Pindah Lagi ke Bandung

Udah 1 tahun lebih kami tinggal di Bandung, bukan di Balikpapan lagi. So this is another super late post story, hehe. Flashback dulu. Setelah nikah, Februari 2014 saya pindah ke Balikpapan, ikut suami yang saat itu bekerja di Schlumberger. Kami tinggal di apartemen yang disediakan perusahaan, lalu pindah ke rumah sendiri pada bulan September 2014. Banyak cerita di rumah ini sampai akhirnya kami pindah lagi ke Bandung pada bulan Oktober 2016.

Sejak menikah, ga pernah terbayang oleh saya bakal tinggal di Bandung lagi. Bandung tentu punya banyak kenangan buat kami yang dulu sama-sama kuliah di ITB. Pun setelah lulus S2 saya kembali ke Bandung untuk bekerja. Menikah dengan suami yang bekerja di oil industry, bayangan saya suami bakal berkarir di bidang itu seterusnya, jadi ga ada kemungkinan tinggal di Bandung yang ga punya perusahaan perminyakan.

Jadi, gimana ceritanya kok pindah ke Bandung?

Berhenti Bekerja di Schlumberger

Sudah agak lama sebenarnya suami bilang bahwa dirinya sudah lelah bekerja sebagai field engineer. Apalagi setelah punya anak, tentu ada keinginan agar punya waktu lebih banyak bersama anak. Melihat tumbuh kembangnya setiap hari, sulit dicapai sebagai field engineer yang jadwalnya ga menentu dan bisa berhari-hari hingga berminggu-minggu di rig. Namun untuk mengajukan resign rasanya agak berat juga.

Lalu kesempatan baik tiba. Saat itu harga minyak dunia jatuh, akibatnya banyak pegawai perusahaan perminyakan yang di-PHK. Singkat cerita, suami mengajukan diri untuk di-layoff jika perusahaan ingin mem-PHK engineer lagi. Pengajuan diri ini sudah melalui serangkaian perhitungan panjang dan pertimbangan yang banyak #eaaa. Awalnya sempat sedih pas perusahaan malah mem-PHK teman lain yang sebenarnya masih ingin bekerja, sementara suami yang sudah meminta malah masih dipertahankan. Hingga akhirnya di bulan Februari 2016 suami kebagian kena layoff juga, dan katanya suami engineer yang terakhir di-layoff. Sampai sekarang ga ada engineer yang di-PHK lagi.

Kenapa milih minta layoff, ga ajuin resign aja? Karena itung-itungan finansial sih, hehe. Paket layoff yang diterima suami kami gunakan untuk menghentikan satu-satunya unsur riba yang kami punya: KPR. Kalau memperhitungkan modal untuk investasi sih mungkin mending uangnya dipakai untuk investasi. Tapi yaa biar hidup lebih damai tanpa riba, mending ribanya dulu aja yang dihilangkan.

Saat akhirnya menandatangani bahwa dirinya sudah berhenti dari Schlumberger, perasaan suami campur aduk. Wajar sih ya. Hampir 5 tahun jadi field engineer, dengan segala suka dukanya.

Pasca Keluar dari Schlumberger

Suami coba-coba cari pekerjaan lain di Balikpapan, tapi susah. Ya namanya kota minyak sementara harga minyak masih jatuh, otomatis ga ada lowongan. Sembari mencari kerja, suami juga memutuskan untuk belajar trading saham. Dan belakangan trading saham ini jadi passion-nya.

Merasa tampak kecil kemungkinan bekerja di Balikpapan lain, suami mencoba mencari pekerjaan di kota lain. Paling banyak peluang ya di Jakarta, tapi sejauh ini kami masih menghindari Jakarta. Sampai akhirnya ada lowongan di Nuesto, sebuah start up IT di Bandung. Ada teman sejurusan suami di sana, CEO-nya teman sejurusan saya juga sih, haha. Suami apply dan akhirnya ditawari posisi di sana. Artinya suami bakal pindah kerja ke Bandung.

Beda jauh ya bidangnya, dari oil and gas ke IT. Tapi suami mah bukan bagian programming-nya kok.

Lalu bagaimana dengan saya dan Akas?

Suami mulai bekerja di Bandung bulan Juli 2016. Awalnya kami memilih tetap tinggal di Balikpapan dulu aja, LDM deh. Nanti suami yang bakal ke Balikpapan 3x dalam 2 bulan. Tapi seiring berjalannya waktu serta memperhitungkan dan menimbang berbagai hal, akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke Bandung aja semuanya.

Pindah ke Bandung

Setelah fix dengan keputusan untuk pindah ke Bandung, artinya saya mesti mulai packing. Packing lagi ya ampun, haha. Dan kali ini berasa makin sulit karena saya mesti packing sendiri saat suami masih di Bandung dan ada Akas yang kadang mau ikut “bantuin”. Barang-barang tentulah bertambah banyak.

