Menghindari Hal-Hal yang Bisa Menurunkan Self-Esteem Anak

Beberapa kejadian akhir-akhir ini mengingatkan saya kembali pada kejadian saat saya dibilang sombong oleh guru SD saya. Saat itu sedang pelajaran di kelas, saya masih kelas 1 atau kelas 2 kalau ga salah. Saya ga ingat melakukan apa sampai dibilang seperti itu di dalam kelas. Yang saya ingat saya bingung sekali kenapa sampai dibilang sombong. Memangnya sombong itu seperti apa?

Satu kata saja, tapi sangat membekas. Pedih, Jenderal! Efeknya, saya jadi sering merasa takut salah. Saya ga berani nanya di kelas karena takut pertanyaan saya salah, sudah ada jawabannya di buku kok masih nanya ke guru. Saya khawatir pertanyaan saya terlalu bodoh, nanti diketawakan teman-teman di kelas. Saya ga berani ngacung untuk menjawab pertanyaan guru karena takut dibilang sombong atau sok tahu. Ditambah lagi dengan metode pembelajaran di Indonesia saat itu yang membuat murid menjadi pasif, jadilah saya siswa yang pasif di kelas.

Tentu tidak hanya karena kejadian di atas saja, kombinasi dengan beberapa hal lain di rumah dan lingkungan mungkin membuat saya sering tidak berani dan tidak percaya diri dalam mengutarakan sesuatu, apalagi di depan umum. Ditambah lagi pribadi saya memang pada dasarnya sudah introvert. Jangan harap saya bisa bicara dengan santai dan lancar di depan umum. Presentasi itu salah satu hal yang saya hindari, kecuali kalau memang ga bisa menghindar lagi, haha.

Lain halnya dengan menulis, jauh lebih lancar lah dibanding berbicara. Bisa dilihat deh di blog ini mayoritas tulisan saya bisa panjang. Di saat orang lain masih kesulitan mencapai minimum 500 kata untuk menulis satu tulisan, saya malah kadang kesulitan mempersingkat tulisan agar tidak lebih dari 1000 kata. Eh kok kayaknya sombong? Aduh aduh. Yaa intinya saya lebih lancar menyampaikan sesuatu lewat tulisan ketimbang lisan. Suruh lah saya jelasin secara lisan apa yang saya tulis di blog, dijamin bakal ga selancar itu, wkwk.

Dunia terus berkembang, dulu cuma ada dunia nyata, sekarang juga ada dunia maya. Dulu saat zaman masih web 1.0, dunia maya masih rada sepi karena content di web itu bersifat satu arah, orang cuma bisa baca tapi ga ada interaksi. Bergantilah ke zaman web 2.0, dunia maya semakin ramai dengan user generated content. Siapa saja bisa memberikan content di dunia maya. Terus muncullah media sosial, dunia maya pun makin menjadi-jadi ramainya.

Lama-kelamaan saya merasa berpendapat di dunia maya ga jauh beda dengan di dunia nyata. Di saat orang gemar cari perhatian di dunia maya dengan cara apapun, saya masih tetap sama: tidak nyaman jika dihadapkan pada audience yang ramai apalagi yang tipe senggol bacok. Dengan semakin beragamnya orang di dunia maya, pro kontra itu gampang sekali muncul, topik apa aja bisa jadi perdebatan, dan yang model begini audience-nya pasti tinggi. Dan saya ga nyaman dengan hal-hal seperti, maka dari itu saya sangat menghindari membahas hal yang kontroversial di blog apalagi di media sosial saya. Saya ga kebayang kalau harus meladeni debat kusir hingga menerima bully-an. Salut deh sama orang-orang yang tetap tegar menghadapi kelakuan para netijen.

Suatu ketika tiba-tiba saya ingin mencoba speak up, turut menyampaikan apa yang saya pikir dan rasakan terhadap suatu hal yang sedang ramai dibahas. Ga tahu deh itu keberanian dari mana. Lalu saya melihat respon orang-orang di sekitar saya bahkan yang saya kenal, bisa beda banget dari yang saya bayangkan. Dan ini sungguh mengganggu pikiran saya. Salahkah saya punya pendapat seperti itu? Dan pada akhirnya saya makin sadar kalau saya memang tidak cocok nimbrung membahas hal-hal yang sedang viral, apalagi jika ilmu saya masih minim sekali terkait hal itu.

Eh kok ini udah ngelantur ke mana-mana. #curcoldetected.

Paham minusnya saya di mana, saya tentu ga pengen kalau anak saya nanti punya kekurangan yang sama. Harapan saya tentulah anak saya bisa lebih baik daripada orang tuanya. Salah satu kekurangan saya itu mungkin terkait self esteem, mirip-miriplah dengan percaya diri. Dan kalau dirunut lagi, ada beberapa hal yang menurut saya bisa membuat rasa percaya diri itu turun, terutama jika didapat dari orang tua atau pengasuh yang lebih sering membersamai anak.

