wedding preparation

Persiapan Pernikahan E♡R: Pakai Adat Mana?

Sebagian memilih pernikahan ala nasional, tanpa prosesi adat tertentu. Sebagian memilih pernikahan tradisional dengan segala prosesi adat istiadat daerah asalnya. Kami masuk kelompok kedua, memilih menikah dengan adat Minang.

Evan dan saya sama-sama orang Minang, jelas adat Minang-lah yang akan dipakai untuk pernikahan kami. Namun demikian, karena daerah asal kami berbeda, ada perbedaan juga dalam prosesi adatnya.

Saya berasal dari Baso. Evan walau sudah lama tinggal di Padang, daerah asalnya adalah di Pariaman. Jangankan kampung saya dan Evan yang jaraknya jauh banget, kampung saya dengan kampung sebelah aja ada beberapa perbedaan adat istiadat juga.

Lalu adat mana yang dipakai?

Kedua keluarga memutuskan untuk menjalankan adat dari kedua daerah, ambil yang utama-utama saja, dan yang terpenting tidak memberatkan kedua belah pihak. Adat bagi kami adalah identitas, jadi tentunya kedua pihak ingin identitasnya dipakai dalam prosesi pernikahan tsb.

Perbedaan signifikan dari sudut pandang keluarga saya adalah adanya prosesi manjapuik marapulai. Ini prosesi yang ada di adat Pariaman tapi tidak ada di adat Baso, di mana marapulai (mempelai laki-laki) dijemput oleh keluarga pihak perempuan sebelum akad nikah dengan “panjapuik” yang telah disepakati.

Sebaliknya, dari Baso ada prosesi maanta siriah, di mana pihak keluarga perempuan akan datang ke pihak keluarga laki-laki untuk meminang. Di daerah lain mungkin dikenal dengan batuka tando. Di keluarga Evan tidak ada prosesi ini.

Advertisement

Ditambah beberapa prosesi adat ini, rangkaian acara pernikahan kami jadi sbb:

Oia biasanya di Minang juga ada acara malam bainai, di mana tangan dan kuku mempelai perempuan akan dihiasi dengan inai (daun pacar), atau belakangan diganti dengan henna.

Tapi kata mama saya di Baso ga ada prosesi ini. Lagipula dari jauh-jauh hari Evan bilang ke saya bahwa dia tidak suka lihat tangan dan kuku cewe dihiasi inai. Pas lah kalau begitu, kekeke.

Prosesi adat segini udah banyak dikurangi. Daerah asal pengantinnya beda juga sih soalnya, hehe. Kalau daerah asalnya sama, biasanya prosesi adatnya lebih banyak.

Dan di Baso sendiri, kata mama saya, dulu itu kalau sesama orang Baso nikah, rangkaian acara alek-nya bisa sampai 7 hari berturut-turut. Ampuuun. Tapi sekarang banyak yang meringkasnya juga sih, jadi paling cuma 2 atau 3 hari.

Begitulah sekilas bagaimana menikah dengan adat Minang berdasarkan pengalaman kami.

Salam,

Leave a Reply

Emailmu tidak akan dipublikasikan. Bagian yang harus diisi ditandai dengan *

Share

Recent Posts

Perjalanan ASI Alin (3): Support System dan Balada Pumping

Di tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan seputar ikhtiar saya untuk meningkatkan produksi ASI. Kali ini… Read More

5 November 2024

Menjelajah Auckland dengan Bersepeda (1): The Stories

Dulu waktu awal-awal datang di Auckland, saya rasanya hampir tidak pernah melihat orang bersepeda. Terasa… Read More

25 Mei 2024

Pilih Tinggal di Jepang atau New Zealand?

Saya pernah tinggal di Tokyo, Jepang tahun 2010-2013. Saya juga pernah tinggal di Auckland, New… Read More

20 Mei 2024

Idul Fitri 1445 H (2024) di Bintaro

Mumpung masih bulan Syawal, Selamat Idul Fitri 1445 H ya semuanyaaa. Minal aidin wal faidzin.… Read More

22 April 2024

Sekilas Ramadhan 1445 H (2024) di Bintaro

Alhamdulillah tahun ini dikasih kesempatan untuk ketemu Ramadhan lagi. Dan makin lama kok ya Ramadhan… Read More

21 April 2024

Menjelajah Auckland dengan Berlari

Kembali ke seri jelajah Auckland. Dulu saya sudah pernah menulis wilayah Auckland mana saja yang… Read More

19 April 2024