Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga Itu Seperti Apa?

Tulisan kali ini adalah misi keempat dari kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #8 yang saya ikuti. Misi kali ini bisa dibilang subjektif sekali karena sangat tergantung pada diri dan keluarga masing-masing.

Misi 4: Pencarian Makna

Setelah rehat sejenak minggu lalu untuk mengalirkan rasa, kali ini kami mulai menyelam. Para widyaiswara mengenalkan apa makna Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga menurut mereka masing-masing. Jawabannya sangat beragam, menurut saya tidak ada yang paling benar, tidak ada yang salah, karena setiap keluarga itu unik dan tidak bisa disamakan. 

Berbagai tanggapan muncul dari peserta matrikulasi, menambah keberagaman makna Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga. Saya kira setelahnya masih bakal ada materi lain yang dibahas atau didiskusikan, eh ternyata langsung dikasih misi berikutnya.

“Wuhuuuu kini kita akan MENYELAM!”

Di misi kali ini saya jadi merasa kata “menyelam” ini ga sebatas istilah dalam matrikulasi saja. Kali ini rasanya saya memang diminta menyelam ke dalam diri dan keluarga sendiri, merenungkan apa makna dan ingin jadi Ibu Profesional seperti apakah saya.

Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga itu menurut saya seperti yang terangkum pada gambar berikut.

Seorang perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak mempunyai banyak peran yang harus dijalankan sekaligus. Punya titel “ibu”, tapi peran kita tidak hanya sebagai ibu. Rumit memang ya hidup orang dewasa itu #eh.

Ibu adalah seorang hamba Allah yang setiap hari wajib menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Berusaha jadi hamba-Nya yang lebih baik, berusaha terus mendekatkan diri kepada-Nya, berusaha agar selalu mendapat keberkahan dari-Nya.

Ibu adalah seorang istri, yang tugas utamanya menaati, melayani, dan mendampingi suami. Berusaha mendaapatkan ridha suami, juga bekerja sama dengan suami mewujudkan kehidupan pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Ibu adalah seorang ibu bagi anak-anaknya, yang bisa mengasuh, mendidik, dan membawa kebahagiaan pada anak-anaknya. Yang padanya anak bisa merasakan ketenangan, keteduhan, dan kenyamanan di dalam keluarga.

Ibu adalah seorang anak juga, yang masih harus berbakti pada kedua orang tuanya. Walau suami harus lebih didahulukan ketimbang orang tuanya, bukan berarti orang tua dilupakan.

Ibu adalah seorang makhluk sosial, yang memiliki peran beragam di dalam masyarakat. Ada yang bekerja di ranah publik, ada yang jadi bagian dari komunitas, ada yang jadi bagian dari warga di lingkungan sekitarnya, dan sebagainya.

Tapi juga jangan sampai lupa, bahwa ibu juga adalah dirinya sendiri, individu, terlepas dari semua peran yang dia punya. Bahwa ibu juga perlu waktu dengan dirinya sendiri, menjadi dirinya sendiri.

Dengan banyaknya peran seorang ibu itu, maka Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga itu menurut saya adalah ibu yang bisa menjalankan semua perannya secara seimbang, mulai dari sebagai hamba Allah, istri, ibu, anak, hingga makhluk sosial, juga sebagai dirinya sendiri. 

Seimbang bukan berarti menjalankan semua peran itu dalam porsi yang sama besarnya, tapi ibu bisa menyusun prioritas dan membagi porsinya sesuai situasi dan kondisinya.

Seorang ibu bukanlah superwoman. Oleh karena itu, tidak perlu memaksa diri untuk menjadi sempurna dan membandingkannya dengan ibu-ibu lain dalam semua peran itu. Cukuplah menjadi versi terbaik dirinya dan bisa memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Dan ini bisa dicapai dengan cara terus belajar dan mengembangkan diri.

Saat ini saya masih banyak salah dan kurangnya dalam setiap peran yang saya jalankan. Oleh karena itu, melalui perkuliahan di Institut Ibu Profesional ini saya harap saya bisa belajar banyak dan bisa menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga bagi keluarga kecil saya ini. Aamiin.

#navigasidanberaksi
#matrikulasibatch8
#institutibuprofesional
#belajardarirumah

Salam,

Reisha Humaira

Leave your comment

%d blogger menyukai ini: