Wisata Jabar: Serba Bambu di Dusun Bambu Family Leisure Park

Sebagai penutup libur Lebaran kami tahun lalu di Lembang, kami jalan-jalan ke Dusun Bambu Family Leisure Park, biasa disebut orang sebagai Dusun Bambu aja. Saat itu adalah kunjungan kedua saya dan Akas ke Dusun Bambu, sedangkan suami saya baru pertama kali ke sana.

Kunjungan pertama saya ke Dusun Bambu yakni saat adik saya liburan ke Bandung. Cerita kami ke sana belum saya tulis, jadi saya rapel aja ya di sini, hehe. Lagi pula pengalaman kami ke Dusun Bambu di hari libur Lebaran terasa kurang menyenangkan. Nanti deh ceritanya, sekarang flashback dulu. 😀

Rabu, 18 Januari 2017

Hari itu rencana jalan-jalan kami adalah ke Farm House lalu lanjut ke Dusun Bambu. Karena kesiangan berangkat, ditambah di Farm House cukup lama muter-muter foto-foto, alhasil sekitar jam 3 sore kami masih berada di Farm House.

Baca juga: Wisata Jabar: Mencari Rumah Hobbit ke Farm House Susu Lembang

Kami sempat ragu, jadi ga ya ke Dusun Bambu, udah sore gini, daripada kepalang tanggung, hajar aja deh ke Dusun Bambu. Kami yang cuma mengandalkan taksi online saat itu beruntung banget pas order Go-car pas dapet mobil yang lagi parkir di Farm House. Jadi kami ga perlu menunggu lama.

Kami sampai di Dusun Bambu sekitar jam setengah 4 sore, dan langsung gerak cepat karena ga mau kemalaman di sana. Kami turun di main gate, di sana terdapat tugu besar yang terbuat dari bambu. Terrnyata dari main gate mesti naik mobil lagi untuk ke dalam. Mobil yang disediakan Dusun Bambu ini tampak mencolok karena berhiaskan bunga-bunga.

Dusun Bambu
Mobil berhiaskan bunga-bunga

Sebenarnya bisa aja jalan kaki ke dalam, melewati sawah. Lumayan lah buat yang jarang lihat sawah. Tapi buat kami yang tumbuh di kampung sih udah biasa lihat sawah dari kecil, hihi.

Saung dan Danau Purbasari

Sesampainya di dalam kami langsung mencari objek foto utama di Dusun Bambu, yakni di depan danau dengan saung-saung di seberang danau tersebut. Kami sempat bingung mencari jalan ke seberang danau. Kami coba menyusuri jalan setapak di dekat saung, kirain ada jalan memutari danau, eh ternyata jalan buntu, balik kanan deh.

Dusun Bambu
Jalan di dekat saung, ternyata buntu

Akhirnya ketemu juga spotnya, kami pun langsung foto-foto. Kalau di Farm House kami masih sempat setup tripod untuk foto-foto bertiga, kali ini kami foto bergantian aja, daripada kelamaan, hehe.

Dusun Bambu
Foto khas di Dusun Bambu
Dusun Bambu
Akhirnya punya foto di sini

Taman Bunga Arimbi

Berikutnya saya ingin lihat playground yang ada di Dusun Bambu. Lihat fotonya sih tampak menarik. Di jalan menuju playground, kami melewati taman yang sangat luas. Ada beberapa orang yang foto-foto di situ, tapi kami cuma lihat dan berfoti dari kejauhan, ga minat foto di tengah tamannya.

Dusun Bambu
Foto dari sini aja deh

Di dekat taman itu ada kereta mini sedang parkir. Akas sempat berhenti karena melihat kereta itu dan pengen naik. Tapi karena ga ada waktu, saya ga ajak Akas naik keretanya. Maaf ya Kas.

Dusun Bambu
Mupeng naik kereta

Bamboo Playground

Kami segera menuju playground yang ternyata berada di dekat Pasar Khatulistiwa. Banyak penjual makanan, pengen rasanya jajan, tapi saya skip karena terbatasnya waktu. Tujuan saya ke playground cuma buat lihat dan foto-foto, ga mungkin main sama Akas di sana jam segitu. Playground-nya bagus, ada labirin juga.

Dusun Bambu
Berfoto di dekat playground

Lutung Kasarung

Puas berfoto di playground, kami berjalan lagi dan sampailah di Lutung Kasarung. Lutung Kasarung ini sebenarnya adalah restoran, tapi didesain menyerupai sarang burung di atas pohon. Ukuran “sarang burung”-nya berbeda-beda, tergantung kapasitas ruangan di dalamnya.

Dusun Bambu
“Sarang burung” Lutung Kasarung

Untuk makan di Lutung Kasarung ini, selain membayar makanan, kita juga harus membayar sewa tempat. Menurut saya, kalau untuk rame-rame sih ga apa-apa, kalau dikitan rasanya kemahalan bayar sewanya, hehe. Mending jalan dan foto-foto aja di sana, trus makannya di restorannya aja. #emakemakperhitungan

Dusun Bambu
Berfoto di Lutung Kasarung

Sudah hampir jam 5 sore, kami segera beranjak dari Lutung Kasarung. Kami mesti menunggu mobil lagi untuk kembali ke main gate.

Dusun Bambu
Berfoto sambil menunggu mobil ke main gate

Panik Saat Mau Pulang

Kalau ini judulnya bukan wahana di Dusun Bambu ya, hehe. Sedikit cerita aja.

Sampai di main gate, saya bersihin Akas dulu, ganti popok dll. biar nanti perjalanan pulangnya lancar. Saya coba pesan taksi online lagi, ga dapet-dapet. Kami jalan menuju gerbang Dusun Bambu, sekalian foto #teteup, kali aja di luar ada taksi mangkal.

Dusun Bambu
Berfoto di gerbang masuk Dusun Bambu

Baterai HP saya makin menipis, taksi online ga dapet-dapet, padahal udah coba order semua: Go-car, Grab-car, Uber. Sudah jam setengah 6 sore, saya mulai panik. Di luar ga ada taksi yang mangkal, dan tempatnya sepi banget. Lokasi Dusun Bambu ini memang bukan di pinggir jalan gede. Dari jalan raya masih belok lagi dan saat itu jalannya belum diaspal/dibeton. Kalau ga dapat kendaraan, kemungkinan terburuk saya mesti minta suami jemput dan siap-siap dimarahi. Duh. Berharap ada mobil yang mau kasih tebengan, tapi ga ada, haha.

Saya lihat ada 2 bapak-bapak mengamati kami dari tadi. Mungkin mereka mikir, ngapain ini 2 perempuan plus 1 bayi udah hampir maghrib gini masih di Dusun Bambu. Mereka nyamperin kami, dan menawarkan jasa ojek. Saya ragu dan nanya, apa ga ada taksi di sini. Katanya jarang ada taksi. Adanya di Kampung Gajah, yang mana lokasinya jauh lagi Dusun Bambu. Saya tanya beberapa opsi serta tarifnya. Katanya Rp10.000 sampai pinggir jalan raya aja tapi kecil kemungkinan ada taksi lewat, atau Rp20.000 sampai Terminal Parongpong, atau Rp30.000 sampai Kampung Gajah. Wew.

Saya memilih ke Terminal Parongpong aja. Saya kasihan sama Akas kalau mesti naik motor jauh-jauh jam segitu. Kalau emang apes ga dapat taksi di terminal, rencana saya bakal sewa angkot aja buat pulang. Udah ga peduli berapa ongkos pulang, yang penting sampai ye kan. Sampai di terminal, saya coba order semua taksi online lagi, alhamdulillah dapet Uber. Fyuuuh. Leganya.

Senin, 26 Juni 2017

Hari kedua Lebaran di tahun 2017. Rencana kami hari itu cuma ke Dusun Bambu, lalu kembali ke Bandung. Kami berangkat dengan santai, jalanan ke sana tidak terlalu ramai. Jalan menuju Dusun Bambu rupanya udah mulus juga, bukan jalan berbatu seperti dulu lagi.

Baca juga: Idul Fitri 1438 H (2017) di Bandung

Sampai di gerbang Dusun Bambu, semua mobil dialihkan ke tempat parkir di luar kawasan Dusun Bambu. Parkir di dalam sudah penuh. Ga heran, pasti ramai juga nih yang liburan. Ga disangka, tempat parkir yang dimaksud berada di lereng bukit. Literally lereng, tanahnya miring, dan di sana sudah banyak sekali mobil yang parkir, ya ampun.

Dari parkiran ini, pengunjung akan diangkut dengan angkot-angkot yang disediakan. Dan untuk naik angkot ini, antreannya udah menggila juga. Mulai ga enak deh perasaan saya, di luar aja udah sebanyak ini manusianya, gimana di dalamnya?

Angkutan membawa kami masuk Dusun Bambu lewat sisi belakang. Saya baru tau ternyata di Dusun Bambu juga ada wahana untuk memanah, menembak, paint ball, dsb. Lokasinya memang jauh dari danau, sementara saat ke sana sebelumnya, saya cuma eksplor area sekitar danau. Saya baru ngeh kalau sebenarnya kawasan Dusun Bambu ini luas banget.

Dusun Bambu
Ternyata Dusun Bambu itu luas
Dusun Bambu
Tamannya banyak dan luas

Rencana saya selama di Dusun Bambu cuma mau coba makanannya sama ajak Akas main di playground. Suami begitu tau ada wahana panahan dan menembak jadi pengen coba itu. Baiklah.

Pasar Khatulistiwa

Kami segera menuju Pasar Khatulistiwa, sudah jam makan siang, dan kami lapar. Di sana ramai banget, sempat susah nyari tempat duduk. Memesan makanan di sana ternyata mesti pakai uang khusus. Mirip dengan sistem koin di Floating Market Lembang, bedanya bentuknya seperti uang kertas.

Baca juga: Wisata Jabar: Ke Floating Market Lembang di Hari Lebaran

Rasa makanan? Biasa aja, heuheu.

Bamboo Playground

Akhirnya bisa coba main di playground-nya juga. Tapi kondisinya ramai, apalagi playground isinya ga cuma anak-anak aja kan, ada pendamping dewasa juga. Dari sekian banyak permainan yang tersedia, Akas cuma tertarik dengan sepeda kuning ini, wew.

Dusun Bambu
Mainan favorit saat itu

Berulang kali diajak mainin yang lain, ujung-ujungnya dia tetap nyariin sepeda itu.

Dusun Bambu
Mencoba mainan lain

Di playground ini banyak juga permainan menantang tapi sepertinya lebih cocok untuk anak yang lebih besar. Akas cuma sempat nyoba perosotan lalu naik dengan memanjat. Tapi maunya sekali doank, habis itu, ke sepeda lagi, ckckck.

Dusun Bambu
Ala-ala panjat tebing

By the way dulu saat lihat foto playground ini, sebenarnya saya tertarik dengan labirinnya. Tapi ternyata labirin ini wahana terpisah, mesti beli tiket lagi kalau mau ke sana. Yah. Kirain sepaket. Males bayar lagi, saya ga masuk ke sana deh. Trus di dekat labirin itu ada bangunan rumah-rumah kecil, ternyata itu rumah-rumahan buat kelinci. Baru tau, soalnya dulu saya ga lihat kelinci di sana.

Danau Purbasari

Selesai main, kami menuju danau lagi. Maksud hati mau berfoto bertiga di pinggir danau, eh ternyata pinggir danau dipakai sama band yang lagi performance. Heuu. Gagal deh foto-foto di sana. Akhirnya kami cuma duduk-duduk di lapangan rumput.

Dusun Bambu
Pinggir danaunya dipakai, heu

Cuaca mulai mendung. Lalu hujan. Argh. Kami berteduh menunggu hujan turun. Lumayan lama juga hujannya. Setelah hujannya reda, kami mencari angkutan untuk ke tempat panahan tadi.

Archery Corner, Bebedilan, dll.

Sampai di area ini, saya sudah merasa lelah, karena kami sudah berjalan cukup jauh dan harus menggendong Akas. Saya memilih duduk menunggu saat suami mencoba beberapa wahana. Setelah itu kami pun pulang.

Sungguh hari yang melelahkan tapi sayangnya jalan-jalan di Dusun Bambunya kurang memuaskan buat kami. Pengunjung yang ramai, cuaca yang galau lalu hujan, dan cape jalan sungguh bukan kombinasi yang baik untuk liburan.

Berikut beberapa catatan saya dari pengalaman ke Dusun Bambu Family Leisure Park.

  • Lebih nyaman ke Dusun Bambu di hari kerja karena tidak terlalu ramai. Kawasan Dusun Bambu sebenarnya luas, tapi luasnya karena taman, lapangan rumput, atau hutan. Sementara di spot-spot di mana orang-orang berkumpul terasa padat di hari libur.
  • Sebaiknya ke Dusun Bambu menggunakan kendaraan sendiri. Kalaupun terpaksa menggunakan kendaraan umum, lebih baik ke sana dari pagi sehingga ga sampai sore banget di sananya.
  • Di dalam Dusun Bambunya kita cuma bisa jalan kaki atau menggunakan angkutan yang disediakan. Ada baiknya cari tau dulu spot-spot untuk naik-turun angkutan ini dan rutenya melewati apa aja. Kalau ga salah kami sempat mencoba jalan agak jauh karena mengira angkutannya ga lewat situ, eh ternyata ada, cape deh.

Dipikir-pikir, 2x ke Dusun Bambu, saya merasa kurang puas dua-duanya. Yang pertama terlalu terburu-buru dan dikejar waktu, yang kedua kondisinya ga oke. Haruskah kami mencoba ke sana lagi? 😛

Salam,

signature

6 tanggapan untuk “Wisata Jabar: Serba Bambu di Dusun Bambu Family Leisure Park

  • 29 Maret 2018 pada 21:01
    Permalink

    Moment tidak pernah di duga itu mba, mesen taksi Online tapi tak kunjung tiba di tambah batre low..

    Duh bisa mati gaya hihi

    Balas
    • 22 Mei 2018 pada 10:22
      Permalink

      Tambah lagi udah mau malam mas dan tempatnya sepi, hiii

      Balas
  • 1 April 2018 pada 23:23
    Permalink

    ini tempat emang enak banget mbak, kemarin kesini tapi pas long weekend ramenyaaa >,< mau foto jadi banyak nggak enaknya gara2 banyak yang liatin. hihihi. anyway, salam kenal mbak. thank you udah mampir bw di blog saya 🙂

    Balas
    • 22 Mei 2018 pada 10:23
      Permalink

      iya ya hari libur memang rame, jadi ga puas menikmati karena kebanyakan orang, hehe.

      Balas
    • 22 Mei 2018 pada 10:24
      Permalink

      Jaman sekarang bikin tempat wisata mesti kreatif, inovatif, dan instagramable kayaknya, hehe.

      Balas

Leave your comment