7 Hal Menarik Seputar New Zealand Scholarship

New Zealand Scholarship adalah beasiswa dari pemerintah Selandia Baru melalui New Zealand Aid Programme. Beasiswa ini sering juga disebut sebagai beasiswa NZAID/NZAS. Saat ini suami saya kuliah di The University of Auckland dengan biaya dari beasiswa ini.

New Zealand Scholarship mencakup biaya kuliah dan biaya hidup penerima beasiswa. Selain itu beasiswanya juga menanggung tiket PP saat awal berangkat dan balik setelah lulus, biaya pembuatan visa, dan asuransi kesehatan di NZ. Beasiswa yang diberikan saat ini (tahun 2019) yaitu NZ$ 491/week, dibayarkan setiap 2 minggu. Di awal kedatangan, setiap student diberikan NZ$ 3000 sebagai allowance awal. Untuk yang membawa keluarga tidak ada allowance tambahan.

Sepanjang pengamatan saya saat suami mengikuti seleksi New Zealand Scholarship ini, ada beberapa hal yang menurut saya menarik jika dibandingkan dengan seleksi beasiswa lainnya yang pernah kami ikuti.

Ada Prioritas Bidang Studi dan Daerah Asal

Tidak semua negara bisa mengikuti beasiswa ini, bisanya hanya negara-negara yang eligible. Indonesia termasuk salah satu dari 12 negara di Asia yang eligible untuk beasiswa ini.

New Zealand Scholarship merupakan development scholarship, jadi mereka akan mencari orang-orang yang memang akan menerapkan ilmunya untuk membangun Indonesia. Oleh karena itu ada bidang studi yang menjadi prioritas.

In Indonesia we focus on improving energy supply, increasing agricultural returns, providing opportunities in tertiary education and reducing loss from disasters.

Mengutip web MFAT ini, bidang studi yang diutamakan untuk Indonesia adalah sebagai berikut.

  • Climate Change and the Environment
    • Climate change
    • Climate change science
    • Environmental policy and planning
    • Environmental law
    • Civil engineering
    • Water management
    • Natural resource management
  • Disaster Risk Management
    • Disaster management
    • Emergency management
    • Geology
    • Geotechnical engineering
  • Food Security and Agriculture
    • Agribusiness
    • Agricultural science
    • Agricultural technology
    • Aquaculture
    • Farm management
    • Food technology
    • Supply chain management
  • Renewable Energy
    • Energy distribution systems and technologies
    • Energy management
    • Energy policy
    • Geothermal, hydroelectric, hydrothermal, solar and wind energy
  • Governance
    • Government Services: Public policy, Public service management

Adanya prioritas ini menarik sih. Buat yang pengen kuliah di bidang-bidang di atas, artinya kesempatannya makin besar. Kalau di luar bidang itu gimana? Emm, tetap bisa daftar kok, tapi jadinya harus ada justifikasi yang kuat untuk meyakinkan kenapa kita layak menerima beasiswa ini, kontribusinya nanti untuk Indonesia apa, dsb.

Selain prioritas bidang studi, New Zealand Scholarship juga memberi perhatian khusus kepada kandidat dari Indonesia Timur supaya Indonesia Timur bisa berkembang lebih baik lagi.

For Indonesia, we will also apply a geographic preference for Eastern Indonesia. We give affirmative action to candidates from Papua, West Papua, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, North Maluku, and Maluku provinces.

Tidak Butuh TOEFL/IELTS Saat Daftar

Beasiswa luar negeri pasti mensyaratkan kemampuan berbahasa Inggris yang dibuktikan dengan skor TOEFL/IELTS. Ada pengecualian dink buat yang bahasa nasionalnya bukan bahasa Inggris, misal nih mau kuliah di Jepang, TOEFL/IELTS-nya bisa diganti dengan JLPT.

