Akas menggunakan kacamata sejak usia 4 tahun (2019). Itu setelah matanya diperiksa oleh dokter spesialis mata di Auckland dulu. Pengalaman periksa mata anak ternyata beda jauh dengan yang pernah saya alami. Yah mungkin karena faktor usia ya, soalnya Akas saat itu masih balita, sementara saya pertama kali periksa mata ketika udah SMA, hehe.
Dulu saya mana pernah kepikiran untuk periksa mata anak secepat itu. Belum ngerti saya betapa pentingnya periksa mata anak sejak usia dini. Saya coba bawa Akas untuk periksa mata lebih lanjut setelah disaranin sama nurse yang memeriksa penglihatan dan pendengaran Akas saat B4 School Check.
Daftar Isi Tulisan Ini
Ketika disaranin untuk periksa ke dokter mata, sejujurnya saya bingung mau cek ke mana. Bukan karena ga tahu tempatnya di mana, tapi karena khawatir biayanya mahal, wkwk.
Selama tinggal di Auckland, kami tidak punya asuransi. Kami cuma ngandalin subsidi dari pemerintah (publicly funded health services) yang kami dapat karena suami penerima New Zealand Scholarship. Hanya saja saya tahunya subsidi itu bisa didapat kalau kita ke klinik GP, entah kalo ke klinik khusus mata.
Baca: Tentang Layanan Kesehatan di New Zealand
Kebetulan suami pernah bilang kalau di kampusnya ada klinik mata, dan dia bisa periksa mata gratis di sana. Suami bisa gratis karena mahasiswa di sana, heu.
Lalu saya cek website kliniknya, ternyata untuk anak usia 0-15 tahun biayanya NZ$10. Yaa masih terjangkau lah menurut saya, jadi saya putuskan untuk periksa Akas ke sana aja. Kebetulan juga lokasinya dekat dari sekolah Akas saat itu.
Nama resmi kliniknya adalah The University of Auckland Optometry Clinic. Sering juga disebut Grafton Eye Clinic karena lokasinya berada di Grafton Campus, di seberang Auckland City Hospital.
Klinik ini tuh judulnya teaching clinic. Jadi ntar yang bakal periksa mata di sana adalah optometry student (mahasiswa PPDS mata gitu kali ya) di bawah supervisi dokter spesialis mata. Saya jadi teringat ketika Akas bintitan dulu dan dibawa ke RS Mata Cicendo, di sana juga sempat diperiksa sama mahasiswa PPDS, hehe.
Walau agak ragu bakal diperiksa bukan langsung oleh dokter spesialis mata, namun karena menimbang biaya, ya udahlah mari kita coba aja.
Sebelum ke klinik, kami bikin appointment terlebih dahulu via website kliniknya. Setelah dikonfirmasi, kami pun datang sesuai jadwal, tanggal 24 September 2019.
Setelah menunggu sejenak, nama Akas pun dipanggil. Kami masuk ke ruangan periksa sama mbak-mbak bule. Awalnya kami ditanyai terkait riwayat kesehatan Akas, sambil mbaknya ngisi data ke komputer. Lumayan banyak juga data yang dia isi.
Soal keluhan mata Akas, kami bilang aja Akas mayan sering kalo lihat buku itu dari jarak dekat, trus kalo nonton suka maju dekat ke layar. Kami juga infokan bahwa saya berkacamata sejak SMA, dan suami berkacamata sejak usia sekitar 12 tahun.
Selanjutnya mbaknya mulai periksa. Banyak juga ternyata tahapannya, ga sesederhana periksa mata pada orang dewasa. Ini aja nih pemeriksaannya yang ada di catatan saya. (Monmaap ya para dokter mata kalau ada yang salah, soalnya ini berdasarkan pengamatan saya aja, hehe).
Abis itu datanglah ibu-ibu yang lebih senior, kayaknya supervisor si mbak, dokter mata yang udah berpengalaman. Si ibu sempat ngobrol sebentar sama si mbak, ga tahu bahas apaan, trus cek-cek juga.
