di Jabodetabek atau Bandung sih saya udah sering banget nemu rekomendasinya RS apa dan dokter mana, jadi banyak banget sumber yang bisa dijadikan pertimbangan. Sementara di Balikpapan ini agak susah nyari infonya, kebanyakan adanya di forum, padahal saya prefer baca blog soalnya di blog ceritanya bisa lebih banyak.

Tentang rumah sakit, saya dan suami sih memilih dari rumah sakit yang menjadi rekanan asuransi dari perusahaan suami aja. Kata suami pilihannya antara Siloam Hospital atau RS Pertamina. Dari 2 itu sih kami lebih memilih Siloam Hospital karena lokasinya lebih dekat dari rumah. Selain itu rumah sakitnya juga terasa lebih nyaman, pas masuk ga gitu berasa kalau itu rumah sakit. Beda dengan RS Pertamina yang menurut saya kerasa banget hawa rumah sakitnya, hehe. Tapi katanya sih biaya di Siloam Hospital lebih mahal. Saya ga tau juga persisnya, ga bisa bandingin dengan RS Pertamina soalnya karena dari RS Pertamina ga pernah dapat print out billing (gara-gara udah ditanggung asuransi).

Tentang dokter kandungan, saya sudah mencoba mencari info di Balikpapan ini yang recommended siapa aja. Tapi dari info yang saya peroleh, dokter-dokter Sp. OG yang recommended itu semuanya laki-laki, fyuh. Di Balikpapan ini memang lebih banyak dokter Sp. OG laki-laki dibanding perempuan. Saya sih sebisa mungkin memilih dokter Sp. OG perempuan. Sempat nemu nama dokter Sp. OG perempuan yang sepertinya bagus, tapi ternyata ga praktik di Siloam Hospital.

Dan dari baca-baca pengalaman ibu-ibu ke dokter yang recommended itu, rata-rata bilang antreannya panjang dan lama. Kalau mau cepet mesti ambil nomor antrean beberapa jam sebelumnya, bahkan dari hari-hari sebelumnya. Di rumah sakit tempat dokter tsb praktik kadang juga dibatasi hari itu jumlah pasiennya berapa, jadi mesti cepet-cepetan. Hadeh, males juga kalau mesti segitunya perjuangannya untuk ketemu dokter yang bagus itu.

Dari sejak belum hamil hingga awal-awal kehamilan, saya sudah mencoba 3 dokter Sp. OG perempuan, yaitu dr. S, dr. N, dan dr. A. Ketiganya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya ga nemu info di internet apakah mereka pro persalinan normal, IMD, dan ASI eksklusif. Saya juga merasa aneh kalau nanya terang-terangan ke dokternya, lagipula untuk persalinan sendiri kan tergantung kondisi kehamilannya juga. Kalau emang dari indikasi medis cuma bisa Caesar, ga mungkin juga dipaksain lahiran normal kan ya.

Ujung-ujungnya saya menetapkan pilihan berdasarkan chemistry aja, apakah saya merasa cocok dan sreg atau tidak. Dan kalau udah urusan chemistry, bakal beda-beda untuk tiap orang, hehe. Saya pilih dari 3 orang itu aja, udah males nyoba dokter perempuan lain, nanti bisa-bisa beda-beda terus dokternya, hihi.

Dan akhirnya saya lebih sering ke dr. S. Walaupun di awal terasa jutek, lalu sempat terasa jutek banget waktu saya konsultasi soal hasil pap smear, pada akhirnya saya kembali ke beliau lagi. Sedikit banyak saya bisa memaklumi juteknya itu, mungkin karena saya juga ada kecenderungan seperti itu, kadang terlihat jutek dan galak di mata orang lain, haha. Tapi lama-kelamaan enak-enak aja kok dokternya. Teman di sini juga ada yang kontrol dengan dr. S. Dan menurut dia dr. S baik kok, tapi emang agak pasif, jadi mesti kita yang aktif bertanya kalau ingin tau lebih banyak. Tapi saat ditanyapun dr. S mau menjelaskan dengan baik. Dari pengalaman saya juga begitu, ngomongnya juga ga terburu-buru, walaupun kadang penjelasannya to the point ke inti jawabannya aja, ga panjang lebar pakai pembukaan, isi, lalu penutup.

Begitulah akhirnya pertimbangan yang saya gunakan untuk memilih rumah sakit dan dokter kandungan. Bersyukurlah buat Anda yang mendapatkan rumah sakit dan dokter yang ideal, terbaik, dan sempurna sesuai keinginan dan harapan Anda. 😀

Salam,

signature

Leave your comment