NZ Road Trip: Mencari Mount Doom ke Tongariro Alpine Crossing

Jumat, 19 April 2019

Buat yang udah baca buku atau nonton film The Lord of the Rings pasti udah ga asing lagi ya dengan Mount Doom yang berada di Mordor. Gunung yang dijadikan sebagai Mount Doom ini adalah Mount Ngauruhoe yang berada di Tongariro National Park. Di film udah ditambah-tambah efek CGI tentunya ya.

Di Tongariro National Park ini ada satu jalur hiking yang populer yakni Tongariro Alpine Crossing. Nah di hari ketiga road trip kami April lalu, kami memilih ke Tongariro Alpine Crossing ini biar bisa foto-foto melihat langsung Mount Doom itu.

Baca juga: Itinerary dan Biaya Road Trip di North Island NZ, Autumn 2019

Rencana Hiking di Tongariro Alpine Crossing

Tongariro Alpine Crossing itu katanya one of the best one-day walks in the world. Panjang jalurnya 19.4 km, bisa ditempuh dalam waktu 7-9 jam. Perjalanan melintasi Tongariro Alpine Crossing ini biasanya dimulai dari Mangatepopo, berakhir di Ketetahi Hot Spring. 

Sepanjang perjalanan, kita akan melewati Mount Tongariro dan Mount Ngauruhoe (alias Mount Doom), serta bisa melihat Mount Ruapehu dari kejauhan. Di samping itu juga ada beberapa pemandangan alam yang bisa dinikmati seperti Soda Springs, South Crater, Red Crater, Emerald Lakes, dan Blue Lake. Silakan googling lebih lanjut ya kalau mau lihat foto-fotonya, karena saya ga punya, haha.

Jalur hiking-nya katanya tidak terlalu berat, tapi jangan dianggap remeh juga. Untuk melewati semuanya dari ujung ke ujung tetap diharuskan punya fisik yang kuat dan perlengkapan yang cukup.

Bilang berencana ke Tongariro Alpine Crossing bersama Akas, pasti ada yang nanya, “seriusan mau ke sana sama anak kecil?”. 19.4 km gitu loh.

Tentu saja tidak, hahaha. Ga kuat kk. Rencana kami cuma jalan dari parkiran di Mangatepopo Road sampai ke Soda Spring (perkiraan waktu 1-1.5 jam kata webnya) trus balik kanan lagi ke parkiran. Karena sama anak kecil, rencananya mau jalan santai aja, jadi pasti lebih lama dari perkiraan. Tujuan utamanya cuma mau lihat Mount Ngauruhoe kok dan itu pun sudah kelihatan dari awal rute hiking.

tongariro alpine crossing map
Peta track Tongariro Alpine Crossing (Sumber: Tongariro Crossing)

Yang kami garis bawahi saat itu adalah, walau rutenya singkat, kami tetap mesti prepare, terutama soal pakaian. Katanya cuaca di sana bisa cepat sekali berubah. Udara pun udah mulai dingin, jadi kami siapin deh jaket berlapis dan sepatu yang nyaman.

Perjalanan dari Rotorua ke Mangatepopo

Malam sebelumnya kami menginap di Rotorua. Jadi untuk sampai ke Mangatepopo, kami mesti driving dulu sekitar 2 jam lebih. Kami menikmati pemandangan farm hijau yang luas khas New Zealand di sepanjang perjalanan. 

Baca juga: NZ Road Trip: Naik Gondola dan Main Luge di Skyline Rotorua

Perjalanan lancar, langit cerah berawan. Mendekati kawasan Tongariro, sudah ada gunung yang terlihat. Feeling saya ada Mount Doom di situ, tapi ga yakin karena gunungnya tertutup awan. Hmm.

gunung di tongariro
Pemandangan dari jalan. Gunung apakah itu?

Memasuki Mangatepopo Road, kondisi jalannya sudah berbeda. Jalanannya tidak diaspal. Pemandangan sekitar pun didominasi warna kecoklatan, bukan hijau lagi. Kami sampai di parkiran Mangatepopo sekitar jam 1 siang, lalu makan dulu di mobil.

tongariro
Kondisi jalan di Mangatepopo, beda banget

Jalan dari Parkiran ke Mangatepopo Hut

Beres isi tenaga, kami pun segera memulai perjalanan. Di dekat parkiran ada beberapa papan informasi seputar Tongariro Alpine Crossing. Ditekankan banget di situ kalau kita mesti prepare.

Tongariro Alpine Crossing
Are you ready?

Berkaca dari pengalaman ke Cathedral Cove, kami pun memutuskan untuk membawa stroller Akas biar kalau dia cape sewaktu-waktu, dia tinggal duduk aja di stroller. Dan di beberapa foto Tongariro Alpine Crossing yang kami lihat di internet, ada kok jalur buatan pakai kayu gitu, jadi bisa lah pakai stroller di situ, pikir kami.

Baca juga: NZ Road Trip: Berkunjung ke Cathedral Cove, Gerbang Menuju Narnia

Tongariro Alpine Crossing
Mari kita mulai perjalanan ini!

Di awal perjalanan, jalur yang kami temui hanya jalur tanah dan berbatu. Kami masih bersemangat, jalan sambil menikmati pemandangan sekitar. Akas malah sampai minta lepas jaketnya karena gerah. Sementara saya masih merasa kedinginan, bertahan deh pakai jaket tebal.

Tongariro Alpine Crossing
Awal perjalanan

Semua landscape didominasi warna kecoklatan, tapi entah kenapa rasanya tetap masya Allah. Dulu cuma bisa melihat pemandangan seperti itu di film-film, sekarang bisa melihat langsung dengan mata sendiri.

Awalnya ga ada masalah. Tapi lama-lama Akas mulai mengeluh. Wajar sih. Dia minta pakai stroller, tapi ya gimana, jalannya masih berbatu-batu, huhu. Mana sih jalan kayu itu?

Perjalanan terasa lamaaa sekali. Bahkan untuk ke Mangatepopo Hut, perhentian pertama di Tongariro Alpine Crossing, ga sampai-sampai rasanya. Kami sempat melihat ada bangunan kecil, rupanya toilet, wkwk. Suami kebelet jadi coba ke sana. Yaa jangan berharap itu toilet normal. Ga ada septic tank, ga ada air, jadi di bawah dudukan toiletnya langsung lubang gede aja, semua kotoran numpuk di situ. Kata suami begitu, saya sih ga mau coba, haha.

Tongariro Alpine Crossing
Toilet pertama di jalur Tongariro Alpine Crossing

Kami melanjutkan perjalanan. Akas makin sering mengeluh. Ya wajar banget sih yaa, pasti cape dianya, hiks. Kondisi jalan ga ada perubahan. Sementara anak kecil belum bisa menikmati pemandangan yang menarik menurut orang dewasa.

Akas minta mainan untuk mengusir kebosanan. Tapi mainannya ga dibawa donk. Cemmana pula si emak lupa. Dia merengek, trus saya bilang cari sesuatu aja untuk dijadiin mainan. Trus dia nemu ranting, dapat dua ranting, disilangkan, jadi pesawat katanya. Trus ceria lagi deh. Sesederhana itu ya kebahagiaan anak kecil. Jadi terharu T.T. Kami juga sempat berhenti sejenak di dekat genangan air, sekadar kasih waktu buat Akas untuk main lempar batu.

Tongariro Alpine Crossing
Lempar batu dan main ranting ternyata bisa bikin bahagia

Oia masih ingat dengan awan yang saya lihat di gunung? Bener aja donk itu awan di atas Mount Doom-nya, aaaaa. Ramalan cuaca hari itu cerah berawan. Bener sih cerah, tapi kenapa awannya mesti banget numpuk di puncak gunung? Huhu.

Tongariro Alpine Crossing
Hitam gunungnya kelihatan dikit, puncaknya ditelan awan, aaa
Tongariro Alpine Crossing
Meanwhile di arah lain cerah ceria begini, aaaaa

Melihat gunung yang sudah tertutup awan, ditambah Akas yang sering bilang cape, saya juga jadi merasa makin cape. Ke Mangatepopo Hut aja belum sampai, gimana mau ke Soda Spring yang lokasiya lebih jauh? 

Istirahat di Mangatepopo Hut

Akhirnya sampai juga di Mangatepopo Hut. Dari parkiran ke Mangatepopo Hut itu estimasi perjalanannya 25 menit, tapi kami baru sampai setelah hampir 1 jam, wkwk. Saya memutuskan untuk cukup sampai di situ aja. Kasihan sama Akas, dan saya ga ada motivasi lagi, ahaha. 

Tongariro Alpine Crossing
Mangatepopo Hut di Tongariro Alpine Crossing

Sementara untuk suami, terserah aja. Kalau memang mau lanjut ke Soda Spring silakan. Suami masih pengen lanjut, yo wes, berarti saya nunggu aja di Mangatepopo Hut.

Mangatepopo Hut adalah sebuah penginapan. Di sana kita bisa booking untuk menginap di hut-nya ataupun mau camping di luarnya. Oke banget sih tempatnya buat yang mau start hiking dari pagi-pagi banget misalnya.

Fasilitas di dalam hut-nya lumayan. Teras luarnya juga cukup luas, banyak para pendaki yang numpang istirahat duduk-duduk di situ. Di sana juga ada toilet yang lebih proper, at least ada wastafel, jadi ada airnya walau dingin banget.

Tongariro Alpine Crossing
Toiletnya yang seperti rumah kecil itu

Saya dan Akas cuma duduk-duduk di teras luar. Akas satu-satunya anak kecil di situ. Ya iya siapa juga yang mau bawa anak kecil ke gunung buu, wkwk. Pengunjung lainnya orang dewasa, mulai dari anak muda hingga yang udah lansia.

Mangatepopo Hut
Main-main di sini sambil nunggu ayahnya balik

Mono juga sih menunggu di sana, ga bisa ngapa-ngapain. Akas sih lari-lari, dorong-dorong stroller, bebas lah asal ga ngeluh lagi, wkwk. Saya lihat-lihat sekeliling aja, menghirup udara segar, sambil berharap awannya bisa menyingkir sehingga tak lagi menutupi puncak Mount Doom.

Dan awan itu tak pernah pergi selama kami di sana…

Jalan dari Mangatepopo Hut ke Soda Spring

Ini suami yang jalanin, jadi saya ga tahu cerita lengkapnya, hehe.

Tongariro Alpine Crossing
Menuju Soda Spring

Ada sekitar sejam deh kayaknya suami menghabiskan waktu mulai dari Mangatepopo Hut ke Soda Spring hingga balik ke hut lagi. Kata suami, adalah keputusan yang tepat buat saya dan Akas untuk tidak melanjutkan perjalanan, karena rutenya lebih berat.

Tongariro Alpine Crossing
Sebagian rute ke Soda Spring
Mount Doom
Mount Doom yang tetap tertutup awan

Saya lihat di foto, ada donk jalur kayu yang saya lihat di internet itu. Iiiih kzl, di situ rupanya adanya, haha. Tapi katanya jalur kayu itu sebagian kecil aja. Sebagian besar justru jalan tanah berbatu, dan terkadang harus mendaki bebatuan. Weleh baiklah.

Tongariro Alpine Crossing
Ini yang dicari dari tadi biar bisa pakai stroller, wew

Sementara Soda Spring yang dimaksud sepertinya ga wow amat. Hmm. 