Kemudian si ibu bilang ke kami bahwa setelah ini mata Akas mesti dikasih obat tetes khusus untuk memudahkan pemeriksaan. Obat tetes ini bakal bikin pupil mata membesar sehingga lebih sensitif terhadap cahaya.
Untuk dark eyes (yah maklumlah kita orang Asia ini matanya coklat ya, bukan terang kayak bule) butuh dosis lebih. Efek samping obat tetesnya katanya bakal bikin blur untuk lihat jarak dekat, berlangsung sekitar setengah hingga satu hari.
Ketika Akas dikasih obat tetes mata, dia pun ngamuk, heuheu. Susah banget buat bikin dia sukarela dikasih obat tetes mata. Yah boro-boro Akas, saya pun kalo disuruh pake obat tetes mata bakal langsung refleks nutup matanya, hihi. Akhirnya Akas dikasih dengan paksa gitu deh, heuu.
Setelahnya kami diminta menunggu selama 40 menit biar obatnya bekerja dulu. Kirain bakal on time, eh ternyata ngaret juga, hadeh. Mana sempat pula katanya obat tetesnya masih kurang, jadi Akas mesti dikasih lagi. Ngamuk lagi lah dia. Kasihan juga melihatnya, heu. Ujung-ujungnya kami kudu nunggu hingga 1.5 jam, wew.
Pemeriksaan pun dilanjutkan kembali. Kali ini kami kembali ke ruangan tadi lagi, tapi kali ini ruangannya digelapin.
Selama periksa, saya antara merasa wow karena segitu banyaknya pemeriksaannya, plus rada ragu sama si mbak bule karena tampak kurang meyakinkan, heuheu. Untungnya di akhir si ibu supervisor datang lagi dan cek-cek lagi, hingga dapat kesimpulan akhirnya gimana.
Kami diberitahu bahwa Akas mesti pakai kacamata, tapi ga dikasih tahu minusnya berapa. Selanjutnya kami dibawa ke optiknya untuk memilih frame kacamata buat Akas.
Melihat harga frame kacamata di sana, yang kepikiran adalah: mahal yaaa, heuheu. Maklum ga ada subsidinya. Tapi di tempat lain pun belum tentu lebih murah kan. Jadi ya udahlah.
Akas udah milih kacamata yang dia suka, saya lupa harganya persisnya berapa, tapi kalau dirupiahin itu hampir 2.5 juta rupiah. Saya aja seumur-umur belum pernah beli kacamata semahal itu, huhu.
Di optik akhirnya saya tanya ke petugasnya, mata Akas itu minus berapa. Katanya -1 serta silindris 3. Astaga, kaget. Bukan kaget di minusnya sih, tapi di silindrisnya itu, huhu.
Beres dari optik, kami ke kasir untuk bayar. Biaya yang dikeluarkan untuk periksa hanya NZ$10, sesuai info di website. Kacamatanya yang mahal.
Kacamatanya ga langsung jadi hari itu, jadi kami diminta menunggu dikabari. Kami juga diminta untuk follow up alias kontrol lagi 6 minggu setelah Akas pakai kacamata.
Kacamata Akas selesai tanggal 10 Oktober 2019. Sejak itu ia mulai berkacamata. Alhamdulillah dia kooperatif mau pakai kacamatanya sepanjang hari.
Tanggal 3 Desember 2019 kami kembali lagi ke kliniknya untuk follow up sesuai instruksi sebelumnya. Selama kontrol ini mata Akas dicek lagi, tapi kali ini dengan kacamata yang udah dia pakai.
Cara periksanya mirip dengan pemeriksaan pertama, cuma ga sebanyak itu. Kayaknya kali ini tujuannya untuk memastikan apakah ukuran lensa kacamata yang dipakai Akas sudah sesuai dan membantu dia melihat dengan lebih jelas.
Kesimpulan kontrol kali ini, memang Akas terbantu penglihatannya dengan kacamata. Hanya saja ada sebelah lensa yang salah ukurannya. Jadi lensanya mesti diganti dulu. Wew.
Untuk ganti lensa ini untungnya ga dikenakan biaya. Saya udah siap-siap mau bayar NZ$10 untuk periksa, eh ternyata ga perlu bayar juga. Wah enak juga biaya segitu meng-cover sampai ke kontrol lanjutan segala, kirain biaya tiap kedatangan.
