20+ Cara untuk Menekan Budget Acara Pernikahan

Saya ga ada rencana nulis seputar wedding dalam waktu dekat, tapi gara-gara artikel Hipwee yang terasa menyindir sekali, jadi kepikiran nulis ini. Mulai dari mana yaa? Curcol dulu aja deh, hehe.

Berawal dari chat WA dari sepupu saya Senin lalu. Isinya foto ini, dan dia nanya itu foto di nikahan siapa. Tentulah saya hafal foto itu karena itu dari nikahan saya sendiri.

Ini bukan kali pertama foto di blog saya dicomot oleh Hipwee. Tidak masalah buat saya, karena di Hipwee selalu dicantumkan sumber fotonya. Itupun saya masih ketawa aja lihat caption yang dikasih, asumsi saya artikelnya bahas pilihan tempat resepsi pernikahan yang unik atau kreatif gitu lah.

Penasaran sama artikel aslinya, saya minta link-nya ke sepupu. Rupanya dia lihat dari Facebook. Pas buka Facebook, saya kaget, caption dan judul artikelnya kok gini banget. Berasa di-judge gegabah nikah karena tempat resepsinya engga wah. Tapi saya masih mencoba berprasangka baik, Hipwee kan emang mengandalkan judul-judul clickbait gitu.

Saya lanjut baca artikel lengkapnya. Makin ga enak deh perasaan saya. Dari semua venue yang dirangkum, memang bukan pilihan venue yang biasa. Tapi menurut saya ga segitunya sampai “Susah Dipahami Lagi Maksudnya. Entahlah~”. Padahal sumber fotonya ada, dan kalau si penulis baca artikel sumbernya, di beberapa artikel dijelasin kok kenapa pilihan tempatnya itu. Termasuk soal pilihan tempat resepsi saya.

Baca juga: Persiapan Pernikahan E♡R: Pelaminan dan Dekorasi Baralek (ini tulisan yang jadi sumber foto, dulu postingnya di evan.reisha.net tapi sekarang udah di-copy-kan ke reisha.net)

Tambah lagi dengan kalimat penutup kayak gini, duh kok kesannya hina banget ya nikahannya bukan di rumah atau gedung yang bagus dan kece seperti kebanyakan. Kok kesannya saya segitu ngebetnya nikah sampai persiapannya ga matang. Hmm.

“Baper amat sih mbak, kan buat lucu-lucuan aja”. Ya mungkin sebagian ada yang mikir gitu. Iya donk saya baper nikahan saya dijadikan bahan lawakan, di situs yang sering viral pula. Tapi kalaupun ga ada foto nikahan saya di situ, saya tetap ga nyaman sih baca artikelnya. Udah tahu nikah itu prosesi yang sakral, ga sepantasnya itu kita jadikan bahan lawakan. Ga semua orang mampu untuk mengadakan resepsi di gedung nan mewah dengan dekorasi yang instagramable. Kita juga ga tahu kan apa cerita di balik persiapan pernikahan orang. Udah 100% pun persiapannya, kadang ada aja kejadian di hari H yang tidak terduga. Ah, mungkin si penulis belum menikah jadi belum mengalami rempongnya nyiapin acara pernikahan di Indonesia.

Kecewa dan ga tahu kontak ke mana, akhirnya saya pilih komen di artikelnya aja dan posting di Instagram story dengan me-mention Hipwee. Lalu beberapa waktu kemudian saya iseng buka lagi artikelnya, kali-kali ada yang komen juga. Eh tahu-tahu judul artikelnya sudah diganti dan foto punya saya dihapus. Eaaa. Beberapa teman nanya, kok bisa dihapus? Dikontak sama Hipwee ga? Enggaaa, haha. Dihapus gitu aja. Ya sudah. Case closed.

Tentang Budget untuk Acara Pernikahan

Gara-gara artikel tadi, ingatan saya melayang ke 5-6 tahun lalu saat saya masih menyiapkan acara pernikahan saya. Kami mengadakan 2x resepsi, yakni di rumah saya dan di rumah suami. Untuk urusan biaya, kami sepakat masing-masing menanggung biaya di tempatnya sendiri-sendiri. Biayanya dari mana? Kalau saya ya mayoritas dari orang tua, saya juga nambahin dikit dari tabungan saya.

Sudah hal yang umum sekali di Indonesia bahwa nikahan itu menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Saya sadar diri bahwa keluarga saya tidak kaya raya bergelimang harta, karena itu budget selalu jadi batasan dalam berbagai hal. Kalau dana yang dipunya terbatas, biasanya gimana?

  • Pakai Tabungan. Buat yang punya tabungan, bisa dibilang uangnya ada. Tapi buat saya, menghabiskan semua tabungan saya demi acara pernikahan yang wah bukanlah pilihan. Buat saya kehidupan setelah acara pernikahan jauh lebih penting, untuk jangka panjang pula. Saya memilih menyisakan tabungan saya, untuk nambah-nambahin DP rumah atau tabungan haji atau biaya sekolah anak.
  • Pinjam Uang. Bukan hal yang baru memang, banyak banget yang ternyata minjam uang untuk mengadakan resepsi pernikahan, entah itu buat pernikahan yang sederhana sekalipun ataupun mau yang lebih mewah dibanding kemampuan ekonominya. Saya ga tahu apakah orang tua saya juga minjam uang dulu, mungkin iya. Supaya tidak memberatkan orang tua, saya juga pilih opsi ketiga.
  • Tekan Budget. Biaya pernikahan itu sebenarnya bisa banget ditekan di sana-sini. Kudu pandai-pandai ngatur dan memilih aja, agar walau biayanya ditekan tapi hasilnya masih sesuai dengan harapan.

Apa Prioritasmu untuk Acara Pernikahan?

Dulu waktu baca tulisannya Annisast tentang Prioritas Kita-Kita Ini, lagi-lagi saya teringat seputar persiapan pernikahan. Karena saat itu keluarga saya juga sedang menyiapkan acara pernikahan adik saya. Maunya tentulah acara yang wah, tapi apa daya masih terkendala budget. Di situlah kita perlu menentukan prioritas. Dalam artian, bagian yang penting buat kita dalam acara pernikahan apa aja sih? Kita memilih mau bayar lebih untuk hal apa aja?

Prioritas tiap orang beda-beda. Kalo saya dulu memilih mengutamakan make up artist dan fotografer, sehingga saya bayar lebih untuk 2 hal ini tidak apa-apa. Buat saya terserah yang lain gimana, yang penting dandanan saya oke dan hasil fotonya bagus. Dekorasi terserah gimana, alhasil memang kurang oke sampai jadi bahan lawakan Hipwee, wkwk. Tapi ya udah sih, itu konsekuensi ketika kami memilih menekan budget untuk dekorasi, di samping beberapa pertimbangan lain yang ga mungkin saya jabarkan di sini.

Bingung apa aja biaya yang bisa ditekan? Yuk mari lanjut baca, hehe.

Menekan Budget Acara Pernikahan

Udah tahu kan kalau untuk pernikahan itu ada banyaaak banget yang mesti disiapkan. Dulu aja saya sampai nulis 40 tulisan seputar persiapan pernikahan saya sendiri, hehe.

Baca juga: Persiapan Pernikahan ala Evan♡Reisha

Dari sekian banyak hal, pada dasarnya semua bisa ditekan kok biayanya. Balik lagi ke prioritasnya apa, karena menekan budget ya konsekuensinya bisa jadi tidak sesuai harapan. Ini nih hal-hal yang bisa ditekan biayanya serta pengalaman saya terkait ini. Urutan random aja ya, hehe.

