Saat Akas Kuning (2): Fototerapi

Tulisan ini lanjutan dari tulisan sebelumnya. Akas 13 hari berada di rumah sakit untuk disinar. Berikut cerita fototerapinya.

Baca juga: Saat Akas Kuning (1): Awal Mula

Fototerapi Akas: Episode 1

Akas mulai fototerapi tanggal 30 Juni 2015 siang. Saat itu hasil tes darahnya sbb.

  • Bilirubin total: 33.9 mg/dl (nilai rujukan 0.0-1.0)
  • Bilirubin indirect: 32.9 mg/dl (nilai rujukan 0.0-0.75)
  • Bilirubin direct: 1.0 mg/dl (nilai rujukan 0.0-0.25)

dr. L menyuruh untuk fototerapi 2×24 jam terlebih dahulu, baru setelah itu dicek lagi darahnya. Dari angka bilirubin 33.9 mg/dl ini saya deg-degan dan kuatir berapa nanti angkanya saat tes darah berikutnya. Tapi saya ga mau ekspektasi terlalu tinggi daripada nanti kecewa dan stres.

dr. L visite tiap hari sekitar jam istirahat siang, selalu mengecek kulit Akas untuk melihat kuningnya. Saat visite saya juga selalu nanyain gimana perkembangannya. Kadang suatu hari dr. L bilang dari pengamatannya udah banyak berkurang kuningnya. Lain hari katanya ga banyak perkembangan dibanding sebelumnya. Naik turun memang.

Fototerapi Akas: Episode 2

Tanggal 4 Juli 2015 Akas periksa darah lagi. Saat itu sebenarnya fototerapinya belum sampai 2×24 jam, tapi kami minta ke dr. L untuk tes darah aja hari itu. Lagipula tampaknya sudah ada perkembangan.

Hasil tes bilirubin Akas menggembirakan. Saya sebelumnya membayangkan turun ke angka 20an mg/dl aja udah senang rasanya, tapi ternyata hasil tesnya sbb.

  • Bilirubin total: 18.3 mg/dl (nilai rujukan 0.0-1.0)
  • Bilirubin indirect: 17.5 mg/dl (nilai rujukan 0.0-0.75)
  • Bilirubin direct: 0.8 mg/dl (nilai rujukan 0.0-0.25)

Saya senang banget sekaligus bangga sama Akas, bisa langsung turun sebanyak itu. Soalnya ada bayi lain yang juga kuning saat itu, bilirubin awalnya 29.5 mg/dl dan setelah 10 hari di RS bilirubin-nya masih 18an mg/dl. Sementara Akas bisa turun ke 18an mg/dl dalam 4-5 hari. Alhamdulillaaah.

dr. L pun menyuruh lanjut fototerapi 2×24 jam lagi. Belakangan dari ngobrol-ngobrol sama perawat baru saya ketahui ternyata kalau misalkan hari itu kadar bilirubin Akas ga turun banyak, dokter akan menyarankan untuk melakukan transfusi tukar pada Akas, dan itu tidak bisa dilakukan di RS di Bukittinggi, adanya di Padang. Alhamdulillah ga kejadian.

Fototerapi Akas: Episode 3

Tanggal 7 Juli 2015 kami minta darah Akas dicek lagi. Belum sampai 2×24 jam juga sih, tapi kami mau tau perkembangannya. Selain cek kadar bilirubin, kami juga minta untuk cek golongan darah Akas, kali aja ada pengaruh perbedaan golongan darah bayi dengan ibu yang bisa bikin bayi kuning. dr. L sekalian nyuruh cek retikulosit, yang mestinya udah dicek dari tes darah sebelum-sebelumnya tapi mungkin orang labnya lupa -_-.

Karena banyak yang mau dicek, darah yang dibutuhkan juga lebih banyak dari biasanya. Dan entah kenapa kali ini Akas susah banget diambil darahnya. Alhasil petugas lab sampai nusuk di 3 tempat untuk ambil darah, yakni di kedua lengan dan satu di kaki. Akas nangis kejer. Wajar, saya juga ga tega lihatnya. Akhirnya perawat kasih Akas empeng. Hiks. Tapi ya mau gimana lagi.

Hasil tes bilirubin-nya sbb.

  • Bilirubin total: 15.38 mg/dl (nilai rujukan 0.0-1.0)
  • Bilirubin indirect: 14.88 mg/dl (nilai rujukan 0.0-0.75)
  • Bilirubin direct: 0.5 mg/dl (nilai rujukan 0.0-0.25)

Dibanding tes darah sebelumnya, kali ini penurunan bilirubin Akas lebih kecil. Tapi ga apa-apa lah, yang penting turun. Dan mungkin memang kalau udah belasan gini angkanya jadi lebih lambat turunnya.

