Mengulas Tantangan Pengasuhan di Era Internet dari Film Searching (2018)

Minggu lalu saya menonton film Searching yang dibintangi oleh John Cho. Filmnya bagus banget deh. Saya selama ini belum pernah bahas film di blog, tapi karena film Searching ini jadi kepikiran untuk nulis di blog, terutama dari sisi nilai-nilai parenting yang didapat.

Sebelumnya saya ga tahu sama sekali soal film ini, sampai suami bilang ada temannya yang merekomendasikan. Saya cek ratingnya bagus, trus pemeran utamanya sudah saya kenal dari film Star Trek, jadi boleh deh dicoba nonton.

Seperti biasa, kami bergantian nonton. Suami nonton duluan dan dia bilang keren banget.

Baca juga: Nonton di Bioskop Setelah Punya Anak

Sebelum bahas review-nya, lihat trailer-nya dulu yaa.

Rating per hari ini: IMDB 7.9/10, Rotten Tomato 92% Certified Fresh

Review Film Searching (2018)

Ke mana Margot? Inti ceritanya bisa dibilang sesederhana itu. Tapi alurnya membuat kita terus penasaran. Kita dibawa menelusuri berbagai kemungkinan yang sepertinya benar, tapi ternyata tidak. Plot dan script-nya bisa menggiring penontonnya untuk pindah dari satu kemungkinan ke kemungkinan lainnya, tanpa terasa dipaksakan. Dan kebenaran akhirnya terungkap lewat plot twist yang tidak terduga. Kata yang bikin film sih sudah ada hint-nya sedari awal, tapi mungkin baru ngeh kalau nonton filmnya untuk kedua kali, heuheu.

Yang bikin unik dan keren adalah film ini 100% menggunakan point-of-view layar komputer dan smartphone. Saya baru pertama kali lihat film seperti ini. Ini bukan film pertama yang ambil sudut pandang seperti ini, tapi sejauh ini film Searching-lah yang bisa mengeksekusinya dengan sangat baik. Jadi sepanjang film, scene-nya itu dilihat dari layar komputer David (ayahnya Margot), video call, media sosial, berita online, live streaming, hingga rekaman CCTV. Kalau saja pengambilan gambarnya seperti film kebanyakan, hasilnya mungkin ga begitu spesial.

searching movie
Video call sehari-hari dengan Margot (Sumber: screenshot trailer)

Lalu, semua yang kita di lihat di layar komputer di film ini adalah aplikasi-aplikasi yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari operating system Windows XP kemudian beralih ke macOS; lalu Gmail, Facebook, Youtube, Instagram, Twitter, Google Sheet, dll. Selama ini kalau nonton film kan user interface di komputer ataupun smartphone-nya kebanyakan fiktif ya, search engine dan media sosialnya juga fiktif. Sementara di film ini, aplikasi-aplikasinya kita pakai setiap hari.

Walau layar komputernya terlihat real, tapi semua dibikin dengan animasi, bukan screen recording. Kabarnya mereka cuma syuting selama 13 hari, tapi menghabiskan 2 tahun untuk membuat animasi layarnya itu. Dengan animasi, bagian penting dari cerita di-zoom, drag-drop, dll., dan dari situ emosi cerita pun bisa tersampaikan. Dari geser-geser event calendar kita bisa merasakan kesedihan, trus dari ketikan chat yang panjang tapi akhirnya dihapus kita bisa merasakan ada kemarahan yang ditahan.

Emosi kita pun dibuat campur aduk seolah benar-benar merasakan posisi masing-masing karakter. Walau “hanya” lewat layar digital, kita bisa mengerti perspektif dan perasaan tiap tokoh. Semua begitu mengalir. Ini teknik yang luar biasa, bravo!

Poin menarik lainnya adalah film ini menggambarkan bagaimana internet bisa menjadi sumber petaka, sekaligus bagaimana internet bisa jadi solusinya. Both ways were presented nicely.

3 Fenomena di Internet yang Perlu Diwaspadai

Ke bawah saya bakal cerita potongan-potongan scene dalam film, mungkin agak spoiler ya. Tapi twist terbesarnya ga akan saya sebutin deh, hehe. Buat yang pengen nonton tanpa spoiler sama sekali, mending stop baca sampai di sini, segera nonton dan lanjut baca. 😀

(((SPOILER ALERT)))

searching movie
Margot di mana kah kau berada? (Sumber: screenshot trailer)

Sepanjang pencarian Margot oleh ayahnya lewat internet, kita disuguhi beberapa fenomena yang sudah kita hadapi juga sehari-hari, tapi mungkin tidak begitu kita sadari bahayanya apa sampai kita mengalaminya sendiri. Duh jangan sampai kejadian deh ya. Karena itu kita perlu berhati-hati di dunia maya. Apa saja contohnya?

1. Fake Account alias Akun Palsu

Margot kenal dengan akun fish_n_chips di YouCast, ngakunya cewe bernama Hannah. Belakangan diketahui kalau akun ini akun palsu dan pemiliknya adalah cowo bernama Robert. Kita juga udah sering kan ya nemu akun yang ga jelas identitasnya siapa atau ngaku-ngaku sebagai orang lain.

Pada taraf berbahaya, akun palsu ini bisa digunakan untuk menipu, meneror, hingga bikin patah hati #eh. Ada yang pernah baca thread kisah cinta Adora – Hilman – Alina ga di Twitter? Udah jatuh cinta banget-banget tapi ternyata orangnya ga ada. Wew.

Belajar dari hal ini, kita memang wajib waspada dengan akun di dunia maya. Kalau ga benar-benar tahu orangnya siapa, ga pernah ketemu, ga usah terlalu dekat juga.

2. Teman di Facebook vs. Teman di Dunia Nyata

Margot punya sejumlah teman di akun Facebook-nya, tapi ternyata dari sekian temannya di Facebook ataupun di sekolah, Margot tidak punya teman yang benar-benar dekat dengannya, yang sering berinteraksi dengannya. Hayo di media sosial kita ada berapa teman? Yang dikenal dengan baik berapa? Pertanyaan ke diri sendiri juga sih ini, haha.

Sedih ga sih rasanya, punya banyak teman di dunia maya tapi di dunia nyata ga ada yang bisa jadi tempat untuk berbagi suka duka?

Ini benar-benar mengunggat arti pertemanan saat ini, yang mana mungkin sangat bisa dirasakan oleh beberapa orang terutama yang mengalami perubahan zaman dari sebelum dan sesudah media sosial booming.

3. Viral? Siap-Siap Menghadapi Kelakuan Netijen

Semua udah tahu lah ya ajaibnya kelakuan netijen di dunia maya, apalagi dalam mengomentari hal yang sedang viral. Yang ga viral pun bisa dapat komentar beragam dink ya. Eniwei saya sengaja menulis netijen untuk merujuk pada yang kelakuannya aneh-aneh, bikin menghela napas, menebar kebencian. Kalau yang baik-baik mah saya sebut netizen #dibahas.

Ini beberapa kelakuan netijen di film Searching yang juga sudah sering kita temui:

  • Setelah berita hilangnya Margot menjadi viral, muncul video Youtube dari teman sekelasnya yang nangis-nangis sedih dengan nasib Margot. Bullshit banget. Demi apa bikin video kayak gitu? Biar dapat banyak like dan comment.
  • Biasalah, setelah berita viral, netizen bakal berkomentar dan mengeluarkan teori dari hasil analisis mereka, dan ini bisa melebar ke berbagai arah hingga jadi cyberbullying. Dalam kasus hilangnya Margot, sampai muncul hashtag #DadDitIt dan #ParentFail, padahal David ini ga tahu apa-apa dan udah pusing nyari anaknya.
  • Di balik hal yang serius, ada aja netijen yang menjadikan hal itu bahan becandaan, tanpa empati sedikitpun. Ini juga yang terjadi saat Derek bilang di Twitter menertawakan orang-orang yang bingung ke mana Margot dan bilang Margot ada sama dia, padahal bohong.

Butuh mental yang baik dan kuat memang dalam berinternet. Mental yang baik, agar mampu mengendalikan apa yang di-share ke dunia maya dan apa yang perlu dikomentari. Mental yang kuat agar tidak down hingga depresi menghadapi komentar orang lain. Dan secara tidak langsung, film ini seolah menyindir kehidupan sosial zaman sekarang, bagaimana emosi pribadi saat ini sangat begitu terpengaruh dengan hal-hal yang terjadi di dunia maya.

