traveling

NZ Road Trip: Berkunjung ke Cathedral Cove, Gerbang Menuju Narnia

Rabu, 17 April 2019

Ada yang pernah nonton film The Chronicles of Narnia: Prince Caspian? Jadi di film itu ada scene saat empat bersaudara itu kembali ke Narnia, mereka tiba di sebuah pantai yang ada batu karang besarnya.  Eh ternyata scene tersebut syutingnya di NZ, tepatnya di Cathedral Cove. Selama ini saya tahunya NZ itu tempat syuting The Lord of the Rings dan The Hobbit aja, haha.

Saat menyusun rencana untuk road trip pertama ini, saya ga tahu sama sekali kalau Cathedral Cove itu tempat syuting Narnia. Cuma tahu dari suami bahwa ada temannya yang bilang Coromandel bagus.Di Coromandel Peninsula tadinya kami mau mampir ke tiga tempat, yakni Cathedral Cove, Hot Water Beach, dan Shakespeare Cliff. Apa daya waktu terbatas jadi kami memutuskan ke Cathedral Cove saja.

Baca juga: Itinerary dan Biaya Road Trip di North Island NZ, Autumn 2019

Perjalanan dari Auckland ke Coromandel

Berhubung saya orangnya kronologis, jadi saya tulis ini dulu ya, hihi.

Pagi-pagi kami masih riweuh menyiapkan segala keperluan untuk road trip. Suami pergi duluan ke kantor Jucy untuk mengambil mobil yang kami sewa. Saya dan Akas menunggu di rumah, nanti akan dijemput oleh suami. Jadwal pengambilannya jam 10.00. Kami cicil nurunin barang ke lobi apartemen, banyak banget soalnya tentengannya, haha. Saya kira urusannya bakal cepat, eh ternyata suami baru datang lagi saat hampir jam 12.

Sudah terlambat dari rencana, kami pun segera berangkat meninggalkan kota Auckland. Perlahan pemandangan di kiri kanan jalan berubah, jauh berbeda dengan apa yang dilihat sehari-hari di kota Auckland.

Baca juga: Auckland Itu Seperti Apa? Kenalan Yuk!

Kesan pertama saat keluar dari Auckland adalah: SEPI YAAA, haha. Auckland adalah kota yang paling ramai di seantero NZ, namun kotanya masih berasa sepi. Ya apalagi di luar Auckland yaa. Melihat tanah kosong yang luaaaas banget, isinya mayoritas padang rumput, bukit, serta sapi dan domba. Lebih berasa NZ-nya, hehe.

Begitu masuk ke wilayah Coromandel, pemandangannya berubah. Mayoritas hutan, jadi kiri-kanan jalan berganti dengan berbagai pepohonan. 

Parkir Mobil di Sekitar Cathedral Cove

Akhirnya sampai juga setelah sekitar 2.5 jam perjalanan. Eh baru sampai tempat parkirnya maksudnya, belum ke Cathedral Cove-nya. 😆

Karena baru pertama kali pakai mobil di NZ, kami sempat bingung mau parkir di mana. Dan sepengamatan kami, ada tiga pilihan tempat untuk parkir kalau mau ke Cathedral Cove:

  • Hahei Visitor Carpark. Lokasinya paling jauh dari Cathedral Cove. Kayaknya gratis sih. Tapi kami ga milih di sini karena kejauhan buat jalan.
  • Cathedral Cove Parking. Kalau ini parkir berbayar, biayanya NZ$10 all day. Ga bisa hitung per jam yaa. Kami pilih parkir ini karena emang ga ngerti medan dan belum tahu juga apakah kalau lanjut jalan bakal ketemu parkiran. Tempatnya bukan seperti lahan parkir, melainkan lahan di halaman rumah. Di pinggir jalan kelihatan kok plangnya.
  • Grange Road Carpark. Ini lokasinya di jalan paling ujung yang masih bisa diakses kendaraan, alias paling dekat ke Cathedral Cove. Hanya saja parkiran di sini tidak tersedia sepanjang tahun. Antara tanggal 1 Oktober hingga 30 April, areanya ga boleh dipakai parkir, cuma boleh lewat untuk drop-off. Di luar tanggal itu, boleh parkir di sana. Bayarnya ke mesin parkir otomatis.
Parkir mobil di Cathedral Cove, $10

Berjalan ke Cathedral Cove

Mobil sudah aman, kami pun mulai berjalan. Dari parkiran, kami mesti jalan kaki dulu hingga ujung Grange Road. Dari pinggir jalan, lautan sudah terlihat. Warnanya biru sekali, masya Allah.

Lautnya memang terlihat biru tua begitu
Sisi lain pemandangan, bagus jugaa

Sampai di ujung Grange Road, ketemulah dengan berbagai plang informasi. Rupanya dari sana tujuannya tidak hanya ke Cathedral Cove, tapi juga ada ke Hahei Beach, Gemstone Bay, dan Stingray Bay. Dan ke Cathedral Cove katanya butuh waktu 45 menit. Alamak.

Mau ke mana hayo?

Kami mulai berjalan melewati jalan kayu yang tersedia. Pemandangan dari sana cantik sekali. Jadi berasa seger dan ga bosan melihatnya.

Mari kita jalan 45 menit, wkwk

Awalnya kami mengira bakal melewati jalan tanah dan berbatu, jadi stroller Akas pun kami tinggal di mobil. Suruh aja anaknya jalan, wkwk. Di luar dugaan, track jalan kaki ke sana bagus, diaspal pula. Bisa aja sebenarnya bawa stroller, aaa. Tapi ya sudahlah. Orang lain yang bawa anak juga ga ada yang pake stroller, heuheu.

Kondisi jalan menuju Cathedral Cove

Jalan yang dilalui naik turun. Sepanjang jalan banyak pepohonan karena memang lewat hutan. Kita juga bakal melewati Wolrd War 1 Memorial Forest. 

Ini di foto terlihat biasa aja, dilihat langsung lebih bagus

Setelah perjalanan panjang di jalan kecil beraspal, akhirnya ketemu dengan tangga turun. Ini artinya sudah dekat ke Cathedral Cove, horeee.

Tangga menuju Cathedral Cove

Ada Apa di Cathedral Cove?

Tangga turunnya tidak landai. Bahkan di ujung tangganya lumayan curam. Setelah menuruni sekian tangga, akhirnya kami ketemu dengan pasir pantai. Aaah.

Pantai di Cathedral Cove

Cathedral Cove, dalam bahasa Māori namanya Te Whanganui-A-Hei. The dramatic cliffs and iconic rock archway. Gitu katanya. Banyak tebing batu putih di sana, dan di salah satunya ada yang berlubang di bawahnya sehingga membentuk seperti gerbang. Dan di ujung itu ada batu karang yang disebut Te Hoho Rock.

Ini diaaaa

Waktu sudah sore saat kami sampai. Berfoto di gerbang batu jadi backlight, alhasil fotonya banyak yang gelap, padahal saat itu masih terang. Pengunjungnya juga banyak ternyata.

Foto aslinya gelap kayak siluet, thanks Photoscape bisa diedit jadi begini
Foto dari luar gerbang batu

Selain itu, air lautnya juga lagi pasang. Masih bisa sih jalan ke pantai di dekat Te Hoho rock itu, tapi harus siap basah melewati ombak. Suami dan Akas sih ke sana, tapi saya ga ikut karena ogah basah, haha.

Main di sisi pantai dekat Te Hoho Rock

Akas dan ayahnya main-main di pantai. Akas tampak hepi ketemu pasir. Saya jadi pengamat aja, haha. Di Cathedral Cove ini bisa dibilang ga ada fasilitas apa-apa. Rupanya tempatnya memang dijaga supaya tetap sealami mungkin. Bagus memang, pantainya jadi terasa tenang dan damai. Menambah aneka fasilitas hanya akan merusak pemandangan.

Hari semakin sore. Kami pun segera beranjak. Untuk kembali ke parkiran, kami harus melewati jalan tadi lagi. Aaaa. Saya dan suami rasanya ga apa-apa, karena sambil jalan kami masih bisa menikmati pemandangan atau berhenti untuk foto-foto. Tapi Akas sudah cape. Kasihan juga, menyesal tadi ga bawa stroller aja, tapi ya gimana lagi, huhu.

Istirahat sekalian foto-foto
Ada yang kecapean, pukpuk

Kami sempat berhenti di area rumput yang cukup luas dan menikmati pemandangan sunset dari sana. Betul-betul damai rasanya di sana. 

Itu Te Hoho Rock bukan ya?
Sunset di Cathedral Cove

Kembali ke mobil, berakhirlah kunjungan ke Cathedral Cove. Selanjutnya kami segera menuju penginapan AirBnB di daerah Thornton. Lumayan jauh dari Coromandel, hihi. Total hari itu pak suami nyetir sekitar 400 km.

Berikut beberapa catatan saya dari pengalaman ke Cathedral Cove.

  • Untuk mencapai Cathedral Cove, bisa pilih jalan kaki seperti kami, atau naik boat dari tour yang tersedia di sekitaran Hahei Beach. Kami pilih jalan aja karena gratis, wkwk.
  • Jika berencana berjalan ke Cathedral Cove, siapkan tenaga karena jalannya jauuuh. Gunakan juga sepatu yang nyaman untuk jalan.
  • Kondisi track jalan kaki ke Cathedral Cove bagus sekali, wheel friendly. Jadi kalau bawa anak mending bawa stroller deh. Bawa stroller yang ringan aja tapi, karena nanti bakal naik turun tangga juga.
  • Mungkin sebaiknya datang ke sana pagi atau siang. Pas airnya lagi surut dan berfoto di gerbang batunya pun ga jadi backlight.
  • Jika Anda punya waktu lebih untuk menikmati Coromandel Peninsula, mending datangi juga spot-spot lain. Kalau ke Cathedral Cove doank rasanya nanggung amat, hehe.

Sekian cerita kali ini. Berminat ga buat ke sana? 😀

Salam,

Leave a Reply

Emailmu tidak akan dipublikasikan. Bagian yang harus diisi ditandai dengan *

View Comments

  • Waaaah.. semoga kapan-kapan bisa sampai di sini heu.. aamiin.

    Cancel reply

    Leave a Reply

    Emailmu tidak akan dipublikasikan. Bagian yang harus diisi ditandai dengan *

Share

Recent Posts

Perjalanan ASI Alin (3): Support System dan Balada Pumping

Di tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan seputar ikhtiar saya untuk meningkatkan produksi ASI. Kali ini… Read More

5 November 2024

Menjelajah Auckland dengan Bersepeda (1): The Stories

Dulu waktu awal-awal datang di Auckland, saya rasanya hampir tidak pernah melihat orang bersepeda. Terasa… Read More

25 Mei 2024

Pilih Tinggal di Jepang atau New Zealand?

Saya pernah tinggal di Tokyo, Jepang tahun 2010-2013. Saya juga pernah tinggal di Auckland, New… Read More

20 Mei 2024

Idul Fitri 1445 H (2024) di Bintaro

Mumpung masih bulan Syawal, Selamat Idul Fitri 1445 H ya semuanyaaa. Minal aidin wal faidzin.… Read More

22 April 2024

Sekilas Ramadhan 1445 H (2024) di Bintaro

Alhamdulillah tahun ini dikasih kesempatan untuk ketemu Ramadhan lagi. Dan makin lama kok ya Ramadhan… Read More

21 April 2024

Menjelajah Auckland dengan Berlari

Kembali ke seri jelajah Auckland. Dulu saya sudah pernah menulis wilayah Auckland mana saja yang… Read More

19 April 2024