Perjalanan ASI Akas (7): Akhirnya Berhasil Relaktasi, Bye Bye Sufor!

Dulu saya tidak begitu yakin apakah setelah berbulan-bulan berusaha, ikhtiar saya akan membuahkan hasil. Tapi alhamdulillah cerita relaktasi saya bisa berakhir dengan happy ending, walau butuh waktu lama, hehe. Tanggal 6 April 2016 adalah hari terakhir Akas minum sufor. Saat itu umur Akas 9 bulan 18 hari.

Di tulisan sebelumnya, saya sudah menjabarkan seperti apa proses relaktasi yang saya jalani sejak Akas berumur 3 bulan 12 hari. Singkatnya, saya menyusui Akas menggunakan suplementasi dengan NGT. Isi suplementasi ini mayoritas sufor karena saya jarang bisa memompa ASI. Porsi sufor dalam suplementasi dikurangi secara bertahap, hanya saja sampai Akas berusia 6 bulan saya belum bisa mengurangi sufornya hingga nol, malah sempat naik lagi porsinya, huhu.

Baca juga: Perjalanan ASI Akas (5): Memulai Perjuangan Relaktasi

Setelah Akas berumur 6 bulan alias sudah mulai MPASI, bagaimana kelanjutannya? Okeh saya lanjutkan ceritanya.

Relaktasi di Masa Awal MPASI

Sebelum Akas mulai MPASI, saya ke dr. N lagi sekalian kontrol bulanan Akas. Terakhir di usia 5-6 bulan, Akas mengkonsumsi sufor rata-rata sekitar 300 mL/hari, padahal bulan sebelumnya sudah pernah kurang dari itu. Dan ternyata dari usia 4-6 bulan, berat badan Akas stuck di angka 6.4 kg.

Terkait progres relaktasi, saya nanya ke dr. N apakah jumlah sufor untuk Akas sudah bisa coba dikurangi lagi, karena Akas sudah akan MPASI. dr. N bilang jangan dulu sebulan ini, karena biasanya bayi ga langsung lancar MPASI-nya. Saya ga nyangka dr. N jawab begitu, kirain bakal disuruh kurangi lagi.

Tapi dipikir-pikir lagi, dengan kondisi Akas yang beratnya ga naik selama 2 bulan berturut-turut, apa gunanya saya paksakan lagi mengurangi sufornya. Kalau ternyata nanti di bulan ke-7 beratnya ga nambah lagi, trus saya galau, ujung-ujungnya bikin ASI tambah seret lagi, percuma ya rasanya. Ya sudahlah, biarlah saya mengalah dulu sama sufor.

Oia dr. N sempat bilang untuk coba kasih Akas sufor pake sendok, kalau merasa repot dengan suplementasi, sekalian latihan untuk makan. Tapi saya memilih untuk tetap menyusui Akas dengan suplementasi. Ga repot kok, udah mahir, udah bisa nyiapin sendirian sekalipun sambil gendong Akas.

Jadinya sebulan pertama MPASI itu bisa dibilang saya fokus di program penggemukan Akas *halah*. Sufornya saya tambah dikit, jadi rata-rata 330 mL/hari. MPASI-nya alhamdulillah lancar jaya. Sebulan berlalu, timbangan Akas menunjukkan angka 7.3 kg. Artinya naik 900 gr. Alhamdulillah, saya bahagiaaaa.

Baca juga: Persiapan dan Perjalanan MPASI Akas

Berat badan naik banyak, Akas pun mulai nampak lebih berisi. Saya jadi lebih pede untuk coba mengurangi porsi sufornya lagi. Di umur 7 bulan, sehari total Akas makan 4x (3x menu utama + 1x camilan). Makin sering makan, otomatis makin berkurang sufornya karena frekuensi menyusunya juga berkurang. Kalau sebelumnya suplementasi itu bisa 5-6x sehari, sekarang bisa dikurangi hingga 2-3x sehari. Itu sufornya rata-rata 180 mL/hari. Sebulan ini, berat Akas naik 600 gr. Alhamdulillah.

