Seperti yang dibilang dr. S, 2 minggu setelah pemeriksaan sebelumnya saya mesti kembali lagi untuk kontrol, untuk melihat apakah janinnya sudah terbentuk.
Baca juga: Diari Kehamilan Pertama: Ternyata Hamil
Daftar Isi Tulisan Ini
Kali ini saya memilih untuk ke dr. S lagi di RS Pertamina. Saya pengen nanya lagi ke dr. S soal antibiotik itu karena dulu beliau yang meresepkan obat tersebut ke saya. Karena rekam medis terkait antibiotik itu ada di RS Pertamina, mending ke sana sekalian. Suami pun setuju.
Sebelum ke sana, saya cek dulu jadwal dokternya, daripada salah jadwal lagi seperti saat ke Siloam Hospital. Jadwal dr. S masih jam 12.00-15.00. Kami sampai di RS jam 12 lewat, dan pas daftar ternyata antrean untuk ke dr. S sudah penuh. Huhu. Karena sudah jauh-jauh ke sana, akhirnya saya pasrah ke dokter lain saja. Kali ini dapat dr. A.
Ke dr. A, saya bilang saya mau cek kandungan lagi untuk melihat apakah sudah ada janinnya. Saya pun langsung di-USG. Dari USG, sekarang sudah terlihat ada janinnya, masih kecil banget, tapi sudah terlihat seperti ada kepala dan badannya. Kondisinya alhamdulillah bagus. Sehat-sehat terus ya nak :-*.
Setelah USG, kami pun kembali bertanya soal antibiotik. Saat ditanya antibiotiknya apa, saya langsung memperlihatkan foto obatnya ke dr. A. Ekspresi wajah dr. A agak berubah. Susah saya gambarkan, tapi saya rada ga enak aja melihatnya. Kata dr. A, “Obat tersebut memang tidak disarankan untuk diberikan pada ibu hamil, tapi nanti dilihat saja perkembangannya gimana”. Karena ekspresi dr. A saya jadi kepikiran dan khawatir lagi gara-gara antibiotik itu, huhu. Tapi daripada saya terus-terusan cemas, saya pun bertekad saya tidak akan nanya-nanya lagi ke dokter soal antibiotik itu. Cukup sampai di situ.
Baca juga: Medical Check Up dan Pap Smear Pertama (2)
Kesan saya terhadap dr. A, gara-gara penjelasan soal antibiotik itu saya jadi ga sreg aja rasanya. Trus saya cuma dikasih suplemen yang isinya asam folat saja, padahal dari dr. S dulu saya dikasih suplemen yang mengandung asam folat, DHA, dan vitamin B12. Hmm.
Catatan kontrol dan USG:
Biaya pemeriksaan kehamilan:
Walaupun saya udah bertekad ga bakalan mikirin antibiotik itu lagi, nyatanya selesai kontrol dengan dr. A saya masih kepikiran terus, hiks. Pulang dari RS pun saya lanjut browsing untuk mencari info lebih banyak soal antibiotik tsb :(.
Obat yang saya minum dulu itu adalah Siclidon 100, kandungan di dalamnya yaitu doxycycline. Jadi saya mesti mencari info tentang efek doxycycline pada kehamilan. Benar kata dr. A, obat ini memang tidak dianjurkan untuk diminum oleh ibu hamil.
Dulu sih saya sempat browsing sekilas, intinya doxycycline dapat berpengaruh pada gigi dan tulang pada janin. Dalam buku seri Ayahbunda “9 Bulan yang Menakjubkan” saya juga menemukan doxycycline pada daftar obat yang harus diwaspadai.
Jenis obat: Antibiotik tetracycline, doxycycline, streptomycin, dan kanamycin.
Risiko pada janin: Menembus plasenta dan menyebabkan gigi kuning pada bayi, gigi tak beraturan, menekan pertumbuhan tulang, katarak, tuli dan buta.
Hiks, serem. Ga bakal tenang saya kalo infonya kayak gitu. Akhirnya saya coba cari info lebih spesifik, bagaimana efeknya kalau doxycycline diminum pada awal kehamilan, tepatnya usia kehamilan sekitar 5 minggu. Alhamdulillah nemu juga jawaban yang menenangkan.
Saya nemu di 2 situs tanya jawab, kasusnya mirip dengan saya, si penanya juga minum doxycycline dan baru ketahuan belakangan bahwa dirinya sedang hamil. Dari sumber pertama, ada yang menjawab:
Doxycycline does not seem to cause birth defects when taken at less than 17 weeks. It can affect the baby’s bones when taken after 17 weeks. So don’t worry.
Dari sumber kedua, yang menjawab adalah seorang dokter:
Doxycycline lies in Pregnancy Category D according to the U. S. Food and Drug Administration (FDA). Doxycycline can cause permanent tooth discoloration in baby. Also some cases of inadequate tooth enamel have also been reported. It usually have effect on teeth during the second half of pregnancy. As you have taken doxycycline in early phase of pregnancy, so it may not cause side effects.
Saya juga nemu artikel lain yang ada data risetnya:
In a small prospective study (81 pregnancies), 43 pregnant women were treated with doxycycline for 10 days during early first trimester. All mothers reported their exposed infants were normal at 1 year of age.
Dengan penjelasan-penjelasan di atas, rasanya saya sudah bisa lebih tenang. Stop mikirin efek buruk obat itu! Ke depannya saya harus berpikir positif dan yakin bahwa anak kami akan sehat selalu, insya Allah. Dan yang penting berdoa terus biar si obat ga berpengaruh pada janin yang ada di rahim saya dan ia tumbuh dengan sehat dan tidak kurang satu apapun, aamiin. Mohon doanya juga ya.
Salam,
Di tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan seputar ikhtiar saya untuk meningkatkan produksi ASI. Kali ini… Read More
Dulu waktu awal-awal datang di Auckland, saya rasanya hampir tidak pernah melihat orang bersepeda. Terasa… Read More
Saya pernah tinggal di Tokyo, Jepang tahun 2010-2013. Saya juga pernah tinggal di Auckland, New… Read More
Mumpung masih bulan Syawal, Selamat Idul Fitri 1445 H ya semuanyaaa. Minal aidin wal faidzin.… Read More
Alhamdulillah tahun ini dikasih kesempatan untuk ketemu Ramadhan lagi. Dan makin lama kok ya Ramadhan… Read More
Kembali ke seri jelajah Auckland. Dulu saya sudah pernah menulis wilayah Auckland mana saja yang… Read More
Leave a Reply