Joker, Kesehatan Mental, dan Media Sosial

Sudah nonton film Joker? Kalau belum, bisa tuh jadi pilihan untuk tontonan minggu ini. Bagus ga? Baguuus, tapi genrenya bukan untuk semua orang sih, hehe.

Saya pertama kali nonton sosok Joker di film The Dark Knight (2008). Rasanya itu pertama kalinya juga saya merasa sosok villain lebih memukau ketimbang sosok superhero-nya. Saya suka Batman versi Christian Bale, tapi untuk The Dark Knight, maaf ya Mr. Bale, penampilan Heath Ledger sebagai Joker lebih keren, huehe.

Ga disangka Heath Ledger berpulang begitu cepat. Padahal perannya sebagai Joker sangat luar biasa. Setelah Heath Ledger rasanya sulit nemu aktor yang bisa memerankan Joker seberkesan itu. Seperti sesulit mencari pengganti Robert Downey Jr. untuk Iron Man atau Hugh Jackman untuk Wolverine.

Lalu muncullah film Suicide Squad (2016). Dari trailer aja saya merasa Joker versi Jared Leto ini ga bakal sebagus itu. Setelah ditonton pun rasanya memang begitu. Malah lebih menarik sosok Harley Quinn-nya Margot Robbie menurut saya.

Tahun lalu muncullah kabar tentang film Joker. Saya lihat posternya, tertera nama Joaquin Phoenix. Saya ga kenal aktor ini, tapi melihat perawakannya di teaser, saya merasa dia cocok jadi Joker. Setelah tayang di 76th Venice International Film Festival, review positif tentang film Joker bermunculan. Penasaran deh jadinya. Minggu ini akhirnya filmnya tayang juga di bioskop. Setelah ditonton, benarlah bahwa Joaquin Phoenix bisa menampilkan sosok Joker dengan sangat baik.

Monggo tonton dulu trailer-nya yaa.

Rating per hari ini: IMDB 9.1/10, Rotten Tomato 69% Certified Fresh

Review Film Joker (2019)

Joker adalah film dengan genre psychological drama, bukan film action. Fokusnya lebih ke character development, bukan aksi Joker sebagai criminal mastermind di kota Gotham. Jadi buat kamu yang berharap nonton film action ala film-film superhero DC apalagi Marvel, mending mundur aja, hehe.

Film ini juga bukan tontonan untuk anak-anak, jadi buat para orang tua tolong bijaklah. Remaja pun kalo emang ngeyel nonton, butuh didampingi dan dibimbing dalam memahami film ini. Sekali lagi, di film ini ga ada superhero-nya. Filmnya dark. Ada adegan sadis dan berdarah-darah. Kamu yang memiliki masalah dengan mental juga sebaiknya tidak menonton film ini, khawatir ter-trigger.

Baca juga: Nonton di Bioskop Setelah Punya Anak

Di film Joker, kita dibawa untuk mengenal lebih dalam kehidupan seorang Arthur Fleck. Berbagai tekanan yang ia terima secara bertubi-tubi, baik secara fisik maupun mental, ditambah gangguan kejiwaan yang dimilikinya, membuat ia akhirnya bertransformasi menjadi Joker.

Film ini mampu membawa kita untuk merasakan bagaimana pedih dan malangnya hidup Arthur. Di-bully, terpinggirkan, sendiri, dan tidak ada yang peduli. Sulit rasanya untuk tidak berempati kepada sosok ini, sampai pada level memang wajar rasanya dia sampai melakukan apa yang dia lakukan. Kacau memang emosi kita dibuatnya.

Standing applause buat Joaquin Phoenix, banyak yang setuju dia layak dapat Oscar untuk penampilannya di film Joker. Banyak scene di film yang fokus ke ekspresi dan gestur Arthur. Sorot mata dan raut wajahnya terasa nyata sekali. Dalam tawanya juga terasa sekali kesedihan dan kepedihan yang dirasakannya, tawa yang sebenarnya tidak dia kehendaki, dan murni muncul karena kondisi kejiwaannya.

Joaquin Phoenix memang total sekali dalam memerankan Joker. Lihat saja kondisi tubuhnya. Tubuhnya aslinya lebih berisi, dan dia menurunkan berat badan sampai 23 kg untuk jadi sekurus itu. Saya juga pernah baca, di beberapa scene yang menyakitkan pun dia memilih melakukan sendiri tanpa stuntman.

joaquin phoenix
Joaquin Phoenix saat jadi Joker vs. saat ini

Lalu, bagusan Joaquin Phoenix atau Heath Ledger sebagai Joker? Sulit sih untuk membandingkannya. Toh filmnya juga mengambil sudut pandang berbeda tentang sosok Joker. Menurut saya keduanya sama-sama berhasil sekali memerankan sosok Joker dengan caranya masing-masing.

4 Lesson Learned dari Film Joker

Saya ga akan nulis review film di blog ini kalau ga ada pesan moral terkait parenting atau kehidupan sehari-hari yang bisa kita ambil, huehe. Joker memang tokoh komik, villain pula, setting-nya pun di tahun 1981. Tapi jalan hidup Arthur rasanya nyata sekali dan dekat dengan kondisi di sekitar kita saat ini.

Ga ada spoiler di tulisan ini. Ada beberapa potongan scene yang saya tulis, tapi semuanya ada kok di trailer, hehe.

1. Depresi Itu Nyata Adanya

Genre film Joker memang tidak akan disukai oleh semua orang. Tapi buat yang tidak berminat atau takut menonton tapi mau tahu seperti apa kacaunya perasaan kita saat menonton film ini, saya bakal bilang, itu seperti teraduknya perasaan kita saat membaca kisah ibu-ibu postpartum depression (PPD) yang sampai membunuh anaknya. Kita sadar betul bahwa si ibu sudah melakukan tindakan kriminal, dan itu salah besar. Tapi di sisi lain kita juga sedih, prihatin, dan simpati dengan apa yang dialami ibu itu.

Dulu sebelum kenal PPD, ketika membaca berita ada ibu yang membunuh bayinya, saya ga habis pikir. Kok ibu itu tega sekali sih membunuh darah dagingnya sendiri, masih bayi pula. Tapi setelah baca-baca kisah PPD, akhirnya saya mengerti. Ibu yang waras sesungguhnya ga akan pernah tega membunuh anaknya sendiri.

Miris rasanya ketika masih banyak di luar sana yang men-judge ibu-ibu baby blues dan PPD sebagai ibu yang manja, terlalu drama, hingga kurang iman. Man, depresi ga sesederhana itu. Jangan pernah menganggap remeh depresi. Kalau memang tidak bisa bantu apa-apa, lebih baik diam deh daripada mengeluarkan kata-kata yang bisa menyakitkan untuk orang yang depresi.

PPD sangat mungkin menimpa siapa saja, dari yang miskin hingga yang kaya raya. Dari yang baru punya satu anak hingga yang sudah punya anak lebih dari satu. Dari yang tidak taat beragama hingga yang alim sekalipun. Kenali gejala-gejala PPD, berikan dukungan yang dibutuhkan si ibu, dan bantu si ibu mendapat pertolongan dari yang lebih ahli.

2. Kesehatan Mental itu Wajib Diperhatikan

Mental illness jelas bukan depresi saja. Joker sendiri katanya mengidap skizofrenia. Penderita skizofrenia ngalami halusinasi, delusi, kekacauan berpikir, perubahan perilaku, dan kesulitan membedakan kenyataan dengan pikirannya sendiri.