Saya makin semangat untuk terus mengurangi sufornya, ditambah Akas makannya lahap terus. Namun saya sempat juga dilanda kegalauan. Teorinya kan asupan gizi bayi saat MPASI itu 70% dari ASI dan 30% dari MPASI. Bagaimana kalau persentase asupan Akas lebih banyak MPASI-nya? Untungnya kegalauan ini bisa segera saya tepis, karena buat apa sih itu dipikirin? Syukuri aja lah anak mau makan apa aja dan sufornya udah berhasil dikurangi.

Oia dalam sehari, suplementasi ini saya berikan dari pagi hingga sebelum Akas tidur malam, sekitar jam 9 malam. Kalau Akas kebangun tengah malam, saya cukup susui langsung aja. Jadinya dia nyusu lama sih di tengah malam itu, entah beneran nyusu atau cuma ngempeng. Tapi buat saya ga apa-apa, daripada saya mesti bikin sufor.

Di umur 8 bulan, sehari total Akas makan sudah 5x (4x menu utama + 1x camilan). Kali ini suplementasinya berhasil saya kurangi hingga cuma 1x aja sehari, yakni 90 mL saat menyusui Akas sebelum tidur malam.

Cukup lama saya bertahan di angka 90 mL ini, yakni hingga Akas berumur 9 bulan 10 hari. Saya belum berani lagi untuk menurunkan jumlah sufornya karena khawatir tidur malam Akas ga senyenyak biasanya. Saya butuh Akas tidur nyenyak di malam hari agar saya juga ada waktu untuk diri saya sendiri.

Bagaimana Kalau Belum Bisa Full ASI Setelah Akas 1 Tahun?

Selama relaktasi, beberapa hal masih mengganggu pikiran saya. Sudah 6 bulan saya berikhtiar untuk relaktasi, tapi masih belum berhasil juga. Padahal kalau baca-baca artikel lain, ada yang berhasil dalam 2 bulan saja, atau bahkan kurang dari 1 bulan. Apa yang salah pada saya? Apa ASI saya memang ga mungkin bakal cukup buat Akas?

Lalu saya baca thread di grup FB AIMI yang membahas susu UHT. Di bawah 1 tahun, bayi cuma bisa minum susu lain berupa sufor yang memang didesain untuk usia kurang dari 1 tahun. Setelah 1 tahun, ada opsi lain, yakni susu pasteurisasi atau susu UHT, yang mana sepemahaman saya lebih baik daripada sufor. Saya pun mulai bertanya-tanya, kalau setelah 1 tahun Akas masih butuh susu tambahan, sebaiknya saya kasih susu pasteurisasi atau susu UHT?

Saya ikut komentar menanyakan perihal susu pasteurisasi vs. UHT ini di thread itu. Seperti biasa, admin ga bakal jawab langsung, pasti bakal nanya soal ASI si ibu sendiri. Katanya, jika produksi ASI berkurang, dievaluasi dulu penyebabnya. Saya sampai ceritain lagi kondisi saya saat itu, tapi setelah itu ga dibalas lagi, haha.

Baca juga: Perjalanan ASI Akas (6): Diskusi Relaktasi Saya di Grup Facebook AIMI

Besoknya saya lihat thread lain di grup AIMI, kalimat admin ini menarik perhatian saya:

Caranya sementara untuk meningkatkan produksi asi selama di kantor bisa ibu perah sejam sekali 5-10 menit pun tidak apa2 tidak usah melihat hasil perahannya.

Lalu saya nimbrung nanya-nanya soal memompa ASI. Setelah beberapa kali berbalas komentar, adminnya sepertinya ingat cerita kondisi saya yang saya tulis kemarin. Akhirnya keluar pertanyaan begini:

Oiya, apa yg menjadi kendala ibu sehingga relaktasinya belum berhasil? Apa yg membuat ibu masih tidak pede memberikan ASI saja padahal formula yg diberikan paling cuma 60 mL kan?

