Saat Akas Pertama Kali Diare

Anak sakit tentulah hal yang tidak diinginkan oleh ibu manapun, apalagi kalau sang buah hati masih bayi. Saya teringat dulu di bulan September 2016 Akas pernah mengalami diare dan kebetulan saya hanya berdua dengan Akas di rumah.

Pengalaman Akas dengan Diare

Tengah malam saya terbangun dan mendapati Akas muntah. Muntahannya kental, sejumlah butiran nasi masih terlihat. Akas sepertinya masih mengantuk, tidak begitu menyadari muntahannya. Ia lanjut tidur setelah saya bersihkan, jadi saya merasa semuanya baik-baik aja.

Paginya, saya menyiapkan sarapan dan Akas pun bersemangat makan seperti biasa. Tapi baru makan beberapa suap, tiba-tiba Akas muntah lagi. Kali ini muntahannya encer, banyak air. Setelah itu Akas ga mau makan. Trauma mungkin ya, karena masukin makanan ke mulut hasilnya muntah.

Saya mulai khawatir kenapa Akas muntah lagi. Tidak lama kemudian, Akas menceret alias diare. Diaper tidak mampu menahan pupnya yang cair, akibatnya pupnya berceceran. Argh. Sepanjang hari, drama muntah dan pup encer ini terulang beberapa kali. Seharian kerjaan saya ga jauh-jauh dari urusin anak yang sakit plus bersih-bersih kasur, sofa, meja makan, box bayi, lantai, dan di mana saja yang terkena muntahan dan pup.

Saat itu suami saya sudah duluan pindah ke Bandung. Saya dan Akas masih di Balikpapan, baru akan menyusul pindah di bulan berikutnya. Ini kali pertama saya sendirian menghadapi Akas sakit, ditambah dramanya mesti seperti itu, rasanya lelah sekali, huhu.

Sorenya, badan Akas terasa lebih hangat. Akas tampak lemas. Ia cuma bisa terbaring lemah dan tidur setelah seharian banyak mengeluarkan cairan, sementara yang masuk sedikit sekali. Pengalaman saat Akas demam, Akas bakal rewel dan maunya digendong terus. Tapi kali ini ia cuma mau rebahan tanpa bersuara.

Melihat kondisi Akas seperti itu, saya langsung ke rumah sakit untuk memeriksakan Akas. Saya takut kalau kondisi Akas lebih parah lagi. Saya tidak berani kasih obat sembarangan karena umur Akas baru 15 bulan. Kalau saya atau suami yang diare sih cukup beli obat ke warung/minimarket.

Sayang sekali dokter anak langganan Akas tidak masuk, jadi saya periksa ke dokter lain. Saya ceritakan kronologi muntah dan menceret Akas. Dokter menanyakan warna dan tekstur pupnya, serta apakah ada lendir atau darah. Alhamdulillah pupnya masih kuning tapi cair, dan tidak ada lendir ataupun darah. Menurut dokter, Akas memang lemas, tapi tidak dehidrasi, jadi tidak perlu dirawat. Alhamdulillah. Saya ga kebayang kalau Akas sampai harus dirawat sementara saya cuma sendiri.

Dokter menjelaskan kalau penyebab diare pada bayi bisa datang dari mana saja. Bayi biasanya masih dalam fase oral, jadi suka memasukkan apapun ke mulutnya. Tangan, mainan, atau barang ga bersih masuk ke mulut, bisa jadi perantara masuknya kuman. Jadi ke depannya jaga kebersihan sekitar dan utamakan asupan cairannya. Kalau ga mau makan ga usah dipaksain katanya.

Akas diberi sejumlah obat, yakni probiotik, obat untuk meredakan mual/muntah, zinc, dan antibiotik. Mungkin karena lelah, khawatir, dan cemas, setelah diperiksa dan diberi resep obat, saya ga nanya apa-apa lagi ke dokter. Sampai di rumah baru saya mikir, kenapa diberi antibiotik sebotol penuh ya? Harus dihabiskan semua? Tapi daripada kenapa-kenapa, ya udahlah diminumkan aja obatnya.

Keesokan harinya, kondisinya berangsur membaik. Akas udah ga muntah lagi, tapi pupnya masih encer. Akas masih menolak makan. Well then, hello GTM! Ga apa-apa deh. Untungnya menyusu dan minum masih mau, minum obat pun lancar.

Akas jadi GTM, biasanya mau makan biskuit, sekarang malah dijadiin mainan aja

Akibat diare ini, berat badan Akas pun turun drastis, kembali ke berat badan saat umur Akas 12 bulan. Gila ya diare, butuh 3 bulan bagi saya untuk menaikkan berat badan Akas sebanyak itu, lalu hilang semua dalam 3 hari. Emak-emak pasti paham pedihnya hal ini.

