#30HariBercerita dan Cerita di Belakangnya

Kemarin berakhir sudah tantangan #30HariBercerita. Ada yang tahu, atau juga ikutan?

Saya pertama kali tahu #30haribercerita tahun lalu. Waktu itu di timeline Instagram saya berseliweran statement bahwa mereka akan mengikuti tantangan #30haribercerita selama bulan Januari. Saya coba baca-baca info yang ada di akun Instagram @30haribercerita, eh kok tampak menarik. Akhirnya saya coba ikutan tahun lalu.

Sayangnya tahun lalu saya ga sampai posting full 30 hari. Sibuk urus pindahan deh kayaknya. Maklumlah buanyak banget yang kudu diurus sebelum pindah ke luar negeri ituh.

Baca juga: Persiapan Sebelum Pindah ke Luar Negeri

Dan tahun ini #30haribercerita hadir lagi. Di awal saya ragu, ga yakin juga bakal bisa memenuhi 30 postingan. Tapi ya udah lah, selow ajah. Toh ga ada ruginya juga kalo ga full. Eh justru saya malah bisa full tahun ini, haha. Dan rasanya senang sekali begitu tuntas. Alhamdulillah.

Tapi di belakangnya gimana? Ini yang saya rasakan.

Konsep Sederhana Tapi Menarik

Jadi di #30haribercerita, kita ditantang menulis dari tanggal 1-30 Januari, menulis satu tulisan setiap harinya di platform Instagram. Cerita yang ditulis bebas berbentuk apa saja. Mau pengalaman pribadi, cerpen, puisi, dll., bebaskan. Dan saat posting kita diminta menambahkan hashtag #30haribercerita dan hashtag penanda tanggalnya. Walau idealnya kita posting tiap hari, kita boleh juga kok rapel nulisnya kalau pernah bolos, atau baru mau ikut di tengah-tengah.

Tapi sewaktu-waktu akan ada tantangan tema dari admin. Ga ada jadwalnya, biasanya diumumin di akun @30haribercerita sehari sebelumnya. Jadi pantau terus info dari sana, hehe.

Oia setiap harinya, tim adminnya akan membaca tulisan-tulisan yang masuk, memilih yang menarik, dan di-regram di akun @30haribercerita. Saya ga kenal siapa adminnya, tapi menurut saya niat banget sih mereka ituh. Apalagi dari tahun ke tahun pesertanya nambah, tiap hari ada ribuan tulisan. Mungkin ga kebaca semua ya, tapi pasti ada yang mereka baca, hehe.

Simpel banget sebenarnya konsepnya. Tapi somehow menarik. Dan konsisten juga, tantangan ini cuma 30 hari di bulan Januari. Di bulan lainnya, dari mereka ga ada tantangan menulis lagi.

Konon #1minggu1cerita terinspirasi dari #30haribercerita ini juga, tapi pakainya platform blog, huehe.

Baca juga: Di Balik Layar Komunitas dan Website 1minggu1cerita

Mudah dan Bisa Dilakukan Siapa Saja

Saya biasanya males ikut tantangan menulis selama sebulan gini. Apalagi dulu pernah coba ikut tantangan ODOP, walau senang juga sih sebenarnya begitu selesai, tapi kok ya bulan berikutnya malah drained dan malaaaas banget buat nulis, wkwk. Makanya saya ga gitu minat ikut blogging challenge, apalagi kalau udah ditetapin temanya selama 30 hari ke depan apa.

Baca juga: #ODOPNovemberChallenge dan Pencapaian Publish Satu Tulisan Setiap Hari

Tapi untuk #30haribercerita, saya berminat ikut karena merasa menulis di Instagram itu lebih mudah. Buat saya, kalau nulis di blog itu mesti banget panjang, lengkap, dan diatur sedemikian rupa (semacam merepotkan diri sendiri, wkwk). Sementara di caption Instagram kan jumlah karakternya terbatas, jadi yang ditulis pun singkat-singkat aja. Jadi ga bakal sesulit ngeblog lah ya. Faktanya, memang ga sesulit ngeblog kok, huehe. Tapi tetap aja butuh mikir rupanya. Apalagi kalau udah ada tema, sementara udah nyiapin topik lain untuk ditulis, wkwk.

Fakta lain, yang ikut memang bisa siapa aja lho. Dari remaja hingga lansia ada. Dari yang memang suka nulis hingga yang baru mau mencoba menulis ada. Dan dengan beragamnya latar belakang peserta ini, tulisan yang muncul pun bervariasi sekali. Saya memang ga sempat banyak-banyak bacain tulisan peserta lain, tapi kadang terkagum-kagum juga dengan tulisan peserta lain itu. Ada yang bikin cerpen tapi kok keren plot twist-nya, ada yang lucu, ada yang kreatif, ada yang horor tapi sedih, dan sebagainya.

Kesempatan Buat Isi Feed Instagram

Ada suatu masa di mana saya itu malaaas sekali posting di medsos saya, paling banter share link blog doank. Bahkan kadang share link blog pun males, padahal pengennya banyak yang baca. Lha piye, wkwk.

Baca juga: Pengalaman Klaim (Mengambil Alih) Username Twitter yang Tidak Aktif

Khusus Instagram, pernah ada masanya saya ga update feed sama sekali, postingnya di story doank. Sempat juga merasa bingung, ini Instagram mau diisi apa ya, kok kayaknya ga ada niche yang saya banget, haha. Bingung juga, mana ya yang bagusan ditaruh di story, mana yang cocoknya di feed. Sempat juga pengen bikin feed yang kreatif, kayak puzzle, atau apalah, tapi kok ya ribet. Sempat mikir Instagram dipake buat share tulisan blog aja deh, tapi kok ya kayaknya bakal ngebosenin. Kebanyakan mikir dah. Wkwk.

Tapi tahun ini saya ga mau ribet lagi. Atau mungkin udah dapet formulanya? Selow aja sih sekarang. Rencananya Instagram saya pakai untuk nulis hal-hal yang pengen ditulis segera, tapi kurang banyak atau ga pas aja buat ditulis di blog. Sementara untuk blog mah, masih banyak draft yang ngantre, wkwk.

Jadi #30haribercerita ini kesempatan banget buat saya untuk ngisi feed Instagram saya lagi. Dan demi feed yang rapi, sebelum posting saya memilih 3-9 foto untuk diposting selama 3-9 hari ke depan. Sengaja kelipatan tiga biar sebaris sama tema fotonya, hehe.

Dan karena rencana bikin feed seperti itu, tantangan saya pun jadi bertambah ketika admin sudah menetapkan tema, haha. Biasanya bisa aja sih disambung-sambungin ke tema, tapi rada maksa juga ketika temanya adalah melengkapi karangan, haha. 

Di-regram Adalah Bonus

Setiap harinya ada beberapa postingan yang bakal di-regram oleh admin. Kriterianya apa, saya ga paham juga. Soalnya memang bervariasi sekali yang di-regram ituh. Yang panjang dan bagus adaaa, yang pendek juga ada.

Tahun lalu tulisan saya sempat di-regram. Waktu itu somehow pede aja itu berpotensi untuk di-regram, dan bener aja donk. (kok berasa songong, wkwk)

View this post on Instagram

Regram dari @reisha – 💑JALAN BERNAMA TARI PIRING💑 Bicara tentang tarian tradisional Minangkabau, yang paling dikenal itu sudah jelas Tari Piring. Padahal mah masih banyak tarian lainnya (di UKM-ITB dulu ada 20an tari btw). 😅 ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Tari Piring ini juga yang membuat saya tertarik untuk bergabung dengan UKM-ITB. Saya kagum dengan penampilan Tari Piring di acara Open House Unit. "Saya mesti belajar, saya mesti bisa, biar suatu saat nanti bisa nampil." Gitu kira-kira. Pada akhirnya alhamdulillah tercapai. Dan UKM-ITB pula yang menjadi jalan saya ketemu jodoh saya. Eaaa lagi. 🙈 ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Tari Piring jualah yang menjadi jalan buat saya untuk mengenalkan kebudayaan Indonesia khususnya Minangkabau saat berada di Jepang. Di sebuah kelas bahasa Jepang, saya membahas tentang Tari Piring dan menunjukkan video tarinya. Lalu di 4 acara berbeda saya bisa perform, mempertunjukkan Tari Piring di hadapan orang Jepang dan sejumlah mahasiswa internasional. 😍 ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Tari Piring juga yang pada akhirnya kami jadikan salah satu konsep foto prewedding kami. Foto yang saya pasang ini dari foto prewedding btw. Minjam konstum dan piring dari UKM-ITB tentunya, nostalgia zaman masih nampil dulu, wkwk. 🤩 ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Tari itu sesungguhnya ngangenin, tapi belum ada kesempatannya lagi. Jadi, kapan kita nari lagi? 🤗 ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Bandung, 8 Januari 2019 🕔 @30haribercerita #30haribercerita #30hbc1908 #30hbc19jalan #kisahkami #ceritakami #pertemuan #jodoh #taripiring #taripiriang #minang #minangkabau