Untungnya tiba-tiba mama saya pas bisa cuti dan datang ke Balikpapan lalu menemani kami pindahan hingga ke Bandung. Alhamdulillah jadi ada yang bantu beberes. Sebagian besar barang saya kirim pakai Indah Logistic Cargo, puas karena barang dijemput ke alamat, diantar sampai ke alamat. Sebagian akhirnya dikirim pake J&T karena bisa jemput ke rumah dan barang ternyata masih sisa banyak untuk dibawa. Sisanya dibawa masuk bagasi pesawat. And you know what, dengan jatah bagasi 3 penumpang (suami, mama, saya) total 60 kg, saya masih over baggage sebesar 34 kg! Parah banget. Manajemen packing saya masih kacau, aaaaa.

Padahal udah pengalaman pas di Jepang, bahwa rasanya barang itu sisa dikit, tapi ternyata masih banyak banget.  Tapi kesalahan yang sama terulang lagi, malah lebih parah. Lain kali kalau pindah jarak jauh gini mending saya kirim aja deh semua barang pake kargo, sisain yang penting-penting aja kayak bawaan kalo sedang traveling.

Sementara saya beberes di Balikpapan, suami mencari kontrakan di Bandung. Kami mencari kontrakan yang full furnished biar nanti ga ribet pas pindah lagi. Beli perabot sih gampang, tapi kalau nanti pindah lagi, ngurusin perabotan itu lebih repot. Dijual lagi belum tentu laku semua. Alhamdulillah dapat juga kontrakan full furnished sesuai budget.

Setelah sampai di Bandung, rasanya lega tapi belum plong, karena masih ada PR nata rumah dan unpacking. Haha. Saya unpacking santai aja, jadinya baru beres beberapa bulan kemudian.

Enakan Bandung atau Balikpapan?

Beberapa kali ditanya begini, haha. Secara umum lebih enak Bandung tentunya. Saya lebih suka udara Bandung yang sejuk, sementara Balikpapan panas banget. Di Bandung lebih banyak opsi tempat wisata atau rekreasi, kalau bosan pun melipir 1-2 jam dari Bandung udah ketemu kota lain yang ada tempat wisata juga, seperti Purwakarta, Garut, dll. Sementara di Balikpapan kami sering bingung mau ke mana lagi, ujung-ujungnya ke mall itu-itu lagi, kota lain pun jauh dan tidak begitu menarik ^^v

Tapiii, ga suka Bandung karena makin macet, heuu. Trus saya kangen ikan laut di Balikpapan karena banyak pilihan dan harganya lebih murah dibanding di Bandung. Saya kangen juga sama tukang sayur yang keliling komplek di Balikpapan tiap pagi. Rumah kontrakan kami di Bandung ga dilewati tukang sayur jadi kalau mau beli sayur butuh effort lebih, haha. Saya juga kangen es pisang ijo di dekat Maxi Manggar, belum nemu es pisang ijo yang enak di Bandung, banyakan dimodif dikasih meses, kacang, atau rasa-rasa apa lah, ga suka, haha.

Yaa intinya pasti ada enak dan ga enaknya lah ya masing-masing kota. Kalau enak semua mah cuma ada di surga kayaknya, wkwk.

Salam,

signature

2 thoughts on “Pindah Lagi ke Bandung

  • 3 June 2018 at 6:02 pm
    Permalink

    hi resha aku baru baca artikelnya.
    aku Alif 25th status masih lajang dan ingin menetap dan kerja di bandung. aku sebelumnya tinggal di medan dan sudah bekerja, tapi aku resign dan nyoba nyari kerja di bandung. aku suka bgt sama suasananya gak kaya jakarta dan aku juga sangat menghindari jakarta. tpi keluarga dan saudara2 aku bilang kalau mau kerja di jkt bukan di bandung.. tpi aku hati aku rasanya berat bgt klo harus dijkt. memang pelyang lebih banyak sih di jkt unr jg lebih gede tapi kehidupannya juga mempengaruhi dengan crowdednya. aku udah 5 bulan di bandung ini dan masih belum dpt kerjaan juga. salah gak sih kira2 menurut resha?

    Reply
    • 8 June 2018 at 11:14 am
      Permalink

      Halo Alif, tidak ada yang salah dengan pilihan hidup kamu selama itu halal dan baik. Mencari pekerjaan di Bandung memang lebih susah karena sektor industrinya lebih terbatas. Jadi coba pertimbangkan lagi, apakah kamu memang mau bertahan dulu sampai dapat pekerjaan di Bandung dengan konsekuensi kamu ga ada pemasukan sama sekali, atau mencoba pindah ke Jakarta dengan kemungkinan bisa dapat pekerjaan dengan lebih cepat.

      Reply

Leave your comment