Saya juga sempat ngobrol sama si ibu supervisor. Katanya kondisi mata Akas itu bisa jadi juga karena faktor keturunan. Yah soalnya kami berdua sama-sama berkacamata, walau si saya jarang pakai, hehe.
Si ibu juga kasih saya kertas berisi informasi terkait rabun jauh (miopi) dan treatment-nya. Rupanya selain pakai kacamata, ada beberapa treatment yang bisa membantu supaya minus matanya ga makin parah, yaitu:
Wah saya baru tahu ada pilihan treatment seperti itu. Tapi melihat durasinya yang panjang, mesti kontrol rutin, apalagi biayanya tergolong mahal, ya udahlah bye. Cukup lah pakai kacamata aja.
Si ibu juga menyuruh datang kontrol 6 minggu lagi. Ke klinik lagi deh kami tanggal 25 Februari 2020. Masih mirip dengan kontrol sebelumnya, tapi kali ini kesimpulannya kacamatanya udah pas ukurannya.
Kami diminta untuk kontrol lagi setelah 6 bulan, tapi saat itu visa kami bakal habis di bulan Juli 2020, jadi udah ga mungkin lanjut cek di sana lagi. Walau ternyata kami extend tinggal di Auckland, kami ga pernah ke klinik lagi. Terlupakan gara-gara pandemi, hehe.
Ketika awal-awal melihat Akas berkacamata, jujur saya merasa sedih. Sedih melihat anak sendiri baru berumur 4 tahun tapi sudah harus berkacamata. Namun saya coba berpikir positif, bahwa keberadaan kacamata itu justru untuk membantunya jadi lebih baik. Bayangkan kalau ketahuannya terlambat, mungkin minus dan silindrisnya udah lebih gede lagi.
Sayangnya komentar orang-orang sekitar dulu itu juga jauh dari positif. Lihat foto Akas berkacamata, dikomen “kasihaaaan”. Hadeh. Ah ya sudahlah, yang penting apa yang kita pikirkan kan ya, bukan apa yang dipikirkan orang lain.
Alhamdulillah perasaan seperti itu hanya sebentar saja. Sisanya ga ada masalah lagi karena saya amati Akas tetap beraktivitas seperti sebelum dia berkacamata. Dia tetap aktif bergerak, tanpa merasa kacamata itu sebagai penghalang. Pakai kacamata pun ga perlu disuruh.
Selain pakai kacamata, saya juga mencoba cari info apalagi yang mesti dilakukan. Saya teringat anaknya @dr.pinan juga berkacamata, lalu saya coba japri deh nanya-nanya kira-kira ada terapi lain yang bisa dilakukan atau tidak.
Info dari @dr.pinan, kacamata adalah terapi utama. Kalau udah pakai kacamata, hal lain yang bisa dilakukan adalah:
Sejak balik ke Indonesia, saya belum pernah bawa Akas kontrol ke dokter mata lagi sih, heuheu. Jadi pengingat deh tulisan ini, wkwk.
—
Begitulah pengalaman saya periksa mata anak di klinik mata di Auckland. Di Indonesia seperti apa ya pemeriksaan mata pada anak balita? Apakah seperti itu juga?
Salam,
Di tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan seputar ikhtiar saya untuk meningkatkan produksi ASI. Kali ini… Read More
Dulu waktu awal-awal datang di Auckland, saya rasanya hampir tidak pernah melihat orang bersepeda. Terasa… Read More
Saya pernah tinggal di Tokyo, Jepang tahun 2010-2013. Saya juga pernah tinggal di Auckland, New… Read More
Mumpung masih bulan Syawal, Selamat Idul Fitri 1445 H ya semuanyaaa. Minal aidin wal faidzin.… Read More
Alhamdulillah tahun ini dikasih kesempatan untuk ketemu Ramadhan lagi. Dan makin lama kok ya Ramadhan… Read More
Kembali ke seri jelajah Auckland. Dulu saya sudah pernah menulis wilayah Auckland mana saja yang… Read More
Leave a Reply