Bu admin sebenarnya salah ingat angka. Saat itu saya cerita sufornya 90 mL. Tapi saya tertohok sekali dengan pertanyaan itu. Kenapa masih ga pede? Kenapa? Malamnya saya coba kasih Akas sufor cuma 60 mL, dan rupanya ketakutan saya tidak terbukti. Tidur malam Akas tetap seperti biasa.

Kumpulkan ASIP Sedikit Demi Sedikit, Bye Bye Sufor!

Setelah 3 hari mencoba porsi sufor 60 mL sebelum tidur dan tidak ada perubahan dengan tidur Akas, saya yakin bahwa sudah saatnya Akas berhenti minum sufor. Sebagai gantinya, saya mesti menyediakan ASIP 60 mL/hari. Saya yakin bisa mendapatkan ASIP segitu.

Saya terinspirasi kata-kata “perah sejam sekali 5-10 menit” di atas, tapi karena perah tiap jam itu tidak memungkinkan buat saya, saya pilih waktu yang lebih feasible, yakni saat Akas makan. Akas makan 5x sehari, saat makan dia selalu duduk di kursi makannya dengan tenang. Saya pompa kedua payudara masing-masing 5-10 menit.

Dapat berapa tiap kali pumping? Rata-rata 10 mL aja. Sedikit ya. Tapiii saya udah ga sedih lagi lihat hasil cuma segitu, malah bersyukur. Toh target saya cuma 60 mL kan. Tiap Akas makan dapat 10 mL, 5x makan udah dapat 50 mL. Saya tambah pumping tengah malam, cuma butuh 10 mL lagi biar pas. Hasil pumping seharian ini saya gabung, untuk digunakan sebagai suplementasi keesokan harinya. Terkadang saya kelewat sesi pumping ini karena pergi ke luar, lalu saat pumping di rumah dapat lebih banyak dari biasanya, itu rasanya bahagia sekaliii.

Begitulah rutinitas saya sejak 6 April 2016. Tiap jam makan: nyiapin makanan Akas, nyiapin pompa ASI, pumping, nyuapin, beresin peralatan makan, beresin pompa ASI, simpan ASIP di kulkas. Malam hari: gabungin ASIP, sebelum jam tidur angetin ASIP-nya, nyusuin dengan suplementasi hingga Akas tidur, pumping, cuci-steril botol-pompa-NGT. Repot memang tapi tidak apa-apa.

Sufor Akas masih sisa 1 kotak (saya tidak pernah beli yang ukuran kaleng), plus 1 kotak yang sudah terpakai sebagian. Sufor tersebut tidak pernah terpakai lagi. Terlupakan, ternyata sudah expired, berakhir di tong sampah.

Suplementasi ini saya teruskan hingga Akas berumur 1 tahun. Kenapa tidak coba saya stop? Alasannya masih sama, khawatir tidur malamnya ga nyenyak. Toh pake ASI saya sendiri juga kan, dan Akas ga ada masalah nyusu dengan suplementasi.

Bye Bye Suplementasi!

Setelah Akas berumur 1 tahun, saya beranikan diri untuk menghentikan suplementasinya. Saya sudah lelah pumping tiap hari, hehe. Rencana saya kalaupun Akas butuh susu tambahan, saya kasih susu UHT aja lah. Kenapa UHT? Karena lebih praktis aja sih dibanding susu pasteurisasi, heuheu.

Pertama coba tanpa suplementasi, rupanya tidak ada masalah juga malamnya. Alhamdulillah. Sejak itu akhirnya saya merasakan lagi menyusui tanpa bantuan alat apapun, seperti ibu-ibu lainnya. Nikmatnya. Hidup juga jadi terasa lebih ringan tanpa pumping 6x sehari, hihi.

