Diari Kehamilan Pertama: Tes Darah, TORCH, dan Urine Saat Hamil

Ibu hamil sebaiknya melakukan sejumlah tes laboratorium selama hamil, seperti tes darah, TORCH, dan urine. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan di awal kehamilan, begitu tau positif hamil. Bahkan ada yang bilang sebaiknya tes dilakukan sebelum hamil, agar bila ternyata ibu terinfeksi virus yang membahayakan janin, kehamilannya bisa ditunda dan penyakit pada ibu bisa diobati terlebih dahulu.

TORCH sendiri adalah singkatan dari Toxoplasmosis, Other infections (syphilis, hepatitis B, coxsackie virus, Epstein-Barr virus, varicella-zoster virus, and human parvovirus), Rubella, Cytomegalovirus (CMV), dan Herpes simplex virus (HSV). Infeksi TORCH pada ibu hamil bisa menyebabkan kelainan atau cacat pada janin hingga keguguran. Karena itulah tes TORCH ini jadi penting untuk ibu hamil.

Melakukan Tes Darah, TORCH, dan Urine

Sejujurnya saya sendiri baru tahu belakangan kalau perlu ada tes lab ini (kalau yang sering main sama kucing atau anjing mungkin udah kepikiran dari awal ada risiko toksoplasma). Dari awal kehamilan, dokter Sp. OG yang saya temui ga pernah nyuruh soalnya. Dan begitu tau tentang tes-tes ini, saya juga ga langsung inisiatif untuk nanya ke dokter. Saya pikir, mungkin emang kehamilannya baik-baik saja jadi ga perlu tes. Sampai suatu hari suami ngobrol sama temennya dan membahas tentang tes TORCH. Intinya si teman menyarankan untuk tes TORCH saja biar kalau ada apa-apa bisa ditangani lebih cepat. Suami pun menyuruh saya untuk melakukan tes TORCH.

Seperti yang saya posting sebelumnya, saat kontrol kandungan saya tanya ke dr. S apakah saya perlu tes TORCH. dr. S bilang ga harus selama kehamilannya normal, tapi akhirnya saya bilang aja kalau suami nyuruh tes TORCH. dr. S pun langsung mengisi form untuk tes lab. dr. S pun akhirnya menyarankan untuk sekalian melakukan tes darah dan urine. Jadilah tes ini baru saya lakukan pada trimester 2.

Baca juga: Diari Kehamilan Pertama: Kontrol Kandungan Ke-5 (Trimester 2, 22W4D)

Pada tes yang saya lakukan, darah diambil sebanyak satu tube. Tes TORCH juga dilakukan dari sampel darah pasien. Hasilnya katanya baru keluar setelah 3 hari, lama di tes TORCH-nya kalau ga salah.

Biaya Tes Darah, TORCH, dan Urine

Saya melakukan pengambilan darah dan urine pada tanggal 23 Februari 2015 di Siloam Hospital Balikpapan. Dari info teman suami, katanya tes TORCH itu mahal biayanya, sampai 2 jutaan, tapi saya ga survei lagi sebelum tes. Saat ngantre di kasir baru deh saya tau kalau biayanya memang mahal. Kasirnya juga sampai nelpon dan ngecek-ngecek dulu apakah tes tersebut di-cover asuransi atau saya mesti bayar sendiri, heuheu. Mungkin karena mahal itu juga kalau ga ada masalah apa-apa pada si ibu hamil, dokternya ga nyinggung-nyinggung soal tes TORCH.

Kebetulan juga di printout billing-nya ada detail biaya untuk setiap item tes yang saya ambil. Dan ternyata memang bagian TORCH-nya itu yang mahal-mahal. Ada 10 item, dan masing-masingnya sekitar Rp200.000, makanya biayanya sampai 2 jutaan T.T.

Berikut rincian biayanya:

  • Complete Blood Count (HB, HT, E, LEU, PLAT, MCV, MCHC): Rp63.000
    Blood Type & Rhesus: Rp39.000
    SGOT-SGPT: Rp72.000
    Glucose ad random: Rp25.000
    Ureum: Rp36.000
    Creatinine: Rp36.000
    HBsAg Rapid: Rp67.000
  • Anti Toxoplasma IgG: Rp188.000
    Anti Toxoplasma IgM: Rp188.000
    Anti Rubella IgG: Rp203.000
    Anti Rubella IgM: Rp260.000
    Anti CMV IgG: Rp193.000
    Anti CMV IgM: Rp274.000
    Anti HSV I IgG: Rp209.000
    Anti HSV I IgM: Rp209.000
    Anti HSV II IgG: Rp196.000
    Anti HSV II IgM: Rp196.000
  • Complete Urinalysis (Chem & Sed): Rp49.000
  • Total = Rp2.503.000

Mengambil Hasil Tes

Saya baru mengambil hasil tesnya pada tanggal 28 Februari 2015. Saya sengaja ke Siloam Hospital sore hari menyesuaikan dengan jadwal dr. S, supaya kalau ternyata mesti konsultasi, saya bisa langsung daftar untuk ke dr. S. Awalnya saya kira petugas lab bisa ngasih sedikit penjelasan apakah hasil tes saya bermasalah atau tidak, tapi ternyata kalau butuh penjelasan mesti konsultasi dengan dokternya langsung. Fyuh.

Langsung aja deh saya ambil nomor antrean, dan pas daftar baru inget kalau hari itu hari Sabtu, pasti lama ini antrenya, huhu. Dapat nomor antrean 12, sementara yang udah dilayani baru 2 -_-. Saya amati, beberapa item tes ada yang hasilnya di luar reference range. Dan di bagian TORCH ada yang hasilnya reaktif/positif, padahal dulu pas premarital check up rasanya semuanya negatif. Waduh, ga sabar deh nunggu antrean.

Baca juga: Persiapan Pernikahan E♡R: Melakukan Premarital Check Up di Santosa Hospital Bandung

Saat konsultasi, saya kasih hasil tes labnya ke dr. S, lalu dr. S melihat sekilas dan bertanya “keputihan ya?”. Pengen rasanya bilang “Iya doook, kan udah saya bilang pas kontrol”, haha. Setelah menulis-nulis dan menandai beberapa bagian, dr. S pun menjelaskan dengan rinci tiap halaman hasil tes saya, terutama di bagian yang “tidak normal”.

Hasil Tes Darah

Dari tes hematologi lengkap, hemoglobin (Hb) saya ternyata hanya 11.2 (reference range: 12.0-15.0). Kata dr. S, termasuk rendah tapi belum butuh obat/suplemen, kalau udah di bawah 10.0 baru deh perlu obat/suplemen. Trus katanya Hb ini akan cenderung turun lagi pas trimester 3. Nanti pas trimester 3 kalo emang masih rendah, baru dikasih obat/suplemen. Oke lah, nanti di trimester 3 saya jadi pengen tes darah lagi.

Limfosit, hematokrit, dan eritrosit saya juga rendah, tapi kalo ga salah itu kaitannya ke Hb, makanya Hb-nya juga rendah. Sebaliknya, leukosit saya tinggi, 12.80 (reference range: 4.50-11.50). Tandanya tubuh saya sedang melawan infeksi, mungkin karena keputihan itu.

Hasil lain yang di bawah standar adalah kreatinin, 0.49 (reference range: 0.50-1.10), tapi kata dr. S ga masalah, lagian bedanya juga dikit aja. Hasil lainnya alhamdulillah normal.

Hasil Tes TORCH

Bagian ini yang paling bikin penasaran. Udah sempat browsing juga sih sebenarnya soal apa arti di balik hasil tes TORCH, tapi tentu lebih tenang kalau mendengar penjelasan dokter secara langsung, hehe.

Pada tes TORCH terdapat item Anti Toxoplasma, Anti Rubella, Anti CMV, Anti HSV I, dan Anti HSV II, yang masing-masing ada IgG dan IgM-nya.

  • Tes IgG (Immunoglobulin G): untuk memeriksa apakah si pasien pernah terinfeksi virus tersebut di masa lalu (lebih dari 3 bulan yang lalu).
  • Tes IgM (Immunoglobulin M): untuk memeriksa apakah saat ini si pasien terinfeksi virus tersebut.