  1. Rangkaian Acara. Kadang acara nikahan itu ga cuma akad nikah dan resepsi. Apalagi yang melibatkan prosesi adat. Makin banyak acaranya, ya makin gede biayanya, hehe. Jadi kalau dana terbatas ga usah dibikin ribet, akad dan resepsi 1x aja juga udah cukup.
  2. Wedding Organizer (WO). Hire WO butuh biaya. Kalau mau hemat, bisa skip WO, jadi persiapan pernikahan semuanya diatur sendiri bersama pasangan dan keluarga. Dulu saya ga pake WO, yang nyiapin mayoritas keluarga besar saya. Lagian nikahan saya di kampung, hampir ga ada yang pake WO kayanya.
  3. Venue Akad Nikah. Kebanyakan orang ngadain akad nikah di masjid. Buat pake masjid ini bisa jadi ada biayanya, entah memang ada aturannya sekian atau berupa infaq seikhlasnya aja. Lalu mendatangkan penghulu ke masjid juga ada biayanya. Mau pangkas biaya ini? Akad nikahnya di KUA aja, gratis. Suhay Salim nikah di KUA kok, hehe.
  4. Administrasi KUA. Ini biasanya sudah ada aturannya biayanya berapa, jadi ga bisa dipangkas ya biaya wajibnya. Kalau dari KUA diharuskan imunasi TT juga untuk calon pengantin wanita, imunisasi di Puskesmas aja, murah meriah, toh vaksinnya sama aja.
  5. Jumlah Tamu. Ini menentukan banget dan sangat mempengaruhi budgeting pernikahan. Makin banyak tamu yang mau diundang, makin gede juga biayanya, karena erat banget kaitannya sama konsumsi dan venue acara.
  6. Konsumsi. Bagian ini biasanya yang menghabiskan biaya paling banyak. Sekian undangan, artinya sekian tamu dan sekian pack konsumsi. Untuk menekan biaya konsumsi, opsinya kurangi jumlah tamu atau pilih katering yang harganya terjangkau. Mau masak rame-rame di rumah juga OK jika memang sumber daya memungkinkan.
  7. Venue Resepsi. Kalau sewa gedung yang memang sering dipakai untuk acara pernikahan, biasanya biayanya juta-juta. Kalau mau gratis, bisa di rumah sendiri, tapi kendalanya biasanya tempatnya sempit dan repot banget. Opsi lain bisa cari gedung yang lebih murah, atau tempat yang “Susah Dipahami Lagi Maksudnya” seperti kata Hipwee #teteupdibahas. Di dekat tempat tinggal saya di Bandung ini ada SD, dan lapangan dalam SD tersebut sering dijadikan tempat resepsi pernikahan. Annisast dulu resepsi di panti jompo. Dan masih banyak lagi pilihan lainnya selain gedung juta-juta. Oia makin banyak tamu, artinya butuh tempat yang lebih luas. Tapi luas tempat tidak selalu berbanding lurus dengan biayanya.
  8. Dekorasi. Dekorasi juga biayanya besar. Kalau mau dekorasi seperti yang sering dilihat di Instagram ya biayanya pasti mahal. Budget ga sampai, ya pilih dekorasi yang penting-penting aja.
  9. Pakaian Pengantin. Beragam banget ya pilihan dan biayanya. Mau bikin, mau sewa, atau mau bikin baru tapi selanjutnya disewakan; bebas. Tinggal sesuaikan mana yang lebih masuk ke budget. Mau bikin pakaian nikahan dijahit sendiri juga bisa, seperti adik saya dulu.
  10. Pakaian Seragam. Nikahan itu kayaknya momen penting banget untuk bikin pakaian seragam. Yang diseragamin juga ga cuma keluarga inti, tapi juga keluarga besar, hingga teman-teman mempelai yang dijadiin bridesmaids dan groomsmen. Kalau saya dulu sih ga ada bridesmaids dan groomsmen, mayan lah ga perlu keluar dana untuk beliin kainnya, haha. Pakaian seragam keluarga pun beli bahan yang masih terjangkau.
  11. Cincin Kawin. Ini wajib ga ya? Hehe. Kalau mau murah ya ga perlu maksa pake cincin emas berlian, hihi. Saya dulu beli cincin bahan campuran perak-palladium aja. Dan nyatanya cincin kawin kami kalau ditotal kayaknya dipakainya ga nyampe 1 tahun, padahal nikah udah 5 tahun lebih, wkwk..
  12. Make Up Artist (MUA). MUA yang beken pastilah mahal. Kalau mau murah bisa cari MUA yang ga gitu ngetop, pinter-pinter milih aja mana yang cocok. Bisa juga nekan biaya dengan mengurangi jumlah orang yang didandani mungkin ya, misal cukup dandanin pengantinnya aja, yang lain dandan sendiri aja.
  13. Fotografer dan Videografer. Paket foto dan video nikahan ini beragam sekali harganya. Video biasanya lebih mahal dari foto. Fotografer ini banyak banget sebenarnya, yang profesional ada, yang freelance juga ada. Apalagi zaman sekarang biasanya pada jadiin Instagram sebagai portfolionya, makin gampang nyari fotografer bagus dengan biaya terjangkau.
  14. Foto Prewedding. Masih soal foto, foto prewedding ini bisa banget dipangkas biayanya. Ga foto prewedding pun tidak apa-apa. Foto sendiri dengan setup tripod juga bisa.
  15. Undangan Pernikahan. Ini juga bisa banget dihemat. Percayalah sebagian besar undangan pernikahan yang dicetak itu berakhir di tempat sampah, hihi. Undangan saya dulu biayanya cuma Rp2.000/lembar, yang lebih murah dari itu juga ada. Tambah lagi zaman sekarang orang-orang sudah lebih familiar dengan undangan via dunia maya, bisa dipertimbangkan juga untuk mengurangi biaya cetak undangan.
  16. Kamar Pengantin. Saya ga tahu seberapa penting ini di daerah lain, tapi di Sumbar itu masih penting. Ngisi kamar pengantin dengan perabotannya dan dihias-hias jadi hal yang harus disiapkan juga. Bisa habis juta-juta juga kalau mau yang wow. Dan sebenarnya masih bisa dihemat dengan beli perabotan yang terjangkau dan sewa dekorasinya aja ketimbang bikin.
  17. Souvenir Pernikahan. Waktu saya kecil dulu kalau ada nikahan di kampung saya, ga ada lho yang kasih souvenir. Zaman sekarang sih udah beda, haha. Kalau merasa ga enakeun banget ga ngasih souvenir, bisa siapin souvenir yang murah meriah aja.
  18. Buku Tamu. Ini saya ga paham seberapa penting, tapi menurut saya ga penting-penting amat, wkwk. Makanya dulu saya pilih print sendiri aja. Yang dijual dengan harga terjangkau juga banyak.
  19. Hiburan. Kayaknya resepsi nikahan itu hampa ya kalau ga ada iringan musik. Tapi kalau salah pilih, yang ada bikin sakit kuping dan bikin ga nyaman tamu sih, hihi. Mau murah meriah? Saya dulu puter MP3 dari laptop aja kok, jadi cuma nyewa sound system.
  20. Premarital Check Up. Ini balik lagi ke masing-masing, merasa butuh atau tidak. Kalau memang ga ada biayanya, skip aja ga apa-apa kok. Paling bahas aja sama calon pasangan kalau begini begitu nanti gimana.
  21. Perawatan Pranikah. Ini ga wajib juga sebenarnya, bisa skip juga. Perawatan sendiri di rumah juga bisa.
  22. Hotel/Penginapan Keluarga. Ini biasanya mesti disiapkan juga untuk keluarga besar sendiri ataupun keluarga besar pasangan jika daerah asalnya berjauhan.

Apa lagi ya? Ada yang mau menambahkan?

Oh iya untuk mahar sengaja ga saya masukkan ke sini karena itu wajib dan tergantung kemampuan mempelai prianya aja.

Saya yakin tiap orang pasti punya impian acara nikahannya seperti apa, tapi ada berbagai kendala yang membuat kita tidak bisa merealisasikan semuanya. Budget hanya sebagian saja. Kadang ada yang pengennya sederhana aja, tapi ditentang keluarga. Dan kendala-kendala lain yang saya ga tahu apa.

Terlepas dari semua itu, seperti apapun acara nikahan orang, ga sepantasnya kita jadikan bahan lawakan apalagi hinaan. Mending kita doakan saja agar pernikahannya dilimpahi keberkahan. Doakan yang baik-baik biar kebaikan yang sama juga balik ke kita nantinya.

Buat yang mau nikah tapi masih merasa terkendala budget, bisa pertimbangkan untuk menekan biaya pernikahannya. Ga usah terlalu mikirin kira-kira gimana kata tamunya nanti. Tapi kalau masih mau lanjut nyariin dananya dulu juga silakan aja sih, hehe. Nanti ga usah pasang ekspektasi terlalu tinggi sehingga kalau ada yang ga sesuai nantinya jadinya ga kecewa-kecewa amat. A wedding is only the beginning. Perjalanan ke depannya masih panjang.

Semangat ya buat yang mau nikah! Semoga dimudahkan dan dilancarkan semuanya.

Salam,

Reisha Humaira

15 tanggapan untuk “20+ Cara untuk Menekan Budget Acara Pernikahan

  • 13 Maret 2019 pada 22:21
    Permalink

    Wah ikut sedih, kalau foto nikah dicomot trus dijadikan lawakan. Btw…saya sedih kalo dapet seragam untuk pernikahan seseorang. Udah warna dan kain engga cocok (engga suka brokat), trus musti ngemodal ke penjahit, dan dipakainya engga sampai 4 jam. Cuma untuk keperluan foto, yang terlihat cuma segede kelingking. Tapi mau ditolak, engga enak kan, wong udah dikasih.
    Makanya waktu saya mantu, skip seragam²an.
    Akhirnya pada sepakat sendiri, atau bebaskeun weeeh…

    Balas
  • 13 Maret 2019 pada 22:36
    Permalink

    Saya pernah kirim artikel ke Hipwee sekali, emang kayaknya Hipwee nggak prefer foto karya kontributor sendiri. Sukanya lebih comot comot foto website lain. Yah mungkin itu kontributornya nggak baca artikel blognya Mbak Reisha dulu.

    Apa kabar saya nanti kalau nikah gedung resepsinya di lapangan futsal? Karena di daerah saya lapangan futsal disewakan buat tempat resepsi juga.

    Balas
  • 14 Maret 2019 pada 01:49
    Permalink

    Saya liat deh kapan hari story IGnya, tapi kurang ngeh.
    Ternyata fotonya dicomot ya.

    Saya double sedih baca sedikit tulisan di situ, pertama..
    Dia tulis nikahan orang dijadiin lawakan, itu semacam orang ngegibah, bicarain orang lain, di belakangnya, tapi pakai toa hahaha

    yang kedua, saya tuh gak habis pikir.
    Kenapa sih orang2 selalu nulis seolah2 Indonesianya yang aneh??

    “di Indonesia orang bla bla bla”

    Duh semacam menjelekan diri sendiri deh.

    Btw, kalau saya bakalan boom komen di mana2 artikelnya tuh biar orang baca seperti apa penulis abal2nya itu

    Balas
  • 14 Maret 2019 pada 04:39
    Permalink

    Padahal cuma baca di tulisan mb Reisha, rasanya kok gondoknya begitu banget. Sebel dan kesel karena sekarang pada bikin artikel cuma demi click dan click.

    Sedih sih liat nikahan sekarang, kynya banyak banget “wajib” nya ky poin2 yg mb sebutin di atas, pdahal kan ga semua harus terutama yang ga ada manfaatnya. Betul yang harus dipikirin adalah after marriage nya. Ga sedikit yang ngutang karena pesta dan harus bayar setelah pesta. Belum lagi settle rumah tangganya malah jadi masalah di kemudian.

    Semoga di kemudian hari artikel2 yang banyak dibaca masyarakat lebih berbobot dibanding sekedar lucu2an.

    Balas
  • 14 Maret 2019 pada 05:55
    Permalink

    Huaduuuuh itu tulisan di Hipwee begitu amat ya
    Apa susahnya sih nanya ke pemilik foto
    Main nyimpulin sesuka hati pakai caption yang ‘ngeledek’ pula
    Duuuuuuh

    Balas
  • 14 Maret 2019 pada 06:26
    Permalink

    Wah… Aku baru tahu hipwee yang kelihatannya luar biasa ternyata seperti itu. Tidak ada kata maaf lagi. Padahal bisa minta maaf secara langsung.
    Apa susahnya minta maaf?

    Balas
  • 14 Maret 2019 pada 11:12
    Permalink

    suka heran sama web model hipwee ini. artikelnya suka ga mutu gitu, foto pun nyomot2. menurut saya sih yes.
    da dari artikel tsb kok kesannya menggiring pembaca untuk menikahlah di gedung biar kece dan oke. ujung2nya orang jd konsumtif sampe ngutang2 demi biar nikahan di gedung.
    padahal sih di daerah kan banyak tempat nikah di balai warga, lapangan batminton, dll. bahkan di negara tetangga pun demikian adanya. dan itu biasa aja, normal2 aja kok nikahan di lapangan olah raga gitu. g ada yg aneh apalagi lucu.

    Balas
  • 14 Maret 2019 pada 19:30
    Permalink

    wuah parah sih ini
    gak harus merendahkan orang lain untuk meninggikan diri sendiri
    gak harus menganggap miring pilihan orang lain demi konten yang viral

    harusnya… hipwee minta maaf loh. gak cuma sekadar ngehapus foto

    atau harusnya… mention ke CEO nya, biar ditegur abis-abisan tuh copywriternya

    Balas
  • 17 Maret 2019 pada 10:58
    Permalink

    Saya pun kemarin sampai benar-benar menekan penggunaan budget dengan mengurangi hiburan yang mungkin biasanya ada organ tunggal, kami cukup akustikan saja. Pun biaya upacara adat kami hapus. Apalagi kan kami nggak mau pinjam uang, karena kehidupan lebih berat memang adanya setelah resepsi selesai.

    Senangnya dapat catering enak tapi terjangkau. Pun soal dekor kami nggak muluk muluk. Kalau make up sudah sepaket sama sewa pakaian pengantin dan seragam keluarga.

    Beruntung saya sejak belum ketemu si calon dulu, sudah kepikiran untuk menabung.

    Balas
  • 17 Maret 2019 pada 11:07
    Permalink

    Thanks banget tipnya mbak, bisa jadi referensi buat aku nanti yang mau buat acara resepsi di bulan Juni.
    Aku salut sama mbak, kekuatan tulisan mbak, bisa membalas tulisan orang lain dengan santun dan ditambahkan beberapa tip lagi. Memang tidak semua orang mampu membuat acara yg besar, tapi pastinya setiap orang mempunyai alasan kenapa mereka membuatnya seperti ini atau itu. Hanya orang yang berpikiran seragamlah yg merasa aneh dan menganggap lucu suatu hal bila tidak seperti kebanyakan orang. Namun, saya lebih suka konsep yang berbeda dari pada kebanyakan orang yg biasa gunakan.

    Balas
  • 17 Maret 2019 pada 17:06
    Permalink

    Cara menekan budget paling dasar menurut saya adalah dengan meyakinkan orang tua, mertua atau para sesepuh untuk mau ngadain nikahan yang sederhana saja, niscaya aspek-aspek di atas akan mengikuti hihihihi..

    Balas
  • Pingback:20+ Cara untuk Menekan Budget Acara Pernikahan

  • 19 Maret 2019 pada 21:30
    Permalink

    berdasarkan pengalaman pribadi ngurusin pernikahan kakak tahun lalu, menurutku harus tahan untuk nggak upgrade2 apa yang sudah didapat di wedding package sih mba. kalau mau upgrade, harus di prioritaskan banget mau ‘bagusin’ dimana hehe

    Balas
  • 23 Maret 2019 pada 20:51
    Permalink

    mbaaa.. aku kok gemes banget yaa baca artikel dari hipwee itu. kalo aku jadi mba reisha juga bakalan emosi banget. ngenyek banget tulisannya. terserah kita dong ya resepsinya mau dimana.. udah mana gak minta maaf lg ya penulisnya. ih, ikutan kesel deh..

    hmm.. kalo masalah pernikahan itu biaya terbesar di cathering kalo menurut aku, jd kalo mau neken budget mending kurangin tamu undangan. otomatis cathering nya kan berkurang tuh. terus, resepsinya di rumah aja jangan di gedung. itu udah lumayan bgt budget yg bisa ditekan.

    aku baru tau kalo di sumbar mesti hias2 kamar gitu yaa.. kalo aku malah gak kepikiran sama sekali. kamar pengantin malah super berantakan bgt diisi berbagai macam seserahan dan kado2 dari tamu, udah kayak gudang. Alhasil pas acara selesai, beberes kamar dulu biar bs tidur.. krn bener2 penuh kado berantakan. padahal lucu juga yaa kalo dihias gitu..

    Balas
  • Pingback:Nominasi Tulisan Pilihan Minggu 11 - 1 Minggu 1 Cerita

Leave your comment