Mengikat Makna Belajar untuk Menjadi Ibu Profesional

Tulisan kali ini adalah misi kelima dari kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #8 yang saya ikuti. Fokus kali ini adalah seputar belajar. Menarik juga dapat beberapa insight baru.

Misi 5: Core Value

Minggu lalu, tiap peserta sudah mendefinisikan apa itu Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga menurut versi masing-masing. Beragam sekali tentunya, karena tiap pribadi itu unik. Walau definisinya beragam, di Ibu Profesional kita mesti menerapkan core value yang sama.

Para Widyaiswara (WI) kelas matrikulasi pun mengenalkan apa saja core value Ibu Profesional. Saya masih ingat sekali bahwa core value ini sudah pernah disampaikan oleh Bu Septi dalam kelas foundation dulu. Lima core value tersebut adalah: BELAJAR, BERKEMBANG, BERKARYA, BERBAGI, dan BERDAMPAK.

Minggu ini, bahasan difokuskan pada core value pertama, yakni belajar. Para WI menjelaskan beberapa hal terkait belajar, menurut pemahaman dan pengalaman masing-masing. Setelah menonton video para WI, peserta diminta bergabung ke salah satu grup WA untuk diskusi lebih dalam lagi seputar core value belajar ini.

Dari penjelasan WI dan diskusi di grup, ada beberapa poin yang bisa saya catat.

Kenapa dan Untuk Apa Belajar?

Belajar pada dasarnya adalah fitrah manusia, dan belajar itu tidak terbatas pada jenjang pendidikan formal saja. Belajar itu tak kenal usia, kita terus belajar dari lahir hingga akhir hayat. Belajar bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja, dan dengan apa saja.

Kemauan belajar yang tinggi adalah modal awal bagi seorang ibu untuk menjadi ibu kebanggaan keluarga. Kita belajar untuk berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak bijak menjadi bijak. Kita belajar untuk berubah menjadi lebih baik dari segi pola pikir, perasaan, perilaku, keterampilan, dan sebagainya. Selalu luruskan niat ketika belajar sesuatu.

Untuk apa belajar? Ada quote bagus yang disampaikan salah satu WI.

Learn is not for knowing. Learning is not for doing. Learning is not for sharing. Learning is for being. 

Jadi ketika kita belajar, sebaiknya tidak hanya untuk sekadar tahu, sekadar nambah ilmu dan dibagikan ke orang lain. Tapi sebaiknya apa yang kita pelajari itu harus jadi bagian dari kehidupan kita.

Apa Tantangan dalam Belajar?

Dalam belajar, tentu saja tidak selalu lancar proses belajarnya. Ada berbagai tantangan yang dihadapi, seperti:

  • Perasaan bosan dan malas-malasan. Komitmen, konsistensi, dan integritas kita bakal diuji sekali.
  • Sulit fokus karena terlalu banyak yang ingin dipelajari atau terdistraksi oleh berbagai hal lain.
  • Manajemen waktu, bagaimana supaya bisa selalu tepat waktu di tengah banyaknya kewajiban sebagai seorang ibu.
  • Ada cara/aplikasi/sistem baru yang digunakan dalam proses belajar sehingga butuh belajar lebih dan penyesuaian lebih.
  • Semangat belajar yang naik turun.

Bagaimana cara mengatasi tantangan tersebut?

  • Kembalikan ke niat awal, apa tujuan kita belajar hal tersebut. Belajar itu mesti rileks dan bahagia.
  • Ingat lagi adab sebelum belajar: adab terhadap ilmu, adab terhadap guru, dan adab terhadap sumber ilmu. Keberkahan ilmu tergantung bagaimana adab kita.
  • Ingat kembali komitmen awal biar disiplin dan tidak pantang menyerah.
  • Komunikasikan dengan suami dan anak, karena jalan kita dalam belajar harus benar, dan jangan sampai ada yang terdzalimi selama proses belajar kita. Pastikan semua kebutuhan suami dan anak sudah terpenuhi ketika kita akan menggunakan waktu untuk belajar.
  • Bentuk kelompok atau ikut komunitas, karena dengan bersama-sama, semangatnya insya Allah terjaga.
  • Buat peta belajar dan susun skala prioritas sehingga tahu betul apa yang perlu dan harus dipelajari.

Apa yang Perlu Dipelajari?

Ada banyak sekali ilmu di luar sana, banyak yang menarik, apalagi di zaman sekarang ini, informasi mengalir bak tsunami. Saking banyaknya, tak jarang kita kalap mau belajar apa saja, atau malah sebaliknya, jadi bingung sendiri mau belajar apa. Padahal, kita tidak perlu belajar dan bisa semua hal. Kita mesti pilah-pilah lagi ilmu apa saja yang perlu kita pelajari. 

Seorang ibu memiliki peran sebagai perempuan, sebagai istri, dan sebagai ibu. Sebaiknya kita belajar ilmu pengetahuan dan keterampilan terkait peran-peran tersebut. Ilmu yang dipelajari wajib dipraktikkan. Tidak masalah sedikit demi sedikit, one bit at a time. Dan selama proses belajar tersebut, kita akan bisa semakin mengenali diri sendiri, memaknai peran-peran kita tersebut, meningkatkan kapasitas diri, hingga memuliakan diri dan keluarga kita.

Perkara memilih ilmu yang dipelajari ini, sungguh menohok rasanya. Saya sudah lama merasakan sendiri, pengen belajar ini itu, pengen bisa ini itu, tapi jadinya malah ga ada yang fokus. Tahu kulit luarnya doank sedikit, trus udah aja. Daftar ikut belajar online via WA atau Telegram, ujung-ujungnya overwhelmed karena chat-nya yang ratusan itu bahkan tidak sempat dibaca sama sekali, hiks.

Ketika disebutkan learning is for being, dalem sekali rasanya. Bener banget, akan lebih bermanfaat kalau kita belajar itu untuk diterapkan dalam kehidupan kita sendiri, bukan cuma untuk sekadar tahu. Belajar lalu sharing pun akan beda ruhnya jika ilmu yang dipelajari tersebut tidak dipraktikkan sama sekali. Dan benar lagi, kita ga perlu belajar semua hal kok. Karenanya kita mesti bisa bilang “menarik, tapi tidak tertarik”.

Saat pertama kali melihat instruksi misi minggu ini, saya belum menonton video para WI sama sekali. Saya cukup bingung awalnya, karena rasanya banyak sekali yang ingin saya pelajari. Tapi setelah menonton video dan menyimak diskusi grup WA, saya jadi berpikir ulang, ilmu apa sih yang sebenarnya memang saya butuhkan dan perlu saya terapkan dalam hidup saya?

Saya coba membatasi pada apa yang menurut saya memang perlu pada kondisi saat ini. Suatu saat nanti sangat mungkin berubah, karena kondisinya bakal berbeda. Berikut hasil penyelaman saya atas apa yang ingin saya pelajari, tingkatkan, dan latih, serta bisa saya bagikan.

#navigasidanberaksi
#matrikulasibatch8
#institutibuprofesional
#belajardarirumah

Salam,

Reisha Humaira

Leave your comment

%d blogger menyukai ini: