Pembatasan Kegiatan Ramadhan di New Zealand Selama Pandemi COVID-19

Tidak terasa 10 hari pertama Ramadhan sudah berlalu. Tahun ini rasanya seluruh muslim di dunia pasti merasakan suasana Ramadhan yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Keberadaan COVID-19 ini memang sudah mengubah segala aspek kehidupan kita, termasuk Ramadhan. 

Hari pertama puasa di New Zealand jatuh pada tanggal 25 April, telat sehari dibanding di Indonesia. Saat itu New Zealand masih berada pada alert level 4. Tanggal 28 April kami sudah turun ke alert level 3. Senin depan baru akan diputuskan apakah New Zealand akan memperpanjang masa alert level 3-nya atau turun ke alert level 2.

Tiap alert level ini memiliki pembatasan yang berbeda. Seperti apa jadinya suasana Ramadhan di New Zealand hingga saat ini?

Tidak Ada Shalat Berjamaah di Masjid

Pada alert level 3 dan 4, semua tempat ibadah ditutup, termasuk masjid. Masjid tutup, otomatis tidak ada shalat berjamaah di masjid, termasuk shalat Jumat dan shalat Tarawih.

Di level 3, pengurus masjid diperbolehkan masuk ke dalam masjid kalau mau ngadain ceramah online misalnya. Tapi dibatasi hanya mereka aja. Jamaah lainnya tetap di rumah aja, shalat berjamaah dengan keluarga masing-masing aja.

Setahu saya, umat muslim di New Zealand patuh dan tunduk pada aturan yang sudah ditetapkan pemerintah. Jadi ga ada deh tuh orang-orang yang kekeuh mau ngadain shalat berjamaah di masjid seperti halnya di Indonesia. Padahal kasus COVID-19 di sini mah lebih rendah daripada di Indonesia. Yaa mungkin karena posisinya minoritas juga ya, mana bisa ngeyel, hehe. Bedalah sama negara yang muslimnya mayoritas, ehehe.

Tidak Ada Buka Puasa Bersama

Di alert level 4, tidak boleh ada yang berkumpul dan mengadakan acara dengan orang lain. 

Di level 3, boleh ada acara yang melibatkan maksimal 10 orang, tapi dibatasi hanya untuk upacara pernikahan (tanpa resepsi) dan pemakaman. Jadi acara buka puasa bersama seperti dulu-dulu tidak boleh lagi dilaksanakan. Mau buka bareng temen walau ga sampai 10 orang, selama beda bubble-nya ya tetap tidak boleh.

Acara buka puasa bersama ini tentunya jadi hal yang ngangenin buat kita semua. Apalagi di sini, biasanya tiap weekend itu ada acara buka bareng yang diadakan HUMIA (Himpunan Umat Muslim Indonesia di Auckland). Itu kesempatan banget deh untuk silaturrahim dengan orang-orang Indonesia di Auckland, plus makan gratis masakan khas Indonesia, heuheu.

Baca juga: Sekilas Ramadhan 1440 H (2019) di Auckland

Distribusi Iftar Online

Tidak ada buka puasa bersama, tidak menutup kesempatan orang untuk memberikan makanan kepada yang berpuasa. Ramadhan tahun ini pak suami dapat info bahwa ada yang ngasih iftar gratis, tapi kudu isi form dulu. Kami pun mencoba mengisi form tersebut dan dikirimi email untuk kupon pengambilan makanannya. Makanan iftar tersebut bisa diambil di sebuah restoran Arab. 

Menarik juga ini konsepnya. Dan ini memang dimungkinkan di alert level 3 karena restoran sudah mulai boleh dibuka tapi tetap harus melaksanakan physical distancing.

Baca juga: Penerapan Physical Distancing Saat Pandemi COVID-19 di New Zealand

Oia dengan bukanya restoran kembali di alert level 3, akhirnya kami punya kesempatan untuk beli makanan di luar lagi, hehe. Sebelumnya selama lockdown, tidak ada restoran yang buka, sehingga saya harus selalu masak setiap hari, hehe.

Bagaimana nanti jika New Zealand sudah turun ke alert level 2? Tentu bakal lebih banyak kelonggaran. Hanya saja seperti apa batasannya nanti, mesti tunggu pengumuman dari pemerintah New Zealand lagi.

Sebenarnya ketika pemerintah mengumumkan 4 level alert system ini, sudah ada panduannya tiap level pembatasannya seperti apa. Namun demikian, pemerintahnya juga akan mempertimbangkan situasi dan kondisi terkini terkait COVID-19 di New Zealand, jadi bisa saja ada batasan yang berbeda dibanding apa yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Dulu ketika alert level 2 sebelum lockdown, acara indoor dengan melibatkan peserta maksimal 100 orang masih diperbolehkan. Jika saat Ramadhan ini New Zealand sempat turun ke level 2, apakah shalat tarawih bisa diadakan lagi? Mungkin bisa yaa. Dulu itu shalat Jumat masih boleh diadakan, tapi di dalam masjid tidak boleh lebih dari 100 orang dana saf shalatnya berjarak 1 meter kiri-kanan depan-belakang antara tiap orang.

Begitulah sekilas suasana Ramadhan di New Zealand di tengah pandemi COVID-19 ini. Semoga pandemi ini segera berakhir sehingga kita bisa kumpul sama-sama dan bisa beribadah di masjid lagi, aamiin.

Salam,

Reisha Humaira

2 tanggapan untuk “Pembatasan Kegiatan Ramadhan di New Zealand Selama Pandemi COVID-19

  • 5 Mei 2020 pada 11:32
    Permalink

    Dengan baca postingan blog meski di indonesia mendapatkan wawasan juga diluar sana new zealand seperti apa dalam penanganan covid-19

    Balas
    • 5 Mei 2020 pada 23:30
      Permalink

      Hehe iya betul mas. Saya pun dapat update kondisi Indonesia seperti apa kadang juga dari blog. Ada hal berbeda yang disajikan di blog dibanding media mainstream.

      Balas

Leave your comment

%d blogger menyukai ini: