Urusan belanja kebutuhan sehari-hari mah di mana pun pada dasarnya sama ya. Ya belanja aja di tempat-tempat yang jual itu #halah.
Tapi buat emak-emak mah pasti ada concern: yang murah dan bagus di mana? Iya kaaan? Wkwk. Jadi kalau di Auckland biasanya belanja groceries serta kebutuhan sehari-hari di mana?
Okeh saya jabarin dulu beberapa pilihan tempat belanja yang ada di Auckland yaa.
Daftar Isi Tulisan Ini
Sepertinya supermarket adalah tempat pertama yang kepikiran di banyak orang untuk belanja kebutuhan sehari-hari, apalagi di negara maju begini, hehe. Supermarket yang terkenal di Auckland ada tiga, yakni Countdown, Pak ’n Save, dan New World.
Oia di Auckland supermarketnya tidak menyediakan plastik belanja ya, selain kantong plastik untuk buah dan sayur. Jadi kalau pergi belanja, jangan lupa bawa tas belanja sendiri. Kalau ga bawa dan butuh, bisa beli tas belanja yang dijual di sana. Harganya sekitar NZ$1-2 kalau ga salah.
Sepengamatan saya, Countdown adalah supermarket dengan cabang terbanyak di Auckland, jadi lebih mudah ditemukan. Dari tempat tinggal kami pun supermarket terdekat adalah Countdown ini, tinggal jalan kaki ke sana. Awal-awal di Auckland saya cukup sering belanja di Countdown, soalnya belum kenal banyak kan sama Auckland. Tapi setelah tahu tempat lain yang lebih murah, saya beralih, ahaha.
Baca juga: Auckland Itu Seperti Apa? Kenalan Yuk!
Namun demikian, kami masih rutin belanja di Countdown terutama untuk beli beras dan keripik, hihi. Beras udah kadung cocok sama Thai Jasmine Rice, brand Countdown jadi cuma dijual di Countdown. Keripiknya juga brand Countdown, huehe.
Satu hal yang saya suka sekali dari Countdown adalah ada free fruit for kids, alias buah gratis untuk anak, yay. Jadi kalau saya belanja sama Akas, saya ga pusing sama Akas yang gampang lapar ini, tinggal ambil buah gratisannya, beres, wkwk. Buah yang disediakan antara lain apel, pisang, atau jeruk.
Untuk kebutuhan sehari-hari, saya lebih banyak belanja di Pak ’n Save karena harganya paling murah dibanding supermarket lain, dan sering ada promo juga. Sayangnya Pak ’n Save ini cabangnya ga banyak, jadi saya kudu naik bus kalau ke sana. Tapi takvava, demi murah, wkwk.
Pak ’n Save paling dekat dari tempat tinggal kami adalah Pak ’n Save Mt. Albert. Dan yang saya suka dari Pak ’n Save Mt. Albert ini: di sana ada daging ayam, sapi, kambing, dan domba halal! Dulu saya kira semua Pak ’n Save itu jual daging halal, tapi begitu saya ke Pak ’n Save cabang lain, saya ga pernah nemu rak khusus daging halal. Dan kesimpulan kami, di Pak ’n Save Mt. Albert ada karena demand-nya banyak berhubung banyak muslim yang tinggal di Mt. Albert ataupun suburb sekitarnya.
Ada yang bilang harga barang di New World ini paling mahal dibanding supermarket lain. Tapi saya ga pernah bandingin langsung, soalnya udah nemu yang murah ngapain pusingin yang mahal, wkwk. Ada juga yang bilang mirip-mirip aja harganya dengan Countdown.
Saya cuma pernah masuk New World sekali, yang di Queen Street. Pertama masuk, kesan pertama di kepala saya adalah terasa mahal, wkwk. Entah karena udah tertanam di kepala duluan atau bukan. Tapi berasa beda aja gitu. Lebih dingin, produk-produknya tampak fresh semua.
Toko Asia menjual produk dari berbagai negara di Asia, seperti Tiongkok, Jepang, Korea, Malaysia, Thailand, Filipina, hingga Indonesia. Selain produk impor tersebut, sebagian juga menjual sayur, buah, dan bahan makanan segar lainnya. Soal toko Asia sebelumnya udah saya ceritain di tulisan seputar belanja produk Indonesia ya, hehe.
Baca juga: Belanja Produk Makanan Indonesia di Auckland
Yang juga membedakan supermarket Asia dengan supermarket biasa: ada sayur atau buah yang hanya dijual di supermarket Asia, misalnya kangkung, pare, dll. Mungkin karena itu lazim dikonsumsi orang Asia ya, tapi tidak untuk orang-orang non-Asia, hehe.
Oia selain toko/supermarket yang menjual produk impor itu, ada juga toko-toko yang khusus menjual sayur dan buah saja. Saya ga tahu nama persisnya apa, tapi suka ada tulisan Fruit & Vege, disertai huruf-huruf China yang ga bisa saya baca. Makanya saya masukin kategori toko Asia, hihi.
Ini ga tahu deh istilahnya pas atau ga. Intinya ini tu yang berupa pasar, hehe. Di pasar ini kita bisa mendapatkan sayur, buah, dan bahan makanan segar dengan harga yang lebih murah dibanding supermarket ataupun toko. Yaa sama aja lah ya dengan di Indonesia, hehe.
Pasar ini biasanya cuma ada 1x seminggu, jadi kalau mau belanja ke sana tuh mesti dijadwalin banget jadinya. Tapi demi murah, maka jadwal ke pasar memang harus diagendakan, haha.
Sejauh ini saya cuma pernah ke tiga pasar berikut:
Baca juga: B4 School Check, Check Up Gratis untuk Anak Usia 4 Tahun di New Zealand
Minimarket maksudnya yang sebangsa Alfamart dan Indomaret di Indonesia. Tapi sepengamatan saya ga ada brand minimarket yang mendominasi, beda-beda.
Selain produk kemasan, ada juga minimarket yang menjual bahan segar, terutama buah. Tapi jumlahnya ga banyak.
Harga barang di minimarket bisa dibilang paling mahal dibanding tempat lain, jadinya minimarket itu jadi pilihan terakhir sekali buat saya untuk belanja. Yaa paling banter jajan dikit doank.
Kalau di Indonesia rasanya harga barang di minimarket ga jauh-jauh amat bedanya dibanding di supermarket, tapi di sini tu bisa beda jauh. Pernah saya beli roti, harganya 2x lipat harga di supermarket. Jus, harganya 1.5x lipat harga di supermarket. Makanya rada kapok belanja di minimarket tuh kalau ga kepepet, huehe.
—
Itu aja deh kayaknya tempat belanja yang saya tahu. Kalau ada yang lain dan murah juga, tolong kasih tahu saya ya, haha.
Jadi, kesimpulannya saya lebih sering belanja di Pak ’n Save dan Avondale Sunday Market. Jauh memang dari rumah, tapi dijabanin demi hemat, wkwk. Nah untungnya Pak ’n Save Mt. Albert dan Avondale Sunday Market itu terbilang dekat, jadi biasanya saya jadwalin hari Minggu untuk belanja. Saya naik bus ke Avondale Sunday Market terlebih dahulu, belanja di sana, jalan kaki ke Pak ’n Save Mt. Albert, lalu belanja apa yang belum saya dapat di pasar. Nasib ga punya mobil sendiri, jadi gitu deh strateginya biar hemat ongkos juga, wkwk.
Sekian, semoga bermanfaat. 🙂
Salam,
Di tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan seputar ikhtiar saya untuk meningkatkan produksi ASI. Kali ini… Read More
Dulu waktu awal-awal datang di Auckland, saya rasanya hampir tidak pernah melihat orang bersepeda. Terasa… Read More
Saya pernah tinggal di Tokyo, Jepang tahun 2010-2013. Saya juga pernah tinggal di Auckland, New… Read More
Mumpung masih bulan Syawal, Selamat Idul Fitri 1445 H ya semuanyaaa. Minal aidin wal faidzin.… Read More
Alhamdulillah tahun ini dikasih kesempatan untuk ketemu Ramadhan lagi. Dan makin lama kok ya Ramadhan… Read More
Kembali ke seri jelajah Auckland. Dulu saya sudah pernah menulis wilayah Auckland mana saja yang… Read More
View Comments
apakah benar mbak, harga susu dan daging di sana lebih murah daripada di Indonesia? aku gak bayangin gimana repotnya bawa barang belanjaan naik bus. berapa kantong belanja bawanya?
Kalau di-convert ke rupiah, untuk susu dan daging mirip-mirip kok mbak harganya, atau lebih mahal, hehe.
Kalau belanja saya biasanya bawa tas troli yang beroda, lumayan banyak yang bisa masuk, tinggal tarik. Biasanya masih ekstra 1-2 tas belanja lagi kalau memang belanja banyak. Tapi untungnya halte busnya ada di depan supermarketnya.