Memilih Penerbangan dari Indonesia ke Auckland

Ada banyak pilihan penerbangan ke Auckland, tapi setahu saya yang direct flight hanya ada dari Denpasar. Jadi kalau tidak tinggal di Denpasar artinya bakal transit dulu.

Saya dan suami berangkatnya ga berbarengan. Beda rute penerbangan juga. Kami sama-sama berangkat dari Bandung, tapi suami mulai naik pesawat dari Bandung, sementara saya dan Akas dari Jakarta.

Penerbangan Bandung-Denpasar-Auckland

Tiket suami dibelikan oleh pihak kampus dan bisa request rute ternyata. Suami sengaja memilih pesawat dari Bandung biar ga ribet mesti ke Jakarta dulu. Dan beberapa temannya sesama penerima beasiswa NZAS transit di Denpasar juga karena berasal dari Surabaya atau Makassar.

Baca juga: 7 Hal Menarik Seputar New Zealand Scholarship

Pak Evan berangkat tanggal 17 Februari 2019 dengan Garuda Indonesia Bandung-Denpasar, lanjut dengan Emirates Denpasar-Auckland. Kedua penerbangan ini terpisah, sehingga bagasi yang dibawa dari Bandung mesti diambil dulu saat di Denpasar, lalu check in lagi.

Untuk jatah bagasi, saat itu suami saya di kedua penerbangan dapat jatah bagasi 30 kg. Yang Garuda Indonesia penerbangan domestik, biasanya jatahnya 20 kg bukan ya untuk kelas ekonomi? Tapi untuk mahasiswa yang berangkat pertama kali ke luar negeri kayaknya bisa request lebih ya. Dulu saya pas back for good dari Jepang pakai Garuda Indonesia juga dapat ekstra 10 kg dari normal kalau ga salah.

Di bandara Bandung, suami kelebihan bagasi lumayan banyak, heuu. Saat itu karena waktu udah mepet, suami memutuskan untuk bayar excess baggage aja karena masih terjangkau. Sebagian isi ransel kabin ditinggal titip ke saya. Lalu suami pusing dah untuk penerbangan berikutnya gimana.

Biaya excess baggage penerbangan ke luar negeri mahal banget, bisa habis berjuta-juta itu, males banget kan. Untung jeda waktu penerbangannya lumayan banyak, jadi suami bisa bongkar koper dulu di Denpasar.

Baca juga: Tips Packing untuk Berangkat Pindah ke Luar Negeri

Saran saya dalam kondisi kepepet seperti ini:

  • Buang barang-barang yang dirasa ga apa-apa kalau ga dibawa. Sedih sih opsinya dibuang, karena titip ke siapa coba? Kirim barangnya dirasa bukan opsi karena pusing lagi nyari kurir, entah ada entah tidak di bandara, dan belum tentu ongkirnya worth dibanding harga barang. Semoga ada yang nemu dan memanfaatkan barang-barang itu, huhu.
  • Pakai pakaian paling berat yang ada di koper. Saat berangkat, pakaian suami saya relatif santai. Di Denpasar saya saranin ganti aja. Kalaupun kudu dobel sweater, jaket, atau jeans ga apa-apa. Sepatu juga ganti dengan yang lebih berat. Kita ga akan ditimbang saat naik pesawat besar. Kalau naik pesawat kecil sih percuma pakai tips ini, huehe.
  • Beli koper untuk dibawa ke kabin dan pindahkan sebagian barang ke situ. Saat itu suami ke kabin cuma bawa ransel. Biasanya ke kabin bisa bawa 2 tas/koper. Ada peraturan berat bawaan ke kabin maksimal 7 kg, tapi biasanya kalau naik pesawat gede ga ditimbang. Yang penting ga kelihatan aja kalau bawaannya berat banget #eh. Kalau ketahuan berat sih disuruh taruh ke bagasi, been there, hehe. Oia beli koper di bandara mahal banget, ga ada yang di bawah 1 juta. Tapi yaa dibanding bayar kelebihan bagasi berjuta-juta, mending beli koper 1 jutaan, heuheu.

Alhamdulillah akhirnya suami bisa lolos saat check in Emirates tanpa excess baggage. Berlebih 1-2 kg kalau ga salah, tapi masih diampuni katanya.

Penerbangan Jakarta-Sydney-Auckland

Untuk penerbangan saya dan Akas, saya tidak memilih opsi transit di Denpasar seperti suami, karena tiketnya mahal dan rempong urus bagasi saat transit.

Saya memilih terbang dari Jakarta saja. Ada banyak maskapai dengan pilihan lokasi transit yang bervariasi pula. Ada yang transit di Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Tiongkok, dan Australia. Dengan pertimbangan waktu dan lamanya penerbangan, saya memilih transit di Australia aja dengan maskapai Qantas.

