Walau sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu, dua kejadian ini rasanya tidak akan bisa saya lupakan.
Kejadian pertama, waktu itu pagi hari di bulan Ramadhan, saya sedang berjalan di sekitar Simpang Dago, Bandung. Ada seorang pengemis, ibu-ibu pakai kerudung, dan dia mengemis sambil merokok. Sungguh kombinasi yang bikin gagal paham. Pakai kerudung, berarti dia muslim, tapi merokok di tengah hari. Oke lah, mungkin dia memang sedang tidak berpuasa. Tapi, dia mengemis, artinya dia miskin, tapi masih ada uang ya untuk beli rokok.
Kejadian kedua, di dekat kantor walikota Bukittinggi. Saat itu saya sedang mudik dan pengen jalan-jalan ke sana. Kantor walikotanya masih baru, dan lokasinya yang di atas bukit punya daya tarik tersendiri. Ditambah lagi dari sana kita bisa melihat pemandangan Gunung Marapi bersambungan dengan Gunung Singgalang. Kekaguman saya akan tempat itu terganggu karena ada beberapa anak SD yang sedang merokok di situ. Jelas sekali anak SD karena mereka masih pakai seragam SD-nya. Saya bingung karena saat itu sudah agak sore, kok mereka belum pulang, malah jauh-jauh ke situ, untuk merokok pula.
Dari program radio Ruang Publik KBR Minggu lalu saya baru tahu kalau mereka yang saya sebutkan di atas, yakni kelompok miskin dan anak-anak, tergolong kelompok rentan dari bahaya rokok. KBR kali ini menghadirkan narasumber Dr. Abdillah Ahsan (Wakil kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEB UI) dan Dr. Arum Atmawikarta, MPH (Manager Pilar Pembangunan Sosial Sekretariat SDGs Bappenas). Tema yang diangkat adalah “Jauhkan Kelompok Rentan dari Rokok”, tapi bahasannya ternyata lebih banyak dan luas lagi.
Daftar Isi Tulisan Ini
Rentan berarti peka, mudah merasa, mudah terkena penyakit. Jadi kelompok rentan yang dimaksud di sini adalah kelompok orang yang mudah terkena penyakit atau dampak buruk lainnya dari rokok. Dari aspek kesehatan, maka yang termasuk kelompok rentan ini adalah bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan penderita penyakit tertentu.
Namun lebih luas lagi, yang juga tergolong ke dalam kelompok rentan itu adalah:
Mirisnya, kelompok rentan ini justru jadi kelompok yang konsumsi rokoknya terus meningkat dari tahun ke tahun.
Pengeluaran penduduk miskin untuk rokok ternyata besar sekali. Belanja rokok jadi pengeluaran terbanyak kedua setelah beras. Pengeluaran untuk beras sebesar 22%, untuk rokok sekitar 12-17%. Sementara untuk pendidikan dan kesehatan jauh lebih kecil lagi, cuma sekitar 3% untuk masing-masingnya. Penduduk miskin ini rata-rata mengkonsumsi 11 batang rokok per hari. Mereka lebih banyak mengeluarkan uang untuk membeli rokok ketimbang menyediakan makanan bergizi dan pendidikan yang baik untuk anak-anaknya. Dan tren ini konsisten sejak tahun 2004 hingga sekarang.
Di sisi lain, prevalensi perokok anak terus meningkat. Di tahun 2013, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa mayoritas para perokok pertama kali merokok pada kelompok usia 15-19 tahun. Namun saat ini kecenderungannya bergeser ke usia yang lebih muda, yaitu kelompok usia 10-14 tahun dan jumlahnya pun meningkat.
Kenapa bisa begitu? Penyebabnya sudah jelas sekali.
Kenapa sih kita harus melindungi kelompok rentan ini dari rokok? Memang bahayanya apa? Yuk mari kita lihat satu per satu.
Dampak Terhadap Bayi, Balita, serta Ibu Hamil dan Menyusui
Rokok jelas berbahaya terhadap kesehatan. Dalam rokok terdapat nikotin yang membuat jadi candu. Selain itu juga terdapat TAR. TAR ini bahan untuk membuat aspal, jadi bayangkan saja, kalau merokok berarti paru-parunya ditetesi aspal, pantas saja paru-paru jadi hitam dan rusak. Belum lagi ribuan zat berbahaya lainnya yang tidak ada bagus-bagusnya untuk kesehatan.
Walau bukan perokok aktif, menjadi perokok pasif karena terpapar rokok baik di tempat umum ataupun di rumah sendiri, juga berdampak buruk terhadap kesehatan kelompok rentan. Pada keluarga merokok, tingkat kematian bayi lebih besar. Anak-anaknya juga lebih rentan mengalami stunting. Berbagai penelitian juga membuktikan bahwa ibu perokok aktif yang hamil dan/atau ibu yang terpapar asap rokok selama kehamilan, berisiko mengalami keguguran spontan, komplikasi pada saat melahirkan, bayi dengan berat badan lahir rendah, bayi menderita cacat bawaan, perkembangan otak terganggu, dan bayi lahir mati.
Dampak Terhadap Kelompok Miskin
Pengeluaran untuk rokok pada keluarga miskin akan mengurangi pengeluaran untuk sektor lain, seperti makanan bergizi, kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan penting lainnya bagi tumbuh-kembang anak. Masa depan anak mereka dikorbankan, padahal anak-anak ini adalah generasi penerus bangsa. Keluarga miskin ini juga akan terjebak terus-menerus dalam lingkaran kemiskinan.
Dampak Terhadap Anak-Anak dan Remaja
Anak-anak dan remaja memang sasaran empuk industri rokok. Mereka sangat potensial untuk menjadi konsumen rokok dalam jangka panjang. Kalau sudah terpapar kebiasaan merokok, mereka akan kecanduan, ini akan terbawa terus hingga dewasa dan tua nanti, makin lama makin sulitlah kebiasaan merokok itu dihentikan.
Alhasil beberapa tahun lagi kita akan mendapatkan mereka mengidap berbagai penyakit. Masyarakat kita mayoritas jadi warga yang tidak sehat. Kematian dini (di bawah 60 tahun) terus meningkat, dan mayoritas disebabkan oleh penyakit yang timbul akibat konsumsi tembakau.
Pemerintah adalah pengemban amanah konstitusi dan konstitusi mengamanahkan agar konsumsi rokok dikendalikan alias dikurangi. Landasannya sudah jelas, di antaranya:
Sejauh ini, pemerintah masih tampak tidak pede untuk mengendalikan rokok. Ada beberapa hal yang terasa tidak pas dan tidak sesuai dengan harapan kita agar konsumsi rokok diturunkan, seperti:
Bagaimana dengan Pertumbuhan Ekonomi?
Kalau begitu, apakah pengendalian rokok nanti justru akan menghambat pertumbuhan ekonomi? Kita perlu mengingatkan pemerintah lagi bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh diserahkan pada industri yang menyakiti paru-paru. Yakinlah bahwa mengendalikan konsumsi rokok akan membuat masyarakat jadi sehat, dan ini berguna bagi perekonomian. Perekonomian harus tumbuh berkualitas dan dilandasi oleh masyarakat yang sehat.
Pekerja yang merokok itu produktivitasnya lebih rendah dibanding yang tidak merokok. Kenapa? Saat sehat mereka butuh waktu untuk merokok. Waktu yang seharusnya bisa dugunakan untuk bekerja malah terbuang jadi asap rokok. Lalu kalau mereka sudah sakit, mereka tidak bisa bekerja lagi.
Ekonomi Indonesia akan bagus output-nya saat masyarakat sehat. Masyarakat yang sehat itu panjang umur dan produktif, ini akan menambah GDP. Pemerintah harus kreatif mencari sumber pertumbuhan ekonomi yang sehat, bukan bergantung pada cukai rokok.
Bagaimana dengan Buruh Industri Rokok dan Petani Tembakau?
Kalau konsumsi rokok turun, maka produksi rokok juga akan turun. Ada yang beranggapan bahwa ini juga akan membuat tenaga kerja di sektor rokok menurun. Ini tidak sepenuhnya benar. Ingat bahwa rokok itu ada yang dibuat dengan mesin, juga ada yang dibuat dengan tangan. Yang menyerap tenaga kerja jelas rokok buatan tangan. Faktanya, industri rokok justru merumahkan ribuan buruhnya demi mengejar efisiensi, beralih dari tenaga manusia ke mesin produksi yang lebih canggih. Kehidupan buruh itu tidak akan membaik, sebaliknya pemilik industri rokoknya makin kaya raya.
Sementara itu, petani tembakau juga seringkali mendapati ketidak-adilan. Petani tembakau biasanya tidak punya akses langsung ke pabrik rokok, jadi mereka harus menjual tembakaunya kepada tengkulak dan cukong. Petani sering dicurangi dan mereka tidak dapat untung, malah dirugikan.
Kalaupun memang nasib mereka tergadai karena penurunan konsumsi rokok, mestinya masih bisa dicarikan solusinya bersama-sama oleh berbagai kementerian terkait, seperti Kementerian Pertanian, Perdagangan, Tenaga Kerja, dsb.
Untuk mengendalikan rokok, dalam pelaksanaannya di lapangan, ada 3 hal yang bisa dilakukan:
Hal-hal di atas juga bisa dibantu dengan mekanisme harga, yakni naikkan cukai rokok setinggi-tingginya sehingga harga rokok jadi mahal, dan tidak boleh dijual ketengan. Dengan rokok mahal, anak-anak tidak akan bisa lagi membeli rokok dengan uang saku mereka. Dengan rokok mahal, keluarga miskin akan berpikir ulang untuk membelanjakan pendapatan mereka yang tidak seberapa, apa iya lebih memilih rokok ketimbang beras.
Di negara lain sudah terbukti bahwa dengan meningkatkan harga rokok sebesar 10% saja, jumlah perokok dari kelompok miskin berkurang sebesar 16%, dan dari kelompok kaya turun 6-7%. Bayangkan kalau naiknya jauh lebih besar lagi. Dengan menurunnya konsumsi rokok, akan lebih banyak lagi manfaat yang kita dapat. Masyarakat akan lebih sehat, uang tidak akan diboroskan.
Sudah lama gencar kampanye #rokokharusmahal #rokok50ribu. Kita perlu dorong terus nih pemerintah agar segera merealisasikannya. Setuju kan kalau harga rokok harus mahal? Hehe. Ikut tandatangani petisinya yuk di change.org/rokokharusmahal. Sudah lebih dari 19.000 orang lho yang tanda tangan.
—
Perokok itu kadang lucu dan tidak logis ya. Merokok kan artinya membeli barang yang merusak tubuh, asapnya pun juga mengganggu sekitar. Kok ya mau membeli penyakit. Lalu ada juga yang berdalih bahwa perokok itu turut menyumbang pendapatan negara. Padahal kalau tujuannya itu, tinggal rajin bayar pajak aja kok, tubuh sehat, kita pun bisa menyumbang dengan cara yang sehat. Ada juga yang merasa menjadi pahlawan bagi para buruh rokok dan petani tembakau. Lha memangnya kalau si perokok ini sakit, buruh dan petani itu akan peduli?
Jadi, coba dipikir-pikir lagi, apa kebaikan yang didapat dari merokok? Merokok justru malah merusak diri sendiri, juga membahayakan kelompok rentan yang ada di sekitar kita.
Salam,
Di tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan seputar ikhtiar saya untuk meningkatkan produksi ASI. Kali ini… Read More
Dulu waktu awal-awal datang di Auckland, saya rasanya hampir tidak pernah melihat orang bersepeda. Terasa… Read More
Saya pernah tinggal di Tokyo, Jepang tahun 2010-2013. Saya juga pernah tinggal di Auckland, New… Read More
Mumpung masih bulan Syawal, Selamat Idul Fitri 1445 H ya semuanyaaa. Minal aidin wal faidzin.… Read More
Alhamdulillah tahun ini dikasih kesempatan untuk ketemu Ramadhan lagi. Dan makin lama kok ya Ramadhan… Read More
Kembali ke seri jelajah Auckland. Dulu saya sudah pernah menulis wilayah Auckland mana saja yang… Read More
View Comments
may Mahal kayak apa, rokok tetap laku mbak...
Sebenarnya setuju banget rokok harus mahal, tapi dilema sama program beasiswa yang diantaranya terbesar berasal dari penghasilan rokok, hehehe.
Merokok memang berbahaya bagi kesehatan, dampaknya bagi perokok pasif pun gak kalah bahaya sama perokok aktif. Apalagi untuk kelompok rentan, istilahnya untuk biaya sehari-hari saja sudah pas-pasan, ditambah lagi dengan biaya rokok. Sayangnya banyak perokok yang lebih rela membeli rokok dibandingkan makan siang.