Yel Ibu Profesional dan Komunikasi Produktif dalam Keluarga

Tulisan kali ini adalah latepost terkait misi ke-8 dari kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #8 yang saya ikuti. Tugasnya sebenarnya sudah saya kumpulkan pada minggu lalu. Di sini saya bikin catatan aja terkait pengalaman seputar misinya dan materi sharing dari widyaiswara.

Misi 8: Membuat Video Yel Ibu Profesional

Setelah menuliskan aliran rasa pada minggu sebelumnya, kali ini kami diberi tugas untuk membuat video. Astaga, kok tiba-tiba sekarang tugasnya jadi bikin video, padahal kan sebelum-sebelumnya tulisan aja, heuuu. Apalagi tugasnya ini kudu memvideokan diri sendiri sambil memperagakan yel Ibu Profesional. Rasanya malaaaas sekali, karena saya ga nyaman nampil di video, huft. Tapi kalau ga dikerjakan kan artinya saya bisa ga lulus dari matrikulasi ini. Tinggal 2 misi lagi padahal, aaaaa. Kan kzl kalau sampai ga lulus hanya gara-gara ga mau bikin video singkat.

Demi bisa lulus, dikumpulkan lah itu keberanian untuk memvideokan diri sendiri. Pertama saya hafalkan dulu kalimat yelnya, biar ga perlu berulang-ulang rekam gara-gara ada sesi bingung. Pas ada kesempatan anak dan suami lagi ga di rumah, akhirnya saya buru-buru merekam. Yang pertama kurang oke gara-gara posisi saya kurang pas di tengah. Rekam lagi, alhamdulillah mendingan, ya udah pakai itu aja, wkwk.

Lalu saya iseng coba edit videonya, saya tambahin semacam subtitle untuk yelnya. Edit praktis aja di HP. Begitu beres, langsung dikumpulin. Video versi saya ga akan saya publish di sini, malu, huehe.

Yel Ibu Profesional

Jadi seperti apa sih yel Ibu Profesional itu? Kata-kata yelnya sebagai berikut.

Check sound, Hoo Ha!
What’s your problem? No problem.
What’s your problem? No problem.
What? CHALLENGE!
What? CHALLENGE!
Protect yourself, cancel cancel go away!
IBU PROFESIONAL, HOOOOOO.. YEEES!

Nah para Widyaiswara sudah memvideokan bagaimana yelnya. Ini dia contohnya.

Yel Ibu Profesional biasanya dilakukan saat mengawali kegiatan Ibu Profesional. Yel ini ternyata ada filosofinya. Tidak hanya sebagai penyemangat, yel ini juga mengajarkan cara berkomunikasi dengan anak.

Pada saat check sound itu, kita menggunakan suara dari perut, bukan suara dari diafragma, karena katanya anak-anak lebih mendengarkan suara dari perut. Jadi Ibu Profesional sebaiknya menggunakan suara dari perut saat berbicara dengan anak.

Lalu di Ibu Profesional itu tidak kenal masalah, yang ada adalah tantangan. Jadi segala masalah yang ada kita anggap sebagai tantangan. Kemudian Ibu Profesional mesti menjaga dirinya agar bisa fokus dalam belajar. Kalau ada kendala mesti usir kendalanya pergi jauh-jauh.

Advertisement

Komunikasi Produktif dalam Keluarga

Di hari batas pengumpulan tugas video yel, ada sharing dari widyaiswara di FB Live. Sharing kali ini membahas tentang komunikasi produktif. Katanya materi tentang komunikasi produktif ini akan dibahas lebih dalam di perkuliahan Bunda Sayang, jadi di sesi sharing ini cuma dibahas sekilas aja. Isi sharing-nya sebagai berikut.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti berkomunikasi, minimal di lingkungan keluarga. Ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi, yakni intonasi, bahasa tubuh, dan verbal.

Faktor-faktor yang mempengaruh pola komunikasi kita antara lain:

  • Keterampilan dan pengetahuan dalam berkomunikasi
  • Lingkungan sosial, budaya, dan masyarakat

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadari bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif. Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan, melainkan dari cara menyampaikannya. Misalnya pada kosakata yang kita gunakan.

Kosakata adalah output dari cara berpikir. Jika berpikir positif, yang keluar dari mulut adalah kata-kata positif. Begitu juga sebaliknya. Maka dari itu, Ibu Profesional mesti membiasakan untuk berpikir positif, agar kata-kata yang kita keluarkan juga positif, sehingga bisa memberi energi positif ke sekitar kita.

Di keluarga, cara kita berkomunikasi dengan anak dan dengan suami tentu berbeda. Apalagi kita dan suami berasal dari latar belakang yang berbeda.

Bagaimana prinsip komunikasi produktif dengan pasangan?

  1. Clear and Clarify. Sampaikan pesan dengan jelas dan mudah dipahami (clear), lalu beri kesempatan untuk bertanya atau mengklarifikasi (clarify) apakah pesan yang diterima sudah sesuai dengan apa yang dimaksud.
  2. Choose the Right Time. Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan.
  3. Intensity of Eye Contact. Saat berkomunikasi, lakukan kontak mata dengan pasangan.
  4. Responsible for the Communication Results. Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab si pemberi pesan. Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan dia. Sebaliknya, carilah cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.
Advertisement

Bagaimana prinsip komunikasi produktif dengan anak?

  1. Keep Information Short and Simple (KISS). Gunakan kalimat yang singkat, padat, jelas, dan langsung ke apa yang ingin dituju.
  2. Kendalikan intonasi suara, gunakan suara yang ramah. Suara dengan nada yang tinggi apalagi penuh emosi cenderung tidak didengar oleh anak.
  3. Katakan apa yang kita inginkan, bukan apa yang tidak kita inginkan.
  4. Fokus ke depan, jangan ungkit yang terjadi pada masa lalu.
  5. Fokus pada solusi, bukan pada masalah.
  6. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan. Jangan asal puji atau kritik. Puji atau kritiklah sikap atau perbuatannya, bukan pribadinya.
  7. Beri nasihat dengan merefleksikan ke pengalaman diri kita dulu. Anak jadi mendapatkan solusi, bukan merasa diceramahi.
  8. Ganti kalimat interogasi atau menuduh dengan pernyataan observasi.
  9. Ganti kalimat yang menolak/mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati.
  10. Ganti kalimat perintah dengan pilihan.

Mendengar sharing tentang komunikasi produktif ini saya jadi merasa tertohok sekali, huhu. Sebenarnya hal-hal yang disampaikan di atas bukan hal baru, udah tahu lah teorinya gimana. Tapi pada praktiknya masih aja sering lupa. Apalagi kalau udah emosi, wassalam lah semua teori itu. Memang mesti diingat dan terus dilatih sih ya komunikasi ini, karena hal ini bukan sesuatu yang bisa diubah secara instan dalam semalam. Butuh jam terbang lebih banyak nih biar komunikasi ke suami dan anak lebih produktif ke depannya.

#navigasidanberaksi
#matrikulasibatch8
#institutibuprofesional
#belajardarirumah

Salam,

Reisha Humaira

Leave your comment

%d blogger menyukai ini: