Ketika berencana untuk road trip ke ujung utara North Island, destinasi yang terpikirkan pertama kali adalah Cape Reinga. Sementara destinasi lainnya baru dicari belakangan, hehe. Dari browsing ketemulah dengan Te Paki Sand Dunes atau Giant Sand Dunes, dan di sana bisa main sandboarding! Wah tampak seru, jadi langsung masuk bucket list.
Untungnya juga lokasi Te Paki Sand Dunes ini masih searah dengan Cape Reinga, jadi cukup hemat waktu untuk ke sana. Ga kayak ke Tāne Mahuta yang kudu belok jauh ke sisi barat Northland, hehe.
Melihat foto-foto Te Paki Sand Dunes saat browsing juga sedikit banyak mengingatkan saya ke Tottori Sakyu, bukit pasir terbesar di Jepang. Dulu ketika tinggal di Jepang saya sempat pengen ke sana, tapi ga kesampaian, heuheu. Lokasinya mayan jauh dari Tokyo, rada susah cari temen buat ke sana, dan saya ga berani nekat ke sana sendiri karena skill bahasa Jepang saya cupu banget. Kalau nyasar atau kenapa-kenapa ntar gimana, heu.
Jadinya saya cukup semangat ke Te Paki Sand Dunes ini. Yah lumayan banget bisa ke bukit pasir yang kayak gurun, mencoba merasakan landscape alam yang berbeda. Ke gurun pasir benerannya masih dalam angan-angan soalnya, hehe.
Sabtu, 7 September 2019
Daftar Isi Tulisan Ini
Kalau cek di Google Maps, dari parkiran Cape Reinga menuju Te Paki Sand Dunes itu hanya membutuhkan waktu sekitar 25 menit. Tapi di tengah-tengah kami sempat berhenti sebentar di tempat yang ada perhentiannya karena pemandangan dari sana juga bagus.
Dari lokasi itu tampak ada gundukan pasir lumayan besar. Dulu sempat saya kira itu tuh bagian dari Te Paki Sand Dunes, tapi kayaknya bukan, hehe.
Setelahnya kami pun meneruskan perjalanan, berbelok mengikuti petunjuk Google Maps. Dari situ jalanannya sudah tidak beraspal lagi. Kami sempat bingung dan khawatir kalau salah jalan. Ya males aja gitu kalau nyasar, hehe.
Tapi kami terus ikuti aja, lalu tak lama kemudian tampaklah bukit pasir dari kejauhan. Alhamdulillah berarti kami berada di jalan yang benar, hehe. Dan akhirnya kami sampai juga di sana.
Kesan pertama begitu melihat bukit pasir ini adalah: “wow masya Allah gede banget!”, sesuai namanya, Giant Sand Dunes. Nyadar kalau itu gede karena dari kejauhan terlihat ada beberapa orang sedang berjalan dan mereka terlihat kecil sekali.
Te Paki Sand Dunes ini katanya kira-kira meng-cover area dengan panjang 10 km dan lebar 1 km. Bukit tertinggi di sana setinggi 150 m dan ini katanya adalah bukit pasir tertinggi di belahan bumi selatan.
Setelah memarkirkan campervan, kami shalat dan makan siang terlebih dahulu. Isi tenaga dulu sebelum main sepuasnya, hehe.
Keluar dari campervan, tujuan pertama kami adalah mecari tempat rental sandboard. Tidak sulit untuk menemukannya karena langsung terlihat dari parkiran, dan di situ cuma ada satu tempat penyewaan sandboard.
Yang menyewakan sandboard ini menggunakan truk. Kami lihat sekeliling memang tidak ada bangunan sama sekali. Sandboard tersedia dalam dua ukuran. Ukuran dewasa saat itu sewanya NZ$15, sementara ukuran anak NZ$10. Kami menyewa masing-masing ukuran satu aja, biar hemat, wkwk. Ketika menyewa sandboard ini juga diminta SIM atau paspor sebagai jaminan.
Sandboard sudah di tangan, mari berjalan ke arah bukit pasir. Untuk main sandboarding di sana tidak ada tiket masuk, bebasss main sepuasnya. Jadi biaya yang diperlukan murni untuk sewa sandboard aja.
Dari tempat penyewaan, jalannya masih datar dan banyak semak-semak. Tak jauh dari situ juga ada aliran sungai Te Paki Stream. Kalau mau main air dan pasir bisa, tapi tentunya kami cuma lewat aja, hehe.
Aliran Te Paki Stream-nya dangkal banget, jadi ga sulit untuk menyeberanginya. Di seberangnya barulah terlihat area yang semuanya berupa pasir. Luas banget, heuheu.
Dari kejauhan terlihat beberapa orang sedang main sandboarding. Kebayang bakal seru banget nih meluncur di bukit pasir, minimal seseru waktu main toboggan di Coronet Peak, Queenstown.
Kami mencoba “pemanasan” dengan mencoba meluncur di sisi yang kemiringannya masih landai. Hasilnya? Sandboard-nya ga meluncur dengan baik, tersendat-sendat. Dari situ baru sadar bahwa main sandboarding ini tidak bisa di kemiringan landai. Yah memang beda ya meluncur di salju dengan di pasir. Heu.
Bukit di hadapan kami yang sudah dilewati beberapa orang lain dengan sandboarding cukup tinggi dan buat saya itu curam. Melihat kemiringan bukit, saya menyerah ga mau coba sandboarding. #LEMAH memang, hahaha. Ya gimana, pas mendaki aja saya serem lihat ke bawah, gimana mau meluncur.
