Biaya dan Strategi Pindahan Sekeluarga ke Luar Negeri

Dulu tahun 2010 saat saya akan berangkat kuliah ke Jepang, saya “hanya” menyiapkan dana sebesar 15 juta rupiah. Uang segitu sebesar biaya hidup sebulan dari beasiswa yang saya dapat. Saya tetap mesti bawa uang sendiri di awal karena saya berangkat awal April, sementara beasiswa paling cepat baru turun di akhir bulan.

Baca juga: Kuliah S2 di Jepang dengan Beasiswa Monbukagakusho (MEXT)

Lalu beberapa waktu kemudian saya mendapati ada teman yang mengiklankan rumah dan mobilnya untuk dijual karena dia mau lanjut S3 ke luar negeri. Kebetulan si teman ini sudah berkeluarga. Saat itu saya agak heran, kenapa mesti sampai jual rumah segala? Kan palingan gede di biaya tiket pesawat aja, sama “sedikit” tambahan untuk biaya hidup di awal. Setelah saya berkeluarga dan akhirnya merasakan juga, baru deh keheranan saya terjawab. Perkara biaya itu tidak sesederhana seperti saat masih single, haha.

Bahasan kali ini saya khususkan untuk yang kuliah ke luar negeri dengan beasiswa dan membawa pasangan serta anak yaa.

Biaya yang Harus Diperhitungkan untuk Pindah ke Luar Negeri

Urusan biaya ini tentu ga saklek, tergantung negara tujuan dan jumlah anggota keluarga yang dibawa. Semakin banyak anggota keluarga, semakin besar jugalah biaya yang harus disiapkan jika memang ingin membawa keluarga tinggal di luar negeri.

Biaya Pembuatan Paspor

Jika belum punya paspor, tentu wajib bikin paspor. Jika sudah punya, perhatikan tanggal masa berlaku paspornya, apakah cukup untuk dipakai tinggal di luar negeri ataukah harus diperpanjang terlebih dahulu.

Baca juga: Mengganti Paspor Sebelum Masa Habis Berlaku di Kantor Imigrasi Bandung

Saat ini paspor ada dua macam, yakni paspor biasa dan paspor elektronik. Silakan browsing plus dan minusnya apa karena sejauh ini saya cuma pernah punya paspor biasa, hehe. Rincian biayanya untuk paspor 48 halaman:

  • Biaya pembuatan/penggantian paspor baru: Rp355.000
  • Biaya pembuatan/penggantian paspor elektronik: Rp655.000

Biaya Pengurusan Visa

Biaya visa ini tergantung negara tujuan dan jenis visanya. Tapi biaya yang disiapkan biasanya bukan hanya biaya pembuatan visanya, tapi juga syarat untuk visanya. Sebagai contoh, untuk mengurus visa New Zealand kami harus melakukan medical check up dan menyiapkan deposit.

Baca juga: Mengurus Visa New Zealand untuk Pelajar dan Keluarga

Rincian biayanya:

  • Biaya medical check up dewasa: Rp2.795.000
  • Biaya medical check up balita: Rp386.000
  • Biaya pembuatan SKCK untuk visa: Rp35.000
  • Biaya pembuatan working visa Reisha: NZ$ 495 + Rp194.000
    (sekitar Rp4.845.230 dihitung dengan kurs Google saat ini)
  • Biaya pembuatan visitor visa Akas: NZ$ 295 + Rp194.000
    (sekitar Rp2.965.533 dihitung dengan kurs Google saat ini)
  • Deposit di rekening untuk visa Reisha dan Akas: Rp70.000.000

Medical check up dan pembuatan visa suami alhamdulillah ditanggung beasiswa, tapi sistemnya reimburse, jadi tetap aja kudu pakai uang sendiri dulu.

Biaya Transportasi

Transportasi ke luar negeri biasanya menggunakan pesawat. Untuk keberangkatan awal menurut saya mending pakai full service airline ketimbang low cost carrier, dengan pertimbangan di full service airline kita dapat jatah bagasi yang banyak.

