Wisata Jabar: Ke The Lodge Maribaya di Saat Ramai? Sebaiknya Jangan…

Jumat, 29 Desember 2017

Kalau browsing tentang The Lodge Maribaya, pastilah yang ditemukan foto-foto di ayunan atau pohon dengan latar perbukitan yang dipenuhi pohon-pohon pinus. Bikin mupeng orang-orang yang selalu pengen kekinian, eaaa.

Tahun lalu kami berkunjung ke The Lodge Maribaya. Saat itu tempatnya masih ngehits banget. Biasanya kami menghindari berkunjung ke tempat-tempat ngehits dan kekinian karena pasti ramai sekali. Tapi karena adik ipar lagi ke Bandung dan pengen ke sana, akhirnya dijabanin deh. Bukan akhir pekan sebenarnya, tapi karena lagi musim libur Natal dan tahun baru jadi pasti ramai juga.

Dari sekian banyak pengalaman kami ke tempat wisata, saat ke The Lodge Maribaya ini sungguh lebih banyak hal yang bikin kesal, terutama buat suami saya yang ga habis pikir kenapa orang mau antre lama buat foto-foto doank, haha. Ga sesederhana itu dink, ntar saya jabarin di bawah ya.

Sumber masalahnya memang karena saat itu ramai sekali dan sistemnya terasa ga nyaman. Kalau ke sana saat sepi kayaknya ga masalah.

Ini emang telat banget saya tulis ceritanya, tapi kalau dulu langsung saya tulis pasti isinya bakal misuh-misuh karena masih emosi, haha. Saya ga tahu juga sih sekarang di sana gimana. Kalau udah ada yang berubah saat ini, tolong dikoreksi aja ya di komentar. 🙂

Emang seburuk itu kah? Ga semua buruk kok pastinya. Yuk mari kita lihat yang baik-baik dulu, hihi.

Hal-Hal yang Menarik di The Lodge Maribaya

The Lodge Maribaya sebenarnya tempat wisata yang menawarkan berbagai aktivitas seperti camping, trekking ke hutan pinus, acara gathering dan team building, penginapan, dll. Sementara untuk foto-foto itu, kita masuk ke tempat yang bernama The Lodge Woodland.

The Lodge Maribaya
Ini gerbang masuknya
The Lodge Maribaya
Tenda camping-nya lucu

Tempat dengan Pemandangan yang Indah

Pemandangan bukit dengan hutan pinus itu memang andalan utama di The Lodge Maribaya. Intinya tempat ini menang di lokasi, hehe.

The Lodge Maribaya
Pinus-pinusnya memang baguuus

Pohon-pohon pinus di bukit itu sungguh tertata rapi sekali, bentuknya seragam, ga ada pohon lain yang nyempil, jadi sungguh enak dipandang. Udara segar dan pemandangan bagus memang bikin rileks.

Wahana Foto Kekinian

Kita bisa foto-foto dengan bukit pinus tadi di banyak tempat, dan bakal lebih kece lagi kalau berfoto dengan wahana-wahana yang tersedia. Apa aja?

  • Sky Tree, seolah berfoto di atas pohon yang tinggi.
  • Zip Bike, berfoto dengan sepeda gantung.
  • Mountain Swing, seolah naik ayunan yang ada di jurang.
  • Gantole, seolah lagi terbang dengan paralayang.
  • Sky Plane, seolah lagi naik pesawat.
  • Hot Air Balloon Hydraulic, seolah lagi terbang dengan balon udara.

Contoh foto-fotonya bisa lihat langsung di website The Lodge Maribaya ya.

Saya waktu itu cuma mencoba berfoto di balon udara dan ayunan. Begini hasil fotonya.