Hal-Hal yang Bisa Menurunkankan Self-Esteem Anak

Ada lima hal yang terpikir oleh saya saat ini yang harus saya hindari. Saya bukan orang tua yang sempurna, jadi bukan berarti saya sudah menghindari hal-hal ini dengan baik. Kadang masih miss melakukan beberapa hal, jadi anggap aja ini juga reminder buat saya, hehe.

Labelling Terhadap Anak

Mengecap anak dengan suatu label tertentu katanya ga baik buat anak, baik itu label negatif ataupun positif. Melabeli anak dengan hal yang negatif jelas ga baik ya, apalagi kalau ibu yang ngasih label itu. Saya percaya perkataan ibu itu adalah doa, jadi kalau sampai ngasih label negatif ke anak, artinya saya mendoakan anak saya untuk jadi seperti itu. Duh jangan sampai.

Sementara label positif, pada porsi yang pas banyak manfaatnya buat anak, bisa menambah rasa percaya dirinya. Tapi jika sudah berlebihan porsinya apalagi tidak sesuai dengan kenyataan, efeknya juga buruk. Anak bisa menjadi tidak objektif dan tidak realistis melihat dan menilai dirinya serta rentan tidak mau menerima kritik. Lalu saat dia menemukan hal yang tidak baik tentang dirinya, reaksinya bisa negatif. Misal anak sering dilabeli sebagai anak hebat dan pintar, lalu ketika dia salah dia akan sulit menyadari kesalahannya dan lebih sering mencari alasan untuk menyalahkan orang lain.

Membentak Anak di Depan Umum

Ga ada yang suka dibentak apalagi kalau dibentak di depan umum dan semua mata tertuju pada yang dibentak. Ga harus mengalami berulang kali, walau satu kali pun tapi itu sangat membekas, itu sudah cukup membuat kita merasa rendah diri. Ya kayak cerita saya waktu SD itu deh kira-kira. Cuma sekali padahal saya dibilang seperti itu, tapi masih kerasa aja bekasnya hingga sekarang.

Meremehkan Apa yang Dilakukan Anak

Apa yang dilakukan anak biasanya tampak remeh sekali di mata orang dewasa. Tapi saya sudah merasakan juga kalau diremehkan itu sungguh ga baik efeknya. Karena itu saya berupaya untuk menghargai apa yang dilakukan dan ditunjukkan Akas kepada saya. Akas cuma gambar coret-coretan yang ga jelas (menurut kita yang orang dewasa) dan dia bilang itu gambar mobil, saya berikan pujian sewajarnya. Jangan lihat sisi coretannya, coba lihat sisi lainnya, bahwa dia sudah bisa memegang alat tulis dan sudah bisa membayangkan sesuatu.

Makanya saya kadang gemes sendiri kalau ketemu orang yang jarang ketemu Akas tapi sudah berkomentar “apaan sih ini yang dibikin?” (dengan nada meremehkan) atau “kok masih belum bisa itu, si anu yang lebih kecil udah bisa lho padahal”. Huft. Udah tahu perkembangan anak beda-beda, tapi kok lebih sering melihat sisi minusnya aja?

Tidak Menjadi Pendengar yang Baik Bagi Anak

Siapapun pasti butuh didengarkan. Sedih sekali rasanya kalau sampai merasa ga ada orang yang mau mendengarkan kita dan memahami kondisi kita. Jujur sampai sekarang pun saya kadang masih merasa seperti itu. Saya ngomong apa, tapi ga ada yang merespon. Atau lagi ngobrol rame-rame lalu ada yang mendominasi pembicaraan, baru nimpalin dikit udah dipotong, huft. Kenapa sebagian orang sulit sekali mencoba mendengar dulu baru menanggapi?

Punya anak yang masih kecil, ke siapa lagi donk dia belajar cerita dan ngobrolin banyak hal kalau bukan ke orang tuanya? Jadi kalau sampai orang tua sendiri pun tidak bisa jadi pendengar yang baik, gimana ntar perasaan anaknya? Makanya saya salut banget baca blog annisast yang bilang dia selalu mendengarkan anaknya. Sementara saya kalau lagi cape atau kesel masih rada males ladenin anak, huhu.

Menggunakan Pendekatan yang Sama Kepada Semua Anak

Tiap anak punya kepribadian yang berbeda, jadi rasanya ga tepat kalau kita menggunakan cara yang sama kepada semua anak. Dulu saya heran kok orang tua saya punya aturan yang beda terhadap saya dan adik, merasa kok kayaknya ga adil. Sekarang saya bisa mengerti kalau itu beda karena kepribadian kami berbeda. Tapi saya juga pernah merasakan dapat pendekatan yang sama, tapi respon kami bisa berbeda terhadap hal itu. Karena suatu hal, di adik saya responnya bisa positif, sementara di saya responnya negatif.

Jadi memang ya sebagai orang tua kita mesti mengerti banget anak kita itu seperti apa supaya bisa menggunakan pendekatan yang tepat kepada setiap anak, ga bisa disamaratakan.

Udah kayaknya. Mungkin banyak melebar ke mana-mana ditambah curcol, tapi itu yang terpikir untuk saat ini. Daripada cuma numpuk di kepala dan kepikiran lagi, hehe. Ada yang mau menambahkan hal-hal yang pengen dihindari dilakukan kepada anak biar anak bisa jadi anak yang percaya diri?

Salam,

Reisha Humaira

8 thoughts on “Menghindari Hal-Hal yang Bisa Menurunkan Self-Esteem Anak

  • 26 Desember 2018 pada 22:08
    Permalink

    Palung justru alami pembandingan secara terang-terangan dari guru TK-nya, sampai saya frustrasi sebagai ortu. Makanya Palung yang bukannya dibimbing dengan sabar malah dibiarkan. Gak tahu apa yang ada di kepala tu guru, tak memahami psikologi pendidikan dini. Langsung melabeli tanpa membangun hal positif dulu pada anak didiknya. Lalu bagaimana ortu bisa kerja sama dengan guru jika anak malah merasa sesuai dengan label itu.
    Padahal perkembangan tiap anak beda, dan mestinya jangan keburu kalap main label anak lambat dan tak fokus. Bantu komunikasi agar lebih asertif dan perhatikan guru, bukan dibentak sampai main gebrak meja segala.
    Saya sampai trauma nyekolahin anak di sana, padahal ternyata IQ Palung 112, di atas rata-rata normal. Memang d ia pada mulanya lambat, namun lama-lama bisa paham. Lagian ada sisi positif dalam dirinya. Bukan anak agresif biang kerok suka ribut. Saya ajarkan etika dan sopan santun agar hatinya terjaga dari hal buruk.

    Balas
    • 17 Januari 2019 pada 09:39
      Permalink

      Wah, sedih ya mbak TK yang udah kita percayakan untuk didik anak kita malah gitu gurunya 🙁 Semoga berikutnya selalu ketemu guru yang baik-baik ya mbak 🙂

      Balas
  • 1 Januari 2019 pada 13:48
    Permalink

    samaaa mba. aku termasuk yg ga mau ikut2an bahas hal2 sensitif atau kontroversial. ga pengen ribut. Makanya aku jg ga suka kalo sampe di sosmedku ada temen yg suka nulis begitu apalagiiiii, pake bahasa kasar. Ga nyaman juga bacanya. jd lbh baik aku delete orangnya.

    kalo ttg anak2, akupun belajar dr kesalahan ortu dulu. kalo dulu aku ga dikasih kesempatan mau melakukan apa, dan cuma bisa harus nurut apapun yg disuruh papa mama, misalnya les piano padahal aku aku lbh seneng renang. dipaksa masuk IPA, padahal aku kuat di IPS, dll. itu jujur aja bikin aku jd introvert dan ga berani terlalu aktif di kelas.

    pengennya anak2 ga seperti itu. aku ga bakal maksa mereka mau jd apa. mau ikut les apa, kuliah dimana dan jurusan apa. biarlah itu keinginan anak2, sesuai bakat mereka. aku dan suami cuma bisa support dan kasih tau plus minus nya apa.. jd anak2 terbiasa memutuskan sesuatu juga.. moga2 bisa ngaruh ke tingkat percaya diri mereka akhirnya 🙂

    Balas
    • 17 Januari 2019 pada 09:41
      Permalink

      Setuju mbaak, biarlah anak menjalankan apa yang dia suka, selama itu baik dan ga merugikan. Karena pede dalam mengambil keputusan sendiri itu ternyata penting juga. Kalau apa-apa terbiasa ngikut pilihan orang tua, di saat harus memutuskan sendiri jadi sering ragu 🙁

      Balas
  • 1 Januari 2019 pada 15:40
    Permalink

    Wah mbak kok sama banget yaaa. Saya juga begitu, seringkali saya merasa saya mampu tapi saya takut mengutarakan ide di dalam kepala. Takut disalahkan, takut idenya nggak diterima, takut diremehkan. Untunglah blog bisa membantu untuk menyalurkannya.

    Balas
    • 17 Januari 2019 pada 09:51
      Permalink

      Hihihi, berarti kita ga sendirian mbak. Toss duluuu.

      Balas
  • 13 Januari 2019 pada 15:37
    Permalink

    Terkadang saya jadi ibu tanpa sadar melabeli anak ketika saya sedang emosi 🙁 , sebagai ibu memang kita harus banyak belajar agar perkembangan anak maksimal

    Balas
    • 17 Januari 2019 pada 09:51
      Permalink

      Bener ini mbak, menahan emosi ini masih jadi PR banget yaa

      Balas

Leave your comment

%d blogger menyukai ini: