Saya sempat galau menentukan nanti mau melahirkan di mana, apakah di Balikpapan atau di Bukittinggi. Keduanya ada kelebihan dan kekurangan masing-masing buat saya, mulai dari pertimbangan penting sampai ga penting, hehe.
Pertimbangan saya untuk Balikpapan antara lain:
Pertimbangan saya untuk Bukittinggi antara lain:
(+) Lebih mudah mengurus akte kelahiran bayi nantinya karena KTP dan KK kami beralamat di Padang.
Baca juga: Mengurus Kartu Keluarga (KK) Baru
Galau juga mikirin list plus-minus di atas. Jadinya saat awal-awal kehamilan, kalau suami atau keluarga saya nanya nanti mau lahiran di mana, saya bilang aja lihat gimana kondisinya nanti, belum bisa diputuskan.
Sampai akhirnya di awal tahun 2015 suami saya nanya dengan lebih serius. Oya pertimbangan yang saya tulis di atas itu sih baru di pikiran saya aja, sebelumnya belum pernah saya bahas dengan suami. Dan ternyata ada pertimbangan lain dari suami yang ga kepikiran sama sekali oleh saya sebelumnya.
Saat ditanya suami, awalnya saya bilang prefer di Balikpapan aja, terutama biar ga LDR. Tapi suami prefer saya lahiran di Bukittinggi aja. Suami saya rupanya khawatir banget kalau nanti mesti ninggalin saya sendirian di rumah saat hamil besar karena harus job ke lapangan. Bisa-bisa pikirannya malah jadi ga tenang terus. Apalagi jadwal job suami saya itu ga jelas, ga bisa ditentukan dari awal. Kalau jadwal kerjanya kayak orang kantoran biasa sih kata suami ga masalah mau lahiran di Balipapan. Suami meminta saya untuk mempertimbangkan lagi.
Dulu sih saya merasa ga gitu masalah juga kalau sendirian pas hamil besar. insya Allah kuat. Tapi setelah mendengar pertimbangan suami, kok ya rasanya keterlaluan juga kalau saya maksa mau lahiran di Balikpapan. Saya juga coba tanya ke mama saya, jelas mama saya prefer saya lahiran di Bukittinggi aja. Dipikir-pikir juga, kalau lahirannya jauh lebih cepat dari prediksi, sementara saat itu kebetulan saya sendirian aja di Balikpapan, kan gawat juga.
Akhirnya saya putuskan untuk melahirkan di Bukittinggi aja nanti. Sudahi galaunya sampai di situ, hehe. Suami pun langsung ancang-ancang mengajukan rencana cuti kepada bosnya. Sekarang saya tinggal berdoa sama Allah agar nanti suami sudah bersama saya beberapa hari menjelang lahiran serta bisa mendampingi proses persalinan. Trus sering-sering ngomong ke anak kami, “Nak, nanti kita lahiran kalau ayah udah di rumah bareng kita yaa :-*”.
Salam,
Di tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan seputar ikhtiar saya untuk meningkatkan produksi ASI. Kali ini… Read More
Dulu waktu awal-awal datang di Auckland, saya rasanya hampir tidak pernah melihat orang bersepeda. Terasa… Read More
Saya pernah tinggal di Tokyo, Jepang tahun 2010-2013. Saya juga pernah tinggal di Auckland, New… Read More
Mumpung masih bulan Syawal, Selamat Idul Fitri 1445 H ya semuanyaaa. Minal aidin wal faidzin.… Read More
Alhamdulillah tahun ini dikasih kesempatan untuk ketemu Ramadhan lagi. Dan makin lama kok ya Ramadhan… Read More
Kembali ke seri jelajah Auckland. Dulu saya sudah pernah menulis wilayah Auckland mana saja yang… Read More
Leave a Reply