Kamis, 28 Desember 2017
Sejak diresmikan oleh Pak Ridwan Kamil pada 20 Agustus 2017 lalu, nama Chinatown Bandung jadi cukup ngehits. Apalagi kalau bukan karena tempatnya instagramable dan banyak pilihan kuliner di sana. Waktu awal-awal dibuka, denger-denger di sana ramai apalagi saat akhir pekan.
Akhir tahun lalu kebetulan adik ipar saya, Talitha, berkunjung ke Bandung sekalian liburan. Tiap ada keluarga yang ke sini pastilah waktu yang ada dimanfaatkan untuk jalan-jalan. Hari itu Talitha sampai siang di stasiun Bandung. Waktu yang nanggung, enaknya ke mana ya? Lalu saya teringat kalau lokasi Chinatown Bandung itu tidak begitu jauh dari stasiun, jadi kami ke sana deh.
Chinatown Bandung berada di Jl. Kelenteng, sebuah kawasan wisata pecinan di Bandung. Di jalan ini nuansa Tionghoanya terasa sekali. Ada kelenteng juga di sana.
Untuk masuk ke Chinatown Bandung, kita harus membeli tiket. Katanya harga tiket masuknya untuk Senin-Kamis Rp10.000 dan Jumat-Minggu Rp20.000. Kami ke sana di hari Kamis, tapi mungkin karena lagi dalam masa libur Natal dan Tahun baru, harga tiketnya untuk tanggal 22 Desember 2017 – 7 Januari 2018 rata Rp20.000. Selain tiket, kami juga mendapatkan gantungan kunci saat itu.
Di dalam Chinatown Bandung bisa ngapain aja? Yuk mari kita lihat satu per satu.
Daftar Isi Tulisan Ini
Dari pintu masuk, kita akan langsung menemukan Bandung Chinatown Museum. Kecil aja kok museumnya, cuma satu ruangan kalo ga salah. Di satu sisi dindingnya ada lukisan informasi asal-usul bagaimana etnis Tionghoa bisa tiba di Indonesia dan menetap di Bandung.
Lalu di museum ini banyak dipajang barang-barang antik tempo dulu. Ngomong-ngomong tentang barang antik, dalam bayangan saya barang antik itu barang yang umurnya udah berpuluh-puluh tahun dan belum pernah saya lihat langsung sebelumnya. Tapi melihat barang-barang di museum ini, mayoritas terasa familiar. Waktu kecil saya masih banyak menggunakan beberapa barang itu di kampung halaman saya.
Seketika saya merasa ini barangnya ga antik-antik amat, ga kuno-kuno amat. Atau … sayanya yang udah ketuaan, wkwk. Dihitung-hitung sih masa kecil saya itu ya sekitar 20 tahun yang lalu sih, OMG, haha.
Tempat wisata dengan tema negara tertentu biasanya menyediakan penyewaan kostum pakaian khas dari negara tersebut. Begitu pula di Chinatown Bandung. Di sana disewakan kostum ala pangeran dan putri kerajaan Tiongkok.
Di dekat tempat penyewaan kostum ini juga dipajang sejumlah foto hasil dari photoshoot orang-orang yang menyewa kostum di sana. Melihat foto-foto ini saya jadi teringat serial Pendekar Harum zaman baheula, wkwk #merasatualagi.
Saya ga memperhatikan berapa harga sewanya karena ga minat juga sih, hehe. Males aja nanti jadi riweuh.
Saya ga expect di sana ada area bermain anak, eh ternyata ada! Bayar lagi sih, Rp35.000 kalau ga salah, bisa main sepuasnya. Oia main di sana harus pakai kaos kaki.
Playground-nya lumayan luas dan bagus. Sungguh saya senang sekali menemukan ada playground ke sana, kalau ga ada pasti Akas bakal cepat bosan. Kalau dia udah bosan, artinya saya kudu menghadapi anak yang rewel, fyuh. Jadilah mayoritas waktu kami di sana justru dihabiskan di playground dan sekitarnya, wkwk.
Di Chinatown Bandung ada banyak sekali tempat makan, dari makanan ringan hingga makanan berat. Tempat makannya pun ada yang indoor, ada yang outdoor.
Kalau mau kulineran, sebaiknya memang ke sana dalam keadaan lapar, wkwk. Kami kebetulan udah makan sebelumnya, jadi ga minat lagi untuk makan-makan. Jadinya cuma jajan es krim, hehe.
Ada tempat yang instagramable, pastilah orang-orang merasa wajib foto-foto. Tapi memang sih keliling-keliling di Chinatown Bandung ini bakal banyak dapet spot untuk foto-foto cantik.
Ada jembatan merah kecil seperti yang kita lihat di film-film kerajaan. Jembatan ini melintasi kolam kecil di sana.
Ada lagi tempat yang dindingnya diisi dengan mural yang bikin merasa lagi di Tiongkok.
Di banyak tempat juga ditaruh barang-barang antik. Trus saya jadi wondering apa bedanya barang-barang anti di dalam museum dengan di luar museum, heuheu.
Melongok ke atas, bisa dijumpai banyak hiasan seperti lampion, hanya saja warnanya ga cuma merah, tapi warna-warni. Kalau malam kayaknya suasananya bakal terasa berbeda ya.
Tidak hanya tempat makan, di Chinatown Bandung ini juga banyak toko yang menjual barang-barang bernuansa oriental. Beberapa toko pun menggunakan nama dengan tulisan Mandarin.
Itu aja sih kayaknya yang bisa dilakukan selama di Chinatown Bandung. Kami ga menghabiskan waktu lama di sana, ya karena itu, ga makan-makan, ga belanja, wkwk.
—
Berikut beberapa catatan saya dari pengalaman ke Chinatown Bandung.
Sekian cerita kali ini. Ada yang ke Chinatown Bandung baru-baru ini? Ada update apa lagi ya di sana? 😀
Salam,
Di tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan seputar ikhtiar saya untuk meningkatkan produksi ASI. Kali ini… Read More
Dulu waktu awal-awal datang di Auckland, saya rasanya hampir tidak pernah melihat orang bersepeda. Terasa… Read More
Saya pernah tinggal di Tokyo, Jepang tahun 2010-2013. Saya juga pernah tinggal di Auckland, New… Read More
Mumpung masih bulan Syawal, Selamat Idul Fitri 1445 H ya semuanyaaa. Minal aidin wal faidzin.… Read More
Alhamdulillah tahun ini dikasih kesempatan untuk ketemu Ramadhan lagi. Dan makin lama kok ya Ramadhan… Read More
Kembali ke seri jelajah Auckland. Dulu saya sudah pernah menulis wilayah Auckland mana saja yang… Read More
View Comments
Halo Mbak. Salam kenal Saya Devi dari 1m1c..
Saya ke sana tahun lalu masih soft launching. hahha
Gak banyak berubah sih ya ada beberapa aja mgkn ya.
Kagetnya pas beli makan, lumayan juga harga mall
Halo Devi, salam kenal juga. Ah iya betul, harga makanannya lumayan ya. Kayaknya di mana2 di tempat wisata gitu ya, padahal sebenarnya makanannya juga bisa ditemukan di tempat lain, wkwk.
Yg seru ke China town saat malam hari, appiikk banget
masuk bayar tiket, mau nyoba wahana bayar lagi... whehehe....
mintanya sih makanan ga mahal ya meskipun tempat wisata, biar pengunjung bisa betah gitu...
Begitulah, hihi.