The Lodge Maribaya
Foto dari kamera fotografer
The Lodge Maribaya
Foto dari kamera sendiri

Serem ga sih foto di ayunan atau di pohon itu, kayaknya tinggi banget? Ga serem koook. Sesungguhnya foto-foto itu cuma memanfaatkan sudut pengambilan yang tepat kok. Ga tinggi-tinggi amat, dan saat berfoto pun kita dipasangi alat pengaman, jadi insya Allah aman.

The Lodge Maribaya
Di balik layar Sky Tree

“Shuttle” yang Bekerja Sama dengan Angkot

Lokasi The Lodge Maribaya tidak berada di pinggir jalan raya, tapi masuk lagi sekitar 500 m. Di dekat gerbang masuk sebenarnya ada lahan parkir, tapi sempit. Kalau pengunjung ramai, parkirnya ga bakal muat, jadi pilihannya parkir di lahan yang ada di dekat jalan raya.

Untuk mencapai gerbang masuk, The Lodge Maribaya menyediakan angkot yang bisa dinaiki dengan gratis. Jalan kaki pun bisa, karena sebenarnya ga jauh-jauh amat. Kami saat datang memilih jalan kaki ke sana karena saat itu terlihat ramai sekali dan jalan ke dalam pun rada macet. Tapi saat pulang akhirnya coba naik angkot, udah cape jalan, hehe.

Di pintu angkot ada tulisan “Dengan naik angkot ini, Anda membantu perekonomian rakyat di Maribaya.” Saya langsung merasa ini kerja sama yang bagus sekali. Tahu sendiri lah penumpang angkot saat ini berkurang karena sudah bersaing dengan angkutan online, heuheu.

Hal-Hal yang Tidak Menyenangkan di The Lodge Maribaya

Yuk mari kita bahas kekurangan yang ada yang membuat kunjungan ke sana jadi kurang memuaskan terutama di kala ramai.

Hanya Wisata Foto

Daya tarik utamanya memang wisata foto, tapi yaa, that’s all, gitu doank. Ok, ada camping, trekking, dll. tapi mayoritas pengunjung tentulah ngejar foto-fotonya. Ada tempat makannya juga, tapi kalau kulineran mah bisa di mana aja, hehe.

Tadinya kami mengira selain foto juga ada wahana yang menantang adrenalin atau ala-ala outbond gitu kayak di Dago Dreampark, tapi ternyata ga ada.

Baca juga: Wisata Jabar: Berkunjung ke Dago Dreampark

Mountain Swing tampaknya menantang, kan tinggi? Nope, ga tinggi. Ayunannya digantung pada tiang berbentuk huruf T, kita duduk di ayunan, lalu tiangnya diputar sehingga tampak berayun. Di ayunan itu ga nyampe 1 menit, satu putaran doank, jadi bukan seperti kita main ayunan beneran.

The Lodge Maribaya
Ayunannya cuma setinggi itu kok

Zip Bike gimana? Ya gitu juga. Kita ngayuh bentar doank sampai ke spot untuk berfoto, beres difoto mundur lagi ke tempat awal sambil ditarik petugasnya. Jadi bukan kayuh sepeda dari ujung yang satu ke ujung lainnya.

The Lodge Maribaya
Di balik layar Zip Bike

Harganya Mahal atau Bisa Jadi Sangat Mahal

Sebenarnya kalo wisata foto doank ga apa-apa asal masih ok harganya, tapi di The Lodge Maribaya ini foto-fotonya terasa mahal, heuheu.

Jadi saat kita masuk, kita mesti beli tiket masuk dulu, lupa berapa. Trus kalau mau berfoto di wahana, kita mesti bayar lagi. Harganya bervariasi, harga di hari biasa juga berbeda dengan hari libur, hari libur lebih mahal tentunya. Range-nya sekitar Rp15.000-Rp35.000 per wahana.

The Lodge Maribaya
Tiket untuk wahana Mountain Swing

Di tiap wahana ini ada fotografernya yang bakal jepret kita beberapa kali. Mau foto pakai kamera sendiri juga boleh, tapi kerjain sendiri alias minta tolong teman atau keluarga, ga bisa minta tolong ke fotografernya itu. Dan motretnya juga paling selama kita berada di wahana itu, yang mana bentar banget. Kudu jago motret kalau mau dapat hasil yang kece seperti fotografer di sana.

Cukup segitu? Belum. Kalau mau dapat foto yang difotoin fotografer tadi, kita mesti bayar lagi, Rp10.000 per file foto. Dapetnya file aja ya, ga ada yang dicetak. Transfer file-nya menggunakan aplikasi SHAREit. Jadi kalau mau ambil 10 foto, ya bayarlah Rp100.000. Oleh karena itu saya bilang harganya mahal atau bisa jadi sangat mahal. Bandingkan dengan tempat wisata foto seperti Upside Down World yang tiketnya Rp100.000 tapi kita bisa foto sepuasnya dengan kamera sendiri bahkan dibantuin foto-fotonya oleh petugasnya.

Baca juga: Wisata Jabar: Melawan Gravitasi di Upside Down World Bandung

The Lodge Maribaya
Pilih-pilih foto yang akan ditransfer via SHAREit

Antrean yang Lamaaaaa

OK lah, foto keren dengan background kece itu wajar kalau mahal. Tapi worth kah dibanding dengan antreannya?

Sebagai gambaran kalo lagi ramai itu, waktu beli tiket masuk kita pasti antre. Saat akan masuk, antre lagi. Trus di tiap wahana mesti antre lagi. Nih ya, waktu di Mountain Swing, kami coba menghitung berapa lama sih satu orang berada di ayunan itu? Hasilnya? 30-40 detik aja, bahkan ga sampai 1 menit kan. Sementara saat itu kami ngantre lebih dari setengah jam. Kalau lebih ramai lagi, antreannya bisa dalam hitungan jam. Worth ga tuh? Wkwk.

The Lodge Maribaya
Ramai = manusia di mana-mana

Saking banyaknya yang foto, bahkan satu fotografer sempat curhat kalau dia lelah, haha. Waktu itu saya sedang menunggu antrean di balon udara, mengamati fotografernya buat lihat angle fotonya dari mana. Tiba-tiba dia melihat ke arah saya dan bilang cape, dari pagi ga berhenti-berhenti, hihi.

Belum berhenti di situ, saat mau ambil file fotonya, kita mesti antre lagi. Loket pengambilan foto ini berada di luar, di dekat pintu keluar. Kami waktu itu keluarnya udah agak sore, jadi menumpuk deh tuh orang-orang di sana. Kalau rame ya artinya antre lama lagi. Untuk pengambilan foto ini saya ga paham kenapa ditaruh di satu tempat aja, itu pun di luar. Jadinya saat orang berbarengan keluar, ya di sana pasti numpuk antreannya. Kenapa ga dibikin di dalam aja gitu, kalau perlu disebar di tiap wahana, jadi tiap abis foto, orang bisa langsung pilih foto-fotonya.

The Lodge Maribaya
Antrean di tempat pengambilan foto

Konturnya Bukan untuk Semua Orang

Tempat foto-foto di The Lodge Maribaya ini berada di bukit. Bukan tempat yang datar, jadi kita mesti naik turun tangga. Dari pintu masuk aja kita udah harus turun tangga. Oleh karena itu tempat ini ga cocok buat yang bawa stroller, lansia, serta difabel. Yang bawa stroller bakal disuruh nitipin stroller-nya di dekat pintu masuk, karena ya percuma aja dibawa-bawa, malah merepotkan. Tapi buat yang mau olahraga naik turun tangga dengan view yang segar, go ahead, wkwk.

The Lodge Maribaya
Brace yourself, stairs everywhere

Ada Playground Tapi Jauh di Bawah

Kalau bawa anak kecil pasti senang donk nemu playground yang gratis. Nah di The Lodge Maribaya ini ada. Hanya saja, lokasinya di ujung bawah banget donk, fyuh. Jadi kalau mau ke sana ya mesti turun jauuh banget. Turun sih biasanya ga masalah ya, naiknya yang bikin gempor, apalagi kalau mesti gendong anak, haha. Kenapa ya ditaruhnya di bawah situ? Dugaan saya sih karena di situ udah ga bisa lagi dipakai buat wahana foto dengan background bukit pinus itu, sementara di bagian atas ya bagusnya untuk wahana foto.

The Lodge Maribaya
Playground nun jauh di ujung bawah

Demikian pengalaman saya ke The Lodge Maribaya. Intinya menurut saya sungguh ga worth ke The Lodge Maribaya di hari libur apalagi kalau sedang musim liburan. Mending ke sana di hari biasa aja, di saat pengunjungnya tidak begitu banyak atau malah sepi.

The Lodge Maribaya
Kalau ramai, foto tanpa photobomber pun susah

Tapi kalau cuma punya waktu di hari libur dan pengen banget foto-foto di sana gimana donk? Bisa pertimbangkan beberapa catatan berikut supaya lebih puas di sana.

  • Datanglah ke The Lodge Maribaya pagi-pagi sekali, kalau perlu sebelum tempatnya dibuka. Pagi-pagi biasanya masih sepi, jadi ga gitu antre. Pun fotografernya masih fresh, hihi. Lebih cepat beres, artinya lebih cepat bisa keluar juga, dan antrean di tempat pengambilan foto pun mungkin tidak ramai.
  • Kalau ga bisa pagi, fotografer yang ngobrol dengan saya di balon udara itu juga merekomendasikan sore hari menjelang tempatnya tutup. Katanya menjelang tutup orang-orang udah pada mau balik, jadi wahananya udah mulai sepi. Tapi sepengamatan saya, kalau sore itu posisi matahari berada di arah bukit, jadi mungkin rada backlight fotonya. Mungkin sih ini.
  • Fotografernya juga menyarankan kalau misalkan mau foto di semua wahana, beli dulu aja semua tiketnya, nanti tinggal lihat-lihat, pilih dulu mana yang lagi sepi, jadi lebih hemat waktu antre. Tapi ini tricky sih dan bisa bikin gempor, karena antar wahana itu mesti naik turun tangga.
  • Lebih baik ke sana bukan di musim hujan. Kalau musim hujan, pastikan bawa payung atau jas hujan karena tempatnya kebanyakan outdoor. Dan saat hujan, wahana fotonya tutup dulu, mesti tunggu hujan reda.
  • Sebelum ke sana, install dulu aplikasi SHAREit biar ga rempong ntar saat mau ambil foto. Waktu itu saya ga tahu kalau harus pakai aplikasi itu dan saya ga install. Untungnya di HP adik ipar saya ada.
  • Kalau mau lebih hemat dan lebih puas foto-foto, cari deh keluarga atau teman yang jago foto, minta dia yang fotoin, wkwk. Jadi cuma perlu bayar tiket wahananya, ga perlu bayar lagi untuk ambil file foto.
  • Katanya tiap akhir pekan ada agenda budaya pentas sendratari Sangkuriang. Well, ini bisa jadi nilai plus ke sana saat weekend.
  • Kalau bawa bayi atau toddler dan terbiasa bawa stroller, simpan aja stroller-nya, mending bawa gendongan. Trus jangan bawa terlalu banyak barang biar ga berat bawaan saat naik turun tangga. Kita juga ga boleh bawa makanan dari luar, jadi ga usah bawa bekal, heuheu.
  • Sebelum masuk ada tempat penitipan barang, tapi mending ga usah nitip apa-apa di sana. Lokasinya lumayan jauh dari pintu keluar, jadi kalau udah keluar dan mesti ambil barang tadi, ya lumayan mesti jalan lagi, heuheu.

Sekian cerita kali ini. Ada yang ke sana baru-baru ini? Share ya kalau ada yang udah berbeda dibanding yang saya tulis, hehe.

Salam,

signature

12 tanggapan untuk “Wisata Jabar: Ke The Lodge Maribaya di Saat Ramai? Sebaiknya Jangan…

  • 5 November 2018 pada 13:10
    Permalink

    Masih belum tertarik datang ke suatu wahana untuk sekedar foto-foto. Tapi Bandung ini memang hebat. Segala bisa dijual dan peminatnya banyak.

    Balas
    • 5 November 2018 pada 23:06
      Permalink

      Saat ini gampang banget ya teh menarik orang untuk datang. Tinggal bikin tempat yang instagramable buat foto-foto, insya Allah ramai, haha.

      Balas
  • 5 November 2018 pada 22:49
    Permalink

    Ooh disini toh tempat yang Instagrammable itu..

    Balas
    • 5 November 2018 pada 22:50
      Permalink

      Salah satunya, wkwk. Di Bandung tipe tempat wisata yang baru2 gitu semua, wisata foto atau selfie dan instagramable. Bosan juga lama-lama, hihi.

      Balas
  • 6 November 2018 pada 15:29
    Permalink

    Terakhir saya ke Bandung, belum banyak spot2 foto yang bagus kaya the lodge maribaya. Sekarang banyak banget ya mba termasuk the lodge ini. Udaranya masih sejuk ngga mba di situ?

    Balas
    • 7 November 2018 pada 12:58
      Permalink

      Iya mbaak, sekarang di Bandung banyak banget tempat wisata foto. Kalau di daerah perbukitan sih masih sejuk udaranya, tapi kalau di kota Bandung udah ga sesejuk dulu lagi, hehe.

      Balas
  • 7 November 2018 pada 05:35
    Permalink

    Tahun lalu saya mau ke sini, Mbak. Tapi nggak keburu waktunya. Akhirnya cuma ke Farm House aja. Alhamdulillah nggak keburu kalau baca reviewnya mbak.

    Balas
    • 7 November 2018 pada 13:00
      Permalink

      Alhamdulillah mbaaak. Kalau keburu tapi di sana ga ngapa-ngapain berasa buang-buang waktu aja ya, hehe.

      Balas
  • 7 November 2018 pada 16:41
    Permalink

    Wah ketahuan behind the scene-nya,, ternyata ilusi angle pengambilan gambar doang ya mbak.
    Kalo mau nyobain giant swing beneran dengan harga yang lumayan murah ke Jogja aja mbak,, ke area Kulon Progo,, beneran berayun-ayun di atas jurang.

    Balas
    • 7 November 2018 pada 17:55
      Permalink

      Hihi. Tapi kalo beneran ayunan di jurang saya ga berani juga sih, wkwk.

      Balas
  • 8 November 2018 pada 12:29
    Permalink

    Saya ke sini tahun lalu, pas weekday. Bener, nih tempat jauh lebih menyenangkan kalo dikunjungin weekday karena populasi pengunjungnya nggak overcrowded. Turis-turis dari luar Bandung seneng banget masuk sini, karena mereka suka lihat pesona foto berlatar pegunungan hijaunya itu kan.

    Cuman sialnya, saya dateng pas musim ujan. Adeeuuhh.. beneran itu saya jadi gak khusyu menikmati wahana ayunannya. Mana berat kalo bawa payung, hahahhaa.. soalnya jalanannya nanjak-nanjak gitu kan.

    Tapi ya mending lah wisata beginian terasa keuntungannya bagi warga lokal di Maribaya. Sebab jaman belum ada The Lodge ini, kawasan ini rasa susah ngerawatnya..

    Balas
    • 8 November 2018 pada 12:31
      Permalink

      Betul mbaaak, kalo ga rame masih enak. Saya waktu itu juga sempat kena ujan, lagi ngantre ayunan tiba2 ujan dan ditutup sementara, untung aja ujannya ga lama.

      Balas

Leave your comment