Dari hari ke hari, kondisi Akas terus membaik. Seminggu kemudian nafsu makannya mulai membaik. Akas pun kembali sehat seperti sedia kala. Alhamdulillah.

Dulu saat ada yang share tentang diare, saya cuma baca sekilas. Tapi setelah mengalami langsung bagaimana anak diare, saya jadi cari tahu lebih banyak soal diare ini. Berdasarkan pengalaman dengan diare Akas ini, ada beberapa hal yang bisa saya catat.

Tentang Diare

Diare merupakan mekanisme pertahanan tubuh supaya benda asing, kuman, dll. keluar dari tubuh. Diare bisa juga dibarengi dengan muntah. Diare umum terjadi pada semua usia, namun tidak boleh disepelekan.

Kita yang dewasa sudah paham kapan kita diare. Biasanya ditandai dengan mulas, sakit perut, dan bolak-balik ke toilet. Sementara pada bayi yang belum bisa menceritakan apa yang dia rasakan, kita bisa melihat gejala diare dari frekuensinya yang sering DAN tekstur fesesnya yang encer atau berair. Kalau hanya salah satu, misal frekuensi sering tapi tekstur normal, biasanya bukan diare.

Saat diare terjadi, banyak cairan dan makanan yang keluar, sehingga tubuh berisiko kekurangan cairan atau dehidrasi. Kita wajib tahu nih tanda-tanda dehidrasi, karena dehidrasi itu bisa membahayakan nyawa, apalagi pada bayi dan anak-anak. Tanda-tanda tubuh anak kekurangan cairan antara lain:

  • Anak lemas, tidak mau minum.
  • Mata cekung, tidak ada air mata.
  • Mukosa mulut/bibir kering.
  • Tidak pipis dalam 6 jam.
  • Jika kulit dicubit, tidak kunjung kembali.

Sedangkan dehidrasi pada orang dewasa juga ditandai dengan:

  • Kelelahan dan tidak bertenaga
  • Hilang nafsu makan
  • Lidah terasa kering
  • Kram otot
  • Jantung berdebar

Penyebab diare ternyata beragam sekali. Bisa karena infeksi kuman (virus, bakteri, parasit), keracunan makanan, alergi/intoleransi bahan makanan tertentu, efek samping obat tertentu, penyakit pada usus, hingga stres.

Pada kasus Akas, saya runut lagi kejadian sebelum ia muntah, kecurigaan saya mengarah pada dua hal ini:

  • Dua hari sebelumnya, pertama kali saya coba kasih rendang kepada Akas. Rendang ini pedas, Akas sebelumnya belum pernah makan makanan pedas, dia coba dan cuma bisa makan sedikit sekali. Walau sedikit, mungkin perutnya belum siap dengan rasa pedas.
  • Sehari sebelumnya, saya masak ikan dan tampaknya ikannya kurang segar. Tapi saya lupa persisnya ikannya kenapa.

Saya tidak mencurigai mainan atau barang yang dia masukkan ke mulut, karena selama ini dia baik-baik saja. Tapi entahlah ya, hehe.

Catatan seputar diare ini saya rangkum dalam infografis berikut.

Cegah Diare Sebelum Terjadi

Mencegah lebih baik daripada mengobati, bukan? Diare biasanya terkait dengan kebersihan, jadi diare bisa dicegah dengan melakukan hal-hal berikut.

  • Biasakan untuk mencuci tangan dengan sabun, terutama sebelum dan sesudah makan, setelah buang air, setelah memegang daging mentah, setelah memegang binatang, dan sebelum memegang bayi.
  • Jagalah kebersihan rumah dan lingkungan. Dapur dan kamar mandi harus diperhatikan kebersihannya. Sampah basah jangan dibiarkan terlalu lama di tempat sampah. Untuk yang punya bayi, jaga juga kebersihan mainan dan barang-barang yang sering dimasukkan ke mulut oleh bayi.
  • Gunakan bahan makanan yang segar dan simpan bahan makanan di dalam kulkas agar tidak cepat membusuk. Cuci sayur dan buah sebelum dimakan.
  • Hindari terjadinya kontaminasi silang saat menyiapkan ataupun memasak makanan. Gunakan alat masak dan alat makan yang bersih.
  • Makan makanan dan minum air yang matang dan terjaga kebersihannya. Jangan biarkan makanan dalam keadaan tidak tertutup karena bisa dihinggapi lalat. Jika makan makanan kemasan, perhatikan tanggal kedaluwarsanya.
  • Kenali daya tahan tubuh terhadap makanan pedas dan jangan konsumsi makanan pedas melebihi daya tahan tubuh selama ini.
  • Untuk bayi, berikan vaksin rotavirus. Imunisasi rotavirus bertujuan untuk mencegah infeksi rotavirus, yakni virus yang sering menyebabkan muntah dan diare pada bayi dan anak-anak.