Kebanyakan beasiswa sudah menentukan syarat skor TOEFL/IELTS-nya berapa dari awal pendaftaran. Akibatnya kalau skor kita tidak memenuhi nilai minimal, kemungkinan besar kita langsung tereliminasi. Tapi di New Zealand Scholarship, TOEFL/IELTS ini ga diminta dari awal daftar banget lho. Yang berarti kalaupun kita belum pernah tes atau belum punya skor TOEFL/IELTS yang cukup, kita masih berkesempatan untuk daftar.

Baik banget sih menurut saya. Jadi menurut saya di awal itu kandidat diseleksi berdasarkan esai dan rencana studinya dulu, ga serta-merta kena pangkas “hanya” karena skor TOEFL/IELTS.

Tidak Butuh LoA Saat Daftar

Selain TOEFL/IELTS, New Zealand Scholarship juga tidak meminta Letter of Acceptance (LoA) saat awal mendaftar. Banyak juga sih beasiswa lain yang seperti ini, huehe.

LoA nanti akan diminta setelah lolos sebagai preferred candidate. Itupun prosesnya akan dibantu oleh penyedia beasiswa. Kandidat akan diminta mengontak kampus yang ingin dituju, dan penyedia beasiswa juga akan menghubungi kampus tersebut.

Tidak Butuh Surat Rekomendasi

Ada lagi nih yang ga diminta saat daftar, yakni surat rekomendasi. Biasanya pihak beasiswa akan meminta surat rekomendasi dari dosen terdahulu atau atasan kita di kantor. Tapi seingat saya, suami tidak pernah mengurus surat rekomendasi untuk New Zealand Scholarship ini. Lumayan juga sih dipikir-pikir, soalnya minta surat rekomendasi itu cukup makan waktu, hehe.

Lama-lama saya jadi mikir beasiswa NZAS ini minimalis banget syarat pendaftarannya dibanding beasiswa lain, huehe.

Interview Bisa Lewat Skype

Setelah lolos seleksi dokumen, kandidat akan menghadapi Online Psychometric Testing (OPT). Namanya berat ya, tapi tesnya sebentar saja. Setelah OPT ini kandidat akan disaring lagi lalu diundang untuk interview.

Biasanya interview beasiswa itu lokasinya sudah ditentukan. Misal saya dulu interview beasiswa MEXT, lokasinya di Kedubes Jepang di Jakarta. Karena saya tinggal di Bandung, otomatis saya mesti datang ke Jakarta.

Tapi suami saat dikabari soal interview New Zealand Scholarship, yang nelpon ngasih opsi apakah akan datang langsung interview di Jakarta (kami tinggal di Bandung saat itu) atau mau via Skype aja. Wuih. Suami memilih interview lewat Skype aja demi menghemat waktu dan biaya. Tapi kalau saya yang ikut seleksi mungkin lebih memilih interview langsung sih, hihi.

Tes IELTS Belakangan dan Dibiayai

Walau di awal bisa daftar tanpa skor kompetensi bahasa Inggris, bukan berarti nanti ga diminta ya, hehe. Jadi menurut saya tetap aja kita perlu belajar untuk tes bahasa Inggris. Lebih baik lagi kalau sudah punya hasil tes yang memadai.

Skor bahasa Inggris kandidat akan diminta setelah lolos interview. Beasiswa NZAS menerima skor dari:

  1. IELTS (the International English Language Testing System), atau
  2. TOEFL (the Test of English as a Foreign Language), atau
  3. PTE Academic (the Pearson Test of English Academic).

Skor yang diminta adalah yang expired-nya sebelum tanggal yang ditentukan. Kalau sudah ada, berarti tinggal dikirim. Kalau belum punya sama sekali, atau skornya belum cukup, atau skor yang lama sudah expired gimana donk?

Kabar baiknya lagi, pihak New Zealand Scholarship mengadakan tes IELTS untuk yang belum punya skornya. Daaan, tes IELTS bagi para kandidat ini untuk Indonesia dibiayai, alias gratis! Wah lumayan banget yaa, soalnya biaya IELTS kan mahal juga, US$ 215 terakhir saya cek, heuheu.

Suami saya kebetulan tanggal expired IELTS-nya melebihi batas yang ditentukan. Jadi waktu itu ikut tes lagi. Tesnya bisa pilih di Bandung juga.

Ada Kelas Persiapan Bahasa Inggris

Setelah tes IELTS, akhirnya sampai juga ke pengumuman final siapa yang jadi preferred, reserved, atau declined candidate. Saat pengumuman ini kandidat yang lolos akan diminta menyiapkan banyak hal. Selain itu juga ada pemberitahuan untuk mengikuti kelas bahasa Inggris di Surabaya.

Kelas ini ada 2 macam:

  • Untuk yang IELTS-nya sudah memenuhi, bisa mengikuti semacam kelas pemantapan bahasa Inggris. Durasinya 2 minggu, sifatnya opsional kalau ga salah. Suami saya masuk kategori ini dan saya saranin ikuti aja kelasnya, lumayan kan untuk meningkatkan skill bahasa Inggris, dan pasti kepakai banget nantinya. Ongkos ke Surabaya ditanggung, ada uang saku, tapi akomodasi mesti cari sendiri. Saya kebetulan ada keluarga di Surabaya jadi suami nginap di sana aja, hehe.
  • Untuk yang IELTS-nya kurang memadai, diwajibkan mengikuti kelas bahasa Inggris yang durasinya 3 bulan kalau tidak salah.

Oia kelas bahasa Inggris ini tidak berlaku untuk kandidat jenjang doktoral. Untuk doktoral IELTS-nya wajib memenuhi batas minimal yang ditentukan.

Dari 7 hal yang saya jabarkan di atas, saya menyimpulkan New Zealand Scholarship ini ga ribet prosesnya dan baik banget. Yang IELTS-nya kurang oke pun masih bisa dapat beasiswa asal memenuhi karakteristik yang mereka cari, dan setelah itu dibiayai pula untuk belajar bahasa Inggrisnya. Jadi buat yang lagi cari beasiswa luar negeri, coba apply New Zealand Scholarship ini juga deh, kali-kali berjodoh, hehe.

Salam,

Reisha Humaira

6 tanggapan untuk “7 Hal Menarik Seputar New Zealand Scholarship

  • 3 Mei 2019 pada 19:32
    Permalink

    Menarik juga scholarship di New Zealand ini. Mau saya share untuk menambah wawasan murid saya ya. Thanks infonya

    Balas
    • 6 Mei 2019 pada 19:28
      Permalink

      Sama-sama mbak, semoga bermanfaat 🙂

      Balas
  • 13 Mei 2019 pada 20:19
    Permalink

    Eihhhh serunya.

    Sayang jurusan kuliah yang dituju suamiku nggak ada. Atau mungkin kelak dia berubah pikiran ya.

    Terima kasih banyak atas informasinya mba.

    Balas
    • 16 Mei 2019 pada 15:17
      Permalink

      Hehe, beda jurusan pun kalau mau coba boleh-boleh aja mba 😀

      Balas
  • 21 Mei 2019 pada 06:14
    Permalink

    duuuuh NZ itu selalu masuk dlm target travelingku. insya allah thn depan sih bakal kesana. tp bukan utk ngejar beasiswa :D. kalo itu aku sadar diri ama keterbatasan otak :D. Pgn bungy jumping ama sky diving mbaaa wkwkwkkw… impian banget utk semua jumpers, ngelakuinnya di NZ , krn jni negara yg jd pelopor pertama bungy jumping :D.

    Balas
  • 21 Mei 2019 pada 11:27
    Permalink

    waaah, kalo saya ga berani yang jumping2 gitu mba, haha. semoga tercapai ke NZ nya ya mbaaa.

    Balas

Leave your comment