Pengalaman Insisi Bintitan pada Anak dengan BPJS

Seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan sebelumnya, kondisi bintitan Akas pada saat itu sudah parah sekali. Sudah dikasih treatment salep, obat tetes, dan antibiotik, masih aja ga mengempes bintitannya. Akhirnya kami pasrah, mungkin memang insisi adalah solusi terbaik buat Akas saat itu. Sedih dan kasihan rasanya tiap lihat kondisi matanya itu, huhu.

Baca juga: Saat Akas Bintitan Hingga Harus Diinsisi

Insisi Bintitan Akas Di Mana?

Pada akhirnya kami memutuskan untuk melakukan insisi menggunakan BPJS Kesehatan. Pertimbangan utama tentulah terkait biaya, 3 jutaan buibu kalo bayar sendiri, huhu. Pertimbangan lainnya, ini tu bukan operasi yang urgent banget, jadi ga apa-apa deh bersabar mengikuti prosedur BPJS. Untuk RS-nya, kami memilih ke RS Mata Cicendo aja, karena ini RS khusus untuk mata jadi saya yakin alat di sana lengkap dan dokternya oke.

Oia sebelumnya dr. R1 menyuruh kontrol lagi seminggu kemudian, tapi karena udah yakin ini bakal disuruh insisi dan toh di Bandung Eye Center (BEC) Jl. Sumatera juga ga bisa insisi, jadi mending dari awal aja kami urus rujukannya.

Mengurus Rujukan ke Faskes Tingkat 1

Kamis, 14 Desember 2017

Faskes Tingkat 1 kami adalah Puskesmas yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumah. Sekitar jam 9 pagi kami sampai di sana untuk meminta rujukan. Agak telat emang dan apesnya lagi rame pula.

Untuk mendapatkan rujukan, di sana kita tetap harus antre sama dengan pasien-pasien lainnya, lumayan lama menunggu. Setelah dipanggil, tetap konsultasi dulu dengan dokter di sana. Saat konsultasi, dokternya bilang “duh ibu, bintitan ini sebenarnya tinggal dikompres aja”. Errr. Rada kzl dengernya. Tapi akhirnya dikasih rujukan juga sih.

Waktu minta rujukan, saya bilang mau ke Cicendo, ternyata ga bisaaa, karena Cicendo itu Faskes Tingkat 3, sementara rujukan harus ke Faskes Tingkat 2 dulu. Wah saya baru tahu. Saya tanya bisanya ke mana, katanya bebas. Hmm. Lalu kepikiran minta rujukan ke BEC aja lah, karena di sana nanti bakal dirujuk lagi jadi bisa minta untuk ke Cicendo, kekeke.

Rujukan dari Puskesmas udah dapet, kami pun segera meluncur ke BEC.

Mengurus Rujukan ke Faskes Tingkat 2

Sampai di BEC, kami diarahkan untuk ke lantai 3. Rupanya lantai 3 ini khusus untuk pasien BPJS, sementara lantai 1 dan 2 untuk pasien pribadi atau asuransi lainnya. Berbeda dengan lantai 1 yang sepi, lantai 3 lumayan ramai tapi masih kerasa nyaman. Kami segera mendaftar dengan rujukan yang tadi.

Ga lama menunggu, Akas pun dipanggil. Beuh, lebih cepat ini antrenya daripada di Puskesmas. Di sini kami bertemu dengan dr. R2. Dokter laki-laki tapi kerasa ramah banget sama anak kecil waktu itu. Kepada dr. R2 kami juga banyak nanya-nanya, diskusinya udah saya tulis di tulisan sebelumnya yaa. dr. R2 fix bilang ini mesti diinsisi dan karena ga bisa di sana jadi harus dirujuk. Kami minta rujukan ke Cicendo dan dapet. dr. R2 bilang kalo mau ke Cicendo mending secepatnya aja, khawatirnya keburu tutup pendaftarannya. Weleh.

Selain rujukan, kami juga dapat surat pengantar untuk kontrol berikutnya yang berlaku selama 1 bulan ke depan. Jadi berikutnya kalau mau kontrol kami ga perlu ke Puskesmas lagi untuk minta rujukan. Dan katanya abis insisi dari Cicendo, kontrol ke BEC aja. Beres dengan segala berkas, kami langsung secepatnya ke Cicendo.

Insisi Bintitan Anak di RS Mata Cicendo dengan BPJS

Dalam bayangan saya, kami ke Cicendo hari ini, besoknya udah bisa insisi. Tapi ternyata prosedurnya lebih panjang, heuu. Tapi yaa karena pakai BPJS jadi pasrah aja laaah, kekeke.

Sampai di Cicendo, kami baru tahu kalau pendaftaran pasien di sana ditutup jam 12. Walah, kirain bisa seharian. Kami sampai jam 12 kurang, untungnya masih bisa daftar, fyuh. Ini saya runut aja prosedur yang dilakukan yaa.

Pendaftaran Pasien

Kami belum pernah berobat ke Cicendo, jadi pasti mesti daftar pasien baru dulu. Saat mendaftar, saya serahkan semua rujukan yang kami punya. Lalu kami disuruh untuk memfotokopi dan melaminasi surat rujukan dan permintaan konsultasi yang tadi didapat dari BEC. Malesin sebenarnya, kenapa mesti pakai laminasi segala, fyuh.

Berkas-berkas Akas

Setelah mendaftar, kami diarahkan ke Poli Pediatrik Oftalmologi. Bahasa awamnya poli untuk mata anak.

Pemeriksaan oleh Dokter Spesialis Mata

Kami segera menuju poli yang dimaksud, letaknya di lantai paling atas kalo ga salah. Di sana ternyata yang antre ramaaai, pasti bakal lama deh ini. Untungnya di sana ada playground-nya, jadi Akas ga bakal bosan menunggu.

Lama menunggu sampai kelaparan, akhirnya dipanggil juga. Kami diarahkan ke Ruang 1, yakni Ruang Ruang Pemeriksaan Refraksi Anak. Di sini kayaknya dicek sama perawat deh. Akas saat itu cuma ditimbang dan dilihat sekilas kondisi bintitannya. Saya sekalian jelasin juga kalau Akas udah dikasih segala macam obat tapi ga mempan.

Berikutnya, antre lagi, fyuh. Tapi ga selama yang pertama. Kali ini masuk ke Ruang 2, yakni Ruang Pemeriksaan Dokter. Kirain tu bakal langsung ke dokter spesialis matanya ya, tapi melihat beberapa dokter di sana masih muda-muda banget, kayaknya itu dokter-dokter yang lagi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) deh, hmm.

Akas kebagian sama dokter laki-laki, saya ga tahu namanya, haha. Ke dokter ini saya jelasin lagi kronologisnya, udah dikasih obat apa aja, dsb. Lalu dokternya bilang abis ini bakal dicek lagi sama dokter yang lebih senior untuk ditentukan berikutnya gimana. Dan itupun kami mesti menunggu lagi. Duh buat ketemu dokter spesialisnya aja selama ini.

Ketemu juga akhirnya sama dokter spesialis matanya. Kami ditanya lagi itu bintitannya kenapa dan udah dikasih obat apa aja. Ah elaaah, ini pasti dokternya ga baca ataupun nanya detail apa aja yang dibahas dengan dokter sebelumnya. Ngerti sih mungkin dokternya sibuk karena banyak banget pasien yang diurusin, dan yaaa kalo pake BPJS pasrah aja laaah, haha #mantrapenting.

Oleh dokter ini, kami disuruh untuk cek darah dan rontgen dulu. Kami tanya kapan bisa insisi, katanya belum bisa ditentukan. Hadeh. Dari situ kami segera ke lab tanpa ada bayangan prosedur berikutnya gimana.

Cek Darah dan Rontgen Thorax

Lab di Cicendo berada di lantai bawah. Di sini kami menunggu lagi untuk pengambilan darah Akas serta rontgen. Hasil pemeriksaan darah katanya bisa diambil 1 jam lagi, sementara hasil rontgen baru bisa besoknya. Kalo begitu mah mending besok aja sekalian semuanya, fyuh. Sebenarnya rada bingung juga sih foto thorax ini buat apa. Nanya beberapa orang yang anaknya pernah insisi juga katanya ga pake rontgen. Tapi ya udahlah ya, ikutin aja prosedurnya.

Jumat, 15 Desember 2017

Keesokan paginya kami ke Cicendo dan langsung menuju lab untuk mengambil hasil pemeriksaan darah dan rontgen. Setelah itu kami langsung ke poli mata anak lagi.