Atasi Diare dengan Tepat & Benar

Jika diare terjadi, maka kita harus mengatasi dan mengobatinya dengan tepat dan benar. Jangan sembarangan, bisa-bisa timbul masalah lain lagi. Sebagai langkah awal, kita bisa melakukan beberapa home treatment, tidak perlu buru-buru ke dokter. Tapi kita wajib tahu kapan kita harus ke dokter.

  • Jaga asupan cairan untuk mengganti cairan tubuh yang keluar. Minum cairan yang mengandung elektrolit seperti oralit, larutan gula garam, atau air kelapa. Cairan lain pun tidak masalah asal masuk, seperti susu, kaldu, kuah sayur, sop, jus, dsb.
  • Jika masih menyusu, berikan ASI lebih sering. Jika diare dibarengi dengan muntah, minumlah sedikit-sedikit tapi sering. Jika minum langsung banyak, nanti bisa muntah lagi. Akas mengalami hal ini banget. Setelah muntah, efeknya jadi haus, saat dikasih minum, dia langsung minum banyak. Ga lama setelah itu keluar lagi semua, huhu.
  • Selama diare, hindari makanan pedas dan asam. Sebagian juga perlu menghindari makanan bersantan. Hindari juga makanan yang bisa menimbulkan gas dalam perut, seperti brokoli, kol, dan asparagus.
  • Konsumsi probiotik dan makanan dengan probiotik tinggi. Probiotik mengandung bakteri baik seperti Lactobacillus reuteri, Lactobacillus GG, dan Saccharomyces boulardii yang membantu mengatasi diare. Yoghurt adalah salah satu sumber probiotik.
  • Konsumsi makanan yang membantu memadatkan feses, misalnya tempe, pisang, ubi, dan oat.
  • Obat diare bisa diminum sebagai pertolongan pertama, tapi perhatikan dosis dan aturan pakainya. Untuk bayi sebaiknya minum obat yang diresepkan dokter.
  • Jangan sembarangan minum antibiotik jika penyebab diare belum diketahui. Diare yang disebabkan oleh virus tidak membutuhkan antibiotik. Ini jadi catatan penting nih buat saya.
  • Cari tahu penyebab diare. Selain itu juga amati frekuensi, tekstur, dan warna feses selama diare.
  • Segera ke dokter atau IGD jika feses mengandung lendir/darah atau ada tanda dehidrasi. Jika sudah ada tanda dehidrasi biasanya perlu diinfus hingga dirawat di rumah sakit.

Demikian pengalaman saya menghadapi diare pertama kali pada Akas dan apa yang saya pelajari dan pahami setelahnya. Ada yang punya pengalaman diare juga? Sudah diatasi dengan tepat dan benar belum? πŸ™‚

#SeputarDiare #AgenKeluargaSehatIndonesia #ibuberAKSI

CREDIT

  1. Infografis dibuat sendiri menggunakan Canva.com
  2. Sebagian gambar dalam infografis menggunakan vector dari Freepik.com
Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Cerita Seputar Diare yang diselenggarakan oleh @ibuberAKSI

Salam,

signature

6 tanggapan untuk “Saat Akas Pertama Kali Diare

  • 1 April 2018 pada 17:01
    Permalink

    Sooooo informative!
    Terus… terus… infografisnya kece badaaiii! Sukaaaa! <3

    Aku juga, saat Arsyad diare, satu merk serbuk probiotik jadi item wajib yang nangkring di kotak p3k. πŸ˜€

    Balas
    • 2 April 2018 pada 06:29
      Permalink

      Tengkyuuu πŸ˜‰ Sama mbak, probiotik sama paracetamol wajib ada di kotak obat πŸ˜€

      Balas
  • 2 April 2018 pada 12:54
    Permalink

    wah keren, mbak infografis dan pemaparannya. memang kita tidak boleh menyepelekan diare ya

    Balas
    • 5 April 2018 pada 15:56
      Permalink

      Terima kasih mbak. Iya betul, diare kesannya sepele, tapi ternyata bisa bahaya sampai menyebabkan kematian πŸ™

      Balas
  • 6 April 2018 pada 15:55
    Permalink

    Akas termasuk doyan pedas itu, Mbak. Meskipun diare tapi mau masuk mulut. Anakku sampai usia 2,5 fahun saja aku kaish merica sedikit saja, dia langsun tutup mulut. Suapan pertama langsung dikeluarin dan bilang pedas pedas. Hahaha.

    Balas
    • 6 April 2018 pada 16:13
      Permalink

      Waktu rendang itu sebenarnya rada saya paksa mbak, wkwk. Sekarang masih ga mau makanan pedas, tapi kalau keripik balado atau kering tempe yang pedas manis dia mau, ckckck.

      Balas

Leave your comment