Setelah berhenti pumping dan pakai NGT, bukan berarti produksi ASI saya sudah banyak. Saya ga pernah merasakan payudara saya padat. Saya ga tau rasanya let-down reflex (LDR) saat menyusui. Tapi saya udah ga mikirin lagi. Saya tetap berusaha untuk menyusui Akas hingga 2 tahun. Berapapun ASI yang bisa saya berikan ga masalah. Memberikan ASI walau cuma sedikit tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.

Banyak sekali hal yang saya pelajari dari pengalaman relaktasi ini. Tapi kalau ditulis semua sekarang sepertinya bakal panjang. Nanti saya pisah aja ke tulisan sendiri membahas serba-serbi relaktasi.

Kalau ditanya tips/saran agar berhasil relaktasi, saya bakal selalu mengulang kalimat ini: semangat, yakin bahwa bisa berhasil, jangan pernah menyerah.

Kalau mengingat perjalanan dari awal Akas lahir hingga umur 1 tahun ini, saya ga nyangka kalau saya bisa selama itu bertahan memperjuangkan ASI. Padahal saya tipenya kalau udah mencoba trus ga berhasil, seringnya ya udahlah nyerah aja. Mungkin karena rasa sayang ke anak memang beda yaa, hehe. Kalau saja saya apply beasiswa LPDP, di esai “Sukses Terbesar dalam Hidupku” saya bakal tulis kisah menyusui Akas ini, hihihi.

Ada yang pernah relaktasi juga? Share yuk pengalamannya. 🙂

Salam,

signature

12 thoughts on “Perjalanan ASI Akas (7): Akhirnya Berhasil Relaktasi, Bye Bye Sufor!

    • 22 May 2018 at 10:29 am
      Permalink

      Sekilas memang terlihat rumit teh, hehe. Dulu saya juga butuh beberapa hari untuk penyesuaian.

      Reply
  • 4 May 2018 at 11:43 am
    Permalink

    Wah saya baru tau nih ada istilah relaktasi. thank for share teteh

    Reply
    • 22 May 2018 at 10:30 am
      Permalink

      Sama-sama teh. Memang ga semua ibu-ibu kenal istilah relaktasi, hehe.

      Reply
    • 22 May 2018 at 10:31 am
      Permalink

      Sama-sama, semoga bermanfaat 🙂

      Reply
  • 5 May 2018 at 12:31 am
    Permalink

    perjuangan ya teh buat relaktasi, aku sih 1 bulan ni direct next mau coba asip krn aku kerja teh jd mulai biasain pagi sampe sore asip sore sampe pagi direct semoga berhasil

    Reply
    • 22 May 2018 at 10:32 am
      Permalink

      setiap perjalanan menyusui ada perjuangannya ya teh, bentuknya aja yang beda-beda. semangat working mom, moga lancar terus ASI-nya 🙂

      Reply
  • 5 May 2018 at 6:48 am
    Permalink

    Alhamdulillah ya mbak bisa full lepas sufor di usia sebelum 1 tahun. Alhamdulillah saya dulu juga sempat beberapa hari setelah SC sufor tapi sedikit2 dikurangi dan akhirnya full memberi ASI pada bayi. Senang rasanya. Baru tau juga ada istilah relaktasi. Semoga ASI yang diberikan untuk anak kita bisa bermanfaat untuk pertumbuhan dan kesehatannya di masa mendatang ya. Salam kenal ya mba reisha

    Reply
    • 22 May 2018 at 10:33 am
      Permalink

      Aamiin. Salam kenal juga mba. Betul, senang banget ya ketika akhirnya anak bisa full ASI lagi 🙂

      Reply
  • 7 May 2018 at 8:30 am
    Permalink

    Wah ilmu baru nih soal relaktasi. Makasih udah sharing soal ini ya, Reisha, Salam sayang buat Baby Akas 🙂

    Reply
    • 22 May 2018 at 10:34 am
      Permalink

      Sama-sama teh efi, terima kasih sudah berkunjung 🙂

      Reply

Leave your comment