Harga tiket jelas tergantung tujuan dan pakai maskapai apa. Bisa cari promo ya kalau mau dapat lebih murah. Saya dulu pakai strategi booking flight+hotel di Traveloka karena surprisingly harganya jadi lebih murah dibanding kalau saya beli tiket pesawat saja.

Rincian biayanya:

  • Travel Bandung-Bandara CGK Reisha dan Akas: Rp290.000
  • Tiket pesawat Reisha dan Akas: Rp14.789.795

Tiket suami ditanggung beasiswa dan dibelikan pihak kampus, jadi ga keluar uang pribadi dulu untuk beli tiket ini.

Biaya Lainnya

Kalau bagian ini relatif banget, ga bisa disamaratakan, hehe. Mayoritas biaya-biaya tambahan yang bakal dikeluarkan saat mempersiapkan keberangkatan. Dalam kasus saya, biaya-biaya itu diantaranya:

  • Transportasi ke/dari Jakarta
    Berhubung medical check up dan urusan visa hanya bisa dilakukan di Jakarta, sementara saat itu saya tinggal di Bandung, jadi mesti perhitungkan ongkos untuk ke Jakarta juga. Alhamdulillah ada keluarga di Jakarta jadi bisa numpang nginap. Kalau ga ada mungkin bakal perlu biaya akomodasi juga kalau memang urusannya ga bisa beres dalam sehari.
  • Pengiriman kargo barang
    Dulu di Bandung saya ngontrak, barang lumayan banyak, dan tidak mungkin semuanya dibawa ke NZ. Jadi sebagian barang saya kirim ke Padang, sebagian dijual. Yang dikirim lumayan juga ternyata, walau udah kirim pakai kargo yang relatif murah, keluarnya juga tetap juta-juta, heuheu.
  • Beberes kontrakan
    Ngontrak rumah, sebelum keluar artinya mesti kembalikan kondisi rumah seperti semula. Minimal dibersihkan seperti sedia kala. Karena selama tinggal di sana saya ga pernah bebersih besar-besaran, jadi saat keluar lumayan juga yang mesti dibersihkan, wkwk. Dan saya ga kuat bersihin sendiri. Alhasil jadi hire jasa bebersih.
  • Urusan kesehatan
    Sebelum berangkat saya urus beberapa hal terkait kesehatan, seperti ke dokter gigi, ke dokter kandungan, dan beli kacamata. Banyakan buat saya udah ditanggung asuransi kantor sih, tapi untuk Akas ga ada asuransinya, heuheu.
  • Belanja barang untuk dibawa
    Sebelum berangkat pasti ada sejumlah barang baru yang bakal kita bawa, yang berarti kudu dibeli dulu. Minimal stok bumbu, makanan, dan obat-obatan itu deh, huehe. Saya juga mesti nambah beli koper waktu itu.

Baca juga: Daftar Barang yang Perlu Dibawa untuk Tinggal di Luar Negeri

Menyiasati Bukti Keuangan untuk Visa

Dari biaya-biaya yang saya tulis di atas, apa yang angkanya paling gede hayo? Yup, dana yang harus ada di rekening untuk dilampirkan sebagai bukti keuangan saat mengurus visa.

Setahu saya ga cuma NZ ya, tapi di negara lain pun ada ketentuan seperti itu. Dan jumlahnya rasanya gede banget ya buat kita-kita yang ga kaya raya ini, heuheu. NZ masih “mending” ya ga sampai 100 juta, untuk urus visa tinggal di UK denger-denger mesti ada bukti dana di atas 100 juta rupiah, wakwaw.

Ga semua orang bisa punya tabungan puluhan hingga ratusan juta itu, huhu. Tapi demi agar aplikasi visa disetujui, kita wajib sediakan dana itu. Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh kita-kita yang ga punya pohon uang ini:

  • Menabung. Ini antara menabung dari jauh-jauh hari sebelum berangkat, atau menabung setelah dapat beasiswa (biasanya pada mahasiswa yang mau bawa keluarganya, baru bisa nabung setelah dapat beasiswa, jadi keluarganya menyusul berangkatnya).
  • Menjual aset berharga yang dipunya. Nah mungkin si teman saya dulu itu salah satu pertimbangannya ini.
  • Meminjam uang untuk disimpan di rekening. Banyak yang begini sepertinya, biar kalau cetak buku tabungan kelihatan ada angka sekian. Tapi ini mesti diperhatikan juga sih, apakah untuk visanya cuma butuh angka saldo terakhir, atau mesti kelihatan ada pemasukan rutin sekian tiap bulan selama beberapa bulan terakhir. Kalau harus ada rutin, yah diatur lagi strateginya gimana. Dan yang jelas, kalau meminjam, jangan lupa dikembalikan lagi, hehe.

Pindah ke Luar Negeri, Berangkat Bareng atau Nyusul?

Ini salah satu pertanyaan saya saat suami sudah fix bakal kuliah di Auckland. Mending kami berangkat bareng sekeluarga, atau suami duluan lalu saya dan Akas nyusul? Untungnya saya ada teman dan kenalan yang punya pengalaman berbeda, jadi saya bisa dapat bayangan plus minusnya.

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan di antaranya:

  • Biaya. Kalau berangkat bareng, adakah dana yang cukup untuk beli tiket pesawat, urus visa, dkk.? Pada akhirnya biaya yang bakal dikeluarkan untuk berangkat bakal sama-sama aja. Bedanya apakah dananya sudah tersedia sejak awal, atau mesti tunggu beasiswa dulu?
  • Akomodasi di negara tujuan. Kalau sudah dapat tempat tinggal tetap di negara tujuan sih enak ya untuk berangkat bareng. Tapi kalau belum ada, artinya di awal-awal bakal tinggal di tempat tinggal sementara. Mungkin AirBnb, motel, guest house, dan sejenisnya. Artinya mesti siapin dana lebih lagi. Nyari tempat tinggal tetap belum tentu bisa cepat prosesnya.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk menyusul saja. Sebelum berangkat, kami belum dapat tempat tinggal tetap. Sebenarnya ada sih dapat info housing dari kampus ataupun apartment yang terjangkau yang sudah bisa di-booking dari sebelum kedatangan, tapi kami prefer lihat langsung tempatnya terlebih dahulu. Daripada ntar kayak beli kucing dalam karung kan.

Dan dengan suami berangkat duluan, kami lebih hemat keluar biaya akomodasi di awal, karena cuma perlu cari tempat tinggal sementara untuk 1 orang. Jelas lebih murah dibanding cari penginapan untuk 3 orang untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Suami juga bisa lebih luwes urus, beli, dan siapin macam-macam. Anak juga lebih nyaman karena begitu dia datang tempat tinggalnya sudah siap ditempati, ga ikut merasakan riweuhnya urusan ke sana-sini sebelum settle. Sayanya juga ada urusan kantor yang belum beres sih waktu itu, hehe.

Membawa keluarga saat studi di luar negeri memang butuh biaya yang tidak sedikit. Kalau lihat angka aja, lebih murah sebenarnya yang studi aja yang berangkat, lalu keluarga ditinggal di Indonesia, heuheu. Tapi LDM bukan opsi buat kami, jadi yaa dihitung-hitung dan dipersiapkan aja semuanya. Buat yang mau ikut suami/istri tinggal di luar negeri, semoga dimudahkan ya urusannya.

Salam,

Reisha Humaira

2 tanggapan untuk “Biaya dan Strategi Pindahan Sekeluarga ke Luar Negeri

  • 31 Juli 2019 pada 17:19
    Permalink

    Makasih banget sharing-nya, mbak. Aku juga ada rencana ke luar negeri, ikut calon suami gitu. Hihiii~
    Soalnya aku ngga kebayang kalo harus LDM. Pokoknya aku juga harus ikuuutaaaannn, wkkwkwk

    Balas
    • 31 Juli 2019 pada 14:20
      Permalink

      Hihihi, sama-sama mbaak. Semoga lancar-lancar semuanya yaa.

      Balas

Leave your comment