Mencari Beasiswa Luar Negeri, “Tidak Semudah Itu Ferguso!”

Cerita kali ini berdasarkan pengalaman suami saya, Evan Kamaratul Insani, dalam mencari beasiswa luar negeri. Tapi ditulis dari sudut pandang saya yang menemani perjalanan beliau selama ini. #tsaaah

Melanjutkan S2 di luar negeri adalah impian suami saya sejak lama, sejak sekitar tahun 2009-2010. Tahun segitu pak suami (eh belum nikah dink waktu itu) dapat kesempatan mengikuti pertukaran pelajar di Toyohashi, Jepang. Masih kuliah tingkat 3 tahun segitu. Biasanya mahasiswa pertukaran pelajar ini relatif lebih mudah kalau mau melanjutkan S2 di sana, karena sudah kenal dengan profesornya. Akan tetapi rencana kuliah itu mesti dipendam dulu seiring dengan kepergian sang mama tahun 2009, disusul sang papa tahun 2010. Ada 3 adik yang masih kuliah dan sekolah dan mesti ditanggung hidupnya, sehingga hal yang lebih realistis saat itu adalah bekerja ketimbang kuliah lagi.

Waktu terus berjalan. Bekerja, lalu menikah, lalu adik-adik satu per satu lulus kuliah dan bisa mandiri, lalu punya anak, keinginan untuk kuliah itu ternyata tidak hilang. Hanya saja rencana untuk mencari beasiswa tertunda terus. Suami tidak punya waktu untuk itu saat masih bekerja sebagai field engineer di Schlumberger Balikpapan. Yaa walaupun sudah bekerja, untuk kuliah di luar negeri mah tetep aja ga mampu kalau pakai biaya sendiri, hehe. Jadi keinginan kuliah hanya bisa terlaksana jika sudah dapat beasiswa.

Awal 2016 suami berhenti bekerja di Schlumberger. Kami sudah mulai mencari informasi beasiswa, tapi suami belum mulai apply karena mau mempersiapkan semua persyaratannya semaksimal mungkin terlebih dahulu.

Perjalanan mencari beasiswa pun dimulai akhir tahun 2016 setelah kami pindah ke Bandung. Berbeda dengan saya dulu (sekali apply beasiswa Monbukagakusho trus langsung dapet), buat suami ternyata tidak semudah itu. Tidak lolos berulang kali, lolos cadangan tapi akhirnya ga lolos juga, perasaan yang naik turun, dan sebagainya sudah jadi bagian dari perjalanan panjang hingga akhirnya suami bisa dapat beasiswa di Auckland, NZ sekarang.

Baca juga:  Kuliah S2 di Jepang dengan Beasiswa Monbukagakusho (MEXT)

Perjuangan Mencari Beasiswa Luar Negeri

Dulu suami pengen banget lanjut S2 di UK, ambil jurusan yang terkait Energy Policy, karena beliau sungguh ingin berkontribusi buat negeri terkait energi. Kenapa UK, karena kurikulumnya memang di UK-lah yang paling cocok dengan minat suami. Jurusan ini tidak banyak pilihannya di negara lain. Di US juga ada banyak pilihan dink, tapi suami ga mau ke sana, huehe.

Jurusan dan kampus yang diincar sudah ada, saatnya mengincar beasiswa ya.

Chevening Scholarship 2017/2018

Sepengetahuan kami, tidak begitu banyak pilihan beasiswa di UK yang menanggung tuition fee dan biaya hidup. Salah satunya yang terkenal yakni beasiswa Chevening.

Chevening Scholarship adalah beasiswa dari pemerintah Inggris untuk mahasiswa dari berbagai negara di seluruh dunia. Pendaftarannya buka sekitar bulan Agustus-November 2016. Ini beasiswa yang pertama kali di-apply oleh suami. Tahap pertama adalah seleksi dokumen, dilakukan secara online di website Chevening. Selain mengisi data dan dokumen pendukung, juga ada pertanyaan-pertanyaan untuk esai.

Pengumuman hasil seleksi dokumen ini keluar bulan Februari 2017. Dan hasilnya suami tidak lolos. Belum rezeki. Padahal letter of acceptance (LoA) sudah didapat dari 3 universitas di UK. Di satu sisi ada sedikit perasaan kecewa, tapi di sisi lain tidak apa-apa, toh ini baru pertama kali apply, masih ada yang kurang, dan masih ada beasiswa lain.

Beasiswa LPDP 2017

Chevening gagal tidak begitu masalah, karena kami yakin bisa dapat beasiswa LPDP. Di circle saya, lumayan banyak teman saya yang dapat beasiswa LPDP. Dan dengan kualifikasi suami, saya yakin suami juga bisa lah dapet beasiswa LPDP seperti mereka. Tapi semua tidak berjalan lancar seperti bayangan. Ada dua hal utama yang berbeda di tahun 2017 yang terasa “apes” buat kami.

  • Dulu seleksi beasiswa LPDP itu diadakan 4x dalam 1 tahun, jadi dalam 1 tahun ada banyak kesempatan untuk daftar. Tidak lolos seleksi periode I, masih ada periode II setelahnya. Makanya kami merasa optimis banget. Namun di tahun 2017 LPDP ganti kebijakan, dan pendaftaran beasiswa luar negeri cuma ada 1x dalam 1 tahun. Yang artinya kalau tidak lolos sekarang ya mesti tunggu tahun depan kalau mau daftar lagi.
  • Dulu tahapan seleksi beasiswa itu cuma seleksi administrasi dan seleksi substansi. Namun di tahun 2017 tahapan seleksinya ditambah. Setelah seleksi administrasi ada seleksi assessment secara online terlebih dahulu, kalau lolos baru deh lanjut seleksi substansi.

Pendaftaran beasiswa LPDP untuk luar negeri saat itu ditutup bulan Juli 2017. Seleksi administrasi ini juga dilakukan secara online. Tidak jauh beda dengan Chevening, mesti isi data, upload dokumen pendukung, serta menulis esai. Membaca esai yang ditulis suami saya yakin banget lolos deh itu seleksi dokumen, dan kenyataannya memang begitu.

Selanjutnya seleksi assessment online. Info tesnya dikirim ke email dan bisa dilakukan di rumah juga. Seleksi online ini pertanyaan-pertanyaannya tidak ada yang jawabannya mutlak benar atau salah. Jadi jawaban dipilih berdasarkan kepribadian masing-masing aja.

Di hari pengumuman di bulan Agustus 2017, susah banget untuk berhasil login ke website LPDP. Tengah malam saya berhasil login ke akun suami, tapi suami sudah tidur. Hasilnya suami tidak lolos seleksi online assessment. Sedih. Saya biarkan suami melihat sendiri hasilnya secara langsung esok paginya. Andai hasilnya lolos, pasti langsung saya kasih tahu deh malam itu.

Paginya suami ngabarin hasilnya, yang sebenarnya sudah saya ketahui. Rasanya terpukul sekali saat itu. Berharap banget bisa lolos, ada plan untuk mengabdi ke negara setelahnya, malah ga lolos. Di situ rasanya kesel banget sama yang bisa dapet beasiswa LPDP trus malah mangkir dari Indonesia #eh.

Saya penasaran dengan seleksi online assessment ini. Saya baca blog orang katanya kita bisa nanya ke LPDP kalau kita ga lolos alasannya apa. Akhirnya saya minta suami untuk kirim email ke LPDP. Balasan emailnya bilang bahwa di online assessment itu ada passing grade, jadi yang lolos adalah yang skornya minimal 575. Sementara skor suami saya 560. Makin gemes dan sedih rasanya. Kalau saja abis seleksi awal langsung ke seleksi substansi, saya optimis suami juga bakal lolos.

Kegagalan LPDP ini sempat bikin suami down, karena semua rencana kami jadi berantakan. Rencananya tahun 2017 lolos seleksi beasiswa, tahun 2018 sudah berangkat kuliah. Ditambah lagi dengan kondisi keuangan yang tidak sesuai rencana. Ini juga jadi salah satu pertimbangan kenapa akhirnya saya memutuskan untuk kerja lagi.

Baca juga: Setelah 3 Bulan Menjadi Working Mom

Chevening Scholarship 2018/2019

Sebenarnya masih ada satu opsi agar suami tetap bisa berangkat kuliah tahun 2018, yakni kalau lolos beasiswa Chevening. Kali ini kami mencoba lebih serius untuk menyiapkannya. Saya coba tanya-tanya teman yang dulu dapat beasiswa Chevening, kesimpulan saya kuncinya ada di esainya. Dulu mungkin esai yang ditulis suami kurang ngena, makanya ga lolos. Katanya di esai Chevening sebaiknya tergambar kenapa sih kuliahnya harus di UK dan kenapa harus di kampus itu.