Tawa Joker pun lahir dari kondisi yang ada di dunia nyata. Namanya pseudobulbar affect (PBA) atau emotional incontinence. Kondisi PBA ini terlihat dari munculnya tawa atau tangis secara tiba-tiba dan tidak terkontrol pada kondisi yang tidak seharusnya. PBA timbul karena saraf-saraf di otak bermasalah, sehingga tidak bisa mengontrol emosi dengan baik. Orang normal di saat sedih akan mengeluarkan ekspresi sedih hingga menangis, sementara yang PBA malah tertawa. Joker banget. Dan PBA ini ga lucu sama sekali ya. Sungguh tawa Joker di film ini terasa menyiksa sekali.

review film joker
A painful laugh (Sumber: screenshot trailer)

Saya merasa film Joker ini makin menyadarkan kita tentang pentingnya memperhatikan kesehatan mental. Kita sangat peduli pada raga kita. Saat ada yang nyeri atau sakit, kita bakal segera mencari obat atau cara menyembuhkannya. Tapi saat jiwa yang bermasalah, sering kali kita abai atau malah tidak sadar sama sekali. “All I have are negative thoughts.” kata Arthur dan ini adalah pertanda.

Sebagian yang bermasalah jiwanya sadar akan itu dan tahu bahwa dia butuh bantuan psikolog atau psikiater. Tapi sebagian lainnya tidak. Di situlah peran orang terdekat dan orang di sekitar yang bersangkutan untuk membantunya. Memahami kondisi mental illness seseorang adalah langkah pertama. Jangan langsung judge, apalagi kalau tidak punya ilmu atau pengetahuan apa-apa soal mental illness itu.

Joker sangat menggambarkan betapa berbahayanya mental illness jika dibiarkan berlarut-larut dan tidak ada yang membantu mengatasinya. Jadi, cobalah lebih awas kepada diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Tidak hanya remaja dan orang dewasa ya, kesehatan mental anak pun wajib diperhatikan.

Kondisi kejiwaan tentu bukan pembenaran untuk melakukan tindak kejahatan. Maka dari itu, jangan sampai muncul Joker-Joker lainnya di dunia nyata. Cukuplah Joker ada di film saja.

3. Hentikan Bullying di Sekitar Kita

Arthur sedang bekerja sebagai badut di pinggir jalan. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba empat pemuda mengambil papan iklannya dan berakhir dengan pemukulan terhadap Arthur. Tidak ada orang yang peduli dengan Arthur.

review film joker
Arthur setelah dipukuli beberapa pemuda (Sumber: screenshot trailer)

Gotham memang kota yang kacau. Tapi kejadian di kota fiktif itu bukan tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Sudah banyak cerita tentang premanisme yang kita dengar, hingga pelecehan kepada orang lain atas dasar iseng atau bercanda. Perundungan atau bullying adalah hal serius, dan itu harus segera dihentikan. Jika tidak dihentikan, bukan tidak mungkin pem-bully itu melakukan hal yang lebih berbahaya lagi.

Catatan banget buat saya sebagai orang tua dalam mendidik anak, jangan sampai anak sendiri menjadi tukang bully. Anak harus belajar menghormati dan berempati kepada orang lain. Di sisi lain, kita juga harus mendidik anak supaya kuat menghadapi dan bisa menentang bullying. Di-bully juga bukan berarti pembenaran untuk membalasnya dengan bullying pula.

4. Media Sosial Bisa Jadi Sumber Petaka

Kok ujug-ujug media sosial? Film Joker kan setting-nya saat belum ada media sosial, hehe.

Saat Arthur menonton televisi, rupanya di situ ditampilkan video Arthur saat stand up dan host acara pun mengolok-oloknya. Kejadian itu ternyata menyakitkan buat Arthur.

review film joker
Ekspresi Arthur saat melihat videonya di televisi (Sumber: screenshot trailer)

Pada scene itu saya langsung teringat dengan berbagai video ataupun foto yang dengan mudahnya disebarkan orang-orang di dunia maya. Dari yang memang ingin mem-bully hingga yang katanya “sekadar mengingatkan”. Kalau sudah viral, bully-an pun muncul dari jemari para penyimaknya.

Yeah, menghina, merendahkan, memaki orang lain di media sosial itu juga termasuk bentuk perundungan lho. Orang bisa dengan mudah mengeluarkan kata-kata kebun binatang hingga menyumpahi yang jelek-jelek, baik itu dengan akun nyata ataupun akun palsu. Padahal tak jarang mereka tidak tahu sama sekali kejadiannya seperti apa. Tidak tahu kondisi orang yang sedang viral itu seperti apa.

Ada yang masih ingat dengan kasus Sonya Depari? Googling deh kalau ga tahu. Setelah videonya viral di dunia maya sampai ditayangkan di televisi berulang-ulang, banyak sekali yang mem-bully Sonya. Tak lama kemudian ayah kandungnya sakit dan akhirnya meninggal dunia. Tragis. Kalau saya ikut mem-bully, rasanya saya bakal merasa bersalah sekali secara tidak langsung sudah turut membunuh ayahnya Sonya. Itu baru satu contoh. Di luar sana masih banyak kejadian lain. Intinya bully itu ga ada yang berakibat baik.

Media sosial memang ibarat pisau bermata dua. Bisa jadi baik, tapi bisa juga jadi buruk, tergantung pemakainya. Karena itu bijaklah dalam bermedia sosial. Jangan mudah terpancing, terprovokasi, apalagi sampai menyakiti orang lain. Kita ga pernah tahu isi hati dan perasaan orang lain, apalagi orang yang tidak kita kenal sama sekali. Siapa tahu dia sedih, kondisinya tidak baik, atau depresi. Jangan sampai kita bikin orang lain bunuh diri, atau malah memunculkan Joker ke dunia nyata.

Sekian review dan catatan dari saya. Tertarik buat nonton? Buat yang udah nonton, gimana kesan-kesannya dengan film Joker?

Salam,

Reisha Humaira

21 tanggapan untuk “Joker, Kesehatan Mental, dan Media Sosial

    • 5 Oktober 2019 pada 17:05
      Permalink

      Hehe iya beberapa bagian emang serem mbak. Ga apa-apa ga nonton, cukup baca-baca dari review aja ya 😀

      Balas
    • 5 Oktober 2019 pada 17:22
      Permalink

      Ga apa-apa mbak ga nonton, hehe. Memang ga bakal semua orang cocok dengan film ini 😀

      Balas
  • 5 Oktober 2019 pada 19:20
    Permalink

    Waaaa gila, reviewnya keren sha… semua point yang kamu bahas informatif banget dan relevan dengan kondisi masa kini. Great piece of writing. Semoga banyak yang tertarik nonton dan makin aware soal kesehatan mental dan efek bullying (terutama bangsa netijen mahabenar).

    Balas
    • 5 Oktober 2019 pada 19:47
      Permalink

      Awww, tengkyu Rinaaaa, jadi terharu. Yup semoga makin aware nih orang-orang dengan mental health dan mental illness, dan belajar untuk menahan jarinya di dunia maya ataupun mem-bully di dunia nyata, aamiin.

      Balas
  • 6 Oktober 2019 pada 04:11
    Permalink

    Mengena sekali resensinya mbak. Selain itu, di film joker ini, imho ditunjukkan betapa entah sengaja atau tidak, orang terkadang punya prejudice terhadap sesuatu yang dianggap normal atau wajar (terlihat dari ekspresi ekspresi orang yang menganggap aneh remeh kepada joker) padahal nggak semua orang sama

    Balas
    • 8 Oktober 2019 pada 08:45
      Permalink

      Terima kasih 🙂 Oia bener juga ya. Kadang di dunia ini emang udah kebalik-balik, yang harusnya salah tapi karena banyak yang ngelakuin jadi dianggap wajar. Sebaliknya yang ga salah tapi karena hampir ga pernah terlihat jadi dibilang salah 🙁

      Balas
  • 6 Oktober 2019 pada 09:32
    Permalink

    Woogh, masih dilema mau nonton ke bioskop ato gak, tapi omoshirosou ya buu..

    Balas
    • 8 Oktober 2019 pada 08:50
      Permalink

      Tonton buuuu, haha

      Balas
      • 8 Oktober 2019 pada 14:32
        Permalink

        Ashita mimaaaasu, mumpung lady’s day di sini

        Balas
  • 7 Oktober 2019 pada 17:27
    Permalink

    Kak, udah ntn a Beautiful Mind? Kisah nyata peraih Nobel yang Schizophrenia. Another side of the coin of a person surviving mental illness.