6 Lesson Learned dari Film Searching

Walau durasi filmnya cuma 102 menit, di film ini banyak nilai dan pelajaran yang bisa kita ambil. Melihat fenomena internet yang dibahas di atas aja, kita sendiri mesti waspada, apalagi anak-anak kita kan ya. Dan itu tugas kita sebagai orang tua. Jadi orang tua berat ya, huhu.

searching movie
Pusing memang ya pak jadi orang tua (Sumber: screenshot trailer)

1. Orang Tua Wajib Dekat dengan Anaknya

Setelah menelusuri jejak digital Margot, David sampai pada titik di mana ia merasa tidak kenal dengan anaknya. Dan saat itu Detektif Vic membantu menenangkan. “You don’t always know your kids and that’s not your fault.”

Lalu belakangan David mengetahui bahwa Margot sempat curhat kepada pamannya, Peter, tapi ga pernah curhat sama sekali pada ayahnya. Marah? Tentu saja. Dan Peter ini menegaskan, “Why didn’t she tell you? Because you never asked.”

Hubungan David dan Margot sebenarnya baik-baik saja, selalu kontak tiap hari juga. Tapi nyatanya dengan kondisi seperti itu pun, David ternyata tidak “dekat” dengan Margot. Saya jadi tertohok, betapa pentingnya agar anak bisa dekat dengan orang tua, dan kedekatan itu harus dibangun oleh orang tua sejak dini. Hati-hati ketika anak lebih memilih curhat kepada orang lain ketimbang orang tuanya sendiri.

Membangun kepercayaan anak kepada orang tua adalah pondasi kedekatan anak dan orang tua. Membangun kepercayaan ini butuh proses yang panjang, dan caranya pun juga berbeda kepada setiap anak.

2. Orang Tua Harus Kenal Teman-Teman Anaknya

Begitu sadar Margot hilang, David kebingungan harus bertanya kepada siapa. Dia tidak tahu siapa saja teman Margot. Dan saat chat kepada Peter, adik David itu bilang “If you don’t know her friends, who would?”. Duh ini jleb banget.

Somehow saya bisa relate dengan Margot, karena orang tua saya bisa dibilang juga tidak tahu siapa saja teman saya. Saya jarang bercerita tentang teman-teman saya, kalaupun bercerita, saya tidak menyebutkan nama mereka. Untungnya nasib saya baik-baik aja, ga apes kayak Margot.

Berkaca dari diri sendiri, saya ga pengen kalau nanti anak saya seperti saya dulu. Orang tua perlu tahu anaknya berteman dengan siapa saja, kalau perlu juga kenal dengan orang tuanya. Jalin komunikasi dan silaturahmi yang baik dengan sesama orang tua murid di sekolah anak.

3. Dampingi Anak Saat Membuat Akun Media Sosial

David ingin mencari tahu siapa saja teman Margot, ia buka akun Facebook Margot, ternyata private. Mencoba login, ternyata akunnya sudah logout dan di browser ga ada tersimpan password. David klik Forgot Password, instruksi dikirimkan ke email. Untuk buka email, butuh password lagi. Lalu dia ikuti instruksi untuk recover akun, dan untungnya recovery emailnya itu email ibunya Margot dan David bisa akses email ini. Akhirnya dia bisa login ke akun Facebook Margot.

Di-flashback, sepertinya email dan akun Facebook Margot ini dibuatkan ibunya saat Margot masih anak-anak. Dan saat itu, entah sengaja atau tidak, ibunya memasukkan emailnya untuk recovery. Dan ini berguna sekali ternyata saat kondisi darurat.

Sebelumnya saya ga pernah kepikiran lho untuk pakai email orang tua untuk recovery email anak. Berkat film ini nanti saya mau menerapkannya juga deh nanti.

Ini memungkinkan dilakukan kalau kita mendampingi anak kita dalam berinternet sejak awal. Ajarkan anak netiket dan bagaimana berinternet dengan bijak. Pahamkan anak akan baik dan buruknya dunia maya. Kalau anak dibiarkan sendirian, ya dia bisa bikin akun sembarangan sesuai yang dia inginkan, dan jika ada apa-apa kita tidak akan pernah tahu.

4. Orang Tua Perlu Memantau Media Sosial Anak

Saat anak sudah punya akun media sosial, ada baiknya aktivitas anak di sana tetap bisa kita pantau. Paling mudah sih dengan berteman atau mem-follow akun media sosialnya. Tapi ini tricky. Kalau caranya salah, bisa-bisa orang tua di-block sama anak, haduh.

Saya masih ingat sepupu saya yang saat itu masih remaja tidak mau berteman dengan orang tuanya di Facebook. Dia merasa kalau berteman, nanti dia akan selalu diawasi oleh orang tuanya dan dia merasa tidak nyaman dengan itu. Nah di sini balik lagi ke poin awal, gimana agar anak tidak merasa dikungkung karena hal ini, agar anak dekat dengan orang tua, agar dia tetap nyaman berteman dan di-follow oleh orang tuanya. Balik lagi ke building trust yang mesti dilakukan sejak dini.

5. Orang Tua Mesti Terus Mengikuti Perkembangan Zaman

Salah satu teman sekolah Margot bilang kalau Margot sering buka Tumblr. David bingung, ga tahu apa itu Tumblr. Bahkan saat Googling pun dia cari dengan keyword “tumbler”. Untungnya ga ada yang aneh-aneh sih di Tumblr-nya.

Dunia maya berkembang dengan sangat pesat. Tiap hari ada saja aplikasi yang dibuat. Dan kita perlu mengetahui apa saja yang sedang nge-trend saat ini. Mungkin tidak mudah bagi kita untuk selalu up to date, tapi minimal kita perlu tahu apa dan bagaimana serta baik dan buruknya hal yang lagi nge-hits itu.

6. Ibu Bisa Melakukan Apa Saja untuk Anaknya

“A mother’s love for her child is like nothing else in the world. It knows no law, no pity, it dates all things and crushes down remorselessly all that stands in its path.” Itu quote Agatha Christie yang dipajang Detektif Vic di cover photo akun Facebook-nya. Dan dia benar-benar membuktikannya.

Kasih ibu memang tak terhingga sepanjang masa, tapi kadang ini ibarat pisau bermata dua. Saking sayangnya, ibu bisa melakukan hal yang dia rasa tepat dan terbaik untuk anaknya, tapi justru merugikan anaknya sendiri atau menyakiti orang lain. Saking sayangnya, ibu bisa merasa bahwa anaknya selalu benar padahal kenyataannya tidak selalu begitu.

Karena itulah sebagai ibu yang katanya dominan menggunakan perasaan, tetap harus bisa berpikir logis dan realistis, karena tidak semua hal bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan perasaan.

Fyuh, ga nyangka sepanjang ini, hehe. Dari film pun kita bisa belajar yaa. Ada yang udah nonton juga? Gimana kesan-kesannya dengan film ini?

Salam,

signature

7 tanggapan untuk “Mengulas Tantangan Pengasuhan di Era Internet dari Film Searching (2018)

  • 13 September 2018 pada 18:07
    Permalink

    Wah saya belum nonton nih
    Jadi penasaran setelah baca reviewnya
    Benar2 ngajak kita belajar jadi orang tua generasi milenial ya

    Balas
    • 13 September 2018 pada 18:17
      Permalink

      Ayo nonton mbak 😀 Ini film thriller tapi banyak banget yang bisa dipelajari orang tua 😀

      Balas
  • 14 September 2018 pada 13:55
    Permalink

    Banyak nilai yang bisa diterapin sebagai orang tua anak zaman now nih. Paling gak orangtua harus selalu update & gak gaptek biar tetep nyambung sama anak.

    Balas
  • 14 September 2018 pada 14:53
    Permalink

    Keren banget tulisannya, mbaaaa
    Memang sebetulnya kita bisa belajar parenting dari banyak cara….salah satunya dari film.
    Jadi pengen nonton nih

    Balas
  • 15 September 2018 pada 10:55
    Permalink

    makasih reviewnya , belum nonton

    Balas

Leave your comment