Pemeriksaan oleh Dokter Spesialis Anak

Di poli mata anak, kami lapor ke petugasnya dan menyerahkan hasil lab. Lalu? Antre lagi donk, eaaa. Berikutnya ternyata menunggu untuk diperiksa oleh dokter spesialis anak. Pemeriksaannya biasa aja sih, pake stetoskop, trus ditanya-tanya riwayat kesehatannya. Tujuannya ternyata untuk memastikan apakah kondisi anak baik dan sehat untuk dioperasi. Alhamdulillah kondisi Akas baik jadi bisa dilakukan insisi segera.

Baca juga: Saat Akas Mengalami Kejang Demam

Menentukan Jadwal Insisi

Dari dokter anak, kami menunggu lagi. Selanjutnya kami dipanggil oleh dokter PPDS lagi untuk membahas jadwal insisi. Jadwal tercepat yang ada adalah hari Senin, karena Sabtu Minggu ga bisa. Wah, kirain bisa selesai hari itu, heuheu. Saya tanya jamnya, katanya ga bisa dipastikan juga karena tergantung antrean pasien yang bakal operasi hari itu juga. Hadeh.

Sebelum insisi nanti, Akas harus puasa dulu minimal 6 jam. Karena itu kami disarankan sepagi mungkin datang ke RS biar anaknya ga terlalu lama kelaparan. Emang bakal menantang sih ini anak 2.5 tahun ini disuruh puasa 6 jam.

Pemeriksaan oleh Dokter Spesialis Anestesi

Kirain udah beres ya segala urusan konsultasi dengan dokter, ternyata masih adaaa. Berikutnya kami disuruh ke poli lain untuk dicek oleh dokter anestesi. Untuk ketemu dokter anestesi ini, menunggunya lamaaa banget, huhu. Dan karena di sana ga ada playground, otomatis Akas cepet bosan. Tambah lagi petugas di polinya galak. Akas saking bosannya jadi berdiri dekat teralis dan mukul-mukul teralis itu, eh petugasnya bilang semacam “tolong yang punya anak, jangan ribut di sini”. Err.

Di dokter anestesi, Akas serta hasil labnya dicek lagi. Dokternya menjelaskan nanti proses anestesinya gimana. Trus kami diminta menjaga kondisi kesehatan Akas sebelum insisi karena kalau Akas sampai sakit, artinya insisinya mesti diundur.

Dari sini udah kelar semua urusan, tinggal menunggu hari Senin untuk insisi.

Insisi Bintitan (Hordeolum)

Menunggu hari Senin rasanya lama sekali. Kami beberapa kali sounding ke Akas kalau hari Senin dia harus dioperasi biar matanya ga benjol lagi. Juga sounding kalau dia nanti harus makan dulu saat subuh lalu ga boleh lagi makan sampai dioperasi.

Saya makin deg-degan melihat bintitan Akas karena udah gede dan kayak mau pecah. Hari Minggu ada sedikit nanah keluar dari bintitannya, artinya ada yang berlubang kan ya. Gatel banget sebenarnya pengen ngeluarin semua nanahnya, ibarat gatel mau mencet jerawat, wkwk. Tapi daripada nanti kenapa-kenapa yaa saya biarin aja, cuma dibersihkan.

Senin, 18 Desember 2017

Jam 4 subuh saya sudah siap dengan sarapan Akas, tapi membangunkannya butuh waktu. Saya ga mau kalau dia bangun dengan terpaksa, mood-nya rusak, lalu drama. Ribet ntar urusannya. Setelah bangun untungnya dia kooperatif dan makan dengan damai.

Sampai di Cicendo, kami lapor lagi untuk segala urusan administrasi. Katanya kami datang agak terlambat, tadi udah dicariin dokter, eaaa. Saya lupa setelah itu ngapain aja. Menunggu lagi sih yang jelas, haha. Kali ini menunggu di ruangan tunggu khusus untuk pasien one day care.

Jam 11 kami baru dipanggil untuk ke ruang bedah. Anak kecil ini ga mungkin disuruh sendiri kan ke ruang bedah, jadi mesti didampingi. Kami tanya Akas mau sama siapa, katanya mau sama ibu, baiklah. Saya emang kepo juga sih prosesnya gimana, biar bisa ditulis di blog #eh.