Alhamdulillah, syukurlah di saya yang hasilnya reaktif/positif itu bagian IgG saja (Anti Rubella IgG, Anti CMV IgG, dan Anti HSV I IgG), sementara IgM semuanya non reaktif/negatif. Berarti dulu saya pernah terinfeksi virus-virus tsb, tapi sekarang sudah terbentuk antibodi untuk melawan virus-virus itu. Seingat saya sih saya ga pernah sakit Rubella, CMV, atau HSV. Tapi katanya kalau kondisi tubuh oke, mungkin saat virus-virus tersebut menyerang, efeknya cuma demam.

Khusus untuk Rubella, kata dr. S kalau IgG-nya reaktif/positif, tubuh saya sudah kebal terhadap Rubella. Antibodinya dulu bisa aja terbentuk karena tubuh sudah melawan serangan virusnya, atau bisa juga dari imunisasi. Sementara untuk CMV dan HSV, walau IgG-nya reaktif/positif, tubuh belumlah kebal terhadap virus-virus tersebut, jadi sewaktu-waktu bisa aja kena serangan lagi. Tapi yang penting untuk saat ini tidak ada yang perlu dikuatirkan karena IgM-nya non reaktif/negatif.

(Dan setelah saya cek ulang ke paket check up pranikah yang saya ambil, ternyata dulu yang dicek cuma IgM. Pantes dulu itu ga ada yang hasilnya positif. 😛 )

Hasil Tes Urine

Bagian ini nih yang menurut dr. S paling bermasalah >.<. Pada urine saya ditemukan leukosit, darah, eritrosit, bakteri, hifa, dan spora. Adanya leukosit berarti tubuh saya memang sedang melawan infeksi. Darah mungkin memang ga kelihatan secara kasat mata, soalnya warna urine masih normal. Adanya bakteri menandai terdapat infeksi saluran kemih (ISK). Dan karena sudah ada darah segala, dokter ngasih saya antibiotik untuk mengobati ISK. Huhu, antibiotik, saya kan rada trauma dengan antibiotik saat hamil. Saya pun mastiin ke dr. S, “aman kan dok antibiotiknya?”, dan dr. S pun bilang “iya, dicariin yang aman kok”. Syukurlah, walau tetap aja setelah itu saya tetap browsing untuk cari tambahan info :P.

Baca juga: Diari Kehamilan Pertama: Kontrol Kandungan Ke-2 (Trimester 1, 7W6D)

Sementara itu, hifa dan spora menurut dr. S biasanya ga ditemukan dalam saluran kemih, jadi kemungkinan besar asalnya dari vagina. Sesuai juga sih dengan fakta bahwa saya keputihan, huhu. Curiga bakal dikasih Fladystin lagi seperti setelah pap smear dulu, dan ternyata iya. Argh ketemu lagi dengan obat itu, dan mesti pakai 10 hari juga seperti saat sebelum saya hamil.

Baca juga: Medical Check Up dan Pap Smear Pertama (2)

Sejujurnya saya malas berurusan dengan obat lagi, terutama saat hamil begini. Tapi dari pada nanti makin parah dan membahayakan kehamilan saya, diikuti aja deh resep dari dokternya. Nak, maaf ya ibu mesti pake obat lagi, mudah-mudahan ga apa-apa yaa.

Eh iya, bukan obat doank kok solusi dari dr. S, hehe. dr. S juga nyaranin sejumlah hal untuk mengatasi ISK dan keputihan, di antaranya:

  • Banyak-banyak minum air putih.
  • Jangan suka menahan pipis.
  • Setelah cebok, lap dulu daerah yang basah. Pastikan sudah kering lagi sebelum memakai celana dalam.
  • Jangan pakai panty liner.

Tips lain bisa dibaca di sini dan di sini.

Biaya konsultasi hasil tes laboratorium:

  • Pendaftaran pasien lama: Rp15.000
    Konsultasi dokter spesialis: Rp125.000
    Starcef 100 (20 x @Rp24.062): Rp481.240
    Fladystin (10 x @Rp16.912): Rp169.120
  • Total = Rp790.360

Waktu kontrol sebelumnya, saya lupa nanya ke dr. S tentang senam hamil dan USG 4D. Mumpung ada kesempatan, akhirnya sekalian deh saya tanyain tentang 2 hal ini ke dr. S setelah beres bahas hasil tes lab. Tapi kapan-kapan aja saya ceritain kalo saya emang nyoba senam hamil dan USG 4D-nya, hihi.

Salam,

signature

Leave your comment