IMD Abal-Abal

Obrolan dengan teman beberapa hari lalu melayangkan ingatan saya kembali ke masa sesaat setelah persalinan Akas, yakni saat Akas tidak dapat IMD sebagaimana yang saya tahu. Sepengetahuan saya, IMD itu dilakukan selama minimal 1 jam, lama memang. Bayi diletakkan di dada ibu lalu dibiarkan sendiri mengenal dunia barunya dan mencoba menyusu, namanya juga inisiasi menyusu dini. Saat IMD, mungkin bayi tidak sampai benar-benar menyusu. Tapi paling tidak sudah ada usaha si bayi ke arah itu. Jika kondisi ibu dan bayi baik, IMD dilakukan langsung setelah bayi keluar dari rahim ibu, sebelum si bayi dibersihkan. Katanya aroma puting susu ibu itu mirip dengan aroma ketuban, jadi dengan kondisi bayi belum dibersihkan, bayi akan terbantu dalam proses IMD. OK, itu yang saya tau. CMIIW.

Saat hamil Akas dulu, tentu saja saya mendambakan IMD yang seperti itu. Tapi pelaksanaan IMD juga ditentukan oleh faktor petugas kesehatan dan prosedur di tempat melahirkan.

Setelah memutuskan untuk melahirkan di Bukittinggi, saya sadar betul fasilitas kesehatan di Bukittinggi ga sebagus di kota-kota besar. Ditambah pula, dari obrolan saya dengan teman SMA yang sekarang dokter, rumah sakit di Bukittinggi katanya belum ada yang support IMD. Tapi coba aja tanya ke dokter kandungannya, kata teman saya itu.

Saat kontrol kandungan, saya pernah menanyakan ke dokter apakah nanti saya bisa IMD. Saat itu dokternya menjawab kira-kira begini: “Itu bisa diatur nanti lah kalau dah lahiran. Ini bayinya aja belum mau keluar kok dah mikirin itu. Nanti aja.” Hmm. Yah, at least saya udah usaha mengutarakan keinginan saya.

Saat melahirkan, rupanya saya tidak jadi dibantu oleh dokter kandungan yang sudah saya pilih. Akhirnya saya dibantu oleh bidan. Dari sini saya makin nurunin ekspektasi soal IMD.

Setelah lahiran, alhamdulillah kondisi Akas dan saya baik, jadi menurut saya memungkinkan banget untuk IMD. Tapi yang terjadi adalah, setelah Akas keluar dari rahim saya, Akas langsung ditaruh di dada saya dan mulutnya ditaruh langsung dekat puting susu biar kalau bisa langsung nyusu. Boro-boro nyusu, yang ada saat itu Akas bengong lihat-lihat sekitar.

Setelah beberapa menit, Akas masih bengong aja, belum kelihatan tanda-tanda mau nyusu. Saya pun juga ga menikmati masa-masa Akas di dada saya untuk pertama kalinya ini, karena saat itu saya dijahit tanpa dibius. Perihnya minta ampun.

Belum beres saya dijahit, Akas udah diangkat dari dada saya. Kata bidannya udahan, saatnya Akas dibersihin lalu diukur panjang dan beratnya. Lagian dingin juga katanya karena Akas lahir tengah malam. Huft. Padahal setau saya skin-to-skin contact ibu dan bayi itu udah mampu menghangatkan bayi. Tinggal kasih selimut aja untuk lebih menghangatkan.

Akas cuma beberapa menit ditaruh di dada saya, dan belum ada tanda-tanda akan menyusu. Makanya saya bilang IMD abal-abal :|. Mau request IMD lebih lama asa ga yakin, paling ga dibolehin karena prosedur rumah sakitnya begitu.

Setelah Akas diukur dan dibersihkan, Akas dibedong dan langsung dibawa ke ruang perinatologi. Selanjutnya saya ga tau nasib Akas di sana gimana *halah*.

Selama Akas difototerapi saat kuning, saya banyak mangkal di ruang perinatologi. Sedikit banyak saya jadi tau seperti apa penanganan terhadap bayi baru lahir di rumah sakit tempat saya melahirkan itu.

Begini hasil pengamatan saya.

Bayi yang baru lahir akan langsung dibawa ke ruang perinatologi dan dimasukkan ke dalam inkubator. Jika kondisi bayi kurang baik, bayi akan langsung ditangani oleh perawat serta dokter jika diperlukan. Kebanyakan sih perawat yang ngurus kalau ga parah banget, sambil koordinasi dengan dokter via telepon.

Jika kondisi bayi bagus, bayi akan dibiarkan saja di dalam inkubator sampai dokter anak mengecek kondisi bayi. Kalau bayi menangis dibiarkan saja. Kalau bayi lapar, bayi tidak akan diberi susu formula, lagipula teorinya bayi baru lahir bisa bertahan tanpa asupan sampai sekitar 3 hari. Jam 8 pagi adalah jadwal perawat memandikan semua bayi di ruang perinatologi. Dokter anak baru mengecek kondisi bayi saat visite ke ruang perinatologi. Setelah dicek dokter anak dan dokter menyatakan kondisi bayi baik, barulah bayi diperbolehkan rawat gabung dengan ibu.

Di sini nih ga enaknya kalau bayinya lahir pada malam hari. Dokter anak itu baru visite paling cepat pagi, bahkan ada yang baru datang siang atau sore. Jadi kalau bayi lahir malam, bayinya lebih lama berada di ruang perinatologi menunggu dicek dokter. Alhasil makin lama waktu terbuang sampai bayi bisa disusui ibu, hiks. Padahal setau saya lebih cepat bayi menyusu lebih baik. Dan kondisi Akas waktu itu, pagi hari setelah lahir, Akas muntah sehingga lambungnya mesti dikosongkan dulu dan saya mesti menunggu lebih lama lagi hingga diperbolehkan menyusui Akas :(.

Dulu memang ada yang mengingatkan saya sebaiknya memilih lahiran di tempat lain aja, karena pengalaman dia, anaknya lahir malam dan baru bisa menyusu siang harinya. Saat itu saya ga begitu paham masalahnya apa, baru saya pahami setelah berhari-hari mengamati suasana ruang perinatologi.

Kita ga bisa mengubah masa lalu. Kejadian IMD abal-abal pada Akas ini cukup jadi pelajaran buat saya, semoga tidak terulang buat adik Akas suatu hari nanti, entah kapan :D. Pelajaran untuk memilih RS yang support IMD serta mencari info sebanyak-banyaknya bagaimana prosedur IMD di RS tersebut dan bagaimana penanganan bayi yang baru lahir hingga boleh rooming in dengan ibu.

Salam,

Reisha Humaira

One thought on “IMD Abal-Abal

  • 23 Mei 2019 pada 11:56
    Permalink

    Pas aku lahiran juga IMD abal-abal mba huhu, cuma paling berapa menit dan diangkat pas aku dijait. Meskipun alhamdulillah ga berpengaruh sama kemampuan menyusui bayiku tapi tetep kau keshel karna pengen skin to skin lebih lama sama bayiku

    Balas

Leave your comment