Beda dengan saya yang cemen banget, Akas hepi warbyasah di sini. Akas sangat menikmati mendaki bukit pasirnya, lalu meluncur ke bawah dengan sandboard. Ga dari puncak banget sih, dari tengah aja, tapi segitu juga udah lumayan banget untuk ukuran Akas.
Akas sempat jatuh berguling-guling ketika meluncur. Nangis? Tentu saja. Tapi ternyata nangisnya cuma gara-gara ada pasir masuk ke mulut dan mata. Abis itu? Tetap aja dia bolak-balik mendaki lalu meluncur. Gile. Saya yang lihat doank aja cape, wkwk.
Jangankan bolak-balik ya, untuk sekali mendaki aja buat saya udah terasa melelahkan. Salah kostum dan agak banyak tentengan juga sih masalahnya. Ga pernah olahraga juga sebelumnya, ahaha.
Bukitnya dari samping terlihat miring aja, tapi pas didaki berasa hampir vertikal, heu. Saya ngos-ngosan sambil cemas, sementara Akas mendakinya santai wae tapi cepet banget. Malu sama anak sendiri, hahaha.
Kami mencoba naik lebih tinggi, dari situ makin terlihat betapa luasnya Te Paki Sand Dunes ini. Terlihat beberapa orang di kejauhan, tapi ngebayangin jalan lebih jauh aja udah mager, haha.
Ada sisi bukit yang lebih tinggi. Saya sebenarnya penasaran mau lihat seperti apa, karena pasti lebih banyak yang bisa terlihat dari tempat yang lebih tinggi. Tapi bukitnya lebih curam lagi dibanding yang udah kami daki sebelumnya. Baru seperempat jalan aja saya udah khawatir ngebayangin gimana nanti turunnya. Saya menyerah, pak suami aja yang naik ke atas, wkwk.
Puas muter-muter di atas, kami kembali turun. Kalau tadi mendaki rasanya cape dan cemas, pas turun ini kok lebih horor buat saya, heuuu. Di kepala itu bayangannya bakal jatuh lalu terguling-guling gitu sampai bawah.
Orang-orang turun sambil jalan kayak biasa atau meluncur dengan sandboarding, saya ngesot biar lambat asal selamat. Akas dan ayahnya mah selow aja turun, sayanya lambat banget kayak siput, wkwk.
Sisanya saya duduk-duduk di bawah aja sambil foto-foto dan videoin Akas dan ayahnya main sandboarding. Melihat mereka seru dan hepi banget juga saya udah bahagia, heuheu.
Sudah sore, kami pun menyudahi seru-seruan main pasir. Kami mesti melanjutkan perjalanan ke campground di Paihia.
Saya cukup penasaran dengan Ninety Mile Beach, karena kalau browsing tentang Northland, pantai itu juga termasuk salah satu yang sering disebut. Udah kebayang sih pantai aja, tapi panjaaang banget, tapi kepo aja mau lihat langsung.
Kami pun mencoba mampir ke sana sebentar. Pantai dengan nama Māori Te-Oneroa-a-Tōhē ini jadi salah satu objek wisata untuk sand safari. Kalau ada kendaraan yang siap untuk dibawa driving di pasir, bisa driving sendiri juga di sana. Kami yang pake campervan tentu saja ga berani driving di pasir. Khawatir rodanya nyungsep trus ga bisa jalan lagi, heuheu.
Bentar banget kami di sana, itupun cuma saya yang turun dan foto-foto dikit, hehe. Matahari sudah hampir terbenam, jadi kami segera jalan lagi. Dengan demikian berakhirlah seru-seruan kami di road trip di Northland ini.
Berikut beberapa catatan saya dari pengalaman ke Te Paki Sand Dunes.
—
Begitulah pengalaman kami main sandboarding di Te Paki Sand Dunes. Ada yang tertarik juga untuk mencoba? 😀
Salam,
Di tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan seputar ikhtiar saya untuk meningkatkan produksi ASI. Kali ini… Read More
Dulu waktu awal-awal datang di Auckland, saya rasanya hampir tidak pernah melihat orang bersepeda. Terasa… Read More
Saya pernah tinggal di Tokyo, Jepang tahun 2010-2013. Saya juga pernah tinggal di Auckland, New… Read More
Mumpung masih bulan Syawal, Selamat Idul Fitri 1445 H ya semuanyaaa. Minal aidin wal faidzin.… Read More
Alhamdulillah tahun ini dikasih kesempatan untuk ketemu Ramadhan lagi. Dan makin lama kok ya Ramadhan… Read More
Kembali ke seri jelajah Auckland. Dulu saya sudah pernah menulis wilayah Auckland mana saja yang… Read More
View Comments
Kalo sand dunes jujurnya aku ga terlalu tertarik, lebih karena itu pasir hahahaha. Itu juga kenapa aku ga suka Ama pantai, karena berpasir. Rasanya pas nempel di kaki, tangan, muka, itu ga ngenakin mba . Tapi pas ngeliat serunya meluncur, ada sih kepengin,cuma masih galau nih. Soalnya pas udah bisa traveling nanti, aku mau ke Jepang dulu. Berhubung di sana juga ada sandi dunes, aku prefer mampir yg di sana. Yg di NZ, aku lebih milih nyobain zorbing :D. Sama2 meluncur tapi yg 1 kan pake bola :D.
Aku suka ketinggian sand dunes yg ini. Kalo aku, pasti nyobain dr puncak mba, biar makin seru . Tapi kebayang sih ke atasnya itu wkwkwkwk