Masih pakai esai yang dulu dengan perbaikan di sana sini, akhirnya suami lolos seleksi dokumen Chevening. Setelah itu suami dipanggil interview ke British Embassy di Jakarta, lupa bulan apa, tapi jadwal interview itu sekitar bulan Maret-Mei 2018. Bulan Juni 2018 suami dikabarkan lolos sebagai reserved candidate alias cadangan.

Reserved candidate bisa berubah jadi conditionally accepted alias dapat beasiswa jika:

  • Ada kandidat yang lolos memutuskan tidak jadi mengambil beasiswanya.
  • Ada tambahan anggaran dari Chevening sehingga kandidatnya bisa ditambah juga.

Suami nunggu-nunggu banget kepastian selanjutnya, karena jika akhirnya lolos, suami sudah harus mulai kuliah bulan September 2018. Update kabarnya baru keluar pertengahan Agustus 2018, berasa lamaaa banget nungguinnya. Dan suami tidak lolos lagi.

Kabarnya, dulu-dulu biasanya sekitar 50% dari reserved candidate ini akhirnya menjadi penerima beasiswa Chevening juga. Tapi “apes”-nya lagi, di tahun 2018 pemerintah Inggris lagi menekan budget, sehingga walaupun ada kandidat yang tidak jadi ambil beasiswanya, reserved candidate-nya tidak ada yang dapat beasiswa satupun.

Pada tahap ini perasaan suami makin campur aduk. Di satu sisi sedih kenapa dia yang sudah begitu seriusnya menyiapkan seleksi beasiswa malah ga dapet-dapet, sementara saya dulu ga segitunya effort-nya langsung dapet aja #ampunisaya. Di sisi lain suami mempertanyakan apa iya rencana kuliah ini memang jalan yang tepat untuk ke depannya. Apa kegagalan-kegagalan ini petunjuk bahwa sebaiknya suami ambil jalur lain. Tambah lagi IELTS suami sudah hampir expired, sehingga kalau mau daftar beasiswa lagi artinya mesti ulang IELTS lagi. Dan sebagainya.

Australia Awards Scholarship 2018

Berkaca dari kegagalan di tahun 2018, saya menyarankan suami untuk coba apply beasiswa lebih banyak lagi, jangan cuma terpaku di Chevening dan LPDP. Dan itu berarti kami harus mencari jurusan di kampus negara lain yang masih sesuai dengan minat suami. Ketemu opsi di Australia, dapat LoA juga dari Queensland. Coba apply beasiswa Australia Awards deh.

Australia Awards Scholarship adalah beasiswa dari pemerintah Australia. Pendaftarannya buka sekitar bulan Februari-April 2018 kalau tidak salah. Tahap pertama mirip beasiswa lain, seleksi dokumen secara online, ada esai singkat juga. Karena keterbatasan waktu saat itu, suami tidak maksimal mempersiapkan pendaftarannya. Makanya ga heran ketika seleksi awalnya pun tidak lolos.

Oia kabarnya tahun lalu dan tahun ini beasiswa Australia Awards ini fokusnya lebih ke warga Indonesia Timur atau PNS, sementara suami saya bukan keduanya. Mungkin karena itu juga tidak lolos.

New Zealand Scholarship 2018

New Zealand Scholarship adalah beasiswa dari pemerintah Selandia Baru melalui New Zealand Aid Programme, sering juga disebut NZAID/NZAS. Beasiswa ini hanya untuk mahasiswa dari negara-negara yang eligible, kalau saya perhatikan sih kayaknya negara-negara berkembang aja.

Sebenarnya kami sudah tahu beasiswa ini dari tahun sebelumnya, cuma dulu suami memutuskan untuk tidak mendaftar karena kurikulumnya dirasa kurang sesuai dengan minat saat itu dan NZ ga masuk negara incaran. Tapi kali ini coba aja dulu.

Pendaftaran beasiswa ini buka sekitar bulan Februari-Maret 2018. Seperti yang lainnya juga, pendaftaran awal dilakukan secara online. Suami dikabari lolos seleksi awal, lalu lanjut ke interview. Interview lolos juga, selanjutnya diminta IELTS di bulan Agustus 2018. Bagi yang masih punya hasil IELTS yang masih berlaku, bisa langsung kirim kalau tidak salah. Sayangnya saat itu IELTS suami sudah melewati batas waktu yang ditentukan, sehingga harus tes ulang. Dibayarin sih tesnya.

