Akas dan Screening Anemia Defisiensi Besi (ADB)

Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan masalah nutrisi tersering pada anak terutama di negara sedang berkembang termasuk Indonesia. Angka kejadian ADB di Indonesia masih tinggi. Lebih jelasnya tentang ADB bisa baca di sini atau googling aja ya.

Saat Akas belum MPASI, saya ga gitu mikirin soal ADB ini, karena Akas masih minum ASI plus sufor. Sufor biasanya sudah difortifikasi dengan zat besi sehingga kandungan zat besi sufor lebih tinggi dibanding ASI. Soal penyerapan zat besi dari sufor wallahualam deh ya, ada yang bilang ga gitu diserap.

Di usia 6 bulan, Akas diresepkan Sangobion Baby oleh DSA tapi dosisnya dikurangi karena Akas juga masih minum sufor. Saya tanya minum suplemen besinya sampai kapan, katanya coba lihat dulu sebulan ini gimana karena pada awal MPASI biasanya anak masih agak susah makan, tapi kalau makannya bagus nanti bisa distop, kalau anjurannya sih justru sampai umur 2 tahun. 1 bulan MPASI, makan lancar, kenaikan BB bagus, kata DSA-nya ga perlu minum suplemen besi lagi.

Katanya WHO menganjurkan agar dilakukan screening ADB di usia 1 tahun. Saya tanya DSA saat Akas 1 tahun, kata DSA-nya melihat perkembangan Akas rasanya ga perlu. Memang sih saat itu kenaikan BB-nya bagus, makan juga alhamdulillah lancar terus, serta selalu 4★ dan bervariasi. Ditambah dengan screening ADB butuh biaya sekian ratus ribu jadi ya ga usah aja deh.

Sampai suatu hari Mbak Mayang posting bahwa anaknya kena ADB. Kaget donk saya, soalnya Mbak Mayang ini rajin bikin MPASI homemade dan sharing sampai jadi admin grup HHBF pula, BB anaknya tampak oke, lebih berat dari Akas pula walau beda umur cuma 12 hari sama Akas. Tapi katanya BB anaknya sempat ga naik selama 2 bulan. Saya jadi kuatir juga deh, kok tampaknya makan udah oke tetap ga menjamin bebas dari ADB. Apalagi BB Akas setelah 1 tahun sempat naik turun karena sakit.

Dari pada galau akhirnya saya putuskan untuk melakukan screening ADB pada Akas.

FAQ Screening ADB: Bagaimana, Di mana, Berapa?

Sebelum screening ADB, saya cari tau beberapa info dulu. Prosedurnya gimana, apakah mesti dengan rujukan dokter atau bisa langsung cek sendiri di lab. Idealnya sih memang konsultasi dulu ya sama dokter, trus diisikan dokter form apa saja yang mesti dicek, trus konsultasi lagi sama dokter tentang hasilnya. Tapi kan saya pengen memangkas biaya ke dokternya, mending ke dokter setelah udah ada hasilnya aja, hihi. Saya coba kirim message ke dr. Frecil via Facebook dan ternyata dibalas.

Q: Selamat siang dok. Mau nanya dok, kalau mau screening ADB apakah mesti dg pengantar dr dokter anak? Ataukah bisa dilakukan atas inisiatif sendiri (langsung ke lab) baru kemudian dikonsultasikan hasilnya dg dokter anak? Terima kasih sebelumnya dok 🙂

A: Siang, Mom..bisa koq lgs ke lab..bilang mau cek darah lengkap, apusan darah tepi & feritin.

Yo wes lah, langsung ke lab aja kalo begitu. Saya cuma kepikiran lab Prodia atau Pramita. Di mananya saya pilih yang biayanya lebih murah aja, hehe. Jadi saya survey biaya dulu.

Lab Prodia punya panel pemeriksaan anemia defisiensi. Biaya pemeriksaan lengkap sekitar Rp2juta kalau ga salah, itu diperiksa  vitamin B12 sama asam folat segala. Kemahalan buat saya kalau segitu, jadi saya survey biaya komponen yang disebutkan dr. Frecil aja. Hasil survey saya di Bandung saat itu, di Pramita lebih murah sekitar Rp100ribu dibanding Prodia, lupa persisnya berapa, heuheu.

Ok mari cuss ke Pramita. Tanggal 31 Desember 2016 (Akas 18 bulan) saya bawa Akas ke lab Pramita di Jl. LL. RE. Martadinata. Saya bilang kalo saya mau screening ADB, mau cek darah lengkap, apusan darah tepi, sama ferritin. Darah lengkap sama apusan darah tepi kalau ga salah udah satu paket. Lalu saya ditanya apa mau cek serum iron juga. Saya ingat ada anak teman yang ADB karena serum iron-nya rendah, jadi sekalian juga deh saya cek. Berikut rincian biayanya.

Biaya screening ADB di Lab Pramita:

Paket Hapusan Darah: Rp263.000
Serum Iron: Rp152.000
Ferritin: Rp284.000

Total = Rp699.000

Prosedur pemeriksaannya cuma dilakukan pengambilan darah. Tapi karena darahnya diambil pakai jarum suntik, petugasnya minta Akas dipangku sama ayahnya sambil ditahan biar ga berontak.

Konsultasi Hasil Screening ADB Akas

Hasil pemeriksaan Akas bisa diambil tanggal 2 Januari 2017, tapi saya baru ambil keesokan harinya, sekalian sebelum konsul sama dr. Frecil. Alhamdulillah waktu itu dapat nomor antrean di tengah persaingan ketat antrean ke dr. Frecil via sms #halah. Pertama kali juga nih coba konsul sama dr. Frecil.

Saya lihat angka-angka hasil pemeriksaannya mayoritas normal alias masih dalam batas nilai rujukan. Hemoglobin (Hb) 11.1 dari nilai rujukan 10.5-13.5 g/dL. Ada 2 yang diberi tanda *, yakni RDW 15.4 (nilai rujukan 11.5-14.5%) dan Serum Iron 45 (nilai rujukan 50-120ug/dL). Trus ada keterangan:

  • Kesan → DD: tersangka Fe depletion, tersangka Hb pati.
  • Saran → Pemeriksaan: Hb elektroforesis.

Yang ini ga ngerti deh saya artinya apa, haha.

Setelah antre lama di RS Limijati dan Akasnya keburu bosan dan ngantuk, akhirnya kami dipanggil masuk. Saya langsung nanyain soal hasil screening. dr. Frecil melihat BB Akas OK dan saya dinilai concern banget sama anak karena screening ADB atas inisiatif sendiri, hihi.

Hasilnya, Akas tidak ADB, alhamdulillah, tapi memang cadangan besinya kurang dikit, terlihat dari hasil yang diberi tanda * tadi. Katanya ada beberapa tingkatan sampai anak dinilai ADB, saya ga nanya juga sih detailnya. Jadi Akas tetap diresepkan suplemen Sangobion Baby 1×1 mL/hari selama 1 bulan, diminum sebelum makan. Oia untuk minum suplemen besi jangan deketan apalagi barengan dengan minum susu ya, karena kalsium bisa menghambat penyerapan zat besinya.

Sekian pengalaman saya dengan screening ADB. Berdasarkan pengalaman, ada beberapa hal yang bisa saya catat:

  • Screening ADB bisa dilakukan atas inisiatif sendiri tanpa rekomendasi dari dokter. Silakan cek ke lab terdekat.
  • ADB tidak hanya dilihat dari kadar Hb darah saja. Hb normal belum tentu tidak ADB, karena ada komponen lain yang mesti dicek juga.
  • Makanan yang tinggi zat besi di antaranya daging dan hati ayam. Tapi perlu diperhatikan agar zat besinya terserap dengan baik. Misal hindari dulu memasak daging dengan susu/keju agar zat besinya terserap maksimal. Selain itu juga konsumsi zat-zat yang membantu meningkatkan penyerapan zat besi bila dikonsumsi bersamaan seperti vitamin C dan buah-buahan yang mengandung citrus.
  • Selalu pantau kurva pertumbuhan anak. Jika 2 bulan berturut-turut BB anak tidak naik, segera konsultasi dengan dokter, mungkin perlu dievaluasi lagi pola makannya, perlu screening ADB, dll. Jangan berpatokan pada anak aktif dan ceria aja ya.
  • Selain ADB, ada juga ISK (infeksi saluran kemih) dan TB (tuberkulosis/flek) sebagai faktor yang bisa menghambat pertumbuhan anak. Bisa saja tidak ada gejala, anak ga sakit dan masih aktif setiap harinya. Tapi jika ada ADB/ISK/TB sesungguhnya tubuhnya selalu berjuang untuk melawan kuman penyakit, sehingga BB-nya sulit naik. Jadi wajib ya untuk plot berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala ke kurva tiap bulannya.
  • Sampai sekarang saya belum pernah cek ADB lagi, ataupun ISK dan TB, karena sejauh ini kurva pertumbuhan Akas tampak masih baik.

Semoga anak-anak kita sehat-sehat terus serta tumbuh dan berkembang dengan baik yaa. Aamiin.

Salam,

signature

10 thoughts on “Akas dan Screening Anemia Defisiensi Besi (ADB)

  • 19 December 2017 at 9:55 pm
    Permalink

    Anak saya Dema jg kena ADB. Tapi sayanya nelat baru bawa saat usianya mau setahun 🙁
    Curiganya anaknya kurus, emang picky eater sejak MPASI trus dia gak bisa merangkak dan gak mau duduk/ jalan.
    Abis diobati minum ferris baru nampak aktif dan mau makan….
    Alhamdulillah menyusul bisa merangkat dll, skrng sih aktif aja meski badannya mungil hehe

    Reply
    • 28 December 2017 at 6:44 am
      Permalink

      Alhamdulillah ya mbak mulai membaik, semoga segera bebas dr ADB 🙂

      Reply
  • 21 December 2017 at 8:36 am
    Permalink

    Anakku dari umur 10 bulan kemarin beratnya sempat turun, trus sempat sakit juga dan bulan ini belum timbang lagi badannya. Harapannya sih moga naik timbangannya. Takut juga euy kalau misal kena adb atau tb

    Reply
    • 28 December 2017 at 6:45 am
      Permalink

      Kalau TB serem jg ya mbak, karena mesti minum obat berbulan2. Tapi kalau ADB sebenarnya ga serem, treatment-nya pun minum suplemen besi aja. Kalau BB turun karena sempat sakit masih wajar, semoga segera naik ya BB-nya 🙂

      Reply
  • 21 December 2017 at 9:17 am
    Permalink

    wah aku belum pernah check ADB, anak-anakku tubuhnya mungil semua…

    Reply
    • 28 December 2017 at 6:46 am
      Permalink

      Mungil tapi kalau kurva pertumbuhannya normal insya Allah ga apa-apa mbak 🙂

      Reply
  • 22 December 2017 at 9:08 pm
    Permalink

    Halo Mbak, anakku sudah 3x tes ADB. Hehe. Kok 3x, iya karena hasilnya rendah semua. Ternyata ada faktor genetik, jadi pemberian suplemen besinya dihentikan oleh dokter supaya tidak ada penumpukan zat besi. Penting banget cek ADB buat balita. Gara-gara awalnya cek ADB malah ketauan yang lain hehe.

    -sejenakberceloteh.com-

    Reply
    • 28 December 2017 at 6:47 am
      Permalink

      Wah, faktor genetik apa mbak? Saya baru denger yang seperti ini o_o

      Reply
  • 11 January 2018 at 10:54 am
    Permalink

    Makasih banyak sharingnya… Saya penasaran sm dr frecil, hebat bgt ya amtreannya huhu…

    Reply
    • 14 January 2018 at 1:51 pm
      Permalink

      Sama2 mbak. Iya ke dr. Frecil banyak saingan. Terakhir denger info daftar buat ke dr. Frecil cuma bisa via android app, yang daftar itu bisa ratusan padahal dr. Frecil cuma nyediain kuota buat 15-20 pasien.

      Reply

Leave your comment