Review 2021: Apa Kabar Tahun Ini?

Tiap akhir tahun saya berencana me-review perjalanan blogging. Tapi berhubung tahun ini ga banyak yang bisa di-review, mending kayak tahun lalu aja deh, merekap apa yang udah dilalui sepanjang 2021 ini. Kebetulan juga tahun ini saya terbilang jarang menulis, jadi sebelum lupa, mari diingat-ingat lagi sekarang.

Momen Besar di Tahun 2021

Ketika mengingat-ingat apa yang dirasakan tahun 2021 ini, yang kepikiran pertama kali adalah: lelah. Kacau amat dah, wkwk. Untungnya banyakan lelah di badan sih, pikiran masih bisa diamankan. Lelahnya karena banyak hal yang menguras tenaga yang mesti dijalani, dan itu hal-hal yang terbilang momen besar buat kami sekeluarga. Ini dia di antaranya.

Back for Good ke Indonesia

Setelah 1.5 tahun plus dapat “bonus ekstra” 6 bulan tinggal di Auckland, akhirnya bulan Februari kami kembali juga ke tanah air. Berhubung ini back for good, tentunya banyak yang kudu diurusin dulu sebelum pulang.

Tinggal cukup lama, artinya barang-barang sudah beranak-pinak. Sebagian kami jual, sebagian dibuang, sebagian dikirim dengan kargo ke Indonesia, sisanya dibawa bersama kami di pesawat. Ngurusin barang-barang ini melelahkan yaa. Walau udah sering pindah, bagian ini tu ya tetap bikin cape, heuheu.

Beres dengan urusan barang, kami mesti mengosongkan apartemen dan membersihkannya seperti sedia kala. Sebenarnya bisa aja hire orang buat membersihkan, tapi biayanya lumayan. Pas pindah apartemen sebelumnya, abis dikosongin itu agennya masih bakal menginspeksi, dan kalau ada yang kurang bersih, kita disuruh bayar lagi. Jadi ya udah deh coba bersihin sendiri aja, biar ga perlu dua kali bayar.

Untuk perjalanan balik pun terasa panjang dan melelahkan. Sebelum berangkat, kami mesti tes PCR dulu. Lalu dapat penerbangan yang transit di Singapura, yang berarti durasi terbangnya lebih panjang dibanding kalau kita transit di Sydney. Badan pun rasanya mau remuk selama perjalanan. Sampai di Jakarta, kami mesti karantina dulu di hotel selama lima hari. Alhamdulillah masa-masa karantina ini bisa dipakai untuk istirahat dan bersantai sejenak.

Tinggal Sementara di Apartemen di Jakarta

Kami balik ke Indonesia dengan kondisi pak suami sudah punya pekerjaan, alhamdulillah. Lokasi kantornya di daerah Jakarta Selatan. Kota yang dari dulu sangat kami hindari, sekarang akhirnya mesti dihadapi karena rezekinya di sana.

Kami buta sekali dengan wilayah Jakarta, oleh karena itu untuk sementara kami memilih tinggal di apartemen. Kalau udah ngomongin ini, hampir selalu ditanya, kenapa tinggal di apartemen, ga cari rumah aja? Pertimbangannya karena memilih apartemen itu lebih mudah, bisa disewa beberapa bulan aja, dan banyak pilihan yang sudah full furnished. Kami cari apartemen ketika masih di Auckland, dan lihat kondisi apartemennya cukup via video call.

Sementara kalau mau mencari rumah kontrakan, kami perlu mempertimbangkan banyak hal. Kami pengen lihat langsung rumahnya, lingkungan sekitarnya seperti apa, akses jalannya gimana, jarak ke kator suami berapa, pilihan sekolah yang tersedia untuk Akas apa aja, dan sebagainya. Dan hal-hal itu tentunya baru bisa kami lakukan setelah tinggal di Jakarta.

Kami menyewa apartemen selama 6 bulan aja, dari Maret hingga September. Awalnya malah pengen 3 bulan aja, tapi pemilik apartemennya cuma mau menyewakan minimal 6 bulan. Ya udah deh, nurut. Tapi alhamdulillah juga jadinya 6 bulan, jadi kami ga diburu-buru waktu amat buat cari rumah kontrakan.

Advertisement

Pindah Rumah ke Bintaro

Setelah beberapa saat beradaptasi dengan kehidupan baru di apartemen di Jakarta, kami pun mulai keliling-keliling melihat beberapa daerah di sekitar Jakarta. Sebelum mencari rumah, tentu kami perlu mengerucutkan pilihan mau di daerah mana tinggalnya. Pada akhirnya pilihan kami jatuh ke daerah Bintaro.

Tahap selanjutnya yakni mencari komplek yang dirasa nyaman, serta rumahnya. Mencari rumah ternyata lebih pusing ya dibanding mencari apartemen. Yang bagus dan nyaman mahal-mahal soalnya, wkwk. Selain itu kami mencari rumah sekitar bulan Juli, ketika Indonesia mulai PPKM dan kasus Covid-19 lagi tinggi-tingginya. Cukup banyak komplek perumahan yang menutup diri dari orang luar, jadi kami ga bisa lihat-lihat seleluasa saat tidak PPKM.

Alhamdulillah akhirnya dapet juga rumah kontrakan yang cocok. Berikutnya tentu ngurusin pindahan lagi. Walau pindahnya ga jauh, tapi ya tetap aja kan mesti packing lalu unpacking lagi. Mana kondisi badan saya juga lagi ga fit dan susah diajak kompromi.

Rumah yang kami sewa juga ga full furnished, jadi cukup banyak perabotan yang mesti kami beli sendiri. Pindah hingga settle dan rumah terasa homey itu makan waktu dan menghabiskan tenaga banget.

Lelaaaah banget rasanya, karena kalau dihitung-hitung, dalam rentang satu tahun kami sudah 3x berpidah-pindah. Dari apartemen di Wakefield St. ke apartemen di Nelson St., Auckland; abis itu pindah ke apartemen di Jakarta; abis itu ke rumah di Bintaro. Fyuuuh.

Mencari Sekolah untuk Akas

Dulu merasa ngurusin bayi atau balita itu cape, tapi makin gede kok ya ternyata makin pusing, wkwk. Salah satunya ya urusan sekolah ini. Dulu di Auckland kami ga pernah pusing dengan urusan sekolah, karena ga perlu milih-milih. Di Indonesia ya lain cerita, apalagi kami mesti cari sekolah di daerah yang belum pernah kami kenal sebelumnya.

Di Auckland, Akas udah masuk primary school. Tahun 2021 ini juga Akas umurnya udah 6 tahun. Kalau mau sih Akas bisa-bisa aja kami masukin ke SD. Namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memilih memasukkan Akas ke TK B dulu. Panjang sih ini pertimbangannya kalau mau dijabarin, kapan-kapan aja deh saya tulis, hehe.

Beres milih dan mulai bersekolah tingkat TK B, PR berikutnya adalah mencari SD. Dari dulu maunya SD swasta, jadi udah kudu cari SD dari bulan Agustus atau September, padahal mulai sekolahnya masih di bulan Juli tahun berikutnya, ckckck.

Road Trip Jakarta-Padang

Awal Desember, adik ipar saya menikah di Padang. Kami sekeluarga tentunya kudu pulang kampung, apalagi pak suami yang bakal jadi wali nikahnya. Dulu kami selalu menggunakan pesawat tiap kali mudik, ga pernah kebayang opsi lain.

Tapi setelah ngerasain road trip di New Zealand, kali ini kami memutuskan untuk mudik lewat jalur darat! Dan biar ga cape gitu aja, di road trip ini kami sekalian jalan-jalan di beberapa kota di Sumatra, yay.

Setelah merasakan sendiri road trip di Sumatra, kerasa deh road trip di New Zealand dulu ga ada apa-apanya, eaaa. Di New Zealand sih road trip itu nyaman banget, jalan mulus, rambu-rambu jelas, kendaraan sepi, yang nyetir pada tertib.

Lha di Sumatra, jalan banyak yang berlubang (bahkan di jalan tol yang baru seumur jagung itu), jarak antar kota besar jauh-jauh banget, banyak truk, belum lagi kelakuan beberapa pengendara yang ajaib, haha. Tapi yaa cape sekaligus senang karena ada pengalaman baru. Cerita road trip-nya sementara bisa dibaca di highlight Instagram saya ya (bagian 1, bagian 2, bagian 3).

Advertisement

Naik Turun Situasi Pandemi di Indonesia

Dulu ketika akan balik ke Indonesia, saya lumayan khawatir dengan kondisi pandeminya. Yaa gimana ga khawatir, di Auckland kami sudah hidup normal dan merasa aman sekali, berasa udah ga ada itu corona. Sementara di Indonesia, penanganan pandeminya ga bagus, tracing dan testing kurang, plus banyak pula warga yang ga taat prokes.

Di Auckland ga ada prokes khusus yang kami jalani, bagaimana nanti di Jakarta? Apakah kami mesti parno mode on mengingat kita ga bisa atur orang lain mesti gimana? Butuh waktu buat saya beradaptasi biar hidup ga perlu parno-parno amat tapi juga ga lengah dengan prokes.

Hal yang cukup bikin surprise saya adalah ternyata kami bisa dapat vaksin Covid-19 lebih cepat dari yang dibayangkan. Suami dan saya dapat vaksin pertengahan tahun, Akas pun juga udah dapat vaksin dosis pertama di akhir tahun ini.

Hal lain juga bikin heran adalah menurun drastisnya kasus Covid-19 menjelang akhir tahun ini, kebalikan banget dengan negara-negara lain yang justru meningkat lagi jumlah kasusnya. Kalau mau suudzan sih bisa-bisa aja ya, kali aja testing dan tracing-nya masih ga dilakukan semaksimal mungkin.

Namun faktanya sudah banyak rumah sakit yang sepi dari pasien Covid-19, bahkan ada yang udah nol pasien Covid-19. Mungkin banyakan yang kena sekarang itu ga parah kondisinya sehingga ga memerlukan perawatan intensif. Kebalikan banget dengan ketika Indonesia di puncak pandemi, di mana rumah sakit pada penuh dan banyak yang ga bisa dirawat di rumah sakit. šŸ™

Tapi jangan terlalu senang dulu ya, karena setelah libur akhir tahun ini kita ga tahu bakal gimana, tapi semoga yang buruk-buruk ga terulang lagi ya, aamiin.

Evaluasi Menulis di Tahun 2021

Tahun 2020, pencapaian saya ngeblog makin menurun. Tahun 2021 gimana? Makin turun lagi donk, hahaha. Lucunya, tahun lalu itu masih ada sedikit iri melihat pencapaian ngeblog orang lain, sementara tahun ini santai banget dan ga peduli, wkwk.

Kalau mau kasih excuse, ya itulah, yang udah saya tulis panjang lebar di atas. Peralihan kehidupan selama setahun ini membuat menulis itu ga jadi prioritas. Saya memilih santai aja daripada maksain banget buat nulis, ntar nulisnya malah kerasa jadi beban.

Banyak banget tentunya target yang tidak tercapai. Bukan banyak lagi, tapi semua targetnya kali, haha. Tapi ya udahlah yaa. Yang berlalu ya biarlah berlalu.

Tahun 2021 ini hanya ada 32 tulisan yang ter-publish di blog saya, termasuk tulisan ini (yang sebenarnya baru kelar setelah tahun berganti tapi saya set backdated, haha). Paling sedikit nih sepanjang sejarah blog ini ada, ckckck.

Update tulisan ga banyak, statistik juga tentunya menurun. Kalau dulu masih ada sedikit sedih, sekarang malah merasa bersyukur masih ada yang baca, alhamdulillah, hehe.

Satu hal yang agak menghibur adalah berhasilnya saya bikin e-book yang isinya kompilasi tulisan-tulisan saya seputar road trip di New Zealand dengan campervan, yay! Ini juga bisa ada berkat tantangan dari Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) yang saya ikuti.

Keinginan buat gabungin tulisan-tulisan saya yang setema jadi e-book sebenarnya udah ada sejak dulu. Tapi saya males banget untuk mengeksekusinya. Kalau ga ada “paksaan” ya entah kapan bisa dikerjain, hehe.

Yah begitulah, ga ada yang wow memang dari aktivitas ngeblog saya di 2021, heuheu.

Segitu dulu deh cerita di tahun 2021 ini. Ada hal lain juga yang belum saya tulis, insya Allah di lain waktu saya ceritakan.

Selamat tinggal 2021. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang selalu bersyukur, aamiin.

Salam,

Reisha Humaira

Leave your comment

%d blogger menyukai ini: