Masalah yang saya hadapi saat menyusui Akas mestinya tidak akan berlarut-larut kalau saja sedari awal saya konsultasi dengan orang yang ahli dan punya banyak ilmu seputar menyusui, alias konselor laktasi.
Baca juga: Perjalanan ASI Akas (2): Ikhtiar untuk Meningkatkan Produksi ASI
Belakangan saya baru menyadari bahwa saat ada masalah dengan menyusui, mestinya konsultasi dengan konselor laktasi-lah yang pertama kali dilakukan. Kenapa? Karena konselor laktasi akan membantu kita mencari tahu dulu penyebabnya apa, baru memberikan solusi. Percuma kalau kita melakukan berbagai upaya yang kita pikir bisa menyelesaikan masalah kita, sementara kita sendiri tidak tahu persis masalahnya di mana.
Lalu, kenapa ga saya lakukan sedari awal? Saya melahirkan di Bukittinggi, baru kembali ke Balikpapan saat Akas umur 3 bulan. Pertama, di Bukittinggi saat itu ga ada konselor laktasi. Kedua, saya ragu konsultasi online karena merasa butuh konsultasi langsung, tatap muka.
Daftar Isi Tulisan Ini
Dari awal sebenarnya saya sudah mencoba mencari info klinik laktasi di Bukittinggi. Di RS tempat Akas lahir ga ada. Nanya temen, katanya ada di RSAM Bukittinggi, tapi antrean di sana selalu panjang. Duh, denger antrean panjang jadi males. Saya masih ga pede bawa Akas ke luar untuk waktu lama. Saya juga masih berharap ada booster ASI yang ngefek buat saya.
Akhir Agustus 2015 (Akas 2.5 bulan) saya baru kepikiran untuk mencoba ke klinik laktasi RSAM. Ga apa-apa deh ngantre, namanya juga masih ikhtiar demi kelancaran ASI, toh upaya yang sudah saya lakukan belum ada yang berhasil. Tapi saya ga mau pasang ekspektasi tinggi.
Saya sempat cek di website RSAM, ada sih memang tulisan “klinik laktasi” di poli anak. Saya pun nyoba nelpon untuk menanyakan jadwalnya. Saya menghubungi salah satu nomor yang tertera di website, tapi tampaknya nomor tersebut bukan bagian informasi deh. Potongan percakapan di telepon:
Saya: “Bu, saya mau konsultasi di klinik laktasi.”
Yang terima telepon: “Apa? Mau OPERASI?”
Saya: ?????????
Berikutnya telepon saya dialihkan ke poli kebidanan. Bingung juga sih kok malah ke situ. Jawaban pun ga memuaskan. Orangnya kurang tahu juga berhubung katanya klinik laktasi itu ada di poli anak. Saya disuruh langsung datang aja ke RSAM. Wew.
Tanggal 29 Agustus 2015 akhirnya saya pergi ke RSAM bersama mama. Sesampainya di sana, karena masih bingung, kami nyoba nanya ke mbak-mbak yang berdiri di dekat pintu masuk, mungkin orang bagian informasi.
Saya: “Saya mau ke klinik laktasi, di sebelah mana ya?”
Si Mbak: “ANESTESI?”
Saya: ??????????
Ampun dah. Segitu ga familiarnya kah kata “laktasi”? Akhirnya saya bilang aja mau ke poli anak.
Kami langsung menuju poli anak. Di pintu poli anak, ada papan bertuliskan KLINIK LAKTASI. Saya masuk ke ruang poli anak lalu bilang ke perawat yang jaga bahwa saya mau konsultasi di klinik laktasi. Perawatnya juga bingung. Hah? Hah? Di pintu ada tulisannya padahal. Saya ketawa aja deh dengan kegejean ini, haha.
Akhirnya perawatnya nanya ada masalah apa. Saya bilang ASI saya kurang. Kebetulan di situ ada timbangan bayi jadi saya sekalian nimbang Akas. Lupa beratnya berapa saat itu. Perawat lalu bilang “Lho, kan udah bagus berat badannya, masalahnya apa?”. Saya bilang deh itu karena asupannya ditambah sufor. Trus dibales “Oh, berarti yang bermasalah ibunya ya, bukan bayinya?”. Weleh, ya iyaaa.
Setelah itu perawatnya bilang mau nanya dulu ke bidan di poli kebidanan dan kandungan (obgyn). Sekembalinya, saya disuruh tanya aja ke bidan, soalnya yang ada masalah ibunya. Poli anak itu kalo bayinya yang bermasalah.
Lah piyeee. Jadi tulisan “Klinik Laktasi” yang terpampang di pintu itu maksudnya apaaa? Ruang menyusui? Beda jauh atuh. Sudahlah ya, ketawa aja deh. 😆
Akhirnya saya pindah ke poli obgyn dan ngobrol dengan bidan yang dimaksud. Poin-poin yang kami bahas yang saya ingat sebagai berikut.
Lalu bidannya bilang, kalo saya masih mau konsultasi sama dokter silakan, paling nanti diberi suplemen aja. Mumpung udah di sana, ya udah sekalian aja deh.
Konsultasinya dengan dokter apa? Dokter kandungan. Aneh rasanya ke dokter kandungan padahal masalahnya ga berhubungan dengan kandungan, heuheu. Saat ngobrol dengan dokternya, saya ga berharap banyak sih. Dokternya pun ga komunikatif, cuma dengar statement dari bidan tadi bahwa ASI saya kurang, nanya sedikit, trus ngasih resep suplemen.
Yo wes lah ga apa-apa. Intinya saya dapat suplemen, kali aja beda dan ngaruh buat saya. Dokternya meresepkan Lactafar dan Anemolat. Awalnya nyari di apotek RSAM, tapi ga ada. Jadi muter beberapa apotek deh baru akhirnya dapet -_-.
Suplemen yang diberikan dokter saya minum sesuai resep. 2 hari pertama, alhamdulillah saya cuma bikin sufor 1x dalam sehari. Biasanya itu minimal 3x. Tapi memang Akas jadinya lebih banyak digendong karena banyak disusui. Awalnya saya cukup senang, mudah-mudahan suplemennya ngefek dan ASI saya bertambah. Tapi di hari ketiga, ga cukup lagi bikin sufornya sekali aja. Akhirnya kembali deh beberapa kali seperti sebelumnya.
Huft, ya sudahlah yaa. Namanya tadi juga ga ekspektasi tinggi toh. Saya bersabar aja 1 bulan lagi untuk konsultasi di klinik laktasi beneran di Balikpapan.
Kenapa saya ga coba cari konselor laktasi di Padang? Saya masih belajar ngurus bayi, belum berani bawa newborn ke luar kota, belum tentu ada yang bisa menemani ke Padang. Perbedaan suhu antara Bukittinggi dan Padang bisa jadi masalah lain lagi buat Akas.
Saya sangat menanti-nanti waktu saya untuk kembali ke Balikpapan lagi, salah satunya untuk konsultasi dengan konselor laktasi. Saya juga udah meminta hal ini ke suami dari jauh-jauh hari. Kami ke Siloam Hospital Balikpapan, RS terdekat dari rumah. Alhamdulillah di sana ada klinik laktasi dan konselor laktasinya adalah dokter.
Ada 3 dokter di klinik laktasi Siloam saat itu. Saya sengaja pilih yang juga dokter spesialis anak biar nanti ke depannya Akas ke dokter yang sama untuk kontrol bulanan dan imunisasi. Pilihan saya akhirnya jatuh pada dr. N. Sebelum konsultasi saya mesti bikin appointment dulu via customer service Siloam Hospital.
Saya ke klinik laktasi tanggal 30 September 2015. Saat itu usia Akas sudah 3 bulan 10 hari. Kesan pertama, dr. N ramah banget, nanya apa yang bisa beliau bantu, dan ga nge-judge saya saat saya bilang ASI saya kurang.
Kepada dr. N saya cerita beberapa hal terkait kondisi saya saat itu:
Setelah menceritakan hal-hal di atas, yang kami bahas berikutnya sebagai berikut.
dr. N bertanya suplemen apa saja yang pernah saya minum. Menurut dr. N, semua suplemen yang pernah saya minum itu cara kerjanya sama. dr. N bakal meresepkan yang cara kerjanya berbeda. Tebakan saya Domperidone, yang selama ini ga berani saya coba karena ga ngerti dosisnya. Di akhir memang dr. N meresepkan saya Domperidone dengan dosis pagi-siang-malam 1-1-1.
Saya pernah baca kalau Domperidone ini sebenarnya adalah obat mual. Tapi efek sampingnya, menimbulkan hormon prolaktin. Hormon prolaktin adalah hormon yang berperan untuk memproduksi ASI. Jadi efek inilah yang ingin didapatkan dengan meminum Domperidone. Tapi yaa karena obatnya digunakan bukan sesuai fungsi utamanya, jadinya sebaiknya meminumnya dengan resep dan pengawasan dokter.
Suami puas sekali dengan konsultasi ini karena banyak dapat pengetahuan baru. Saya juga merasa banyak dapat pencerahan dan mulai optimis bahwa Akas bisa segera berhenti minum sufor.
—
Di Balikpapan, saya juga ngobrol dengan bidan yang saya panggil ke rumah untuk pijat laktasi. Tapi saran-saran yang diberikan ke saya ga jauh beda dengan bidan di Bukittinggi.
Dari pengalaman saya konsultasi dengan 1 konselor laktasi vs. 2 bidan, mereka punya sudut pandang yang berbeda dalam menyikapi ibu-ibu yang merasa ASI-nya kurang.
Jadi, kesimpulan saya, untuk masalah dengan menyusui, lebih tepat untuk konsultasi dengan konselor laktasi. Konselor laktasi ini ga selalu dokter, malah ada juga yang bukan tenaga kesehatan, tapi sudah belajar dan mengambil sertifikasi untuk menjadi konselor laktasi. Kalau saya prefer konselor laktasi yang juga dokter spesialis anak, karena selain konsultasi seputar menyusui, kita bisa sekalian konsultasi seputar kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan bayi kita.
Ada yang punya pengalaman dengan konselor laktasi juga? Share yuk. 🙂
Tulisan ini adalah bagian dari seri perjalanan relaktasi dan menyusui Akas. Berikut daftar tulisannya:
Salam,
Di tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan seputar ikhtiar saya untuk meningkatkan produksi ASI. Kali ini… Read More
Dulu waktu awal-awal datang di Auckland, saya rasanya hampir tidak pernah melihat orang bersepeda. Terasa… Read More
Saya pernah tinggal di Tokyo, Jepang tahun 2010-2013. Saya juga pernah tinggal di Auckland, New… Read More
Mumpung masih bulan Syawal, Selamat Idul Fitri 1445 H ya semuanyaaa. Minal aidin wal faidzin.… Read More
Alhamdulillah tahun ini dikasih kesempatan untuk ketemu Ramadhan lagi. Dan makin lama kok ya Ramadhan… Read More
Kembali ke seri jelajah Auckland. Dulu saya sudah pernah menulis wilayah Auckland mana saja yang… Read More
View Comments
Saya tinggal di daerah kecil, mba. Jadi nggak ada KL juga disini. Solusinya saya baca-baca buku dan searching di internet aja. Oh ya nonton channel youtubenya dr.Tiwi juga. Jadi busui rasanya memang jatuh bangun suka dukanya melebihi mabok hamil. Samaan juga saya sudah konsusmi booster ASI ini itu tapi nggak ngefek, yang paling ngefek kalau dijajanin suami cake coklat. :D
Iya mbak, bener banget masih bisa belajar dari internet. Cuma yaa dulu itu banyak yg jd masalah, makanya jadi ribet sayanya, hihi.
Halo, mba. Salam kenal. Saya pertama kali nih berkunjung ke sini. Hehe. Kalau saya belum ada pengalaman ke KL. Tapii temen saya punya masalah sama ASInya. Jadi awalnya puting suka lecet, bahkan darahnya sampai netes, kemudian timbul gerinjil keras di putingnya. Kalau AIMI Jabar kan kayaknya suka ngadain konsultasi gratis di balai kota Bandung. Saya sarsnin dia ke sana karena mungkiin cara pelekatannya belum bener. Tapi dia belum konsul sampai sekarang deh. Hehe. Padahal mgkn kalau dari dulu konsul, masalahnya bisa kelar.
Ternyata proses susu menyusu itu ribet juga yaa. Ga semudah nempelin anak ke payudara xD
Halo mbaak, wah sayang sekali ya kalau konsultasinya ga dimanfaatkan, padahal ada, heuheu. Menyusui memang ga gampang, cuma kadang kitanya merasa ga butuh bantuan karena berpikir bahwa mestinya nanti bisa cari solusi sendiri.
Mbaaa, boleh email gak dokter laktasi mba di rumah sakit siloam balikpapan?? Kebetulan aku tinggal di balikpapan dan lagi butuh banget konsul laktasi.. soalnya lagi bermasalah ama n3n hikss.. email saya aja yaa mba ke mayarusdahnoor27@gmail.com
Bun.. biaya konsultasi laktasi dBpn berapa???
Halo bun, maaf saya udah lupa persisnya berapa, sekitar 250 ribu apa ya. Tapi itu tahun 2015. Kalau mau info lebih lanjut mungkin bisa email atau telepon langsung ke Siloam Hospital Balikpapan :)
Halo bunda.. Apakah dr N itu dr Nina.. Just curious.. Dsa 2 anak sy. Beliau the best. Dikala sy juga kasih sufor ke anak pertama dia jg g judging. Anak ke 2 full asi tapi eping beliau jg sangat support.
Halo bunda, iya betul dr. Nina. Baik banget memang, ramah pula. :)