Masuk ke lantai khusus bedah, Akas disuruh ganti pakaian dengan pakaian RS, saya juga mesti dobel pakaian dengan pakaian RS. Di dalam sana kami mesti antre lagi, kalau ga salah ada belasan pasien, semua pasien dewasa. Melihat mereka duduk diam menunggu, ada yang matanya diperban, ada yang pegang infus, rasanya suram.

Menunggu giliran dipanggil, itu di dahinya dikasih tanda pake spidol

Sekitar jam 11.30 Akas dipanggil untuk insisi. Saya mengantar Akas ke ruangan yang isinya banyak alat. Di sana dokter anestesi sudah menunggu. Tak lama kemudian dokter matanya datang. Akas disuruh menghirup gas dari masker tapi dia ga mau dan mulai nangis. Saya mencoba menenangkan Akas, masih tampak tak rela tapi akhirnya dia mau juga. Ga butuh waktu lama, Akasnya udah ga sadar.

Dokter meminta saya keluar. Yaah, padahal pengen lihat, haha. Saya pun disuruh menunggu di ruang pemulihan. Bingung juga mau ngapain. Sesekali saya intip, satu pintu masih kebuka. Sempat kelihatan di monitor ada mata berdarah-darah, tapi kurang jelas karena saya ga bawa kacamata, haha.

Ngintip pertama, satu pintu dibiarkan terbuka
Ngintip kedua, udah selesai kayaknya

Cuma sekitar 10 menit, insisinya beres. OMG, hanya 10 menit tapi menunggu antrean sudah habis berjam-jam, fyuh. Akas dibawa ke ruang pemulihan.

Setelah insisi, cuma tinggal dokter anestesi di sana

Setelah Insisi

Di ruang pemulihan, Akas saya biarin aja di kasur, kirain tunggu bangun sendiri. Eh perawat tiba-tiba bilang “eh dibangunin atuh bu anaknya”. Weleh. Daan sesuai dugaan, saat bangun dia nangis dan ngamuk pengen melepas perban di matanya.

Saat masih belum sadar

Selanjutnya kami menunggu lagi untuk diantar ke ruang tunggu. Perawat yang menjemput kami datang dengan membawa kursi roda. Si pasiennya ga mau duduk di sana sendiri, akhirnya dipangku saya deh duduk di kursi roda. Pertama kalinya itu saya pakai kursi roda, haha.

Akas belum boleh langsung makan/minum, mesti menunggu 1 jam dulu dan pastikan ga ada mual muntah. Kasihan Akas, dia sudah haus dan kelaparan. Udah kelar? Belum. Masih menunggu lagi untuk obat dan beresin administrasinya. Lumayan lama juga nunggunya sampai Akasnya ketiduran.

Akas dikasih tiga macam obat:

  • Cendo Mycos, ini salep yang sama dengan sebelumnya, kali ini dioles 3x sehari.
  • Sanmol, ini isinya paracetamol untuk pereda nyeri, diberikan 3x sehari dengan dosis 1sdt.
  • Cefadroxil Monohydrate, ini antibiotik, diberikan 2x sehari dengan dosis 1 sdt.

Selain obat, saya juga disuruh untuk tetap tutup mata Akas pakai kasa steril selama 3 hari.

3 hari seperti ini

Urusan administrasi beres. Di kuitansi total biayanya 2.5 juta kalo ga salah, lupa juga saya nyatet detailnya. Ga sampai 3 juta seperti perkiraan sebelumnya. Tapiii kami ga bayar apa-apa karena ditanggung semua oleh BPJS. Alhamdulillah.

Oia selain obat, kami juga dikasih surat pengantar untuk kontrol di Cicendo pasca insisi. Harusnya sih seminggu setelahnya kalo ga salah, tapi karena ada libur Natal akhirnya dijadwalkan tanggal 27.

Kontrol Pasca Insisi Bintitan

Setelah insisi, benjolan di kelopak mata Akas itu ga langsung kempes, masih kelihatan, bedanya cuma ga ada nanahnya lagi. Tapi seiring berjalannya waktu bakal kempes kok.

Untuk kontrol, sebenarnya kami punya dua surat pengantar, yakni dari BEC dan Cicendo. Tapi saya memilih kontrol ke Cicendo aja karena insisinya di sana kan.

