Wah, udah bulan Agustus ajaaa. Awal 2019 ini saya nambahin kategori blogging di blog ini dan berencana rutin nulis soal utak-atik blog dan printilan-printilan terkait blog. Baru nyadar tulisannya terakhir di topik blogging itu tanggal 27 Januari 2019, muahaha. Kacau. Pengen dirutinin lagi nih nulisnya, doakan dan ingatkan saya ya, hehe.
Baca juga: Halo, 2019! Halo, Kategori Baru!
Tadinya tulisan ini pengen saya kasih judul “10 hal yang perlu dilakukan sebelum mempublikasikan tulisan di blog agar rapi dan SEO friendly“, tapi maaak, panjang amat. Jadi disingkat aja judulnya, hehe.
Di situ saya tekankan 2 aspek:
Selama ini, biasanya setelah selesai bikin draft tulisan, apa yang kita lakukan? Apakah langsung klik tombol “Publish” begitu saja?
Menurut saya mempublikasikan tulisan di blog itu beda level dengan nulis status Facebook atau Twitter. Di media sosial bisa lah abis ngetik langsung posting aja (tapi tetap kudu hati-hati ya, salah-salah bisa bahaya). Di blog, apalagi kalau tujuannya memang ingin dibaca banyak orang, sebaiknya perhatikan hal-hal berikut terlebih dahulu. Jika semuanya sudah ok, baru deh klik tombol “Publish”.
Daftar Isi Tulisan Ini
Perkara judul ini tricky banget ya. Saya pun masih perlu belajar lah urusan memilih kata untuk judul ini, haha. Kriteria judul yang menarik itu gimana? Entahlah #eh. Mungkin yang membuat orang jadi tertarik untuk membaca isi tulisannya. Urusan menarik, silakan didefinisikan masing-masing. Atau bisa baca tulisan mbak Carra ini.
Tapi buat saya judul yang baik itu:
Jarang sepertinya orang bisa menulis tulisan yang bagus hanya dalam sekali tulis tanpa editing sama sekali. Sebelum publish ada baiknya kita melakukan koreksi sendiri terhadap draft tulisan yang sudah kita buat. Makan waktu memang. Kalau waktu terbatas atau memang malas, minimal lakukan hal-hal berikut ini:
URL suatu tulisan blog default-nya di-generate secara otomatis. Hanya saja hasil generate ini kadang terlalu panjang, terpotong, atau random sehingga kurang enak dibaca. Ga oke juga dari sisi SEO. Oleh karena itu, sebelum publish sebaiknya kita ubah dulu URL ini di pengaturan permalink.
Di WordPress, pengaturan permalink ada di atas blok judul. Jika tombol Edit-nya belum muncul, simpan dulu tulisannya sebagai draft (klik link Save Draft). Kalau sudah ada, pengaturannya bakal muncul juga di sisi kanan editor.
Gambar atau foto utama di blog saat ini menjadi daya tarik tersendiri. Kebanyakan template/theme blog saat ini pasti pakai featured image. Featured image ini nanti bisa muncul juga sebagai preview saat share di media sosial. Pakai gambar apa? Bebas, hehe. Kebanyakan sih bikin semacam thumbnail yang mewakili isi tulisannya atau title image, termasuk saya, haha.
WordPress punya category dan tag, Blogspot punya label. Gunanya untuk mengorganisasikan tulisan dalam blog, memudahkan pembaca mencari tulisan dengan topik yang sama di blog. Di WordPress, tulisan harus punya category. Di Blogspot, tulisan bisa publish tanpa label, tapi menurut saya sebaiknya tetap dikasih label. Pengaturan category/tag/label ini ada di sisi kanan editor WordPress ataupun Blogspot.
Baca juga: Perbandingan Lengkap Platform Blogger vs. WordPress.org vs. WordPress.com
Pemberian heading/subheading membuat tulisan lebih enak dibaca, apalagi kalau tulisannya panjang. Dengan adanya heading, pembaca lebih mudah memahami topik yang sedang kita bahas. Jelas pemisahan antar topiknya.
Heading sebaiknya dibuat dengan format heading beneran (biasanya nanti jadi h1, h2, h3, h4 di HTML), bukan sekadar teks yang di-bold. Di template/theme blog biasanya ukuran font heading itu lebih besar, jadi lebih kentara dibanding teks yang ditebalkan. Penggunaan heading itu juga bagus untuk SEO.
Ada yang bilang, satu gambar bisa mewakili seribu kata. Ini mungkin subjektif, tapi saya merasa tulisan yang ada gambar atau foto pendukung itu lebih menarik, huehe. Kalau tulisan fiksi sih ga apa-apa ya kalau ga ada gambar, karena di sana imajinasi kita bermain.
Hal-hal yang biasa saya lakukan terkait gambar di blog agar rapi dan SEO friendly:
Link internal yang dimaksud adalah link ke tulisan-tulisan lama yang ada di blog dengan domain yang sama. Selain untuk tujuan SEO, adanya link ke tulisan lama bisa menarik perhatian pembaca untuk membaca tulisan lain yang ada di blog kita. Harapannya pembaca betah berlama-lama membaca blog kita. Aamiin.
Sementara link eksternal yakni link ke website atau blog lain. Di dunia SEO biasanya dikenal dengan istilah outbound link atau outgoing link. Katanya outbound link ini membantu memudahkan mesin pencari untuk mencari artikel-artikel yang saling berkaitan atau relevan. Oleh karena itu, pastikan link eksternal ini memang valid dan relevan, tidak asal-asalan, apalagi merujuk ke website spam, judi, penipuan, pornografi, dkk. Kalau ga ada ga usah dipaksain ada juga sih sepertinya, hehe.
Oh iya, untuk link eksternal ini disarankan diset supaya link-nya dibuka di tab baru di browser, biar kalau diklik, blog kita ga langsung ketutup begitu saja, hehe.
Cara lain, bisa dengan menambahkan atribut target="_blank" pada HTML link-nya. Contoh:
<a href="https://reisha.net" >Blog Reisha</a>
diubah jadi:
<a href="https://reisha.net" target="_blank">Blog Reisha</a>
Pernah memperhatikan hasil pencarian di laman Google? Biasanya satu hasil pencarian itu ditampilkan judul tulisan, URL, dan potongan tulisan tersebut. Potongan tulisan itu diambil Google dari meta description. Meta description ini juga muncul pada snippet saat kita share link di Facebook, Twitter, hingga WhatsApp. Jika meta description tidak diisi, maka nanti Google akan menentukan sendiri potongan kalimat mana yang akan ditampilkan pada hasil pencarian.
Di blog WordPress.com, meta description bisa diisikan pada field excerpt. Untuk blog WordPress self-hosted sebaiknya gunakan plugin SEO seperti Yoast SEO, nanti ada field khusus meta description-nya.
Apa yang kita lihat di text editor blog, hasilnya bakal berbeda dengan di blog karena tergantung pada template/theme yang digunakan. Oleh karena itu, sebaiknya kita cek dulu preview-nya. Tinggal klik tombol “Preview” di kanan atas text editor blog. Kalau sudah tampak ok, baru deh klik tombol “Publish”.
—
Wah, banyak ya yang mesti dicek dulu. Ribet kelihatannya, wkwk. Yaa sebenarnya balik lagi ke tujuan ngeblognya. Kalau tujuannya menulis untuk diri sendiri, tidak peduli apakah blognya dibaca orang atau tidak, maka ga perlu seribet ini sebelum publish, hehe. Tapi kalau memang ingin banyak yang baca, apalagi kalau mau dapat penghasilan dari blog, sebaiknya 10 hal di atas sangat diperhatikan, huehe. Awal-awal memang terasa ribet, tapi kalau sudah terbiasa, ga bakal lama kok nambahin ini itu, hehe.
Hayo siapa yang sudah selalu cek ke-10 hal di atas sebelum publish tulisan di blog? Saya belum semua sih, sebagian masih sering dilupakan, wkwk.
Salam,
Di tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan seputar ikhtiar saya untuk meningkatkan produksi ASI. Kali ini… Read More
Dulu waktu awal-awal datang di Auckland, saya rasanya hampir tidak pernah melihat orang bersepeda. Terasa… Read More
Saya pernah tinggal di Tokyo, Jepang tahun 2010-2013. Saya juga pernah tinggal di Auckland, New… Read More
Mumpung masih bulan Syawal, Selamat Idul Fitri 1445 H ya semuanyaaa. Minal aidin wal faidzin.… Read More
Alhamdulillah tahun ini dikasih kesempatan untuk ketemu Ramadhan lagi. Dan makin lama kok ya Ramadhan… Read More
Kembali ke seri jelajah Auckland. Dulu saya sudah pernah menulis wilayah Auckland mana saja yang… Read More
View Comments
Banyak juga ya Mak, yg harus dikerjakan sebelum publish... Hehehe... Selama ini masih banyak yg terlewat nih.
Makasih sharingnya ya, mudah2an kedepannya blog saya bisa lebih baik lagi...
Hehe iya mak, kalau mau serius jadi terasa ribet ya, hihihi. Saya dulu juga banyak yang dilewatin, baru akhir-akhir ini diperhatiin.
Salam kenal Mbak. Kadang-kadang meski sudah saya lakukan edit, pas saya baca lagi, eh kok ada saja yang kalimatnya agak wagu gitu. Terus dibenerin. Alhasil jadi nggak selesai-selesai, he.
Salam kenal juga mbak. Hehe, iya edit-edit jadi makin lama ya. Kalau saya biasanya ditargetin itu tulisan mesti publish kapan, karena kalau ga ada targetnya ga selesai-selesai jadinya, hehe.
kalau saya, setelah self editing, suka minta suami baca draft sebelum publish. Kadang-kadang selain menemukan typo atau penggunaan kata yang kurang tepat, buat memeriksa juga apakah ada hal yang tidak pantas dituliskan dan bisa menyinggung orang lain misalnya. akhirnya emang butuh waktu lama ya ngeblog itu, apalagi kalau mau tulisan serius hehehe
wah iya bener juga buu, enak kalau ada yang bantu review. dulu pas nulis soal pengalaman beasiswa suami, pernah minta suami review dulu juga. tapi ga bisa terus-terusan minta cek karena suami sibuk juga, wkwk.
makasih sharingnya
sama-sama mba :)
Sangat mencerahkan. Beberapa di antaranya tidak pernah saya lakukan selama ini. Terima kasih, Mbak. Ditunggu tips-tips blogging berikutnya.
Sama-sama mas. Siap, insya Allah dirutinkan tips blogging-nya, hehe.
makasih sharringnya.berguna banget buat pemula seperti saya. selama ini banyak yang nggak dikerjakan rupanya
hehe, sama-sama mbak :)
beberapa aku memang ga lakuin, tp mencek tulisan kembali sblm posting, itu wajib. Bahkan kadang tulisan aku biarin 2 hr, trus aku baca ulang, dengan memposisikan sebagai pembaca, untuk melihat udah enak dibaca ato belum :). baru mau diposting.
cm yg menyisipkan judul dengan keywords yg suka lupa. bikin judul yg menarik aja udah susah :D. Masih harus banyak belajar jg di situ mba
wah bener juga mbak, ngasih jeda waktu itu berguna juga ya untuk self-editing, biasanya ada aja yang lain yang ketemu salahnya dibanding saat baca ulang langsung setelah bikin draft, hehe.
Wah ... makasih mbaaaa..... sangat membantu buat aku yg masih pemula dalam dunia blogger ini.
sama-sama mba, alhamdulillah bermanfaat :)
Waaah makasih banyak infonya, mbaa. Lumayan buat saya yang masih newbie
Makasih sharing-sharing nya, mba. Jadi nambah pengetahuan sekitar blogging. Beberapa sdh ada yang saya lakuin, tapi beberapa ada juga yang belum
sama-sama mba. yuk rutin dipraktikkan, hehe.