Wisata Jateng: Hari Kedua di Dieng Plateau

Jumat, 24 Januari 2014

Hari kedua di Dieng, tujuan utama kami adalah ke Bukit Sikunir dan Telaga Warna, sisanya terserah pihak tour mau bawa ke mana. Sayangnya cuaca kurang bersahabat, seharian mendung dan berkabut. Lesson learned, kalau ke Dieng sebaiknya jangan di musim hujan.

Berikut rute perjalanan kami di Dieng di hari kedua.

Baca juga:Β Wisata Jateng: Hari Pertama di Dieng Plateau

Bukit Sikunir

Mengejar golden sunrise di Bukit Sikunir tampaknya sudah jadi menu wajib kalau jalan-jalan ke Dieng. Semburat warna oranye di ufuk timur dilengkapi dengan siluet Gn. Sindoro, diikuti siluet Gn. Merbabu, Gn. Sumbing, dan Gn. Merapi pasti jadi view yang masya Allah sekali.

Ini difoto setelah turun bukit dink

Dari homestay di Wonosobo, kami berangkat menuju Desa Sembungan (desa tertinggi di Pulau Jawa). Kami sampai di sana sekitar jam 4 pagi lalu menunggu waktu subuh. Saya ga nyangka udaranya sedingin itu. Dulu dalam bayangan saya dinginnya bakal kayak di Lembang aja, dan di Lembang saya udah pernah ngerasain semalaman di udara terbuka (jaman pelantikan himpunan atau unit mahasiswa :P), jadi santai lah. Tapi ternyata jauh lebih dingin dari itu, heuu. Tau gitu sekalian saya pakai perlengkapan winter yang saya punya.

Seusai shalat subuh, kami mulai mendaki Bukit Sikunir. Jalur pendakiannya ga gitu susah sebenarnya, cuma mesti hati-hati karena agak licin. Pendakiannya sekitar 30 menit saja, tapi sukses bikin saya ngos-ngosan juga *dasar malas olahraga :P*. Saya iri dengan si mbak guide yang lincah dan ga ngos-ngosan sedikitpun, huhu.

Kabutnya tebal, heuu

Di puncak tempat melihat sunrise sudah cukup ramai. Ada bapak-bapak yang jualan pop mie juga di sana, menggoda banget. πŸ˜› Hanya saja cuaca lagi ga bagus saat itu, berkabut dan berawan, hiks. Udah nunggu sambil berdoa, si golden sunrise itu tetap ga kelihatan. Udah lewat jam matahari terbit pun masih berkabut aja. Ya sudah lah ya.

Kabutnya ga ilang-ilang
View terbaik saat sunrise yang kami dapat
Matahari udah meninggi, tapi masih berkabut

Kami memang baru nyadar belakangan efeknya ga survey cuaca dulu sebelum ke sana. Januari itu musim hujan, jadi wajar kemungkinan berkabutnya lebih besar. Mestinya ke Dieng itu di musim kemarau, tapi siap-siap suhunya lebih dingin, katanya paling rendah bisa mencapai 0Β°C. Pelajaran deh untuk jalan-jalan berikutnya. πŸ˜€

Telaga Warna

Dari Bukit Sikunir kami dibawa ke Telaga Warna, salah satu spot yang juga terkenal sekali di Dieng. Di sana waktu itu sepi banget, mungkin karena masih pagi juga. Tapi enak sih jadinya, lebih leluasa foto-foto tanpa ada photobomber, hehe.

Sepi, bebas foto-foto
Dari pinggir Telaga Warna

Telaga Warna yang airnya kehijauan mengingatkan pada Kawah Putih. Sayangnya langit masih mendung, jadi ga gitu keluar warna hijaunya. Kami pun sebentar banget di sana.

Air telaganya berwarna kehijauan
Ini lebih kelihatan hijaunya

Bukit Sidengkeng

Usai Telaga Warna, kami diajak ke Bukit Sidengkeng, tempat di mana kita bisa melihat view Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari ketinggian. Namanya bukit, artinya kudu mendaki lagi, huhu. Belum hilang pegelnya mendaki Bukit Sikunir, sekarang lanjut mendaki lagi. Tapi demi view kece ga apa-apa deh. Sisi Bukit Sidengkeng ini lebih dekat ke Telaga Warna, jadi Telaga Pengilon kelihatan kecil.

View dari Bukit Sidengkeng
Sesungguhnya kaki saya mulai pegal

Setelah Bukit Sidengkeng, kami dibawa ke bukit lain (lupa namanya apa) yang juga merupakan spot untuk melihat kedua telaga dari ketinggian. Mendaki lagiii, fufufu. Sisi bukit kali ini lebih dekat ke Telaga Pengilon.

View dari bukit berikutnya

Sayang sekali memang langit mendung bikin warna kedua telaga ini ga terlihat kontras. Padahal saat cuaca bagus dijamin pemandangan Telaga Warna dan Telaga Pengilon ini keren banget.

Warnanya kurang kontras karena langit mendung

Tuk Bimo Lukar

Tour kami di Dieng Plateau akan segera berakhir. Spot-spot di Dieng sudah dikunjungi, kami pun mulai melanjutkan perjalanan ke arah Wonosobo lalu diantarkan kembali ke Solo.

Di perjalanan, kami mampir di Tuk Bimo Lukar. Tempatnya kecil aja, dan kayaknya ga banyak dikunjungi juga. Tuk Bimo Lukar ini adalah mata air suci bagi umat Hindu kuno Dieng. Katanya kalau cuci muka di sana bisa bikin awet muda. πŸ˜›

Tuk Bimo Lukar
Air dari mata air suci

Telaga Menjer

Telaga Menjer adalah spot wisata terakhir yang kami kunjungi dalam tour saat itu. Telaga Menjer merupakan danau terluas di Wonosobo dan digunakan untuk PLTA. Di pinggir telaga terdapat tanah berumput yang sepertinya enak untuk dipake piknik. Sayangnya sampah bertebaran di mana-mana, mungkin karena ga ada tempat sampah. Sedih banget kalau liat tempat wisata kotor gitu. Kapan ya masyarakat kita bisa punya kesadaran kalau ga ada tempat sampah artinya sampah kudu dibawa sendiri, bukan dibuang sembarangan?

Telaga Menjer
Sampah-sampahnya ga ikut difoto

Dari pinggir telaga kami diajak ke tempat yang agak tinggi untuk melihat view Telaga Menjer dari atas. Mendaki lagi, untungnya jalannya relatif landai dan melalui kebun teh gitu.

Berfoto di pinggi Telaga Menjer
View Telaga Menjer dari ketinggian

Ayam Kosek Panjiwo

Dari Telaga Menjer, perjalanan dilanjutkan. Dan kami dibawa makan siang ke ayam kosek panjiwo. Terkenal ya sepertinya, soalnya banyak foto-foto artis di sana. πŸ˜€

Menu ayam kosek panjiwo

Dibanding mie ongklok, suami saya lebih hepi makan ayam kosek ini, karena pedas! Haha. Sambelnya mantep emang. Untuk tambahan menu, kami pesan bebek kremes (atau ayam ya? lupa :P) dan tumis jamur.

Ayam Kosek Panjiwo
Bebek kremes
Tumis jamur

Setelah makan siang kami pun langsung menuju Solo dan diantar ke The Sunan Hotel Solo, tempat kami menginap berikutnya. Jalan-jalan di Dieng Plateau pun berakhir. Masih belum puas sebenarnya mengingat cuaca yang kurang bersahabat. Tapi pelayanan tour-nya memuaskan banget. Alhamdulillah.

Demikian cerita trip kami ke Dieng Plateau. Dari Solo, besoknya kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Komodo di NTT.

Salam,

signature

Leave your comment