Saat Akas Bintitan Lagi, Duh!

Belum hilang rasanya lelahnya menjalani prosedur bintitan Akas di akhir tahun 2017 lalu, tiba-tiba awal Februari 2018 saya melihat ada benjolan lagi di kelopak matanya. Kalau dulu di kelopak mata kanan bagian bawah, kali ini di kelopak mata kiri bagian atas.

Baca juga: Saat Akas Bintitan Hingga Harus Diinsisi

Bintitan di Kelopak Mata Kiri Atas

Sama seperti sebelumnya, awalnya bintitan ini tidak begitu kelihatan karena tidak terlalu menonjol ke luar. Tapi makin lama mulai terlihat jelas. Belajar dari pengalaman sebelumnya, saya rutinin mengkompres hangat kelopak matanya agar bintitannya ga membesar kayak dulu lagi.

Usaha ini sedikit membuahkan hasil. Beberapa kali kotoran mata Akas lebih banyak, asumsi saya isi bintitannya ada yang keluar. Tapiii benjolannya masih terlihat, padahal saya juga kasih salep yang sama dengan bintitan sebelumnya.

Mungkin karena kepikiran mulu, suami menyarankan saya untuk konsultasi dengan dokter spesialis mata lagi. Saya memilih ke Bandung Eye Center (BEC) Jl. Sumatera lagi, dan memastikan jadwal dr. R2. Dulu saya merasa puas konsultasi dengan dr. R2 jadi saya mau ke beliau lagi.

Selasa, 13 Februari 2018

Kami sampai di BEC siang. Sebenarnya daftar sebagai pasien pribadi (bukan BPJS), dan ga ada pasien lain yang lagi antre. Apesnya, dokternya pas baru istirahat makan siang. Jadi kudu nunggu sekitar 1 jam, huhu. Begitu masuk ke ruang dokter, saya kira dokternya masih ingat dengan Akas, tapi ternyata tidak.

Saat konsultasi, saya mulai merasa beda banget dengan dulu. Pas saya tanya soal benjolan itu, dr. R2 bilang itu kayaknya bukan bintitan, soalnya posisinya agak ke atas. Lah terus apa donk? Saya bilang kalau saya balik kelopak matanya, kelihatan itu bagian yang berisi benjolan itu. Dokternya pun ikutan nyoba membalik kelopak mata Akas, trus bilang sepertinya memang bintitan. -_-”

Saya tanya sebaiknya gimana, disaranin insisi lagi. Aaargh, lelah. Dan somehow saya merasa dokternya terlalu menggampangkan insisi. Nyesal saya. Saya bilang mau diobati dulu aja, dan diresepkanlah salep yang sama lagi, Cendo Mycos.

Saya merasa bintitan yang ini ga urgent buat diinsisi dan bintitannya ga segede yang dulu. Saya meyakinkan diri saya kalau ini masih bisa ditangani dengan obat.

Bintitan di Kelopak Mata Kiri Bawah

Belum hilang total bintitan di kelopak mata Akas, muncul lagi bintitian di kelopak mata bawahnya. Noooooo. Lemas saya, huhu.

Kompres masih dilakukan, salep juga, tapi bintitan yang di bawah ini lebih bandel daripada yang di atas. Dia membesar terus seperti dulu.

Sedih sekali rasanya melihat kondisi mata Akas saat itu. Bekas bintitan yang dulu diinsisi masih terlihat. Lalu mata yang satunya lagi ada bintitan juga. Yang di atas udah ga kelihatan kalau matanya terbuka, tapi kalau matanya tertutup masih kelihatan ada benjolan. Kalau lihat foto Akas sebelum ada bintitan, rasanya makin sedih, dulu matanya sebersih dan semulus itu, huhu.

Begitu kondisinya, huhu

Haruskah Insisi Lagi?

Bintitan di bawah ini sudah besar. Saya merasa ini baiknya diinsisi aja daripada nanti keburu keluar sendiri nanahnya dan malah berbekas. Tapi membayangkan harus mengulang prosedur yang dulu aja udah lelah rasanya, apalagi kalau harus menjalaninya sekali lagi.

Baca juga: Pengalaman Insisi Bintitan pada Anak dengan BPJS

Saya diskusi dengan suami. Ke Cicendo lagi? Capeee dengan antreannya. Saya berpikir coba konsultasi ke RS Hermina Arcamanik aja, berharap kalaupun memang harus insisi, prosedurnya ga seribet dan selama di Cicendo, dan untuk urus rujukannya pun cukup dari Faskes 1.

