City Park: Taman Lalu Lintas, Bandung

Akhirnyaa, setelah 20an taman di Bandung dikunjungi dan ditulis di blog ini, tiba juga saatnya menulis tentang Taman Lalu Lintas.

Baca juga:Β Peta Lokasi Taman Kota Bandung

Taman Lalu Lintas Tempo Dulu

Sejak pindah ke Bandung di akhir tahun 2016, sebenarnya Taman lalu Lintas adalah taman pertama yang saya kunjungi di Bandung, tepatnya pada 27 November 2016. Tapi saat itu tamannya masih jadul banget, suasananya tampak suram, mainan-mainannya pun sudah tua. Sampai-sampai saya jadi malas untuk foto-foto #halah.

Mungkin yang agak mengacaukan kunjungan saya waktu itu adalah ekspektasi saya yang terlalu tinggi. Beberapa hari sebelumnya saya melihat teman yang tinggal di Jepang posting foto lagi ke taman lalu lintas yang ada di sana. Ya tahu sendiri kan taman dan tempat edukasi di negara maju itu bagus-bagus. Dan dengan bodohnya saya membayangkan yang di Bandung juga mirip seperti itu. Makanya pas masuk kaget deh, wkwk.

Bandara di Padang aja masih Tabing di situ

Taman Lalu Lintas di Bandung memang sudah tua, sudah ada dari zaman Belanda. Dulu namanya Insulinde Park, dikembangkan pada tahun 1920 untuk jadi salah satu taman tropis primadona karena letaknya yang berada di pusat kota dan dikelilingi jalan dengan nama pulau-pulau di Insulinde (Nusantara).

Tahun 1950 nama tamannya diganti menjadi Taman Nusantara. Lalu pada tahun 1954, dicetuskanlah konsep untuk merenovasi taman ini menjadi fasilitas rekreasi di mana anak-anak bisa belajar belajar sikap berlalu lintas yang baik oleh Badan Keamanan lalu Lintas. Taman Lalu Lintas akhirnya resmi dibuka pada 1 Maret 1958. Tahun 1965 dilakukan penambahan nama Ade Irma Suryani Nasution untuk menghormati putri Jenderal A. H. Nasution itu.

Dua paragraf di atas sumbernya dari papan informasi di Taman Lalu Lintas yang sudah direnovasi btw, hehe.

Taman Lalu Lintas Setelah Renovasi Tahun 2016

Saat mengunjungi taman yang tampak suram itu, saya sempat melihat ada beberapa bagian yang sedang direnovasi, tapi saya ga tahu mau dijadikan seperti apa. Lalu beberapa waktu kemudian Pak Ridwan Kamil mengumumkan bahwa Taman lalu Lintas sedang direnovasi dengan dana CSR dari Toyota Astra Motor. Waah, senang rasanya membayangkan bahwa taman yang suram itu bakal lebih bagus dan modern.

Wajah baru Taman Lalu Lintas akhirnya diresmikan Pak Ridwan Kamil pada tanggal 29 September 2017. Saya lihat foto-fotonya tampak keren, tapi bisa dibayangkan pasti di sana ramai sekali. Biasalah Bandung, yang nge-hits apalagi dipromosikan Pak Ridwan Kamil pasti ramai luar biasa.

Tanggal 18 Oktober 2017 saya kebetulan ikut acara di Taman Lalu Lintas, akhirnya bisa lihat taman yang sudah direnovasi. Tapi karena saat itu cuma berdua dengan Akas, saya ga kuat keliling lama-lama, haha. Taman Lalu Lintas ini rupanya selalu ramai, padahal waktu itu hari kerja. Pengunjungnya tidak hanya warga biasa tapi juga rombongan murid-murid TK atau komunitas.

Minggu, 24 Juni 2018

Saya bertekad sekali lagi harus mengunjungi Taman Lalu Lintas biar bisa mengelilingi semua tamannya sekalian foto-foto untuk ditaruh di blog #niatdong. Daan baru kesampaian di libur Lebaran. Pasti ramai sih tapi ya udahlah, waktunya cuma ada di hari libur karena saya sudah bekerja.

Baca juga:Β Setelah 3 Bulan Menjadi Working Mom

Sesuai dugaan, Taman Lalu Lintas ramai sekali. Lahan parkir di depan area taman sudah penuh sehingga kami harus memutar untuk mencari tempat parkir. Di depan gerbang sudah penuh dengan pengunjung yang antre membeli tiket ataupun menunggu keluarganya membelikan tiket. Harga tiket masuknya Rp7.000. Gerbang Taman Lalu Lintas sudah diganti, sekarang tampak lebih cerah dengan tulisan minimalis.

