Tantangan Hidup dan Karakter Moral Ibu Profesional

Tulisan kali ini adalah misi keenam dari kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #8 yang saya ikuti. Misi kali ini ditulis berdasarkan pengalaman masing-masing dalam menjalani proses kehidupan dan kaitannya dengan karakter moral Ibu Profesional.

Misi 6: Karakter Moral

Setelah misi kelima bulan lalu, kelas Matrikulasi IIP libur Lebaran dulu. Minggu ini akhirnya kelas Matrikulasi IIP batch #8 dilanjutkan kembali. Minggu ini para widyaiswara berbagi tentang karakter moral Ibu Profesional.

Apa saja karakter moral Ibu Profesional? 

  • Never stop running, the mission alive.
    Ibu profesional tidak akan pernah berhenti menjalankan misi dan tugasnya. Kita sama-sama tuntaskan misi itu. Misi itu selalu hidup.
  • Don’t teach me, I love to learn.
    Tidak saling mengajari, tapi senang belajar. Tidak akan berhenti mencari ilmu, punya rasa ingin tahu yang luar biasa, untuk bisa meningkatkan kualitas dirinya.
  • I know I can be better. Kita yakin akan lebih baik dari hari ke hari. Kita tidak membandingkan diri kita dengan perempuan lain, tapi dengan diri kita yang lalu.
  • Always on time.
    Selalu menghargai waktu, mulai dari diri sendiri, bukan menyuruh orang lain. Malu jika terlambat.
  • Sharing is caring.
    Knowing → being → sharing. Selalu berbagi, senang melihat teman lain sukses. Punya ilmu tidak untuk diri sendiri, tapi untuk dibagikan. Praktikkan dulu, baru dibagikan.

Para widyaiswara bercerita tentang tantangan yang pernah mereka hadapi, baik dalam proses pengembangan diri sendiri maupun dalam proses pengasuhan anak. Cerita juga dilengkapi dengan bagaimana cara mereka mengatasi tantangan tersebut dengan karakter moral Ibu Profesional. Ternyata karakter moral bisa jadi kekuatan dan solusi untuk menghadapi tantangan ya.

Keren-keren deh ceritanya, dan dari situ makin kerasa deh bahwa tiap ibu itu punya tantangannya masing-masing. Hal-hal yang biasa buat kita, bisa jadi menantang sekali buat orang lain. Dan sebaliknya, hal yang mudah buat orang lain, bisa jadi sulit sekali buat kita.

Kami pun diberi tugas, lagi-lagi menyelam ke dalam diri sendiri untuk menemukan tantangan dan solusi dalam menjalani proses kehidupan.

Belajar dari Pengalaman

Saya teringat beberapa pengalaman terdahulu dan ternyata dalam proses mengatasi tantangan di dalamnya, saya sudah menerapkan karakter moral yang ada pada Ibu Profesional.

Ibu Baru & I Love to Learn

Menjadi ibu baru adalah fase yang rasanya sangat campur aduk buat saya. Merasa senang, bingung, tertantang, tapi juga kadang sedih. 

Sebagai ibu baru, jelas saya belum ada pengalaman sama sekali dalam mengurus bayi. Tapi saya rasanya sudah punya sedikit bekal dari buku dan artikel yang saya baca. Ketika berada di antara para ibu lain yang sudah berpengalaman, seringkali saya merasa dijejali berbagai info, nasihat, bahkan keharusan untuk begini dan begitu terkait ASI dan bagaimana mengurus bayi yang baru lahir. Padahal tidak jarang apa yang disebutkan itu bercampur dengan mitos. Bukankah mitos itu tidak perlu saya ikuti?

Di satu titik ingin rasanya saya sendiri saja, tidak perlu mendengar terlalu banyak info yang disampaikan dengan cara menggurui seperti itu. Bukannya antusias, saya malah jadi antipati. Bukannya saya tidak mau belajar, tapi saya hanya tidak suka dengan cara penyampaian tertentu dan lebih suka hal yang memang ada landasan ilmiahnya.