Awal Oktober 2018 akhirnya pengumumannya keluar dan suami dinyatakan sebagai preferred candidate. Alhamdulillah. Negara yang dulu tidak diincar, beasiswa yang dulu dilewatkan, akhirnya malah memberi kesempatan buat suami.

Beasiswa LPDP 2018

Sembari menjalani proses seleksi beasiswa-beasiswa lainnya, tahun 2018 suami coba apply beasiswa LPDP lagi juga. Saya bilang ke suami coba lebih selow aja tahun ini. Tahapannya masih mirip dengan tahun 2017. Untuk seleksi administrasi, esainya ternyata beda dengan tahun sebelumnya sehingga harus ditulis ulang, tapi alhamdulillah lolos lagi.

Di tahap online assessment, ternyata kali ini ujiannya beda format dengan tahun 2017. Mungkin LPDP-nya masih eksperimen metode seleksi yang tepat mengingat peminatnya makin banyak dari tahun ke tahun dan nyatanya yang dulu-dulu tidak semuanya balik ke Indonesia #teteup.

Ujiannya kali ini dijadwalkan di satu tempat, ga bisa dikerjakan di rumah lagi. Trus saat ujian juga harus datang dengan atasan putih dan bawahan hitam. Weleh udah kayak tes CPNS aja. Dan ujiannya juga beda lagi, kayak TPA gitu (matematika, bahasa, logika). Makin ribet. Lucunya kali ini suami lolos online assessment ini, padahal banyak pertanyaan ujian bahasa yang dijawab dengan menebak-nebak sekenanya, tapi nilai ujian bahasanya malah masuk yang tertinggi dari yang tes hari itu. Wkwk.

Suami dapat jadwal seleksi substansi, tapi suami mengundurkan diri dari seleksi berikutnya karena suami sudah lolos untuk beasiswa NZAS. Mending ambil yang sudah pasti aja kan ya, hehe. Yaah, anggap aja dulu ditolak LPDP, kali ini gantian menolak LPDP, wkwk. #ampunisaya

Hikmah dan Pelajaran dari Kegagalan Seleksi Beasiswa Luar Negeri

Dalam proses pencarian beasiswa ini, banyak hal yang terjadi sungguh di luar rencana kami. Tapi kami percaya, rencana Allah jauh lebih baik daripada rencana kami.

Kalau saja dulu suami lolos beasiswa Chevening, ga kebayang deh pusingnya nyiapin keberangkatan dalam waktu yang singkat banget. Kalau saja suami lolos beasiswa LPDP, mungkin saya ga akan dapat kesempatan bekerja di Bukalapak. Diberi kesempatan ke NZ, kami bisa menyiapkan keberangkatan dengan lebih baik, bisa merasakan tinggal di negara yang dulu ga pernah kami bayangkan bakal didatangi.

Dari pengalaman kegagalan seleksi berbagai beasiswa itu, ini sedikit catatan dari pak Evan dan saya buat para pemburu beasiswa luar negeri:

  • Peminat beasiswa luar negeri itu makin lama makin banyak, persaingannya ketat. Apalagi untuk beasiswa yang meng-cover biaya kuliah dan biaya hidup. Untuk tahap awal, pastikan kita memenuhi semua persyaratan yang diminta. Makanya penting banget untuk baca dan pahami semua persyaratan beasiswa dengan baik. Skor TOEFL/IELTS masih kurang, artinya belajar lagi, tes lagi, sampai memenuhi skor minimal. Dan lain-lain.
  • Kalau cari info beasiswa, yang wajib dibaca adalah website penyedia beasiswanya langsung. Jangan malah mengandalkan blog orang, trus ga baca website asalnya sama sekali. Tiap tahun persyaratan beasiswa itu bisa berubah, tahap seleksinya juga bisa berubah. Persaingannya juga berbeda, sehingga pengalaman orang lain di tahun-tahun sebelumnya bisa jadi tidak relevan lagi dibanding tahun sekarang.
  • Esai dan rencana studi sepertinya jadi komponen penting untuk penilaian, karena itu kita perlu menyiapkannya dengan baik. Baca dengan seksama apa saja yang diminta untuk dijelaskan, lalu sebelum submit baca lagi berulang-ulang apakah esai kita sudah memberikan jawaban yang diminta. Bisa minta bantuan orang lain juga untuk mendiskusikannya.
  • Selain menyiapkan segala hal untuk seleksi beasiswa, jangan lupa persiapkan juga hal-hal yang dibutuhkan untuk mendapatkan LoA dari kampus yang diincar. Persyaratannya beda-beda, silakan cari tahu dari website kampusnya.
  • Kalau tidak lolos suatu seleksi, coba evaluasi diri dan perbaiki. Bisa juga kontak tim seleksi beasiswanya untuk mengetahui kita kurangnya di mana, jadi kita bisa tahu mesti perbaiki apa saja ke depannya.
  • Sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tidak lolos juga, ya mungkin memang bukan rezekinya di situ. Tidak semua orang bisa langsung lolos seleksi beasiswa saat ikut pertama kali, lebih banyak yang mesti gagal dulu. Bahkan ada yang bertahun-tahun kemudian baru lolos. Jadi yaa sabar aja.
  • Perbanyak doa dan perbaiki ibadah juga bisa membantu. Karena semua terjadi atas izin-Nya, atas kuasa-Nya.
  • Beasiswa bukan satu-satunya pilihan jalan untuk mengarungi masa depan. Dapat beasiswa luar negeri bukanlah indikator kesuksesan. Oleh karena itu, jika belum dapat, sabar aja, siapkan backup plan, pasti ada jalan lain yang lebih baik. Jadi mau dapat beasiswa atau tidak, keduanya sama baiknya, sama ada hikmahnya.

Sekian dulu cerita kali ini. Panjang juga ternyata. Susah juga sih menyingkat cerita 2 tahun jadi 1 tulisan saja, hehe. Semangat buat semua pemburu beasiswa di mana pun berada.

Salam,

Reisha Humaira

2 tanggapan untuk “Mencari Beasiswa Luar Negeri, “Tidak Semudah Itu Ferguso!”

  • 14 April 2019 pada 22:07
    Permalink

    Huuft..ikut legaa saya setelah akhirnyaa diterima juga beasiswa keluarnegerinya. Perjalanan yang berliku tapi berbuah manis. Memang persaingan sekarang lebih ketat ya..beberapa kali saya membuatkan rekomendasi siswa sma kami untuk keperluan mendaftar beasiswa s1 luarnegeri. Banyak yg mental. Jepang belum ada yg tembus. Yg tercatat menerima beasiswa, ada yang ke jerman, cina dan turki. Semoga kedepannya makin banyak yg berhasil dapat scholarship abroad. Tipsnya ooke banget,mbak.

    Balas
  • 15 April 2019 pada 12:09
    Permalink

    Semangat pagi dari balik belantara Cianjur Selatan untuk kang Evan, uni Reisha dan de Akas di Auckland sana. Semoga sehat selalu dan dilindungi Allah senantiasa.
    Membaca tulisan ini mengingatkan saya arti sebuah takdir terbaik. Ya, takdir yang Allah pilihkan buat hidup kita yang lebih baik.
    Perjuangan kang Evan dalam memperoleh beasiswa sungguh luar biasa dan menginspirasi kita semua. Meskipun saya pernah mendapat kesempatan “mencicipi” Beasiswa LPDP, namun perjuangan saya saat itu tidak seberat dan serumit yang dihadapi kang Evan. Dan saya lebih meyakini, bahwa beasiswa saat itu adalah anugerah, apalagi jika diukur dari kemampuan bahasa asing saya yang paspasan. Saya menganggapnya keajaiban dan jalan langit yang Allah tunjukkan.
    Kenapa demikian? Karena pada saat saya menempuh beasiswa itulah, lahir SyariahSaham yang dalam perkembangannya mempertemukan saya dengan kang Evan dan uni Reisha. Tanpa beasiswa itu, mungkin komentar ini pun belum tentu tersurat di sini, hehe…
    Kebetulan beasiswa LPDP saya sudah selesai 4 tahun silam. Dan, akhirnya kembali mengabdi semampu saya. Kembali ke belantara, mengasah permata mengasuh primata mulia, hehe… Sembari terus merajut asa meningkatkan literasi finansial masyarakat via SyariahSaham yang juga didevelop oleh uni Reisha.

    Semoga ilmu yang diperoleh dari Tanah Kiwi menjadi hal bermanfaat dan bermaslahat untuk ibu Pertiwi.

    Salam hormat dan jabat erat,

    Mang Amsi
    Uwaknya Akas dan next brother/sister 🙂

    Balas

Leave your comment