Monmaap fotonya masih zaman libur Lebaran

Begitu masuk, kita langsung ketemu boulevard yang lapang dan luas. Ini jauh berbeda sekali dengan yang dulu.

Terasa jauh lebih lapang dibanding dulu

Area di dalam Taman Lalu Lintas ini dibagi ke dalam tiga zona, yakni zona kota, zona air, dan zona gunung.

Zona Kota

Zona kota ini tampaknya merupakan bagian yang paling banyak direnovasi, bahkan banyak yang baru. Dari boulevard terlihat ada beberapa rambu ukuran besar yang selalu ramai dipakai foto-foto. Memang instagramable sih. Tapi jadi susah foto-foto di sini itu tanpa ada photobomber, heuheu.

Tuh kan ramai
Paling banter gini yang versi sepi, inipun hasil crop, wkwk

Lalu di sisi kiri (kalau kita menghadap ke arah rambu gede itu) terlihat semacam kota mini. Di sana ada “bangunan” museum, perpustakaan, kantor pos, toko buku, pos polisi, minimarket, dan sebagainya. “Jalan raya” di kota mini ini digunakan sebagai track sepeda. Sepedanya sendiri bisa disewa di sana. Ga boleh bawa sepeda sendiri btw, hehe.

Bangunan-bangunannya
Pom bensin dan minimarket
Bisa sepedaan di sini

Tak jauh dari kota mini itu ada amphiteater dan panggung pertunjukan. Tempat ini sering digunakan untuk acara-acara. Dan di dekat situ ada perosotan. Akas suka banget nih main di perosotan ini. Memang lebih menantang sih perosotan yang ini dibanding perosotan lain di Taman Lalu Lintas, jadi cocok untuk anak yang lebih besar. Tapi siap-siap kotor ya di perosotan ini. Saya ga bakal bawa Akas main perosotan ini dengan baju yang bagus, kasihan ntar kalau bajunya rusak, haha.

Dijamin berdebu dan bertanah main di perosotan ini

Lalu yang menarik buat Akas lagi di zona kota ini tentu saja kereta apinya. Stasiun kereta api mini di Taman Lalu Lintas sudah ada sejak dulu. Tapi dulu itu sedih sih lihat keretanya, udah tua banget. Sekarang ada tambahan kereta baru, bentuknya pun seperti shinkansen.

Kereta yang jadul

Untuk naik kereta ini kita harus beli tiket lagi, Rp5.000 kalau ga salah. Peminatnya buanyak banget sehingga antreannya panjang sekali. Tapi lumayan cepat sih pergerakan antreannya saat itu. Antrean terbilang rapi sebenarnya tapi sayangnya masih ada yang curang menyerobot antrean, huh. Kami memilih untuk menunggu giliran kereta shinkansen. Dengan kereta ini kita dibawa mengelilingi Taman Lalu Lintas, jadi bisa lihat ada apa aja di sana.

Antreannya seramai itu
Ini kereta shinkansen-nya

Selain dengan kereta api, opsi lain untuk keliling Taman lalu Lintas adalah menggunakan kereta motor (eh bener ga ya namanya). Kereta motor ini biasa mangkal di dekat boulevard.

Kapasitasnya ga sebanyak kereta

Keliling taman dengan jalan kaki pun ok lho sebenernya, karena di sana banyak pepohonan. Super laf sama pohon-pohon gede yang bikin teduh itu.

Ini rambunya udah baru
Saya baru tahu donk istilah “camejasa” itu, wkwk
Jalan menuju jembatan

Zona Air

Di dekat rambu gede untuk foto-foto itu ada jembatan. Di bawahnya ada riverside. Namanya begitu, tapi ga ada airnya sih waktu itu, ga tahu kalau sekarang. Pokoke tempatnya yang dibuat lebih rendah dengan tangga-tangga di pinggirnya.

Mending ada airnya atau tidak?

Bagian utama zona air ini tentu saja kolam renang. Daaan yang antre masuk kolam renang ini ramai banget, padahal di dalam kolamnya sendiri juga udah kepenuhan. Kami ga masuk ke kolam renang, emang ga ada rencana main air, lagian penuh gitu, wew.

Antrean untuk masuk kolam renang
Di dalam kolam renang juga ramai
Tema mainan di kolam tetap lalu lintas ya, hehe

Zona Gunung

Yang baru di zona gunung sekaligus ramai karena dipakai foto-foto adalah rumah pohon dan venue dengan mobil tergantung. Ramai, jadi ya gitu deh, heuheu.

Yang naik ke sini rata-rata mau foto doank
Ini jadi daya tarik tersendiri

Untuk permainannya sendiri, di zona gunung ini ada playground. Hanya saja, sepengamatan saya, mainan yang ada di sini itu mainan lama semua, cuma dicat ulang. Saya pribadi sedih sih melihat mainan yang sudah tua itu. Tadinya berharap mainannya di-upgrade dengan yang lebih bagus, biar anak-anak lebih aman dan nyaman saat bermain. Apa daya yang direnovasi banyakan untuk mempercantik dan bikin yang instagramable.

Perosotan jadul
Main ayunan yuk
Ini tampak jadul juga

Oh iya ada mainan indoor juga, tapi saya cuma lihat sekilas dari luar. Malas masuk juga karena ramai.

Mainan indoor seperti yang di mall-mall

Buat yang mau piknik juga bisa banget. Tapi siap-siap aja kudu berbagi tempat dengan pengunjung lain.

Rame euy

Btw di Taman Lalu Lintas ini ternyata tersedia area merokok. Cuma lucunya pas saya lewat sana yang duduk-duduk malah satu keluarga kecil dengan bayi dan ga ada yang merokok. Sementara di seantero taman banyak juga bapak-bapak yang merokok. Duh padahal idealnya tempat dengan banyak anak-anak dan bayi itu bersih dari asap rokok ya, huhu. Dan dengan adanya area merokok kan artinya cuma boleh merokok di area itu, selain itu ga boleh. πŸ™

Area merokok?

Puas berkeliling dan main di Taman Lalu Lintas, kami pun ke toilet untuk mengganti baju Akas. Beres ganti baju, rupanya di depan ada tank. Langsung heboh lagi deh Akas lihat tank.

Horeee ada tank

Saatnya cari makan siang, pulang, lalu istirahat. Hehe. Overall, Taman Lalu Lintas ini emang asik buat wisata dengan anak di dalam Kota Bandung. Salah satu taman yang recommended untuk dikunjungi. Murah meriah pula. Tapi buat yang ga suka keramaian mending sebaiknya ke sana di hari kerja, karena kalaupun ramai pastinya ga seramai hari libur.

Salam,

Reisha Humaira

9 tanggapan untuk “City Park: Taman Lalu Lintas, Bandung

  • 10 Januari 2019 pada 09:49
    Permalink

    Noted, jadi salah satu destinasi ke bandung..
    Semakin nggak sabar buat ke bandung…

    Dua minggu lagi!!!

    Balas
    • 17 Januari 2019 pada 10:27
      Permalink

      Waaah, selamat jalan-jalan ke Bandung nanti mbak πŸ™‚

      Balas
  • 12 Januari 2019 pada 15:41
    Permalink

    wkwkwkwkw.. mbaaaa, duh ya ramai banget.
    Dijamin saya cemberut aja tuh main ke tempat ramai gitu.
    Tapi anak-anak happy banget ya πŸ™‚

    Salut banget sekarang pemerintah bergitu peduli dengan fasilitas umum kayak gini, bikin masyarakat punya banyak pilihan untuk refreshing dengan harga hemat πŸ™‚

    Wajib di catat nih buat wish list ke Bandung πŸ™‚

    Balas
    • 17 Januari 2019 pada 10:28
      Permalink

      Betul mbak, sekarang pemerintah sudah lebih memperhatikan ruang terbuka hijau. Surabaya juga keren ya. Tinggal kesadaran masyarakatnya aja nih yang perlu ditingkatkan untuk selalu menjaga fasilitas umum dengan baik.

      Balas
  • 13 Januari 2019 pada 20:58
    Permalink

    wah keren mbak tamannya.. ana2 pasti pada seneng kalo main kesana yaa.. byk mainannya ,.. hihi

    Balas
    • 17 Januari 2019 pada 10:29
      Permalink

      betul mbak, puas bawa anak main ke sini dan murah meriah juga. πŸ™‚

      Balas
  • 15 Januari 2019 pada 03:06
    Permalink

    wah in i tempat legendaris , aku dulu lagi kecil ya mainnya di sini

    Balas
    • 17 Januari 2019 pada 10:31
      Permalink

      ((legendaris)) hihi, emang udah ada dari lama ya teh πŸ™‚

      Balas

Leave your comment

%d blogger menyukai ini: