Rabu, 7 Februari 2018
Buat sebagian orang mungkin nama Kab. Pesisir Selatan baru kedengeran setelah tahu tempat wisata seperti Kawasan Mandeh, Bukit Langkisau, Pantai Carocok, dsb. Tapi buat saya, Pesisir Selatan itu juga kampung halaman. Papa saya berasal dari sana dan nenek saya dari pihak papa masih tinggal di sana.
Sejak merantau, saya makin jarang berkunjung ke kampung papa. Kalau mudik, tujuan utama pasti ke rumah keluarga saya di Baso (sekitar 20 menit dari Bukittinggi). Waktu mudik terbatas, sementara perjalanan dari Baso ke kampung papa saya bisa memakan waktu 6 jam. Jauh ya, hehe.
Saya udah lupa kapan terakhir pulang kampung hingga akhirnya Februari lalu tercetus ide untuk mampir ke sana walau sebentar. Kebetulan saat itu kami mudik agak lama karena adik saya menikah.
Baca juga: Menghadiri Pernikahan Hani & Aznil
Awalnya suami dan saya berencana jalan-jalan ke tempat wisata di Pesisir Selatan. Mendengar hal ini, mama saya usul supaya sekalian mampir saja ke kampung, toh suami dan Akas belum pernah berkunjung ke rumah nenek saya. Kami setuju, hanya saja tidak mungkin untuk menginap karena kami mengajak adik ipar yang cuma bisa libur sehari. Jadi yaa sebisanya aja.
Ingin sekali rasanya menjelajah Pesisir Selatan karena ternyata di sana banyak pilihan tempat yang bagus, tapi karena waktu yang terbatas ya kami harus memilih. Rencana awalnya adalah ke Puncak Mandeh, lanjut ke kampung papa, lalu mampir ke Pantai Carocok dalam perjalanan kembali ke Padang. Tapi eksekusinya dibalik.
Daftar Isi Tulisan Ini
Kami memulai perjalanan dari Padang. Kami sempat mampir dulu untuk makan siang, papa saya berulang kali merekomendasikan gulai ikan karang. Kami makan siang saat hujan, setelah makan pun hujan masih turun. Rencananya mau ke Puncak Mandeh dulu tapi batal karena saat mendekati gerbang Kawasan Mandeh hujannya belum berhenti. Kami melanjutkan perjalanan sambil berharap hujannya reda.
Hujan akhirnya berhenti juga dan kami memutuskan untuk mampir ke Pantai Carocok dulu. Kalau ga pakai berhenti sih kata Google Maps Pantai Carocok ini bisa dicapai dalam waktu sekitar 2 jam dari Padang.
Ini rasanya kali ketiga saya ke Pantai Carocok. Kali pertama saat saya SMP, ada kegiatan jalan-jalan sekolah. Waktu itu Pantai Carocok masih sepi, jembatan dan pondoknya masih sedikit. Kali kedua tahun 2013, saat saya mudik setelah beres S2. Pantai Carocok sudah ramai dan fasilitasnya sudah lebih banyak. Saat itu kami juga menyeberang ke Pulau Cingkuak yang punya peninggalan benteng Portugis.
Kali ketiga yakni di tahun 2018 ini, area Pantai Carocok semakin luas. Semakin tertata seiring meningkatnya jumlah pengunjung ke sana. Dulu belum ada deh tulisan gede kayak gini.
Dari tempat parkir kita akan langsung menemukan toko-toko yang menjual souvenir dan oleh-oleh. Masih banyak yang jualan walau saat itu pengunjung ga gitu banyak karena bukan hari libur. Tak jauh dari sana ada ada tempat pembelian karcis. Untuk masuk ke Pantai Carocok kita mesti membayar tiket retribusi masuk Rp5.000/orang.
Di Pantai Carocok ini sebenarnya ada banana boat dkk., tapi mungkin karena bukan hari libur, kami ga melihat aktivitas permainan di pantai. Lagipula cuaca saat itu masih mendung.
Tujuan utama kami ke pantai adalah untuk mengajak Akas main dengan pasir dan air laut. Akas ini masih drama banget dengan air, dulu aja di SnowBay TMII sampai nangis kejer, heu.
Baca juga: Water Fun: Main Air di SnowBay TMII
Sebelum ke pantai kami udah sounding kepada Akas, udah siapin baju renangnya pula. Saat sounding sih dia semangat dan merespon dengan ceria, sampai di TKP, dia ga mau dan malah nangis, errr. Lamaaaa banget bujuk-bujuk Akas itu untuk main di pantai. Sampai perlu disogok dengan dijanjikan main mobil-mobilan. Akhirnya mau juga, alhamdulillah, dan sempat terlihat enjoy main air.
Beres main di pantai, tentulah janji tadi ditagih. Untungnya selama ini kalau nyogok selalu dengan hal yang realistis untuk dipenuhi. Di lapangan yang luas itu ada mainan mobil dan motor buat anak-anak (apa sih ini nama mainannyaa?), jadi kami menuju ke sana lagi demi memenuhi janji.
Anaknya udah hepi, rasanya sudah cukup di pantai, kami pun segera beranjak. Singgah sebentar membeli baju untuk Akas, perjalanan dilanjutkan ke rumah nenek saya.
Kampung papa saya bernama Batang Kapeh, kalau di-Indonesia-kan menjadi Batang Kapas, heuheu. Di Google Maps pake nama Batang Kapas, tapi izinkan saya menyebutnya dengan bahasa aslinya di sini #penting. 😆
Perjalanan dari Pantai Carocok ke Batang Kapeh memakan waktu sekitar 40 menit. Sepanjang perjalanan saya jadi mengenang masa-masa saya pulang kampung waktu masih kecil dulu.
Saat saya kecil, Batang Kapeh ini bisa dibilang masih tergolong daerah pelosok. Listrik bahkan belum ada waktu itu, jadi di malam hari kami mengandalkan penerangan dari obor kecil yang dibuat dari botol dan sumbu kompor. Dulu kami tidak punya mobil, kalau pulang kampung selalu naik bus. Dari Baso perlu naik bus 2x, yakni dari Baso ke Padang, lanjut dari Padang ke Batang Kapas. Belum cukup segitu, dari tempat kami turun bus, kami mesti naik kendaraan umum lagi hingga dekat sungai.
Waktu itu belum ada jembatan, jadi kami mesti jalan lagi menyeberangi sungai. Sungainya tidak dalam, tapi buat anak kecil ya lumayan juga lah, sampai paha. Kalau air sungai lagi banyak berarti lebih tinggi lagi. Sampai di seberang sungai masih harus jalan lagi, barulah sampai di tujuan. Dulu itu total perjalanan bisa seharian, makanya rasanya kampung papa itu jauuuuh sekali.
Oia dulu kami masih sering mandi di sungai kalau di sana. Air sungainya lebih bening sih dibanding air sumur yang kuning (karena sumurnya kurang dalam). Sesuatu banget untuk dikenang, hehe.
Seiring berjalannya waktu, fasilitas di sana semakin baik. Listrik masuk, sehingga penduduk sudah bisa pakai lampu. Jembatan pun sudah ada sehingga akses jadi lebih mudah.
Saya ga pernah hafal jalan ke kampung papa, tapi saya masih familiar dengan beberapa hal, jadi saya tahu kalau saat itu kami sudah hampir sampai. Sudahi nostalgianya, mari silaturahmi.
Kami disambut beberapa keluaga dan sodara papa. Bagian dalam rumah masih sama dengan yang terakhir saya ingat, tidak banyak yang berubah. Terkenang lagi kan jadinya, hehe. Kami disuguhi makan. Makan di rumah nenek ini selalu terasa enak karena bahan yang digunakan selalu fresh.
Sekitar jam 16.30, kami pamit. Sebentar sekali memang di sananya, huhu. Kami masih ingin mampir ke Puncak Mandeh dan tidak ingin terlalu malam sampai di Padang.
Kami sampai di Puncak Mandeh setelah perjalanan sekitar 1.5 jam. Puncak Mandeh sendiri ternyata hanya salah satu spot yang berada di Kawasan Mandeh. Saya baru kenal Kawasan Mandeh setelah Pak Jokowi berkunjung ke sana. Kawasan ini ternyata luas juga tapi belum semuanya dikembangkan untuk wisata.
Di Puncak Mandeh saat itu lumayan ramai. Ada pedagang kecil yang jualan kopi dan makanan ringan di sana, kursi-kursi yang tersedia terisi penuh.
Dari Puncak Mandeh kita bisa melihat gugusan pulau-pulau di tengah lautan. Ada yang bilang ini “Raja Ampat”-nya Sumatra Barat. Menurut saya masih jauh sih dibanding Raja Ampat tapi masih tetap indah, hehe.
Kami mencari tempat untuk duduk sambil melepas penat sembari menikmati pemandangan. Suami udah lumayan cape nyetir, heuheu. Saya sempat melihat ada rombongan yang foto-foto dengan drone. Aaah, pasti lebih keren melihat pemandangan ini dari ketinggian.
Matahari mulai terbenam, sudah cukup rasanya di sana.
Saatnya ke mobil lagi dan kembali ke Padang. Sampai di Padang rasanya lelah sekali. Perjalanan hari itu memang panjang.
—
Berikut beberapa catatan saya dari pengalaman ke Pesisir Selatan.
Begitulah cerita jalan-jalan sekaligus pulang kampung kali ini. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, hehe. Ada yang jadi nostalgia dengan kampung halamannya juga ga? 😀
Salam,
Di tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan seputar ikhtiar saya untuk meningkatkan produksi ASI. Kali ini… Read More
Dulu waktu awal-awal datang di Auckland, saya rasanya hampir tidak pernah melihat orang bersepeda. Terasa… Read More
Saya pernah tinggal di Tokyo, Jepang tahun 2010-2013. Saya juga pernah tinggal di Auckland, New… Read More
Mumpung masih bulan Syawal, Selamat Idul Fitri 1445 H ya semuanyaaa. Minal aidin wal faidzin.… Read More
Alhamdulillah tahun ini dikasih kesempatan untuk ketemu Ramadhan lagi. Dan makin lama kok ya Ramadhan… Read More
Kembali ke seri jelajah Auckland. Dulu saya sudah pernah menulis wilayah Auckland mana saja yang… Read More
View Comments
Reisha, bagus ya kawasan Carocok ini. Saya suka pemandangan dari Puncak Mandeh-nya. Apakah ada hotel di sini?
Hotel ada mbak, tapi sepertinya lebih banyak penginapan dan homestay. Kalau mau di daerah yang agak ramai bisa cari di Painan, itu ibukota kabupatennya. :)