Penerbangan dengan Qantas bukan yang paling murah, tapi durasi di pesawatnya paling singkat. Yah, lihat aja opsi transit yang lain posisinya di lintang utara semua, jadinya penerbangan berikutnya sampai Auckland lama banget, bisa lebih dari 10 jam kalau ga salah. Kalau saya sendiri sih ga apa-apa, tapi karena sama anak males deh. Hehe.

Baca juga: Persiapan Sebelum Pindah ke Luar Negeri

Saya baru bisa beli tiket setelah fix mau berangkat tanggal berapa. Itu jedanya cuma 1 mingguan sebelum berangkat. Lalu beli tiket di mana? Saya survei deh di beberapa online travel agent dan website Qantas-nya langsung. Cari mana yang punya promo paling gede atau yang harganya paling murah. Menariknya, ketemu harga paling murah ketika saya coba booking flight+hotel di Traveloka.

Nah kebetulan saya memang berencana cari hotel di dekat bandara Soekarno-Hatta. Saya berangkat dari Bandung. Kalau dari Bandung, trus langsung naik pesawat lama gitu, kebayangnya saya bakal tepar. Jadi saya mau nginap dulu aja semalam di sekitar bandara, baru deh besoknya terbang.

Saya ingat suami pernah booking flight+hotel di Traveloka dan diskonnya lumayan dibanding masing-masing beli terpisah. Saya coba bandingkan harga untuk 2 orang. Harga tiket pesawat CGK-AKL saja saat itu sekitar Rp7.8 jutaan/orang. Tapi kalau saya booking hotel plus tiket pesawatnya, jatohnya jadi Rp7.3 jutaan/orang. Saya kira bakal nambah dikit aja untuk hotelnya, eh kok jadinya malah lebih murah, ahaha. Total untuk hotel dan tiket pesawat saya berdua dengan Akas Rp14.789.795 untuk keberangkatan 28 Maret 2019.

Tapi sepertinya waktu itu jadi lebih murah karena saya memilih maskapai Qantas. Saat saya coba ganti pakai maskapai lain, hasilnya lebih mahal dibanding harga tiket pesawat saja, walau tetap ada diskon dibanding beli tiket pesawat dan hotel terpisah.

Setelah booking tiket pesawat dan hotel, saya langsung coba request moslem meal untuk penerbangan ini. Saat booking di Traveloka kita ga bisa request. Request-nya via Manage Booking di website Qantas. Ternyata request moslem meal-nya cuma ada untuk penerbangan pertama (Jakarta-Sydney). Sementara untuk penerbangan lanjutannya (Sydney-Auckland) ga ada pilihannya. Ya sudahlah ya.

Cerita penerbangan saya dan Akas nanti ditulis terpisah yaa karena mayan panjang dan banyak drama, haha.

Tips Mencari Tiket Pesawat Murah ke Luar Negeri

Tiket pesawat yang murah banget itu biasanya didapat saat lagi ada promo besar-besaran dari maskapai atau lagi ada travel fair. Tapi yang begini cuma berlaku buat yang beli tiket dari jauh-jauh hari dan bisa berangkat kapan saja. Ga semua orang bisa begitu.

Buat yang baru bisa beli tiket dekat-dekat waktu berangkat, bisa coba tips berikut biar tetap dapat harga lebih murah, hehe.

  • Survei harga tiket pesawat di berbagai online travel agent dan website maskapainya langsung. Saat ini sudah banyak sekali yang jual tiket pesawat secara online, tidak hanya layanan khusus travel, tapi juga e-commerce. Tiap website harganya bisa beda, dan rute yang tersedia pun bisa berbeda juga.
  • Saat survei, jangan lupa cek laman promo website-nya, barangkali ada diskon tertentu. Dapat diskon beberapa ratus ribu kan lumayan ya daripada tidak ada sama sekali, hihi.
  • Cek juga berapa harganya kalau combo booking flight+hotel di Traveloka. Saya sengaja sebut Traveloka karena sepengetahuan saya fitur ini cuma ada di Traveloka. CMIIW yaa. Mungkin tips ini ga berlaku selamanya, ya namanya juga promo “bakar uang”, hihi. Saya merasa beruntung banget dulu dapetnya jadi lebih murah. Dan kalau memang lebih murah tapi ga butuh hotelnya, hotelnya ga kepake pun kan gapapa. Hihi.

Baca juga: Biaya dan Strategi Pindahan Sekeluarga ke Luar Negeri

Sekian dulu cerita bagian ini. Sesungguhnya tadinya saya mau langsung aja posting lengkap bagaimana perjalanan saya berdua dengan Akas. Tapi puanjang banget jadinya, hihi.

Ada yang punya tips lagi seputar beli tiket pesawat? Share yuk.

Salam,

Reisha Humaira

Leave your comment