Rabu, 23 Februari 2022
Di trimester ketiga, rasanya kontrol ke dokter itu bakal jadi lebih sering, jadi per 2 minggu, tapi saya lupa sejak usia kehamilan berapa. Saya juga lupa nanya ke dr. R my jadwal kontrol berikutnya kapan. Berhubung ga ada keluhan, saya pikir kontrol selanjutnya mending satu bulan kemudian aja.
Daftar Isi Tulisan Ini
Awal Februari saya mau booking jadwal via aplikasi BWCC Mobile seperti yang biasa saya lakukan, eh tapi aplikasinya bermasalah. Kosong aja gitu begitu aplikasinya dibuka. Saya curiga karena habis pindah ke gedung baru, aplikasinya juga butuh penyesuaian dulu.
Pas lihat-lihat rincian tagihan dari BWCC, saya baru nyadar di sudut kanan bawah kertasnya ada catatan jadwal kontrol berikutnya kapan. Jadi setelah 19 Januari 2022, di catatan ditulis kontrol berikutnya tanggal 2 Februari 2022. Aih bener kan disaranin per 2 minggu.
Karena saat itu tanggalnya udah lewat, saya pun coba booking via WA untuk tanggal 9 Februari. Namun katanya dr. R udah full booked untuk tanggal segitu. Baru ada yang kosong minggu berikutnya, tanggal 16. Ya udahlah.
Untung juga kami dapat jadwal tanggal 16 karena ternyata setelah booking jadwal itu, suami ketahuan positif Covid-19 sehingga kami harus isoman. Kalau aja dapat jadwal tanggal 9, berarti kami mesti re-schedule karena masih isoman, entah kapan lagi dapet jadwalnya. Tanggal 16 itu pas banget isomannya udah selesai.
Eh tiba-tiba tanggal 15 malam saya dikabari bahwa dr. R cuti dan baru praktik lagi tanggal 21. Weleh. Saya tanya apakah bisa diganti jadi tanggal 23, katanya bisa. Kami memang biasanya kontrol tiap Rabu sore, menyesuaikan dengan jadwal suami, makanya ga minta jadwal tanggal 21. Belakangan baru saya ketahui bahwa ternyata dr. R cuti karena mesti isoman juga.
Alhamdulillah saya ga ada keluhan, jadi walau jadwal kontrolnya mundur jauh, ga masalah buat saya.
Rutinitas ketika kontrol sebenarnya ya gitu-gitu aja, masuk ruangan, basa-basi dikit, lalu USG. Lihat layar USG di trimester ketiga pun udah ga menarik karena udah ga gitu jelas gambarnya, hehe.
dr. R bilang untuk jenis kelamin bayi, hingga saat itu tampaknya masih perempuan. Konsisten terus sih ini tiap USG, jadi semoga aja yaa.
Dari USG juga dibilang bahwa bayi saya rada gendut karena saat itu perkiraan beratnya sudah mencapai hampir 2.5 kg. Huwooo. Alhamdulillah hampir mencapai berat badan minimal untuk bayi lahir ya, tapi jangan sampai juga bayinya terlalu gede, heuheu.
dr. R juga bilang bahwa posisi tali pusarnya saat itu ngalung. Bukan melilit katanya karena lilitan itu kalau melingkar di leher dua kali atau lebih, sementara ini sekali aja kayak pake kalung. Ga masalah katanya. Tapi saya takjub, dari sebelah mananya USG sih bisa kelihatan kayak gitu, haha.
dr. R juga memfotokan lagi wajah si bayi, tapi kali ini cuma dapat setengahnya. Setegahnya lagi tertutup oleh plasenta, katanya wajar karena bayi udah makin gede di perut.
Di kontrol kali ini saya lebih banyak bertanya seputar SOP melahirkan di BWCC Bintaro biar bisa siap-siap dengan berbagai kemungkinan. Berikut rangkumannya berdasarkan penjelasan dr. R.
Kalau mulesnya udah kerasa sering, bisa datang aja trus langsung ke lantai 3. Atau bisa juga kontak nomor VK (Ruang Bersalin) BWCC Bintaro.
Iya, harus PCR, maksimal 2 hari sebelumnya.
Tidak bisa. BWCC Bintaro hanya bisa menangani persalinan normal. Jika harus SC, maka akan dirujuk ke RS lain sesuai pilihan pasien. Jika mau dengan dr. R, bisa ke RS Bina Medika atau RS Hermina Ciputat. Akan diantar dengan ambulans.
Untuk pasien Covid-19, kita lihat dulu kondisinya gimana, soalnya Covid-19 bukanlah indikasi medis untuk harus SC. Pasien Covid-19 tetap mungkin untuk melahirkan secara normal.
Jika kondisinya memungkinkan untuk normal, BWCC Bintaro tetap bisa handle. Karena sistem di mana pasien bakal berada di ruang yang sama dari masuk hingga selesai lahiran, di BWCC Bintaro lebih mudah untuk mengisolasi pasien. Jadi nakes aja yang bakal pakai APD. Untuk pasien dan yang menemani ga boleh keluar masuk lagi.
Paling yang akan sangat berbeda itu prosedur setelah lahirannya. Setelah lahiran, pasien tidak bisa IMD. Ibu dan bayi akan dibersihkan, lalu bayi akan dibawa ke ruang bayi, tidak boleh rawat gabung. Di saat bayi harus menyusu, ibu tetap bisa menyusui dengan cara harus cuci tangan terlebih dahulu serta memakai masker.
dr. R juga cerita bahwa pernah ada pasiennya yang positif Covid-19, awalnya mau melahirkan di RS lain. Lalu karena di sana dia sulit untuk dapat kamar, akhirnya disaraninlah ke BWCC Bintaro, dan melahirkan di sana dengan selamat.
Catatan Kontrol
Hasil USG
Biaya Pemeriksaan Kehamilan
# Ditulis di Bintaro, 27 Mei 2022 #
Salam,
Di tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan seputar ikhtiar saya untuk meningkatkan produksi ASI. Kali ini… Read More
Dulu waktu awal-awal datang di Auckland, saya rasanya hampir tidak pernah melihat orang bersepeda. Terasa… Read More
Saya pernah tinggal di Tokyo, Jepang tahun 2010-2013. Saya juga pernah tinggal di Auckland, New… Read More
Mumpung masih bulan Syawal, Selamat Idul Fitri 1445 H ya semuanyaaa. Minal aidin wal faidzin.… Read More
Alhamdulillah tahun ini dikasih kesempatan untuk ketemu Ramadhan lagi. Dan makin lama kok ya Ramadhan… Read More
Kembali ke seri jelajah Auckland. Dulu saya sudah pernah menulis wilayah Auckland mana saja yang… Read More
Leave a Reply