Rabu, 27 Desember 2017

Kami kembali ke Cicendo dan berhadapan lagi dengan antreannya yang lamaaa. Saking keseringannya ngantre di poli mata anak, Akas sampai mikir kalau ke RS itu artinya pergi main ke playground, wkwk. Saat daftar ternyata masih butuh surat rujukan untuk tindakan sebelumnya, ga cukup dengan surat pengantar kontrol aja. Dan saya ga bawa surat itu, heuu. Trus inget saya pernah memfoto suratnya di HP, saya kasih lihat aja, dan untungnya dibolehin.

Begitu dipanggil, rupanya kami cuma konsultasi dengan dokter PPDS, bukan dengan dokter yang dulu melakukan insisi, fyuh. Di mata Akas masih kelihatan bekas bintitannya tapi katanya terusin aja kasih salepnya, nanti juga bakal hilang. Kali ini Akas diresepkan dua macam obat:

  • Cendo Mycos, ini entah udah berapa kali dapet salepnya sejak awal ke dokter mata.
  • Cendo Lyteers, ini obat tetes yang katanya seperti air mata, fungsinya untuk menyegarkan aja, diberikan 4x sehari sebanyak 1 tetes.

Kali ini saya ga tebus obatnya di apotek Cicendo, tapi di apotek lain aja. Kapok dengan antreannya yang lama.

Januari 2018

Saya lupa tepatnya tanggal berapa, mumpung masih ada surat kontrol dari BEC, kesempatan itu saya manfaatkan untuk ke BEC lagi. Kenapa? Karena bekas bintitannya itu masih kelihatan, huhu. Di BEC kami ketemu dengan dr. R3, tadinya ngarep dengan dr. R2 aja karena dulu kan beliau yang cek Akas sebelum insisi.

Perkembangan bekas bintitannya pasca insisi

Kata dr. R3, itu butuh waktu aja biar kembali normal, kasih salep lagi aja. Trus saya bingung apa boleh ini salepnya dipakai lama, katanya ga apa-apa. Trus dari dr. R3 masih dikasih surat pengantar untuk kontrol 1 bulan lagi, tapi saya ga pernah bawa Akas balik kontrol lagi. Udah ga masalah sih soalnya.

Saat ini sudah hampir 1 tahun berlalu sejak insisi itu. Gimana kondisi bekasnya? Sekilas sih ga kelihatan, tapi kalau diperhatikan dengan seksama masih terlihat. Tapi udah jauh lebih baik lah.

Sekian pengalaman saya dengan insisi bintitan pada anak. Panjang yaa. Memang panjang dan melelahkan, huhu. Berdasarkan pengalaman, ada beberapa hal yang bisa saya catat:

  • Insisi bintitan ini bisa ditanggung penuh oleh BPJS, tapi yaa bersabar aja dengan prosesnya. Kami perlu minta rujukan sampai 2x karena mau ke Faskes Tingkat 3. Kalau mau di Faskes Tingkat 2 aja cuma butuh sekali kok.
  • Antrean di RS Mata Cicendo itu sungguh melelahkan, jadi kalau ke sana apalagi sama anak mending siapkan amunisi agar tidak bosan dan lapar. Antreannya ga tentu, sistem di sana pun masih manual. Pernah saat antre di poli saya coba nanya petugasnya ini berapa antrean lagi, petugasnya ga bisa jawab, disuruh balik nunggu karena dia pun riweuh dengan tumpukan buku rekam medis yang banyak. Wew.
  • Kalau mau pakai biaya sendiri sih saran saya mending insisi di klinik mata aja, di BEC Jl. Buah Batu bisa katanya. Di Cicendo walaupun bukan BPJS denger-denger antreannya lama juga, heu.
  • Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Jadi selalu perhatikan kebersihan tangan anak, buat anak mengerti bahwa dia ga boleh ngucek matanya pakai tangan. Kalau sudah kelihatan ada bintitan, sering-sering aja kompres hangat.

Salam,

signature

Satu tanggapan untuk “Pengalaman Insisi Bintitan pada Anak dengan BPJS

  • 5 November 2018 pada 02:29
    Permalink

    memang kalau pakai bpjs hrs super sabar ya

    Balas

Leave your comment