Dari pengalaman ini saya menyadari bahwa saya senang kok belajar, tapi saya lebih suka belajar atau berdiskusi dengan yang lebih ahli, yang bisa membedakan mana mitos dan mana fakta. Saya lebih suka mencari tahu sendiri, membaca dari sumber-sumber terpercaya, ketimbang digurui. Dan ketika saya memang butuh tahu berdasarkan pengalaman para ibu yang lebih “senior”, saya akan menanyakannya sesuai kebutuhan saya. 

Jadi ketika mengetahui karakter Ibu Profesional, don’t teach me, I love to learn, kok ya rasanya cocok banget.

Menulis & Sharing is Caring

Selama proses belajar menjadi ibu, biasanya saya baca dari buku serta artikel di media, termasuk blog. Buku dan artikel dari media/sumber yang bisa dipercaya biasanya memberikan teori dan penjelasan terkait suatu hal. Sementara dari tulisan-tulisan orang di blog, saya jadi banyak tahu bagaimana penerapan dari teori tersebut.

Dulu saya gagal memberikan ASI eksklusif pada anak saya, dan rasanya ini jadi masalah yang berat sekali buat saya di masa awal saya jadi ibu. Baca buku dan teori tentang produksi ASI tidak bisa membantu, terutama untuk urusan mental sih. Ya gimana ga down, orang-orang pada share bagaimana mereka berhasil memberikan ASI eksklusif, walau bekerja sekalipun. Sementara saya yang ibu rumah tangga pada saat itu, kok malah gagal ASI eksklusif. Belum lagi omongan orang-orang di sekitar saya.

Saya merasa malu saat itu untuk bertanya kepada orang lain, untunglah ada Google yang bisa jadi tempat bertanya. Saya cari pengalaman ibu-ibu lain yang juga gagal ASI eksklusif. Saat itu tidak banyak yang bisa saya temukan tulisannya, tapi dari yang ada aja rasanya udah membantu menguatkan saya. Bahwa saya ga sendirian, bahwa di luar sana banyak juga lho yang menghadapi masalah yang sama.

Pengalaman ini juga yang makin mendorong saya untuk terus menulis dan berbagi di blog ini. Saya pernah merasa terbantu sekali membaca cerita dan pengalaman orang lain. Jadi saya juga ingin berbagi pada orang lain karena sharing is caring.

Pada karakter moral Ibu Profesional, sebelum berbagi, kita harus praktikkan terlebih dahulu. Jadi bukan sekadar tahu lalu sharing. Dan lagi-lagi ini cocok dengan apa yang saya lakukan selama ini. Saya pernah mencoba menulis hal yang saya tahu tapi belum saya praktikkan, dan hasilnya memang berbeda sekali rasanya. Ketika dibaca lagi, terasa dangkal. Yaa bisa aja mungkin saya ngarang, tapi kan saya bukan lagi nulis cerita fiksi, hehe.

Tantangan dan Solusi ke Depan

Saya sadar betul saya masih banyak kekurangan, belum memiliki semua karakter moral Ibu Profesional tersebut. Tapi saya paham bahwa karakter moral itu bisa digunakan sebagai kekuatan untuk menghadapi tantangan ke depan. 

Beberapa hal yang menantang buat saya ke depannya antara lain:

  • Manajemen waktu. Ini tu masih parah banget, huhu. Saya masih belum bisa mengatur waktu saya dengan baik sehingga banyak hal yang tidak tercapai sesuai target. Solusinya jelas dengan karakter always on time.
  • Upgrade diri. Masih banyak hal yang ingin saya perbaiki, baik terkait diri saya sendiri ataupun terkait peran saya sebagai istri dan ibu. Solusinya saya mesti terus belajar, tidak perlu merasa minder dan malu, karena I know I can be better.

Begitulah kisah saya. Hidup memang bakal terus penuh tantangan, tapi setiap tantangan pasti ada solusinya yaa. Allah pun sudah bilang bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Semangat!!

#navigasidanberaksi
#matrikulasibatch8
#institutibuprofesional
#belajardarirumah

Salam,

Reisha Humaira

Leave your comment

%d blogger menyukai ini: