Terinspirasi dari beberapa orang, saya juga ingin mencatat dialog-dialog kami bersama Akas. Percakapan sama anak-anak itu kadang lucu, kadang bikin takjub, kadang di luar dugaan ya, hehe.
Daftar Isi Tulisan Ini
Saat berumur 14 bulan, kosakata Akas masih sedikit sekali. Salah satu kata yang dia bisa adalah “udah”. Waktu itu Akas baru aja beres makan, trus saya iseng memvideokan.
Ibu: Udah makannya?
Akas: Udah (sambil menganggukkan kepala).
Ini rasanya percakapan pertama yang nyambung dan gesture Akas pun sesuai dengan jawabannya, hehe.
Selain kata “udah”, kata yang sering disebut Akas itu adalah “buah”. Mungkin karena tiap hari dia makan buah, dan tiap dikasih buah saya selalu menyebutkan itu sebagai “buah”, bukan nama buahnya, hehe. Tapi lama-lama semua disebut “buah” sama dia. Jiah.
Ibu: Kas, makan buah yuk. Mau buah?
Akas: Buah.. Buah..
Ibu: Kas, tuh ada burung.
Akas: Buuah.
Ibu: (Akas nunjuk semut) Oh, itu semut.
Akas: Buuah.
Ibu: Kas, ambil bola Kas.
Akas: Buuah.
Ibu: (Akas nunjuk lampu) Itu lampu.
Akas: Buuah.
Setelah berumur 1.5 tahun, akhirnya Akas sudah bisa meniru kalau kami minta untuk menyebutkan sesuatu. Sebelumnya kosakatanya ga jauh-jauh dari “buu”, “buah”, dan “udah”. Disuruh meniru dia ga bisa.
Saya masih ingat pertama kali Akas menirukan kata itu saat kami jalan-jalan ke Dusun Bambu. Karena di sana banyak bambu, tentulah saya sering berulang-ulang bilang “Itu namanya bambu, baaam-buuu”. Setelah muter-muter Dusun Bambu, pas kami lagi menunggu angkutan untuk balik, tiba-tiba dia bilang “baambuu”. Hoaaa, saya langsung terharu.
Baca juga: Wisata Jabar: Serba Bambu di Dusun Bambu Family Leisure Park
Setelah di Dusun Bambu itu, perkembangan bahasa Akas jadi lumayan meningkat. Saya coba mengajarkan dia berhitung 1-5, tapi selalu gagal di angka lima, wkwk.
Ibu: Sa..
Akas: ..tuu
Ibu: Du..
Akas: daa
Ibu: Ti..
Akas: ..daa
Ibu: Em..
Akas: paa..
Ibu: Li..
Akas: tuu
Salah satu lagu anak-anak yang sering saya nyanyikan kepada akas saat itu adalah lagu Burung Kakatua. Akas biasanya bisa mengikuti ujung-ujung lagunya, sampai suatu hari saat sedang main dia nyanyi-nyanyi sendiri.
Akas: Neneeek.. duaaa.. neneeek.. duaaa.. neneeek.. duaaa.. neneeek.. duaaa..
Ibu: Nenek sudah tua.. Giginya tinggal dua..
Ayah: Oh maksudnya itu. (ayahnya sebelumnya ga paham “nenek dua” itu maksudnya apa, haha)
Akas: Neneeek.. duaaa.. neneeek.. duaaa.. neneeek.. duaaa.. neneeek.. duaaa..
Melanjutkan sesi berhitung #halah, tetap saja ga ada kemajuan dengan angka lima. Entah kenapa angka lima itu selalu terlewat, hahaha.
Akas: Dua.. enam.. ujuh.. apan..
Ayah: Sudah duo, anam se kali yuang.
Salam,
Di tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan seputar ikhtiar saya untuk meningkatkan produksi ASI. Kali ini… Read More
Dulu waktu awal-awal datang di Auckland, saya rasanya hampir tidak pernah melihat orang bersepeda. Terasa… Read More
Saya pernah tinggal di Tokyo, Jepang tahun 2010-2013. Saya juga pernah tinggal di Auckland, New… Read More
Mumpung masih bulan Syawal, Selamat Idul Fitri 1445 H ya semuanyaaa. Minal aidin wal faidzin.… Read More
Alhamdulillah tahun ini dikasih kesempatan untuk ketemu Ramadhan lagi. Dan makin lama kok ya Ramadhan… Read More
Kembali ke seri jelajah Auckland. Dulu saya sudah pernah menulis wilayah Auckland mana saja yang… Read More
Leave a Reply