Soda Spring
Ini kayaknya Soda Spring-nya
Tongariro Alpine Crossing
Sisi lain di perjalanan ke Soda Spring

Jalan Kembali ke Parkiran

Setelah rehat sejenak dan shalat di hut, kami pun segera kembali. Udah sore juga, kami ga mau kemalaman di sana. 

Tongariro Alpine Crossing
Sore hari di Tongariro Alpine Crossing

Di tengah jalan kami sempat papasan dengan sepasang turis yang nanya jalan ke Soda Spring ke mana. Suami ngasih tahu, cuma kami heran, seriusan dia sore menjelang malam gitu mau jalan ke Soda Spring? Dan penampilannya pun bukan kayak orang mau naik gunung, tapi kayak turis lagi jalan-jalan di kota aja, wew. 

Kami bergerak dengan lebih cepat dibanding saat berangkat. Akas juga rasanya lebih kooperatif. Matahari mulai memerah. Pemandangan di sekeliling kami berubah warna jadi kuning keemasan, memberikan kesan yang berbeda dibanding sebelumnya.

Tongariro Alpine Crossing
Foto dulu yaa

Dari tadi kami ga sempat foto bersama, baru pas balik deh disempatkan, hehe.

Tongariro Alpine Crossing
Makin kemerahan suasananyaaa

Bahagia rasanya ketika sampai di parkiran, ahaha. Kami menikmati sunset dari sana. Matahari terbenam di balik gunung. Dataran terhampar luaaaas sekali, entah di mana ujungnya.

Sungguh kecewa rasanya mendapati puncak Mount Doom sukses ketutup awan selama kami di sana. Tapi yaa, mau gimana lagi. Belum rezeki berarti. Dan benarlah bahwa “one does not simply walk into Mordor”, wkwk.

Namun demikian, pemandangan sekitar sana alhamdulillah tetap bisa dinikmati. Suami pun tetap puas katanya, berasa lepas dan bebas di alam terbuka seluas itu.

Berikut beberapa catatan saya dari pengalaman ke Tongariro Alpine Crossing.

  • Mending ke sana tanpa anak deh, ahaha. Kalau ga bawa anak, cobain sekalian semua jalurnya. Lihat foto-foto Mount Doom dan danau-danau di atas gunungnya itu bagus-bagus, fufufu.
  • Kalau kekeuh bawa anak kayak kami, ga usah bawa stroller. Kecuali stroller-nya kokoh dan rodanya gede. Itu mungkin bisa di jalan tanah berbatu. Mungkin ya, ga jamin, wkwk.
  • Ramalan cuaca di gunung agak susah dipercaya. Mungkin mending ke sana kalau ramalan cuacanya bilang sunny. Kalau masih ada awan-awannya bisa aja apes awannya nutupin gunung, heuheu.

Demikian ceritanya. Minat ga ke sana? Ahaha.

Salam,

Reisha Humaira

4 tanggapan untuk “NZ Road Trip: Mencari Mount Doom ke Tongariro Alpine Crossing

  • Pingback:Road Trip NZ: Hiking ke Tongariro Alpine Crossing Mencari Mount Doom – Blogger Perempuan

  • 12 Oktober 2019 pada 19:09
    Permalink

    oke, aku skip rute tracking ini hahahahaha. pas ke nz ntr aku bawa anak soalnya, jd yg rutenya berat2 kayaknya ga bakal aku masukin itin mba :D. takut anak2 cranky.

    tp itu hot springnya benran ga terlalu menarik yaaa.. aku senewen kayaknya udh capek2 ksana tp cuma begitu doang :p. walopun view menuju kesana lumayan banget sih :). tp di NZ apaan coba yg ga bagus.. bagus semuaaaa 😀

    Balas
    • 13 Oktober 2019 pada 00:40
      Permalink

      Hahaha. Iyah, yang bagus pas udah di gunung dan lihat danau-danaunya mbak, apalagi kalau cerah, bagus banget. Tapi ya itu, kudu tanpa anak, wkwk.

      Balas

Leave your comment