Golongan darah Akas A+ sementara saya AB+. Kata dr. L ga ada masalah dengan golongan darah kami.

Hasil tes retikulosit Akas 2.9%, masih normal (nilai rujukan: 2.6-6.5%). Berarti ga ada masalah juga dengan retikulosit Akas. Retikulosit adalah sel darah merah muda, bakal calon sel darah merah yang belum matang. Normalnya jumlahnya di sirkulasi darah hanya beberapa persen, tapi kalau jumlahnya banyak, retikulosit ini mudah pecah, sehingga bisa jadi hasil pemecahannya ini yang membuat bayi kuning.

Kali ini dr. L kayaknya rada penasaran kenapa Akas bisa kuning banget. Apa mungkin karena ASI? (silakan googling tentang breastmilk jaundice). dr. L pun eksperimen, di mana saya disuruh stop ngasih ASI dulu hari itu dan Akas dikasih sufor aja. Fototerapinya juga distop dulu. Nanti dilihat perkembangannya. Kalau memang kuningnya berkurang dengan stop ASI dan tanpa fototerapi, berarti ada kemungkinan kuningnya karena pengaruh ASI. Tapi kalau masih kuning atau malah nambah kuningnya, langsung lanjut fototerapi lagi.

Besoknya, Akas masih kuning, ga ada kemajuan. Berarti ga ada masalah dengan ASI-nya. Fototerapi pun dilanjutkan lagi.

Fototerapi Akas: Episode 4

dr. L menyuruh lanjutkan fototerapinya sampai cukup hitungan 2×24 jam lagi (yang saya lupa kapan persisnya mulainya :p). Kami sempat bertanya kepada dr. L apa setelah itu perlu tes darah lagi. dr. L menyarankan tes darah lagi aja supaya penilaiannya lebih objektif. Kami sepakat dengan hal ini. Soalnya ada juga pasien dokter lain yang udah diperbolehkan pulang setelah disinar cuma berdasarkan penilaian subjektif dokternya, tanpa dilakukan tes darah lagi.

Tanggal 11 Juli 2015 kami minta darah Akas dicek. Kali ini kami berharap angka bilirubin-nya udah 12an mg/dl atau kurang, supaya kami bisa segera pulang. Udah terlalu lama soalnya rasanya di rumah sakit plus udah hampir Lebaran pula.

Hasil tes bilirubin-nya kali ini sbb.

  • Bilirubin total: 13.6 mg/dl (nilai rujukan 0.0-1.0)
  • Bilirubin indirect: 13.2 mg/dl (nilai rujukan 0.0-0.75)
  • Bilirubin direct: 0.4 mg/dl (nilai rujukan 0.0-0.25)

Alhamdulillah turun lagi walau ga sesuai harapan. Kami minta ke dr. L supaya boleh segera pulang. dr. L pun menyarankan untuk lanjut fototerapi sehari lagi lalu setelah itu boleh pulang.

Akhirnya keesokan harinya kami bisa pulang. Alhamdulillah. Tapi berhubung hari itu hari Minggu, kami ga ketemu dengan dr. L sebelum pulang. Saya lupa mencatat Akas persisnya berapa jam disinar, tapi dari hitungan kasar suami lamanya ada sekitar 6×24 jam.

Oia selama fototerapi, alhamdulillah berat badan Akas pelan-pelan naik lagi. Di ruang perinatologi, bayi selalu ditimbang beratnya dalam keadaan telanjang setelah mandi. Bahagia rasanya lihat angka timbangan Akas naik terus.

ASI vs. Fototerapi Akas

Saya merasa fototerapi Akas ini mestinya bisa lebih cepat kalau ASI saya melimpah, hiks. Selama di RS saya memang sebisa mungkin selalu menyusui Akas, dan itu bikin Akas rada lama berada di luar inkubator.

Akas menyusu ke saya bisa 1 jam lebih, bahkan hingga 2 jam. Dan setelah ditaruh ke inkubator, bertahan cuma sekitar 1 jam, setelah itu nangis lagi, nyusu lagi, huhu. Perawat berulang kali bilang ke saya bahwa bayi saya belum puas nyusunya, kalau puas dan kenyang mestinya bisa tidur sampai 2-3 jam.

dr. L menyarankan agar saya perah ASI aja supaya Akas minumnya lebih cepat sehingga tidak perlu lebih lama berada di luar inkubator. Tapi ya mau gimana, hasil pompaan saya minim :(.

Pasca Fototerapi

Kami pulang dari RS hari Minggu lalu hari Selasa disuruh kontrol ke dr. L berhubung jadwal praktiknya cuma hari Selasa.

Saat kontrol, dr. L bilang bayangan kuning gitu masih kelihatan di muka Akas, tapi udah ga apa-apa. Terakhir tes darah, bilirubin Akas 13.6 mg/dl, mestinya sekarang udah turun lagi. dr. L juga bilang bahwa ga ada masalah dengan hati Akas. Katanya kalau angka bilirubin direct-nya di atas 1 mg/dl, kemungkinan ada gangguan fungsi hati sehingga perlu dilakukan USG dan pemeriksaan fungsi hati.

Di rumah, pagi-pagi Akas saya jemur kalau cuaca memungkinkan. Dan kali ini saya timer minimal 15 menit, ga mau lagi dipaksa udahan kalau baru sebentar, huft.

Perkara ASI, ga ada kemajuan. Kalau Akas nangis kejer, saya kasih sufor. Karena kuningnya belum hilang sepenuhnya itu, saya kuatir kalau saya maksain Akas ASI aja dan ternyata kurang, kuningnya nanti nambah lagi. dr. L juga mewanti-wanti bahwa setelah fototerapi ini berat badan Akas ga boleh turun lagi.

Hikmah dan Pelajaran

Selalu ada hikmah di balik setiap kejadian dan saya belajar banyak dari pengalaman ini.

Sebelum lahiran, sepertinya memang perlu mencari info dokter spesialis anak yang oke. Saya udah direkomendasiin dr. L sih sama temen, cuma saat itu kami pilih dokter sesuai jadwal praktik di RS aja dan apesnya dapat dokter yang kurang komunikatif.

Selain itu saya juga merasa dokternya ga detail ngecek kondisi Akas. Saat dokter visite setelah rawat gabung dengan saya, Akas lagi nyusu jadi dokternya ga cek kondisi Akas dan ga ngomong banyak. Malah kayaknya cenderung cuma nunggu apakah saya ada pertanyaan. Saya salah juga sih ga nanyain soal kuningnya itu ke dokter karena sebelumnya udah ditanyain ke perawat.

Kalau udah ada tanda kuning pada bayi, mungkin memang sebaiknya langsung dibawa aja ke dokter anak. Saya kapok pede menunggu dan ujung-ujungnya kadar bilirubin-nya jadi tinggi banget. Tanda yang kentara memang bagian putih mata terlihat kekuningan. Sementara untuk warna kulit rada tricky, apalagi kalau bayinya cenderung kemerahan. Kalau kulit bayinya putih sih biasanya kelihatan banget, soalnya selama di perinatologi saya bisa tau bayi itu kuning, dan benar, ga lama kemudian si bayi disinar juga.

Saat di RS, saya down, stres, sedih, nangis, campur aduk. Terutama saat menghadapi kenyataan bahwa ASI saya kurang dan Akas harus diberi sufor. Tapi di sisi lain saya juga merasa saya itu lebay banget karena saya lihat sendiri banyak bayi lain di perinatologi itu yang kondisinya lebih parah dari pada Akas.

Saya lihat sendiri bayi yang mesti diinfus. Lalu bayi yang pernapasannya bermasalah sehingga harus pakai selang oksigen. Ada lagi bayi yang mesti dioperasi karena ususnya bermasalah. Sementara Akas “cuma” disinar, tanpa obat, tanpa infus, dan perkembangannya bagus.

Selama di RS, setau saya ada 6 bayi meninggal. Saya lihat sendiri seorang ibu yang menangis karena bayinya mesti dioperasi, itu pun berakhir dengan si bayi meninggal. Saya lihat sendiri seorang ayah yang menangis karena bayi yang baru dilahirkan istrinya ternyata sudah tidak bernyawa. Perih rasanya saat mendengar ia berkata “bangun nak, ini papa di sini” :’(. Sementara saya cuma menghadapi Akas mesti dikasih sufor, itu pun demi kebaikan Akas.

Saya juga mestinya lebih bersyukur, dengan kondisi Akas saat itu, kami masih ada rezeki untuk biaya rumah sakit. Akas belum ada asuransi saat itu, jadi biaya mesti tanggung sendiri. Saya lihat sendiri ada seorang bapak yang bilang ke dokter bahwa ia sudah tidak mampu lagi membayar biaya untuk bayinya yang lahir prematur, kuning, dan bernapas pun seharusnya dibantu dengan alat bantu pernapasan khusus yang biayanya lebih mahal.

Alhamdulillah setelah beberapa waktu akhirnya kami bisa melihat mata Akas yang putih bersih. Akas sejauh ini juga selalu sehat. Alhamdulillah.

Salam,

signature

Leave your comment