Kamis, 1 Maret 2018

Kami datang ke RS Hermina Arcamanik berharap kalau Akas bisa insisi secepatnya. Dokter spesialis mata yang praktik hari itu adalah dr. G. Di luar dugaan, antrean ke dokter spesialis mata di sini ternyata panjaaang. Pasiennya ada buanyak tapi dokter yang praktik cuma sendiri, huhuhu. Kami antre sampai beberapa jam hingga giliran dipanggil.

Saat konsultasi, dr. G bilang ini coba diobati dulu aja selama 1-3 minggu. Waduh. Saya tanya apa ga sebaiknya diinsisi, soalnya itu sepertinya sudah mau pecah. Katanya kalo insisi ya ga bisa secepat itu juga, mesti dijadwalkan lagi dengan pihak RS karena mau pakai BPJS. Fyuuh.

Saat konsultasi padahal kondisinya udah begini

Saya tanya lagi, kalau nanti pecah gimana? dr. G menjawab santai, ya dibersihin aja, pastikan semua nanahnya keluar. Weleh weleh.

Pupus harapan mau langsung insisi. Kalau mau ya paling ke BEC Jl. Buah Batu dan bayar 3 jutaan. Tapi kok ya rasanya rugi banget. Pasrah deh saya.

Jumat, 2 Maret 2018

Kondisi bintitannya makin mengenaskan. Udah kayak bisul yang ada matanya dan siap meletus kapan saja. Saya udah merasa ini bakal meletus hari itu. Benar saja. Sekitar jam 10 pagi saya foto bintitannya yang seperti bisul itu, sore sekitar jam 5 nanahnya keluar. Banyak. 😐 *tapi masih sempat difoto dulu, wkwk*

Ampuni saya pajang foto begini, heuheu

Saya segera mengambil cotton bud untuk membantu mengeluarkan nanahnya. Setelah dirasa keluar semua, saya ambil kapas dan dibasahi dengan air hangat, lalu saya bersihkan bekasnya. Terakhir saya kasih salep lagi.

Di satu sisi saya lega nanahnya udah keluar, di sisi lain saya masih khawatir apakah ini nanti meninggalkan bekas yang tidak enak dilihat. Tapi yaa saya ga bisa apa-apa, cuma bisa berdoa dan berharap.

Bintitan Lagi, Alergikah?

Kemunculan bintitan kali ini membuat saya jadi bertanya-tanya sendiri? Kalau dulu jelas karena infeksi, apakah ini infeksi juga? Atau jangan-jangan alergi?

Selama ini Akas ga ada riwayat alergi, saya dan suami pun tidak. Pertanyaannya: mungkinkah seseorang yang dulunya tidak alergi terhadap sesuatu lalu berubah jadi alergi? Ternyata BISA.

Alergi terjadi kalau kita terpapar terhadap satu hal terlalu sering atau terus menerus. Misal kita selama ini ga alergi telur, tapi karena belakangan kebanyakan dan keseringan makan telur, akhirnya jadi alergi.

Lalu, alergikah Akas? Dulu saya sempat merasa begitu. Tapi diingat-ingat lagi, kalau dari makanan kayaknya ga ada deh yang saya berikan terus-terusan, ya paling nasi, tapi nasi kan ga pernah ada masalah. Selama ini lauk selalu diusahakan bervariasi. Jadi yaa saya anggap aja Akas emang apes ketemu bakteri yang menginfeksi kelopak matanya lagi.

Sekian cerita kali ini. Saya kok ya bingung mau kasih penutup apa, wkwk. Sebagai catatan:

  • Yang jelas kalau ada bintitan, rajin-rajin aja kompres hangat, atau kasih salep kalau masih belum ngefek. Pastikan penyebabnya apa, kalau karena alergi maka hindarilah pencetus alerginya.
  • Kalau ditanya kondisi mata Akas sekarang, alhamdulillah yang di mata kiri itu ga kelihatan bekasnya, kecuali kalau dilihat dari dekat banget dan anaknya mau diam, hehe. Malah lebih berbekas yang dulu diinsisi.
  • Mungkin ada yang berpikir, lho jadi mending dibiarin pecah sendiri donk daripada diinsisi? Ga gitu juga sih. Dalam kasus Akas, bintitan yang dulu diinsisi itu ukurannya lebih besar dibanding yang baru ini, tampak membengkak pula, dan sebelum insisi udah bocor sedikit nanahnya, mungkin karena itu jadi ada bekasnya. Balik lagi, tiap kasus berbeda, ga bisa digeneralisasi.

Salam,

Reisha Humaira

9 tanggapan untuk “Saat Akas Bintitan Lagi, Duh!

  • 1 November 2019 pada 17:24
    Permalink

    Assalamu’alaikum. Halo Mbak Reisha, perkenalkan nama saya Nurul. Anak saya juga sebulan yang lalu baru diinsisi untuk bintitannya, tapi 2 minggu lalu bengkak lagi dan sekarang muncul bintitan.

    Mau tanya mbak, setelah post yang ini, apakah Akas sudah tidak pernah berulang bintitannya ? Selama di Auckland, apa pernah ada kejadian begini? Sudah ketemu dokter mata yang cocok untuk kasus Akas, Mbak? Kalau ada update atau info lagi soal bintitan ini, mohon dishare ya, Mbak. Terima kasih sebelumnya.

    Balas
    • 5 November 2019 pada 18:40
      Permalink

      Waalaikumsalam mbak Nurul, maaf baru dibalas. Setelah kejadian ini, alhamdulillah Akas ga pernah bintitan lagi, jadi saya ga pernah ke dokter mata lagi karena masalah bintitan, hehe.

      Balas
  • 23 Desember 2019 pada 15:20
    Permalink

    Selamat sore mbak, mbak maaf mau bertanya. Bagaimana dengan kondisi bintitan Akas di kelopak atas yg kiri nya? Karena yg saya baca, di kelopak bawah kiri akhirnya pecah. Lantas bagaimana dengan yg di kelopak atasnya? Mohon dijawab ya mbak, karena anak saya saat ini mengalami bintitan seperti kelopak atas kiri nya Akas. Trims.

    Balas
    • 23 Desember 2019 pada 19:06
      Permalink

      Halo mbak. Yang di kelopak atas kiri itu kempes sendiri setelah rutin dikasih salep. Nanah di dalamnya keluar sedikit-sedikit, jadi matanya kayak belekan pas ada nanah yang keluar. 🙂

      Balas
      • 23 Desember 2019 pada 23:27
        Permalink

        Terima kasih infonya ya mbak, kalau boleh tau cepat atau lambat ya mbak mengempis nya? Karena di anak saya, sudah hampir sebulan. Saya rutinkan cream mata dari dokter matanya, namun benjolannya masih seperti itu2 saja, tidak membesar, terkadang mengempes namun pada saat2 tertentu masih terlihat menonjol.
        Maaf banyak bertanya.

        Balas
        • 24 Desember 2019 pada 04:45
          Permalink

          Saya udah lupa mbak persisnya berapa lama. Cream-nya dioles di bagian dalam kelopak mata bukan mbak? Dulu saya sempat salah, ngasihnya di luar jadi ga ngefek, hehe.

          Balas
          • 25 Desember 2019 pada 00:35
            Permalink

            Iya mba, saya oleskan di dalam kelopak mata. Terima kasih infonya ya

  • 27 Januari 2020 pada 16:47
    Permalink

    assalamu’alaikum mbak, perkenalkan saya bunda syauqi, maaf saya mau nanya juga masalah bintitan ini..
    anak saya sebulan yg lalu juga ada bengkak di kelopak mata kiri atas, saya kira digigit semut atau serangga, jd saya diemin aja.. ternyata nggak hilang2 bengkak nya, skrg udh muncul jg d mata kanan atas, blum terlalu besar sih.. saya udh coba kompres air hangat, cuma belum ada kasih obat salep apapun..
    saya mau nanya, kalau obat salep yg mbak kasih k akas itu, harus sesuai resep dokter atau boleh beli d apotek biasa aja? karna saya juga blum sempat bawa anak k dokter..
    terimakasih sebelumnya mbak

    Balas
    • 1 Februari 2020 pada 14:42
      Permalink

      Waalaikumsalam mbak, maaf baru dibalas. Salepnya sepertinya bisa aja dibeli tanpa resep dokter, tapi menurut saya sebaiknya tetap diperiksakan dulu mbak ke dokter. Bisa aja kondisinya berbeda. 🙂

      Balas

Leave your comment

%d blogger menyukai ini: