Rokok Tidak Hanya Membahayakan Kesehatan, Tapi Juga Memiskinkan

Waktu itu saya bertemu dengan seorang kenalan, dan seperti biasa saya tidak nyaman berada di sekitarnya karena dia merokok. Pertama, saya pribadi memang benci sekali dengan bau asap rokok. Kedua, saat itu bersama anak saya yang umurnya baru mau 3 tahun dan dia jadi ikut terpapar asap rokok. Sepengetahuan saya, kenalan saya ini lumayan kesulitan dari sisi ekonomi, tapi nyatanya selalu ada rokok untuk dia hisap.

Saya langsung teringat program radio Ruang Publik KBR minggu lalu yang membahas tema “Kemiskinan, Dampak Rokok Murah, dan Capaian SDGs”. Untuk tema kali ini, KBR mengundang Bapak Dr. Arum Atmawikarta, MPH, Manager Pilar Pembangunan Sosial Sekretariat SDGs Bappenas dan Bapak Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia.

Kembali dibahas bahwa konsumen rokok di Indonesia itu mayoritas justru berasal dari kelompok keluarga berpenghasilan rendah. Dari hasil survei, dalam belanja mingguannya, kelompok keluarga miskin ini menghabiskan 22% pengeluarannya untuk rokok, padahal untuk beras cuma 19%. Miris ya, bisa lebih banyak gitu uang yang dikeluarkan untuk rokok dibanding kebutuhan pokok. Kenapa bisa begitu? Tentu saja karena harga rokok itu sangat terjangkau.

Harga Rokok di Indonesia Termurah di Dunia

Minggu lalu saat saya share tentang #rokokharusmahal dan #rokok50ribu di Instagram story saya, seorang teman yang sedang tinggal di New York tiba-tiba DM saya.

Teman: Emang rokok di Indonesia sekarang di kisaran harga berapa Sha?
Saya: Sebungkus sekitar 20 ribu, terus bisa beli satuan di warung, seribuan dapet sebatang.
Teman: Ya Allah, iya keterlaluan murahnya, harusnya emang 50 ribu aja dari dulu-dulu. 😞 Kirain dari dulu udah 30 ribuan.
Saya: Kalau di sana berapaan?
Teman: Beda-beda tiap state tapi khusus NYC baru Agustus lalu diberlakukan, minimal $13.

Saya langsung cek kurs, berarti di sana harga rokok sebungkus minimal 180 ribu rupiah. Gila ya, murah banget harga rokok di Indonesia itu. Dan kenyataannya memang harga rokok di Indonesia itu termasuk yang termurah di dunia.

Salah satu penelepon ke radio KBR juga menyebutkan bahwa di beberapa tempat, rokok itu bisa dijual dengan harga yang lebih murah dibanding harga yang tertera di banderol rokok. Ckckck. Belum lagi di Indonesia juga masih banyak produk rokok lokal/tradisional yang harganya lebih murah lagi karena tidak kena cukai.

Padahal rokok itu adalah komoditas yang wajib kena cukai, jadi seharusnya rokok itu dijual dengan harga yang mahal. Selain itu, barang kena cukai ini harusnya tidak boleh dijual sembarangan, juga tidak boleh diiklankan. Sementara di Indonesia, rokok masih bisa diperoleh dengan mudah. Iklannya pun bertebaran di mana-mana. Tidak ada pengendalian dari sisi penjualan. Oleh karena itu, masyarakat miskin masih banyak yang terus membeli rokok sebab harga rokok di Indonesia itu memang sangat murah. Bisa dibeli ketengan pula. Anak-anak dan remaja pun dengan mudah bisa menjadi konsumen rokok karena rokok bisa dibeli dengan uang jajan mereka.

Rokok Dapat Menggagalkan Capaian SDGs

Bicara tentang dampak negatif rokok, biasanya orang akan langsung berpikir tentang bahaya rokok terhadap kesehatan, baik itu bagi perokok aktif ataupun perokok pasif. Padahal lebih jauh lagi, rokok sesungguhnya juga berdampak buruk terhadap sisi ekonomi, sosial, hingga lingkungan. Produksi ataupun konsumsi rokok dalam jumlah yang sangat besar seperti di negara kita ini akan menghambat tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Apa Itu SDGs?

SDGs disahkan secara resmi dalam Sidang Umum PBB tanggal 25 September 2015 di New York sebagai kesepakatan pembangunan global 2015-2030. SDGs ini menggantikan Millennium Development Goals (MDGs) yang kedaluwarsa pada tahun 2015. SDGs berisi 17 tujuan dan 169 sasaran pembangunan yang diharapkan dapat menjawab ketertinggalan pembangunan negara-negara di seluruh dunia, baik di negara maju maupun negara berkembang.

17 tujuan (goals) dalam SDGs itu dirangkum dalam infografis berikut ini.

Penjabaran 17 goals tersebut bisa dibaca pada artikel ini.

Kaitan Rokok dengan Capaian SDGs

Isu rokok dan tembakau jelas sangat berkaitan dengan goal ke-3 dalam SDGs, yakni kesehatan. Tapi sebenarnya masalah rokok ini juga berkaitan dengan goals lainnya. Sebuah penelitian di Jerman menyebutkan bahwa 11 dari 17 tujuan SDGs akan sulit dicapai kalau rokok tidak dikendalikan. Di Indonesia sendiri malah 17 tujuan itu bisa dikaitkan dengan rokok.

Bagaimana rokok itu bisa menghambat pencapaian SDGs? Yuk kita lihat tiga goal lain dalam SDGs.

Goal 1 ~ Kemiskinan
Perokok banyak berasal dari keluarga miskin dan mereka menggunakan pendapatannya untuk membeli rokok dalam proporsi yang sangat besar. Dengan merokok, kualitas kesehatannya akan menurun dan rentan mengidap penyakit berbahaya. Akibatnya produktivitas mereka akan menurun, dan selanjutnya penghasilannya akan berkurang. Hal ini terus menjadi lingkaran setan, jadi siklus bagaimana mereka terperangkap dalam kemiskinan.

Goal 2 ~ Pangan dan Gizi
Dengan adanya alokasi uang untuk membeli rokok, maka jumlah pendapatan yang dipakai untuk kebutuhan lain makin menurun. Di kalangan penduduk miskin, seringkali kebutuhan akan pangan dan gizi jadi dikorbankan. Keluarga mereka tidak bisa makan makanan yang cukup dan sehat, akibatnya banyak terjadi kasus malnutrisi.

Goal 4 ~ Pendidikan
Selain mengorbankan pangan dan kesehatan keluarga, seringkali perokok dari kelompok miskin ini mengorbankan sekolah anak-anaknya. Walaupun pendidikan dasar gratis, tapi anak tetap butuh biaya lain untuk menunjang sekolahnya. Seringkali mereka mengeluh tidak ada biaya untuk membeli buku pelajaran dan alat tulis, biaya transportasi dari rumah ke sekolah, dll.

Dari 3 goal di atas saja plus goal kesehatan, terlihat bahwa rokok bisa menurunkan kualitas dan produktivitas generasi penerus bangsa ini sehingga bisa menghambat pembangunan. Karena itu isu pengendalian tembakau dan pengurangan prevalensi perokok sudah dimasukkan ke dalam indikator yang harus dicapai dalam SDGs dan ini sudah merupakan kesepakatan dunia.

Prevalensi perokok laki-laki dewasa di Indonesia adalah yang paling tinggi di dunia (68,8%). Dengan segala dampak negatif yang ditimbulkan rokok, sudah seharusnya program pengendalian rokok tersebut menjadi prioritas dalam pembangunan di tingkat nasional demi tercapainya SDGs. Pengendalian rokok harus diupayakan dengan serius dan didukung oleh semua pihak.

Rokok Itu Memiskinkan, Bagaimana Menanggulanginya?

Rokok dan kemiskinan ternyata saling berkaitan erat. Rokok tidak hanya membahayakan kesehatan tapi juga membuat masyarakat terjebak dalam siklus kemiskinan. Lalu bagaimana caranya untuk menyelesaikan hal ini? Ada 3 poin yang bisa diupayakan.

1. Edukasi Bahwa Rokok Adalah Sumber Kemiskinan

Kenapa ya kelompok masyarakat miskin yang merokok itu cenderung mengabaikan kebutuhan lain seperti pangan, gizi, dan kesehatan? Kita tahu bahwa rokok mengandung nikotin yang membuat adiksi. Adiksi tidak kenal kaya maupun miskin. Namanya sudah kecanduan, ditambah barangnya terjangkau pula, klop deh. Tidak peduli apa yang terjadi, yang penting merokok jalan terus.

Saya rasa mayoritas perokok tahu penyakit apa saja yang bisa timbul karena merokok, tapi mereka tidak sadar bahwa rokok bisa memiskinkan mereka dan keluarganya. Proporsi kelompok miskin yang merokok ini juga terus meningkat. Oleh karena itu, masyarakat miskin yang merokok ini perlu diedukasi bagaimana rokok itu membuat mereka tidak bisa keluar dari kemiskinan. Diharapkan nantinya mereka bisa mengalihkan pendapatannya ke kebutuhan lain selain rokok, sehingga bisa menurunkan konsumsi rokok itu sendiri.

2. Sinergi Lintas Bidang untuk Menyelesaikan Masalah Rokok

Rokok adalah isu lintas bidang dan masalahnya sangat kompleks. Dalam penyusunan kebijakan, ada beberapa bidang yang mesti digarap bersama-sama sehingga semua bidang harus bersinergi. Rokok harus bisa dikendalikan untuk melindungi masyarakat, supaya rakyat Indonesia lebih sehat, produktif, dan sejahtera.

Seringkali ada pihak yang memunculkan isu dan kebohongan agar pemerintah menjadi gamang dan tidak tegas terhadap rokok. Misal, kalau rokok dibatasi, bagaimana dengan nasib petani tembakau? Padahal kenyataannya jumlah petani tembakau di Indonesia itu tergolong sedikit dan tembakau yang digunakan dalam industri rokok itu mayoritas berasal dari impor. Jadi bisa saja kalau pertanian tembakau itu dialihkan ke tanaman lain yang lebih bermanfaat.

Regulasi terhadap rokok harus diperjuangkan dan masyarakat harus mendesak hal itu.

3. Gaungkan Terus Kampanye #rokokharusmahal

Konsumsi rokok harus ditekan, terutama pada kalangan bawah. Solusinya, harga rokok harus dibuat jadi tidak terjangkau alias mahal. Apakah harga rokok mahal bisa membantu keluarga miskin mengurangi belanja rokok? Pengalaman di negara lain sudah membuktikan bahwa dengan rokok dijual mahal, konsumsi rokok menurun. Kalau harga rokok dinaikkan, sikap penduduk miskin terhadap rokok bisa berubah, mereka akan mengubah prioritas pengeluaranya untuk kebutuhan lain yang lebih penting.

Kajian untuk menaikkah harga rokok sebenarnya sudah ada dari lama tapi masih belum bisa tembus hingga sekarang. Bagaimana caranya agar harga rokok bisa mahal? Caranya yakni dengan menaikkan cukai rokok setinggi mungkin. Pemerintah sudah menetapkan bahwa cukai rokok itu besarnya 52% dari harga rokok, tapi dalam implementasinya saat ini baru 38%. Jadi masih mungkin sekali cukai rokok ini diperketat lagi sehingga harga rokok jadi lebih mahal. Pemerintah juga berpotensi mendapatkan pendapatan yang lebih besar dari cukai rokok.

Saat ini gencar dikampanyekan harga #rokok50ribu. Dibanding harga rokok di negara lain, tampaknya masih relatif murah ya. Tapi harga segitu sudah didapat dari survei. Surveinya bertanya responden akan berhenti merokok kalau harga rokok berapa, dan mayoritas menjawab 50 ribu per bungkus. Jadi #rokokharusmahal bisa kita mulai dengan harga #rokok50ribu. Jika harga 50 ribu sudah dicapai, bukan tidak mungkin nanti harga rokok dinaikkan lagi.

Iklan, promosi, dan sponsorship dari rokok sangat gencar dilakukan. Oleh karena itu, kampanye #rokokharusmahal dan #rokok50ribu harus lebih kuat lagi disebarluaskan. Kita semua bisa berpartisipasi dengan menandatangani petisi ini. Saya sudah tandatangani petisinya lho, ikutan juga yuk! Mari kita kumpulkan aspirasi publik bahwa #rokokharusmahal supaya pemerintah lebih mendengarkan dan segera mengimplementasikan.

Selain harga rokok mahal, pemerintah juga mesti lebih tegas lagi. Semua rokok harus kena cukai, tidak boleh ada rokok murah tanpa cukai. Harga rokok harus diawasi sehingga sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Rokok juga tidak boleh dijual ketengan.

Jadi, apakah Anda setuju #rokokharusmahal?

Artikel ini diikutkan dalam Serial Lomba Blogger #RokokHarusMahal Episode 4 yang diselenggarakan oleh KBR.id

Salam,

signature

Satu tanggapan untuk “Rokok Tidak Hanya Membahayakan Kesehatan, Tapi Juga Memiskinkan

  • 18 Juni 2018 pada 05:22
    Permalink

    saya setuju banget rokok harus mahal,terutama di indonesia, sedihnya para perokok pasif yg lbh byk kena dampak, keluarga saya hampir semua perokok, syukurnya suami saya sudah bs ninggalin rokok,semakin mahal semakin bagus, dan jgn ada yg jual ketengan.slm kenal mba reisha kunjunhan pertama:)

    Balas

Leave your comment