Pilih Tinggal di Jepang atau New Zealand?

Saya pernah tinggal di Tokyo, Jepang tahun 2010-2013. Saya juga pernah tinggal di Auckland, New Zealand tahun 2019-2021. Suatu ketika, saya ditanyai, lebih suka tinggal di Jepang atau New Zealand?

Wah, sungguh pertanyaan sulit, karena keduanya punya plus minus masing-masing. Mesti dibandingkan dulu baru dihitung mana yang plusnya lebih banyak, hehe.

Membandingkan Jepang vs. New Zealand

Jepang dan New Zealand itu punya kemiripan. Sama-sama negara kepulauan, sama-sama beriklim subtropis, sama-sama negara maju. Bedanya? Banyak, hehe.

Urusan membandingkan dari sudut pandang pribadi saya ini, bisa jadi bias ya. Saya hanya pernah mencoba tinggal di Tokyo dan Auckland. Kesan yang saya dapat pastinya akan berbeda kalau dulu saya tinggal di Sapporo dan Wellington misalnya.

Tambah lagi timing tinggal-nya mayan jauh ya jarak tahunnya, dengan kondisi saya yang berbeda pula. Waktu di Tokyo saya masih belum menikah, sementara di Auckland saya sudah punya satu anak.

Tapi gapapa, coba saya tulis ya. Kalau spesifik soal kotanya, saya bakal tulis nama kotanya. Sedangkan kalau bisa digeneralisasi untuk negaranya, saya tulis nama negaranya.

Iklim dengan Empat Musim

Jepang dan New Zealand sama-sama memiliki empat musim. Dari empat musim, musim gugur adalah musim yang paling saya suka, berikutnya musim semi.

Soal suasana musim gugur dan musim semi, saya jauh lebih suka Jepang. Momiji yang merah dan ginkgo yang kuning, view terbaik di musim gugur. Bunga-bunga ga cuma sakura, banyak sekali macamnya, dan itu tidak hanya di musim semi, tapi juga ada di musim panas dan musim gugur. Dan pilihan tempatnya banyak sekali seantero Jepang.

Makanya ketika saya melalui musim gugur dan musim semi di New Zealand, rasanya B ajah. Ga nemu view secakep di Jepang, heuheu.

Lain ceritanya dengan musim dingin. Di Tokyo, musim dingin ya memang terasa dingin. Masih ketemu suhu satu digit. Salju juga ada walau hanya beberapa hari saja. Di Auckland, musim dinginnya relatif “hangat”. Siang-siang masih bisa ketemu suhu belasan derajat, wkwk. Salju ga ada sama sekali.

Namun perkara salju ini macam love-hate relationship sih. Musim dingin tanpa salju itu rasanya ga lengkap. Tapi kalau ada salju pun sesungguhnya ga nyaman saat mesti beraktivitas di luar. Licin bund jalannya, dingin pula.

Kalau musim panas, saya paling ga suka dengan musim panas di Tokyo. Suhu di atas 30°C, panas banget, lembab pula, alhasil kalau di luar pasti bakal keringetan parah. Beda deh panasnya dengan panas di Indonesia. Sementara musim panas di Auckland lebih ramah. Suhu udara jarang mencapai 30°C. Masih banyak angin pula.

Cuaca dan Kondisi Alam

Sepengamatan saya, ramalan cuaca di Jepang jauh lebih akurat dibanding di New Zealand. Dan cuacanya lebih teratur. Teratur dalam artian sesuai terus gitu dengan ramalannya, wkwk.

Di New Zealand saya ga gitu percaya sama ramalan cuacanya. Beberapa kali ga sesuai. Mana cuaca di sana juga gampang berubah-ubah. Sampai ada istilah, kita bisa merasakan empat musim dalam sehari di sana, wkwk.

Untuk alamnya sendiri, menurut saya keduanya punya keindahan masing-masing dengan “rasa” yang berbeda. New Zealand itu indah dari sananya, kayak ditaruh gitu aja sama Sang Pencipta dan ga disentuh manusia. Sementara Jepang juga indah, tapi ada tambahan sentuhan tangan manusianya yang bisa bikin tempat yang biasa aja jadi lebih indah.

Oia Jepang dan New Zealand ini sama-sama rawan gempa. Tapi Jepang jauh lebih banyak sih gempanya. Waktu tsunami 2011 saya lagi di Tokyo pula. Saat di Auckland, rasanya saya ga pernah ngerasain gempa, namun pernah ngerasain saat di Wellington.

Transportasi Publik

Bicara transportasi publik, udah jelas lah Jepang terbaik. Bahkan membandingkan transportasi Jepang di 2010 dengan New Zealand di 2020, tetap Jepang jauh lebih unggul, hihi.

Ga usah dibahas lah ya kek mana jaringan kereta di Jepang, yang gambar rutenya di Tokyo aja super ribet. Tapi semuanya bisa berjalan dengan baik dan selalu tepat waktu. Tiap bepergian udah bisa diperhitungkan bakal habis waktu berapa lama.

Ketika tinggal di Auckland dan kendaraan umum utama saya itu bus, rasanya jomplang banget, wkwk. Di jalan rasanya lamaaa sekali. Kadang perlu nunggu lama pula.

Kalau tinggal di Jepang, rasanya ga akan kepikiran untuk punya mobil sendiri, karena pakai kendaraan umum aja cukup. Kalau tinggal di New Zealand, rasanya mending punya mobil sendiri deh biar lebih puas dan lebih hemat waktu kalau ke mana-mana.

Penduduk dan Gaya Hidup

Di Jepang itu banyak banget lansia, sementara yang muda-muda pada menunda nikah apalagi punya anak. Dulu saya kira penduduk negara maju itu memang pada malas punya anak. Makanya saya cukup surprise ketika ketemu ortu bule di sekolah Akas di Auckland yang punya 4 anak.

Orang Jepang itu disiplin banget, cuma kadang saya merasa mereka itu kaku. Di pelayanan publik ramahnya luar biasa, tapi di kehidupan sosial sehari-hari ga segitunya.

Apalagi kalau berhubungan dengan orang asing ya. Di Jepang itu berasa banget kalau kita tuh orang asing, yang ga akan pernah bisa sama dengan mereka.

Orang-orang di New Zealand menurut saya lebih santai dan selow. Ngajak ngobrol orang yang belum kenal pun bukan hal aneh di sana.

Jadi orang asing di New Zealand pun rasanya lebih damai. Ga berasa kalau kita tuh outsider. Apalagi di Auckland ya, yang populasi pendatangnya cukup besar.

Oia, soal fashion nih. Di Jepang itu orang-orang lebih fashionable deh. Gimana ga, tiap musim itu fashion-nya selalu berganti. Suasananya beda kalau beda musim, walapun dari segi suhu udara mirip-mirip aja misalnya antara musim gugur dan musim semi.

Di New Zealand, kadang saya merasa ga ada yang peduli dengan fashion, haha. Pakaian ya intinya gimana yang nyaman aja. Lihat aja tuh dulu pas bu Jacinda masih jadi PM, selevel beliau tampil dengan kaos biasa tanpa riasan juga selow aja.

Bahasa dan Budaya

Tinggal di Jepang, wajib rasanya bisa bahasa Jepang. Minimal bisa untuk level percakapan yang biasa dipakai sehari-hari. Orang Jepang yang bisa bahasa Inggris itu terbilang sedikit. Kalau bisa pun, ada yang pronunciation-nya itu masih seperti bahasa Inggris di-katakana-kan, susah dimengerti, hihi.

Bisa aja mungkin ya survive di Jepang tanpa bisa berbahasa Jepang, tapi percayalah itu susah dan ga nyaman. Saya yang dulu bahasa Jepangnya minimalis aja merasa ga nyaman, heuheu.

Di New Zealand, cukup bahasa Inggris saja tentunya, hoho. Mereka juga punya sih te reo Māori, tapi bahasa Māori itu jarang dipake dalam percakapan. Paling ada sejumlah istilah Māori yang umum dipakai, masih gampang lah hafalinnya dibanding hafalin huruf kanji, wkwk.

Kalau soal budaya, budaya Jepang ga usah dibahas lah ya. Mayoritas orang juga udah tahu budaya Jepang seperti apa, dari yang tradisional hingga yang modern. Menarik.

Di New Zealand, aspek budaya tradisionalnya ya yang berhubungan dengan Māori. Mungkin ga banyak yang tahu, hehe. Kalau Anda ngikutin rugby, mungkin masih tahu dengan Haka-nya All Blacks. Di luar itu? Entahlah.

Satu lagi soal makanan. Udah pada tahu lah yaa makanan khas Jepang apa aja. Suka banget deh saya, apalagi seafood-nya. Sushi murah di Jepang aja udah enak banget.