    Balas
    • 8 Oktober 2019 pada 08:52
      Permalink

      Beberapa hari lalu aku lihat di FB temen, ada juga yang nanyain soal film A Beautiful Mind ini Bhella, tapi aku lupa-lupa ingat. Antara udah nonton tapi lupa ceritanya gimana, atau emang belum nonton sama sekali, haha. Tapi bisalah kapan-kapan coba ditonton. Cuma belakangan bingung nyari waktu nonton di rumah, hihi.

      Balas
  • 7 Oktober 2019 pada 18:49
    Permalink

    Aku sudah nonton..

    Hmm, menurutku biasa saja, dalam hal unsur kesadisannya..

    Ya memang ini film anti hero, jadi emang tokoh utamanya ya antagonisnya

    Tapi aktingnya luar biasa

    Pasti film ini akan panen oscar

    Balas
    • 8 Oktober 2019 pada 08:54
      Permalink

      Betul mbak, sadisnya ga terlalu parah sebenarnya, masih banyak film lain yang lebih sadis dan lebih berdarah-darah. Dia “sadis”-nya lebih ke pikiran ya, hehe. Dan “sadis” karena terasa nyata.

      Balas
  • 8 Oktober 2019 pada 06:21
    Permalink

    Kemarin sempat ngobrol sm temen ttg film ini, trus kami mikir jg salah satu effect dr film ini jgn2 bisa normalisasi mental illness utk berbuat kejahatan. Eh baca tulisan mba reisha rasanya jauh lebih menjelaskan dibanding apa yg kupikirkan..

    Balas
    • 8 Oktober 2019 pada 08:56
      Permalink

      Hehe. Iya mbak, banyak ya beredar di medsos bilang orang jahat lahir dari orang baik yang tersakiti dan sejenisnya. Padahal mah sebenarnya itu bisa dicegah asal ada yang peduli ya. Kalau tahu ada yang tersakiti, ya dibantu, jangan dibiarkan sendiri, huhu.

      Balas
  • 9 Oktober 2019 pada 04:02
    Permalink

    SEKADAR MENGINGATKAN!!!

    hahahahaha, ngakak saya kalau baca itu.
    Semacam dewi khayangan turun ke bumi dan berkata SEKADAR MENGINGATKAN.

    Duuhhh, ini mah nyambung banget ama tulisan saya Selasa kemaren hahaha.

    Saya suka sesuatu tentang psikolog, tapi nggak mau nonton ini, saya punya trauma sejak kecil tentang darah, benda tajam dan sebagainya.

    Saya berusaha keras menjauhkan pikiran saya tentang darah dan hal seram sewaktu saya kena baby blues hingga PPD kemaren.

    Saya juga lelah rasanya, lelah memberitahu keluarga dan orang terdekat bahwa depresi itu nyata.

    Saya mungkin bisa sembuh meski masih menyimpan sesuatu, tapi saya jadi wanita yang kurang empati gara-gara semacam dendam berjuang sendiri melawan depresi.

    Duh ya, mengapa saya jadi curcol ya?

    Saya baca reviewnya dan nonton traillernya sekilas, hati langsung merasa lelaaaahhh banget.
    Semacam ada trauma kembali ke masa depresi nyata lalu.

    Lelah sekali beneran loh menanggung beban depresi dan nggak ada yang bisa menyediakan bahu, huhuhu

    Balas
  • 20 Oktober 2019 pada 18:34
    Permalink

    bagus filmnya dan memang sadis, mending tunggu film nya disensor abis2an haha buat yg penasaran

    Balas
  • 2 November 2019 pada 03:45
    Permalink

    Dan abis baca ini ca jadi kepo Sonya Depari itu yg mana di googlw tp cyber bullying is real, malah bs lebih kejam dr bullying di dunia nyata..

    Balas

Leave your comment