Diari Kehamilan Pertama: Galau Mau Lahiran di Mana

Saya sempat galau menentukan nanti mau melahirkan di mana, apakah di Balikpapan atau di Bukittinggi. Keduanya ada kelebihan dan kekurangan masing-masing buat saya, mulai dari pertimbangan penting sampai ga penting, hehe.

Pertimbangan saya untuk Balikpapan antara lain:

  • (+) Saya bisa terus bersama suami, ga perlu LDR selama beberapa bulan.
  • (+) Kalau tiba-tiba saya harus melahirkan dan suami belum cuti atau bahkan sedang job di lapangan, suami bisa lebih cepat sampai ke rumah sakit di Balikpapan ketimbang ke Bukittinggi.
  • (+) Fasilitas kesehatan di sini mungkin lebih baik (sekali lagi, mungkin). Dari awal hamil saya kontrol kandungannya di sini jadi dokternya sudah mengikuti perkembangan kehamilan saya sejak awal. Mau ikut kelas senam hamil, yoga hamil, atau hypnobirthing ada tempatnya.
  • (-) Tidak ada keluarga saya yang tinggal di Balikpapan. Pilihannya paling minta mama saya ambil cuti untuk menemani saya di Balikpapan. Tapi tentu cutinya terbatas.
  • (-) Ini insyaAllah anak pertama kami, jelas saya belum ada pengalaman sama sekali bagaimana melahirkan dan mengurus bayi yang baru lahir. Kalau mama cuma bisa sebentar menemani, berarti saya dan suami mesti berjuang sendiri mengurus bayi.
  • (-) HPL saya sekitar pertengahan bulan Ramadhan. Bayi yang baru lahir kasihan banget kalau langsung di bawa naik pesawat dalam usia belum 1 bulan. Jadi mesti Lebaran di Balikpapan. Ga kebayang sepinya.
  • (-) Sulit mungkin untuk keluarga kami yang lain untuk mengunjungi kami karena jaraknya yang jauh dan ongkosnya yang ga murah.
  • (o) Tempat lahir di akte kelahiran bayi kami nantinya “Balikpapan”, lumayan jadi beda dibanding ayah dan ibunya. (oke, ini alasan ga penting, haha)

Pertimbangan saya untuk Bukittinggi antara lain:

  • (+) Keluarga saya ada di Baso, bisa menemani saya menjelang persalinan ataupun membantu mengajarkan saya nanti mengurus bayi yang baru lahir. (Eniwei walau rumah di Baso, pilihan lahirannya di Bukittinggi karena rumah sakit terdekat adanya di Bukittinggi. Di Baso adanya Puskesmas dan klinik bidan saja. Saya prefer ke rumah sakit).
  • (+) Waktu hamil besar saya lebih terbantu kalau butuh apa-apa karena ada banyak orang di rumah.
  • (+) Saya bakal full di rumah bersama keluarga selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri.
  • (+) Keluarga saya ataupun suami lebih mudah mengunjungi kami setelah lahiran.
  • (+) Lebih mudah mengurus akte kelahiran bayi nantinya karena KTP dan KK kami beralamat di Padang.

    Baca juga: Mengurus Kartu Keluarga (KK) Baru

  • (-) Saya harus LDR dengan suami selama beberapa bulan, minimal 2 bulan sebelum persalinan (dari batas maksimal ibu hamil boleh naik pesawat) ditambah sampai bayinya siap dibawa naik pesawat (belum tau kapan). Suami bakal ambil cuti dekat-dekat HPL saya, tapi tentunya hanya bisa beberapa minggu.
  • (-) Ga terlalu mengkuatirkan fasilitas kesehatan di Bukittinggi sih, cuma saya tidak tau apakah di Bukittinggi ada kelas senam hamil dkk. atau tidak. Ga pernah nemu informasi di internet seputar hamil dan melahirkan di Bukittinggi, heuu.
  • (-) Kalau ternyata saya tiba-tiba harus melahirkan sebelum suami cuti dan sampai di Bukittinggi, ada kemungkinan saya lahiran tanpa ditemani suami. Maunya kan ditemani suami saat saat proses persalinan.
  • (o) Tempat lahir di akte kelahiran bayi kami nantinya “Bukittinggi”. Jadi walau nanti besar di rantau, ia akan selalu punya ikatan dengan Ranah Minang, kampung halaman kami.

Galau juga mikirin list plus-minus di atas. Jadinya saat awal-awal kehamilan, kalau suami atau keluarga saya nanya nanti mau lahiran di mana, saya bilang aja lihat gimana kondisinya nanti, belum bisa diputuskan.

Sampai akhirnya di awal tahun 2015 suami saya nanya dengan lebih serius. Oya pertimbangan yang saya tulis di atas itu sih baru di pikiran saya aja, sebelumnya belum pernah saya bahas dengan suami. Dan ternyata ada pertimbangan lain dari suami yang ga kepikiran sama sekali oleh saya sebelumnya.

Saat ditanya suami, awalnya saya bilang prefer di Balikpapan aja, terutama biar ga LDR. Tapi suami prefer saya lahiran di Bukittinggi aja. Suami saya rupanya kuatir banget kalau nanti mesti ninggalin saya sendirian di rumah saat hamil besar karena harus job ke lapangan. Bisa-bisa pikirannya malah jadi ga tenang terus. Apalagi jadwal job suami saya itu ga jelas, ga bisa ditentukan dari awal. Kalau jadwal kerjanya kayak orang kantoran biasa sih kata suami ga masalah mau lahiran di Balipapan. Suami meminta saya untuk mempertimbangkan lagi.

Dulu sih saya merasa ga gitu masalah juga kalau sendirian pas hamil besar. InsyaAllah kuat. Tapi setelah mendengar pertimbangan suami, kok ya rasanya keterlaluan juga kalau saya maksa mau lahiran di Balikpapan. Saya juga coba tanya ke mama saya, jelas mama saya prefer saya lahiran di Bukittinggi aja. Dipikir-pikir juga, kalau lahirannya jauh lebih cepat dari prediksi, sementara saat itu kebetulan saya sendirian aja di Balikpapan, kan gawat juga.

Akhirnya saya putuskan untuk melahirkan di Bukittinggi aja nanti. Sudahi galaunya sampai di situ, hehe. Suami pun langsung ancang-ancang mengajukan rencana cuti kepada bosnya. Sekarang saya tinggal berdoa sama Allah agar nanti suami sudah bersama saya beberapa hari menjelang lahiran serta bisa mendampingi proses persalinan. Trus sering-sering ngomong ke anak kami, “Nak, nanti kita lahiran kalau ayah udah di rumah bareng kita yaa :-*”.

Salam,

signature

Leave your comment