Kalau ditanya makanan khas New Zealand apa, saya ga tahu, hahaha. Mesti googling dulu. Apakah madu manuka? Tapi, fun fact, saya bukan fans madu manuka, wkwk.

Akses dari dan ke Indonesia

Karena keluarga dan kampung halaman kita di Indonesia, hal ini perlu dipertimbangkan juga.

Untuk transportasi sendiri, pilihan pesawat ke Jepang itu masih lebih banyak dibanding pesawat ke New Zealand. Ongkosnya juga lebih murah ke Jepang daripada ke New Zealand. Yaaa di ujung dunia sih soalnya New Zealand itu, wkwk.

Mau direct flight ke Jepang juga bisa, ada sejumlah opsi. Sementara direct flight ke New Zealand dari Indonesia yang saya tahu hanya Denpasar-Auckland.

Satu lagi soal perbedaan zona waktu. New Zealand itu lebih dulu 5 atau 6 jam (tergantung sedang DST atau tidak) dibanding WIB. Sementara Jepang hanya lebih dulu 2 jam dibanding WIB, alias sama dengan WIT.

Sebenarnya beda waktunya ga banyak-banyak amat ya, tapi dulu saat di New Zealand, kadang saya merasa udah beda dunia aja dengan di Indonesia. Gimana ya, saat saya udah bangun, orang-orang di Indonesia masih pada tidur. Saat mereka lagi rame beraktivitas di medsos, sayanya udah mau tidur, wkwk.

Jadi, Pilih Jepang atau New Zealand?

Dari uraian saya di atas, kira-kira lebih banyak plusnya di mana? Saya ga ngitung soalnya, wkwk.

Dulu itu sih si penanya bilang gini, “kalau susah jawabnya, gini deh, kira-kira kalau nanti pensiun, lebih milih tinggal di mana?”. Pensiun, udah tua brarti ya, mau santai dan selow aja kayaknya saya mah. Berarti New Zealand lebih cocok, haha.

Terlepas dari faktor plusnya, ada satu faktor minus yang cukup membuat saya untuk tidak memilih Jepang, yaitu soal bahasa. Orang sih bakal bilang, “kan tinggal dipelajari aja”. Tapi buat saya pribadi, belajar bahasa itu hal yang sangat susah. Mana hurufnya banyak pula. No, thanks. Mending saya belajar hal lain deh, heuheu.

Namun kalau ngomongin pensiun sih, sesungguhnya saya ga pernah ya kepikiran untuk menghabiskan hari tua di luar negeri, apalagi meninggal di tanah yang asing. Maunya ya di Indonesia aja, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, hehe.

Topik ini tadinya mau saya tulis nanti aja, setelah semua tulisan soal New Zealand kelar. Tapi karena ada Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog, jadi kepikiran untuk ditulis sekarang deh.

Salam,

Reisha Humaira

4 komentar pada “Pilih Tinggal di Jepang atau New Zealand?

  • 25 Mei 2024 pada 12:53
    Permalink

    Pengen banget mobilisasi cukup dgn kendaraan umum berlaku di Indonesia juga. Mungkinkah someday?

    Balas
    • 25 Mei 2024 pada 20:14
      Permalink

      Insya Allah bisa teh, tapi entah berapa lama lagi, hihi. Jakarta udah mayan bagus sekarang transportasi umumnya.

      Balas
  • 25 Mei 2024 pada 15:19
    Permalink

    Bagaimana dengan biaya hidup? Kepo juga dengan dua negara ini.

    Untuk soal cuaca, kupikir NZ itu jauh lebih dingin karena letaknya di bawah. Ternyata nggak ya?

    Balas
    • 25 Mei 2024 pada 20:13
      Permalink

      Sebenarnya sudah saya duga ini ada yg kepo perbandingan biaya hidupnya, hehe. Cuma saya merasa ga relevan bandingin biaya hidup saya tahun 2010 dg 2020. Yang saya rasain, keduanya sama2 mahal, dan pengeluaran paling gede itu sama-sama di sewa tempat tinggal.

      Tapi kalau tinggal di kedua negara itu, selama mau bekerja, insya Allah masih bisa banget hidup dengan nyaman, hehe.

      Kalau cuaca, sebenarnya tergantung lokasi jg teh. Auckland memang lebih “hangat” karena lokasinya di bagian utara NZ. Wellington beda cerita, lebih dingin dan lebih warbyasah anginnya. South Island jg lebih dingin karena posisinya di selatan.

      Balas

Leave your comment