A post shared by 30 Hari Bercerita (@30haribercerita) on

Tahun ini saya ga ekspektasi tinggi lagi. Peserta makin banyak. Tulisan saya lebih sering berkaitan dengan kehidupan di Auckland ini, dan itu tentu ga cocok dan ga menarik untuk semua orang, hehe. Tapi ga disangka, ada juga satu tulisan saya yang di-regram. Wow surprise sekali, karena waktu nulis itu tu memang santai banget, singkat pula, jadi bentar aja nulisnya.

Buat saya, di-regram di @30haribercerita adalah bonus. Jadi ga usah nulis demi mengharapkan regram. Nulis aja demi kepuasan pribadi. Kalau di-regram alhamdulillah, kalau ga ya ga masalah.

Keuntungan di-regram, tulisan kita jadi lebih banyak yang baca secara akun @30haribercerita itu follower-nya udah puluhan ribu, hehe. 

Akui Saja, “Kamu Bukan Superwriter

Apa coba maksudnya? Hihi.

Ceritanya, ketika saya mengikuti #30haribercerita ini, di sudut hati terdalam saya #halah, ada keinginan supaya feed Instagram tetap terisi dengan rapi, story pun diisi, dan blog pun rutin di-update minimal 5 tulisan per minggu. Ketinggian memang targetnya, wkwk.

Tapi setelah dijalani, susah sekali donk tentu saja, ahaha. 

Tahun lalu saya masih banyak excuse, “ah ini karena saya sibuk, susah bagi waktu”. Tahun ini tentu juga masih ada excuse, “ah ini saya masih parah manajemen waktunya”. 

Tapi dipikir-pikir lagi, ini juga karena ternyata memang saya ga mampu untuk update blog dan semua medsos saya setiap hari. Biasanya kalau satu ter-update, maka artinya yang lain dikorbankan. Ketika saya ikut #30haribercerita, saya lebih jarang posting di story. Nulis untuk blog apalagi. Begitu pula sebaliknya.

Saya jadi evaluasi diri, saya ternyata bukan orang yang bisa menulis setiap saat. Saya masih sering kebanyakan mikir, jadi aja masih lama beresnya kalau nulis sesuatu. Tulisan yang tadinya saya kira bakal cepat beresnya, eh rupanya ngabisin waktu lebih lama juga.

Makanya saya super salut sama orang-orang yang rajin sekali menulis ituh, bebas di media apapun. Tiap hari ada aja yang ditulis, apalagi kalau yang ditulis itu bermanfaat selalu. Apalagi kalau sampai blog ke-update, medsos pun selalu up to date. Wow sungguh Anda itu luar biasa sekali bisa mengerjakannya sendirian saja.

Jadi intinya apa ya ini? Ahaha.

Yaa intinya saya jadi sadar diri, mesti upgrade diri kalau memang mau jadi lebih baik. Selama ini saya selow, tapi tampaknya tahun ini saya memang udah harus upgrade kecepatan menulis saya karena ada target yang ingin saya capai.

Baca juga: Halo, 2020! Halo, Tantangan Baru!

Kira-kira seperti itu pengalaman saya mengikuti #30haribercerita ini. Ada yang ikutan juga kah? Gimana pengalaman dan perasaannya selama ikutan?

Salam,

Reisha Humaira

Satu tanggapan untuk “#30HariBercerita dan Cerita di Belakangnya

Leave your comment

%d blogger menyukai ini: